
Tanpa ada minta maaf, tanpa peduli aku menangis karna omongannya Ya semua dianggap seperti angin lalu dan kaya nggak ada terjadi apapun.
Pengen pindah kontrakan tapi pasti nggak boleh, akan ada banyak alasan untuk melarangku biar aku masih disini, merasakan semua hinaan, cacian dan apa yang aku rasakan nggak akan ada yang tau gimana perasaanku.
Mas Herman sebagai kakak kandungku juga dia nggak peduli adeknya dibilang seperti itu, bahkan dia asyik dengan ponselnya tanpa menghiraukanku yang sedang menangis karna omongan istrinya, sakit bener bener sakit.
Kadang aku berpikir 'kenapa orang-orang bisa sejahat ini sama aku', apa aku nggak pantas buat bahagia, kenapa orang-orang seperti berlomba-lomba untuk menjatuhkan dan menyakiti perasaanku.
Bukan hanya kali ini mba Dian memperlakukanku seperti ini bahkan dia tega menjelek-jelekkan aku didepan orang lain dan jadi bahan tertawaan, 'apa serendah itu aku dimatanya?' kenapa sama sekali nggak ada hati.
"tau nggak si sari tuh nggak bisa ngapa-ngapain, main ponsel terus, kalo disuruh nggak pernah bener" katanya pada tetangga ketika menjelek-jelekanku,
terus semua yang aku lakukan selama ini sama sekali nggak pernah dianggap, dari mencuci piring, menyapu sampai mengepel nggak pernah dilihat bahkan mungkin dilirik juga enggak.
Bukan maksud mengungkit tapi hatiku terlanjur sakit semua omongan dia diluar sana benar-benar membuatku semakin tidak suka dengannya.
__ADS_1
Tahun baru 2018 aku pulang kampung, stelah 1 Minggu menghabiskan waktu dikampung aku berangkat kejakarta lagi menggunakan kereta, diperjalanan tiba-tiba aku ingin menceritakan omongan mba Dian tempo hari ke kakakku namanya Mba Nurul, langsung kuambil ponsel ternyata ada pesan dari mba Nurul
"sar, hati hati yaa, kalo udah sampai kabarin" begitu isi pesan yang dikirimkan
"oke mba, oh ya mba aku mau cerita soal mba Dian"
"cerita apa, mba Dian nggak nyakitin kamu kan ?" tanyanya lagi
"iyaa, kemarin aku disuruh beli es batu tapi karna nggak beku aku dibilang 'very very stupid, bud*g, nggak bisa disuruh' gitu katanya kenapa omongannya seperti itu yaa apa nggak ada kata yang lebih bagus buat ngungkapin kekesalannya". ceritaku panjang lebar
Atas usulan mba Nurul akhirnya aku memutuskan untuk pindah kontrakan, sepulang kerja aku mencari kontrakan yang dekat dari kerjaan, Kebetulan aku punya kenalan yang bisa aku tanya siapa tau di tempatnya ngontrak ada kamar kosong.
temenku ini namanya Mba Maya.
"Mba kalo ada info kontrakan kosong kasih tau yaa" langsung saja ku to the poin saat dia sedang kirim paket ke tempat aku kerja
__ADS_1
"Mau pindah mbanya ? Tanyanya meyakinkan
"Iya mba, pengin pindah cari suasana baru, kalo ada tolong kasih tau yaa,"
"oke mba, makasih" ucapnya ketika sudah aku kasih resi pengiriman barang lalu dia pergi.
Seminggu setelah aku meminta tolong pada mba Maya soal kontrakan, aku dapet info ada kontrakan kosong dari mba mei temen kerja mba Maya, mungkin mba Maya cerita kalo aku sedang cari kontrakan kosong, mba mei ini juga dia sering kirim barang ke tempatku kerja jadi aku tau.
"mba kata Maya, mba lagi cari kontrakan kosong ya, kalo mau sama aku ngontraknya, nggak jauh kok dari sini" katanya ketika aku sedang input data barang
"eh, emang nggak papa mba ? kalo ada yang kosong aja mba, nggak enak soalnya" jawabku
"nggak papa biar aku ada temannya, ini kunci kamarnya takut aku belum pulang kerja, jadi bisa langsung masuk aja nanti" jawabnya sambil ngasih kunci
"oke mba, nanti sore in sha Allah aku kekontrakan yaa". jawabku senang
__ADS_1