
Hampir dua tahun sudah aku menjalani ikatan pertunangan dengannya. Meski kadang ada saja kerikil menguji hubungan kami entah itu dari kj atapun masalah di mulai oleh nya. Tapi kami tak pernah gentar untuk menghadapi nya.
Terkadang hampir saja kami tergulir pada lembah perpisahan. Tapi selalu saja hati kami tak ingin merelakan satu sama lain. Aku yg egois dan dia kadang acuh dan ini itu menjadi masalah tersendiri. Kami hanya berpegangan pada keyakinan cinta kami untuk masa depan.
Berdebat, sadar, lalu saling minta maaf, begitulah seterusnya. Menurutku itu saja sudah membuat kami dewasa asalkan tak pernah ada niat dari satu sama lain untuk saling meninggalkan, karena perasaan kami masih sama sama kuat dan mesra dan selalu meluangkan waktu untuk bercanda.
__ADS_1
Ada istilah mengatakan tak ada gading yg tak retak. Dari situlah kami meyakini tak mungkin dalam hubungan selalu akan berjalan mulus. gelombang terjal ujian menjadi penguat hubungan kami.
Teringat dulu keluarga ku selalu berpesan agar aku dapat menerima orang yg baik, bisa menjagaku, menjadi imam yang sempurna dan satu hal lagi, bahwa ia tidak boleh main tangan pada saat sudah menjadi suami ku.
Harta berlimpah, tahta yg tinggi menjamin kebahagiaan seorang istri, dan itulah yg aku pahami hingga saat pembela ku meninggal dunia, ya.. dia adalah nenek ku, nenek yg sedari aku bayi telah bergantian dengan ibu untuk menggendongku. Nenek yg selalu membela meski di saat aku salah, tak lupa ia memberi nasehat setelah orang tua ku mengadiliku.
__ADS_1
Nenek selalu menasehati aku agar tidak terlalu tergiur pria kaya raya tapi carilah pria yg selalu ada di saat suka duka dan menerima ku apa ada nya. Dan ia harus memiliki kemauan untuk berkerja keras bukan hasil meminta dari orang tua saja.
Dan saat itulah aku mengerti bahwa harta bukan lah segalanya. Tapi karakter lah yang menentukan kualitas seseorang.
Ibu ku juga berpesan untuk memilih pria yg sesuai dengan kemauan ku. Tidak ada lagi perjodohan dalam keluarga ku. Aku mencari jodohku dengan cara ku sendiri, selagi cara itu masih baik.
__ADS_1
Aku tidak boleh keluar dengan pacar ku sebelum ada ikatan pertunangan. Aku tidak boleh sering sering mengundang pacar ku datang ke rumah. Dan saat aku bicara dengan pacarku juga harus dengan pantauan orang tua. Bahkan selama aku dan Leo berpacaran, kami tak pernah sekali pun pergi keluar berduaan. Kami hanya mengobrol lewat handphone saja. Bisa terhitung tak sampai 5 kali selama 2 tahun kami pacaran untuk Leo datang ke rumah.
Aku tak merasa terkekang atas peraturan keluarga ku, karena ini adalah demi kebaikan ku sendiri. Dan juga untuk menjaga nama baik hubungan kami berdua. Meski aku pernah bertemu dengan nya di pernikahan teman kami dan saat carnaval tanpa bersentuhan sedikitpun. Itulah cara kami menjaga nama baik dan kehormatan cinta kami.