
Musim gugur berlangsung dalam waktu yang lama. Eliana menghabiskan hari libur musim gugurnya bersama dengan Lucas. Hingga pada akhirnya, waktu libur pun berakhir dengan sempurna.
Kini hari-harinya kembali dihiasi akan kebahagiaan. Ia kembali tersenyum setelah sekian lama bersandar pada bahu seseorang. Bahkan tawanya saat ini terlihat lebih mendalam dibandingkan sebelumnya.
"Eliana! Cepat piket! Hari ini kau bahkan belum mengisi journal kelas," teriak ketua kelas sambil menodongkan sapu padanya.
Eliana hanya tersenyum kecil di tengah perbincangan antara dirinya dengan beberapa anak di kelas. Ia kemudian beranjak dari bangkunya menuju meja guru untuk mengambil journal kelas.
"Mau aku bantu mengisinya?" tanya Lucas yang tiba-tiba saja muncul di belakang Eliana.
"Hmm, boleh saja. Aku juga merasa malas untuk menulis, tanganku terasa sedikit keram," celetuk Eliana sedikit beralasan.
Selang beberapa waktu, bel istirahat pun berbunyi. Pelajaran pertama berlangsung cukup lama lantaran tidak terisi oleh pelajaran. Namun karena jam kosong itu, Eliana bisa berbincang-bincang dengan teman-teman sekelasnya.
"Ayo kita ke kantin," ajak Clau yang langsung beranjak dari kursinya.
"Huh, aku malas sekali ... bagaimana jika kalian saja yang pergi ke kantin?" ujar Eliana dengan raut wajah tak bersemangat.
Lucas menghampiri nya, ia duduk di kursi depan bangku Eliana sambil memandangi nya dan tersenyum lebar. Tangan nya perlahan meraih tangan Eliana dan dipegangnya dengan erat.
"Mau aku belikan susu? Energi mu akan kembali terisi," Lucas menawarkan.
"Apa tidak apa-apa?"
"Tentu saja, kenapa tidak?"
"Lucas ini sangat pengertian. Aku tidak menyangka sifatnya akan berubah drastis dari awal sejak pertemuan pertama kita," gumam Eliana sambil beberapa kali tersenyum.
"Baiklah, aku akan menunggumu di taman belakang sekolah, ya. Jangan terlalu lama," cakap Eliana yang dibalas anggukan oleh Lucas.
Mereka kemudian beranjak pergi dari kelas menuju dua tempat yang berbeda. Eliana yang pergi ke taman belakang sekolah, dan Lucas beserta dua orang lainnya yang pergi ke kantin.
"Aku akan ke kantin yang berada di sebelah sana, rasanya di sini akan memakan waktu cukup lama," lontar Lucas sembari menunjuk kantin yang berada di sebelah barat.
"Baiklah, nanti kau duluan saja. Kami akan menyusul kalian berdua ke taman belakang sekolah," ujar Yun diikuti oleh Clau.
"He'em ... "
__ADS_1
Kakinya berjalan menuju sebuah mesin minuman. Dimasukannya sebuah koin pada lubang yang tertera.
"Senang bertemu dengan mu," kata Riu yang tiba-tiba saja berdiri di samping Lucas.
Ia berdalih menatap Lucas sembari memamerkan senyuman nya. Lucas tak menggubris perkataan nya itu, ia hanya fokus pada minuman yang diinginkan oleh Eliana.
"Maaf, jika aku boleh mengusulkan. Tapi, Eliana tidak menyukai susu dengan rasa banana. Dia hanya menyukai susu yang memiliki campuran rasa melon dan strawberry," lontar Riu berusaha membuat Lucas naik pitam.
"Selera yang cukup aneh. Tapi, baguslah dia memberitahukan nya padaku. Aku jadi tau apa yang disukai oleh Eliana ... " batin Lucas sembari kembali memasukkan koin pada lubang mesin minuman tersebut.
Ia kemudian berjalan menjauhi Riu yang masih asik menggubris nya. Namun hanya diabaikan nya semua perkataan Riu yang tak bermanfaat. Hingga pada akhirnya, rencana Riu untuk membuat Lucas kesal malah sebaliknya.
Justru ia yang merasa kesal lantaran Lucas tak merespon satupun dari semua perkataan nya.
"Rasanya sia-sia saja aku berbicara pada lelaki c*cu**uk itu," gumam Riu yang kemudian duduk di salah satu kursi yang berada di kantin.
Cukup lama Eliana menunggu di taman belakang sekolah seorang diri. Merasa bosan, ia pun memutuskan untuk berjalan-jalan mengelilingi taman yang luasnya tidak seberapa.
"Eliana, aku kembali!!" teriak Lucas dari kejauhan.
Ia membalas panggilan dari Lucas dengan melambai-lambai kan tangannya setinggi mungkin.
"Ini susu kesukaan mu, kan?" tanya Lucas memastikan. Tangannya memperlihatkan sekotak susu dengan rasa campuran melon dan strawberry.
