
...Happy Reading....
Karena hari ini ada pertandingan persahabatan antar sekolah, maka jam keluar di percepat lebih awal. Biasanya mereka keluar jam 15.30 sore, hari ini lebih awal, jam 14.00. Semua siswa di harapkan ikut menyaksikan pertandingan untuk memberi semangat kepada Tim basket sekolah ini. Sebelum mengakhiri pelajaran, Pak Kris memberi mereka tugas.
"Saya tunggu tugas kalian besok pagi jam 10. Letakkan di meja kerja saya yang berada di dewan guru. Lewat dari jam 10 tidak akan saya terima." lalu dia keluar sambil menenteng tas kerjanya.
"Ya ampun, tugas tugas tugas melulu. Lama lama bisa botak kepalaku." gerutu Lala gusar.
Hari ini semua guru yang masuk memberi tugas dan menetapkan waktu pemasukan di hari yang sama, yaitu besok.
"Itu untuk tambah tambah nilai kita La, biar lulus dengan nilai bagus." kata Giandra.
"Kalau gak ingin dapat tugas mata pelajaran, ya di rumah saja Loe gak usah sekolah. Bantu bantu ibu Loe nyuci baju sama ngepel lantai." ledek Icha membuat Lala semakin kesal.
"Ishh, kayak otak Loe encer aja! Emang Loe sendiri senang dengan semua tugas itu? Bibir Loe tuh tadi monyong monyong gak jelas saat saat Bu Lina memberi tugas." semprot Lala.
Icha terkekeh."Gue udah terima dengan lapang dada, hati yang ikhlas." menepuk dadanya berbesar hati menerima semua tugas pelajaran.
Lala berdecak kesal."Sok sok ikhlas, ntar kalau pikiran buntu gak bisa jawab, mulutnya ngomel ngomel kayak bebek."
Tawa Icha pecah.
Giandra hanya senyum senyum mendengar perdebatan mereka. Keduanya teman yang asik menurutnya. Dia suka karena bisa menghibur. Di sekolah sebelumnya dia juga punya seorang teman dekat seperti Icha dan Lala ini, namanya Tia. Keduanya sangat dekat dan saling terbuka satu sama lain dalam soal apapun. Melihat pertengkaran mulut Icha dan Lala membuat Giandra teringat sahabatnya itu. Sudah tiga hari dia tidak melihat Tia di sekolah sebelum dia pindah ke sini. Itu karena Tia sedang membantu ibunya menjaga sang ayah di rumah sakit.
"Tugas tugas seperti ini belum seberapa jika kau udah kuliah nanti." kata Icha yang belum berhenti meledek Lala.
"Gue mau nganggur dulu, mau menenangkan diri, mau refreshing mengistirahatkan otak dan pikiran, biar fres. Bisa stress gue kalau otak gue hanya terisi tugas tugas pelajaran dan belajar melulu!" cemberut Lala.
__ADS_1
"Belajar melulu tapi gak pintar pintar." Icha kembali meledeknya di sertai tawa.
Lala memutar bola matanya, makin kesal pada Icha. Malas menanggapi manusia satu Ini, gak akan menang.
"Gak usah cemberut gitu gak ada gunanya, karena ujung ujungnya tetap di kerjain!" kata Giandra.
"Benar tuh! Buang buang energi saja marah marah." timpal Icha masih senyum senyum."Gue duluan ya, jangan lupa kalian berdua datang ke lapangan basket buat dukung Tim basket sekolah kita." kata Icha.
Icha Segera keluar kelas dengan berlari kecil.
"Dia mau ngapain lari lari gitu?" tanya Gia.
"Icha anggota tim Cheerleader. Mereka harus bersiap siap ke lapangan basket, mau latihan atraksi sebentar sebelum pertandingan di mulai." jawab Icha.
"Oh__ " mulut Gia membulat. Dia baru tau kalau Icha termasuk dalam Tim Cheerleader basket.
"Ayo, kita ke lapangan buat kasih semangat sama Icha dan Reza, biar sekolah kita menang." ajak Lala.
"Aya Gia, bentar aja kok!"
"Gue beneran gak bisa La, aku mau ngurus sesuatu."
"Apa urusannya berhubungan dengan telepon dari Bibi Loe tadi?" Lala sempat melihat nama Bibi Rima di layar ponsel Giandra.
Giandra mengangguk lemah.
"Bibi Rima itu siapa?" tanya Lala. Karena tadi saat di kantin Giandra hanya menceritakan tentang asal sekolah sebelumnya, tempat tinggal, hobi, alasan dia pindah sekolah karena mengikuti mamanya. Juga tak ketinggalan mereka mengorek soal pacar, dan Giandra mengatakan tidak punya pacar meski ada beberapa pria yang menyukainya. Giandra juga mengatakan kalau sambil sekolah, dia juga kerja.
