Aku Menyebutnya, Cinta

Aku Menyebutnya, Cinta
Episode 22-Mungkin


__ADS_3

Tak lama setelah melakukan perjalanan panjang, akhirnya bus yang ditumpangi banyak orang itu pun berhenti di depan sebuah gedung besar.


Yah, tentu saja gedung besar itu merupakan salah satu gedung ternama di Kota mereka.


Tanpa berpikir panjang, Eliana dan juga Lucas turun dari bus tersebut dan langsung memasuki gedung yang berada di dekat mereka.


Nampak beberapa orang yang memperhatikan keduanya ketika masuk. Namun hal itu tak mengurungkan niat Eliana untuk tetap mengikuti pelajaran tambahan nya.


"Kau ingin duduk di mana?" tanya Lucas sembari menatap wajah Eliana.


"Hmm, bagaimana jika kita duduk di dua kursi yang kosong itu?" jawab Eliana sambil menunjuk dua kursi yang dimaksud oleh nya.


"Baiklah, ayo ... "


 


Jam menunjukkan pukul 18.00 tepat, tentu saja pembelajaran tambahan nya hari ini telah usai. Sebelum kepulangan para pelajar di tempat itu, salah seorang wanita yang juga mengajar memerintahkan agar minggu depan membawa sebuah buku yang berkaitan dengan pembelajaran kali ini.


Mendengar pengumuman itu, tentu membuat Eliana menghembuskan nafas panjang. Ia berdalih menatap Lucas dengan raut wajah lelahnya.


"Ada apa?" tanya Lucas begitu mendapati Eliana yang nampak tak bersemangat.


"Sepertinya aku tidak sanggup jika terus mengikuti pelajaran tambahan ini. Apa sebaiknya aku mengundurkan diri saja?" cakap Eliana dengan wajah yang tertunduk ke lantai.


"Tidak, jangan. Kau harus semangat agar bisa lebih pintar dari ku," sergah nya sambil meletakkan kedua tangan nya pada bahu Eliana.


Setelahnya, mereka berdua kembali ke rumah masing-masing dengan perasaan tidak tenang. Ditambah, Eliana yang merasa ingin keluar dari les nya tentu menjadi masalah utama bagi dirinya sendiri.


*Glek!!**


Suara pintu terbuka. Eliana melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah dengan lambat. Raut wajahnya yang nampak tak bersemangat tentu membuat kakaknya yang mendapati hal itu langsung mendekatinya.


"Kenapa wajahmu seperti itu?" tanya Irena.


"Ti-- tidak ada apa-apa. Aku akan ke kamar dulu," lontar nya secara spontan.

__ADS_1


Ia kemudian bergegas masuk ke dalam kamarnya yang berada tak jauh dari pintu utama. Diletakan nya ransel serta beberapa barang yang sebelumnya dibawa ke sekolah.


Eliana merebahkan tubuhnya di kasur yang sama setiap harinya. Ia menatap langit-langit kamar yang kosong seperti tak ada harapan.


"Heuh ... kapan aku akan hidup kaya raya seperti orang lain? Lucas, juga Riu. Aku bahkan merasa risih jika bersama mereka ... " keluh nya sambil menutup kedua matanya dengan lengan.


"Seandainya saja aku orang kaya, pasti aku akan hidup senang. Dan lagi, aku tidak perlu merasa risih jika bersama dengan Lucas," lanjut ucapnya.


 


Malam semakin larut, namun Eliana masih berada di posisi yang sama. Tapi bedanya, kali ini ia benar-benar memejamkan kedua matanya hingga terbawa ke alam lain.


**TOK! TOK!! TOK!**


Suara ketukan pintu yang terdengar keras tentu membuatnya terbangun dari tidur lelap. Sesegera mungkin ia bangkit dari ranjangnya dan berjalan mendekati pintu untuk orang yang berada di luar.


"Kak Irena? Ada apa?" tanya nya sambil beberapa kali mengucak matanya.


"Ada anak tampan di luar. Kakak tidak tau dia siapa, tapi katanya dia ingin bertemu denganmu. Cepat keluar dan ganti pakaian. Lihatlah, sampai sekarang saja kau masih mengenakan seragam sekolah," celoteh Irena dengan raut wajah kesal.


"Anak tampan? Apa maksud nya itu ... Lucas? Hah, kenapa sekarang aku jadi mengaguminya," pikir Eliana sambil berjalan dengan langkah kaki kecil ke arah ruang tamu.


Dilihatnya wajah Lucas yang memperlihatkan senyuman lebar. Hal itu sontak membuat wajah Eliana memerah. Dengan sigap, Eliana memalingkan wajahnya ke arah belakang. Agar Lucas tak menyadari nya.


"A-- ada apa malam-malam begini kau datang ke rumah ku? Tidak sopan sekali," tanya nya.


"Ini, aku membawa beberapa makanan untukmu. Bagaimana jika kita makan malam bersama? Dengan keluarga mu juga," ajak Lucas sembari memperlihatkan beberapa makanan yang dibawanya.