"Eh? Kau tau darimana?"
"Tentu saja aku tau. Aku kan Lucas yang tau segalanya," cakap nya sedikit bergurau.
Mereka mendekati sebuah kursi panjang yang memang disediakan di taman tersebut. Keduanya duduk di satu kursi yang sama, Eliana bersandar pada bahu Lucas yang di rasanya lebar.
"Siang yang begitu cerah, bagaimana menurutmu?" celetuk Eliana berdalih menatap Lucas.
"Yah, lumayan ... siang cerah seperti ini baiknya kita di dalam ruangan," seloroh Lucas yang membuat Eliana terheran-heran.
"Mememangnya kenapa?"
"Jika tidak, kulitmu bisa gosong, loh. Bukankah kau pernah bilang jika kau ingin mempercantik kulitmu?" kata Lucas sedikit meledek.
__ADS_1
"Ka-- kapan aku pernah berbicara seperti itu?! Sembarangan saja!!!" kesalnya.
...----------------...
Tak terasa waktu sekolah pun usai, banyak siswa-siswi yang berebut jalan agar bisa lebih dulu keluar dari gerbang sekolah. Namun tidak dengan Eliana dan juga Lucas yang berjalan dengan santai mengikuti irama langkah kaki mereka.
"Lucas, hari ini aku ada les tambahan di pusat kota. Jadi aku harus menaiki bus untuk sampai di sana," cakap Eliana yang sontak menghentikan langkah kaki keduanya.
"Wah, tumben sekali kau mengikuti les tambahan. Aku akan ikut dengan mu," timpal Lucas dengan lembut.
"Iya, entah kenapa tiba-tiba semalam kakak ku memberiku uang untuk mengikuti les tambahan. Tapi, kenapa kau harus ikut?" tanya Eliana sambil memandang heran wajah Lucas.
"Tidak apa-apa, sebagai lelaki seharusnya aku membuat mu merasa aman. Bukan begitu?"
"Ya sudah jika itu mau mu. Ayo cepat, bus nya akan segera jalan!"
"Iya ... "
"Sepertinya sekarang kehidupan nya mulai membaik. Syukurlah ... " batin Lucas.
Mereka berlari menuju sebuah bus yang tengah terhenti. Untungnya, mereka masih sempat mengejar bus yang hampir melaju menuju pusat kota.
Karena terlalu padat penumpang, Eliana dan Lucas sampai tidak kebagian kursi untuk diduduki. Perjalanan yang cukup panjang tentu membuat mereka lelah, lantaran lokasinya yang lumayan jauh dari sekolah.
Beberapa kali Eliana sempat terjatuh karena saling berdesakan. Tidak hanya berdiam diri, tentu Lucas memeluk erat tubuh Eliana agar tidak terjatuh.
Degup jantung berdebar kencang, wajahnya juga memerah selama berada dalam pelukan Lucas.
Sekeras apapun ia berusaha untuk lepas dari pelukan itu, namun sangking padatnya bus tentu membuatnya tidak bisa bergerak sedikitpun.
"Aku mendengar detak jantungmu, loh ... " bisik Lucas pada telinga Eliana.
"A-- apa-apaan!! Aku bahkan merasa sesak dipeluk oleh mu!" celoteh Eliana berasalan.
𝙱𝚎𝚛𝚜𝚊𝚖𝚋𝚞𝚗𝚐....
𝚃𝚎𝚛𝚒𝚖𝚊 𝚔𝚊𝚜𝚒𝚑 𝚝𝚎𝚕𝚊𝚑 𝚖𝚎𝚖𝚋𝚊𝚌𝚊 𝚜𝚊𝚖𝚙𝚊𝚒 𝚊𝚔𝚑𝚒𝚛, 𝚓𝚊𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚕𝚞𝚙𝚊 𝚋𝚎𝚛𝚒𝚔𝚊𝚗 𝚍𝚞𝚔𝚞𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚋𝚎𝚛𝚞𝚙𝚊 𝚕𝚒𝚔𝚎, 𝚐𝚒𝚏𝚝, 𝚔𝚘𝚖𝚎𝚗, 𝚟𝚘𝚝𝚎 𝚍𝚊𝚗 𝚏𝚊𝚟𝚘𝚛𝚒𝚝! 𝚂𝚊𝚖𝚙𝚊𝚒 𝚓𝚞𝚖𝚙𝚊 𝚍𝚒 𝚎𝚙𝚒𝚜𝚘𝚍𝚎 𝚜𝚎𝚕𝚊𝚗𝚓𝚞𝚝𝚗𝚢𝚊!!!𝙹𝚊𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚕𝚞𝚙𝚊 𝚍𝚞𝚔𝚞𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚍𝚊𝚗 𝚜𝚊𝚛𝚊𝚗 𝚗𝚢𝚊 𝚢𝚊🍀
__ADS_1