__ADS_1
"Itu Bibi aku dari sebelah almarhum ayah. Beliau yang menjaga aku saat mama kerja dan tinggal di kota ini. Mama menitipkan aku pada Bik Rima!" kata Giandra berbohong. Tapi sedikitnya benar, karena dia memang hidup bersama Bibi Rima selama ini karena di titipkan almarhum papanya.
"Baiklah Gia. Semoga urusannya cepat selesai ya? Jika Loe butuh bantuan atau ingin sesuatu, jangan sungkan untuk bilang ke aku dan Icha." Lala melihat Giandra Kurang bersemangat setelah mendapat telepon tadi. Pasti telah terjadi sesuatu tapi dia tidak mau ikut campur urusan orang lain sebelum orang itu memintanya. Tidak enak juga hatinya terlalu ingin tahu kehidupan dan urusan Giandra.
"Iya La, makasih sebelumnya! Tolong sampaikan maaf ku sama Icha ya?"
"Nanti gue sampai kan. Dia pasti ngerti kok!" kata Lala tersenyum. Tapi kemudian dia teringat tugas tugas yang akan di kumpul besok."Terus tugasnya gimana Gia? Kita jadi kan kerja sama sebentar? Gimana kalau kita belajarnya sebentar sore? Atau jam berapa Loe bisa. Kita berdua ikuti waktu Loe aja."
"Nanti aku akan menghubungi kalian." kata Giandra."Aku pergi dulu ya!"
"Oke Gia, hati hati di jalan." keduanya cipika-cipiki sebentar. Gia segera pergi ke gerbang pintu sekolah, dan Lala pergi ke lapangan basket yang sudah sangat ramai oleh siswa sekolah ini dan siswa pendukung dari sekolah Jaya Wijaya, sekolah lama Giandra. Tapi Giandra kalau sekolah ini akan bertanding dengan sekolah lamanya.
Giandra berjalan menyusuri trotoar. Dia bingung mau melakukan apa. Semalam dia mencari lowongan pekerjaan lewat internet dan mengirim lamaran pekerjaan di beberapa tempat yang membutuhkan jasa cleaning servis lewat email. Tapi belum ada pemberitahuan hasil lamarannya yang masuk ke emailnya sampai sekarang.
"Apa aku minta tolong mama saja? Siapa tahu mama mau membantu." gumam Giandra. Sebenarnya dia ragu, berat hati dan malu. Tapi apa salahnya mencoba. Siapa tahu hati mamanya masih ada sedikit kebaikan.
Dia mengambil ponselnya, mengirim pesan pada Regina. Tapi balasan apa yang dia dapatkan dari Regina? Hinaan dan cercaan yang begitu menyakiti hatinya.
..."Gak tahu diri, gak tahu malu kalian. Udah di tolongin malah ngelunjak. Kau pikir gampang cari uang? Masih beruntung kalian aku kasih rumah untuk tempat bernaung."...
..."Gak usah sok sok kaya, sok dermawan kamu dan Rima. Kalau memang gak mampu membiayai hidup anak anak, tutup saja panti itu dan kembali kan anak anak ke keluarga mereka atau kembalikan ke jalanan, tempat asal mereka dulu."...
Air mata Giandra merembes jatuh, Sungguh miris hatinya membaca pesan balasan dari mamanya itu. Mamanya benar benar tidak punya hati. Mau di tutup? terus anak anak akan kemana? Dan mau di kembalikan ke keluarga yang mana? Karena anak anak itu anak anak yatim-piatu, anak anak jalanan, anak anak yang di buang tak punya keluarga dan tempat tinggal.
Giandra menyeka ke dua pipinya. Dia ingin menghubungi Niken, tapi tak sengaja matanya melihat seseorang yang dia kenal. Yaitu temannya di sekolah yang dulu, Tia. Teman yang teringat olehnya di kelas tadi.
"Itu kan Tiara, dia lagi sama siapa?" batinnya melihat Tiara bersama seorang pria yang seumuran dengan ayah Tiara. Tapi itu bukan ayah Tia. Giandra tahu ayah Tiara. Bukan permasalahan dia sedang bersama siapa yang menarik perhatian Giandra, tapi gestur tubuh mereka yang terlihat tidak pantas. Keduanya sangat dekat dan terlihat mesra. Penampilan Tiara juga tampak berubah. Semua yang melekat pada tubuhnya dari pakaian sepatu tas, aksesoris terlihat mewah. Wajahnya juga cantik dengan riasan makeup tipis. Tiara yang sekarang beda dengan Tiara yang dulu. Tiara sekarang seperti gadis gadis sosialita. Giandra tahu kehidupan sulit Tiara dan orang tuanya. Ayahnya hanya sopir angkot dan ibunya seorang pembantu. Terus dari mana Tiara mendapatkan kemewahan itu.
__ADS_1
Terlihat Tiara cipika cipiki dengan pria tua itu, lalu pria itu masuk mobil mewah dan pergi meninggalkan Tiara yang sedang melambaikan tangan.
Bersambung.