"Wah, repot-repot sekali. Hmm, tapi aku juga tidak akan menolaknya. Bagaimana jika kita ke ruang makan? Aku akan memanggil ibu dan kakak juga," ujar Eliana sambil mengarahkan jalan untuk Lucas.


Eliana menyiapkan beberapa peralatan makan untuk keluarganya dan juga Lucas. Walaupun sedikit malu, lantaran keadaan rumahnya yang berantakan. Namun karena ia menganggap dekat dengan Lucas, rasa gengsinya pun tak ia pedulikan.


"Wah ... ada siapa ini? Kalian tidak mengajak ayah?" tanya seorang lelaki yang tak lain adalah ayah Eliana.


"A-- ayah, duduklah. Ini temanku, namanya Lucas. Dia yang membelikan makanan ini," tandas Eliana dengan raut wajah cemas.

__ADS_1


"Sepertinya enak, apa ayah boleh ikut makan?" kata ayahnya sambil duduk di sebuah kursi yang tersisa.


"Silahkan, Pak. Akan lebih baik jika kita makan bersama," seloroh Lucas diiringi senyuman lebar.


"Dia tampan sekali jika tersenyum. Huh, tidak! Aku tidak boleh terpengaruh olehnya ... " gumam Eliana dalam hati.


Makan malam berlangsung cukup lama dengan suasana yang nyaman. Namun tiba-tiba saja, hal tak terduga terjadi. Perkelahian antara Ibu dan Ayahnya kembali di mulai hanya karena Ibunya tak sengaja mengatakan sesuatu yang menyinggung sang ayah.


"Dasar wanita rendahan! Mati saja kau jika sudah bosan hidup!!!" teriak Ayah Eliana.


"A-- ayah, sudah cukup!! Ada temanku disini!!" sergah Eliana dengan suara lantang.


Sebuah tangan mendarat tepat di wajahnya. Tamparan yang begitu keras dilakukan oleh sang ayah pada Eliana. Perlahan cairan bening keluar dari kedua bola matanya.


Didapatinya raut wajah Lucas yang berubah begitu mendapati perkelahian tersebut. Hal itulah yang Eliana khawatirkan sejak awal.


Sebelum keadaan semakin memburuk di hadapan Lucas, sesegera mungkin dibawanya Lucas keluar dari rumah.


"Ma-- maaf, itu ... hal seperti ini memang sering terjadi. Ta-- tapi, aku ... aku ... " ucap Eliana terbata-bata.


Tubuhnya bergetar hebat, keringat dingin juga mulai bercucuran membasahi seluruh tubuhnya yang terlihat kaku.


Banyak hal ia cemaskan dari kejadian tersebut, salah satunya adalah Lucas.


Ia khawatir Lucas akan menjauhinya begitu mengetahui sisi gelap keluarganya yang tidak diketahui oleh banyak orang.


Namun, tak disangka. Lucas malah memeluknya dengan erat. Tubuhnya terasa hangat, begitu pula perasaan nya yang mulai membaik.


Namun tidak dengan air mata yang terus bercucuran membasahi wajahnya.


"Eliana ... jangan menangis. Kau akan baik-baik saja, tidak perlu khawatir ... " cakap Lucas yang terdengar begitu hangat di telinga Eliana.


Tentu saja ia membalas pelukan hangat dari Lucas. Rasanya, kali ini ia tak peduli dengan siapa ia sedang memperlihatkan tangisan nya. Karena menurut nya, hanya orang baiklah yang mampu menutupi tangisan itu.


𝙱𝚎𝚛𝚜𝚊𝚖𝚋𝚞𝚗𝚐....

__ADS_1


𝚃𝚎𝚛𝚒𝚖𝚊 𝚔𝚊𝚜𝚒𝚑 𝚝𝚎𝚕𝚊𝚑 𝚖𝚎𝚖𝚋𝚊𝚌𝚊 𝚜𝚊𝚖𝚙𝚊𝚒 𝚊𝚔𝚑𝚒𝚛, 𝚓𝚊𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚕𝚞𝚙𝚊 𝚋𝚎𝚛𝚒𝚔𝚊𝚗 𝚍𝚞𝚔𝚞𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚋𝚎𝚛𝚞𝚙𝚊 𝚕𝚒𝚔𝚎, 𝚐𝚒𝚏𝚝, 𝚔𝚘𝚖𝚎𝚗, 𝚟𝚘𝚝𝚎 𝚍𝚊𝚗 𝚏𝚊𝚟𝚘𝚛𝚒𝚝! 𝚂𝚊𝚖𝚙𝚊𝚒 𝚓𝚞𝚖𝚙𝚊 𝚍𝚒 𝚎𝚙𝚒𝚜𝚘𝚍𝚎 𝚜𝚎𝚕𝚊𝚗𝚓𝚞𝚝𝚗𝚢𝚊!!!𝙹𝚊𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚕𝚞𝚙𝚊 𝚍𝚞𝚔𝚞𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚍𝚊𝚗 𝚜𝚊𝚛𝚊𝚗 𝚗𝚢𝚊 𝚢𝚊🍀


__ADS_2