
...Happy Reading....
Giandra masih bengong di tempatnya memikirkan adik adiknya dan bagaimana cara mendapatkan biaya buat pengobatan mereka. Dia tidak sadar sesuatu sedang melayang ke arahnya, yaitu bola basket. Tapi ketikan benda itu semakin mendekati wajahnya, dia menyadari dan terkejut bukan main. Saking paniknya tidak sempat menghindar, dan berpikir apa pun. Dia memekik keras dan pasrah. Tapi sebelum benda itu menghantam wajahnya, seseorang menariknya dengan cepat sehingga wajahnya batal berciuman dengan si kulit bundar itu.
Jantung Giandra berdegup kencang. Panik, takut, gemetar yang di rasakan saat ini menjadi satu.
"Kau tidak apa apa?"
Suara pertanyaan itu membuat Giandra tersadar dengan keadaan. Dia terkejut setelah menyadari bahwa saat ini tubuhnya berada dalam dekapan seseorang. Wajahnya terbenam di dada seseorang. Giandra seketika mendongak ke atas. Mata indahnya membulat melihat wajah seseorang di atas sana yang juga sedang menatapnya dengan cemas. Kembali tersadar dengan keadaan, Giandra segera menarik diri dari dekapan laki laki itu tanpa beralih dari wajah tampan berkeringat. Bukan hanya wajahnya yang berkeringat tapi seluruh tubuhnya yang terbungkus seragam olahraga basket celana pendek, kous tanpa lengan yang bertuliskan nama sekolah ini.
Pria yang merupakan salah satu siswa di sekolah ini segera meraih bola yang hampir menghantam Giandra tadi. Matanya menatap tajam ke sayap kiri tribun, ke arah di mana Kimmy dan Kinos berada, yang tampak terlihat kesal karena usaha mereka untuk membantu sang bos gagal.
Siswa bertubuh atletis, kulit putih dengan tinggi 185 cm itu mendribble bola ke tengah lapangan, lalu melompat dengan lincah seraya melempar bola ke arah Ring__Masuk. Terdengar tepukan dari siswa siswi yang sedang duduk, menonton di tribun. Giandra pun terpukau, takjub melihatnya memasukkan bola ke ring dengan mudah.
"Dia Kapten Tim basket sekolah ini." kata Lala membuat Giandra kaget.
"Namanya Reza Pratama." sambung Icha. Kedua teman barunya itu membuat Giandra kaget karena muncul tiba-tiba. Keduanya mengambil tempat duduk di samping kiri kanan Giandra.
"Beruntung banget Lo bisa di peluk sama dia. Bagaimana bau keringatnya? Wangi bukan?" Celetuk Icha senyum senyum dengan kening berkedip kedip. Mereka yang melihat Giandra berada dalam dekapan Reza tadi.
"Dia sangat tampan bukan? Binar mata kami bercahaya jika melihat wajah tampannya." Celetuk Lala dengan senyumnya."Giandra, Mimpi apa Loe semalam?"
Dahi Giandra mengerut bingung dengan pertanyaan itu.
"Pasti mimpi indah, buktinya hari ini Loe mendapatkan kejadian yang menyenangkan. Bisa merasakan pelukan hangat dan mencium aroma wangi kapten kita." kata Icha kembali dengan senyuman yang menggoda.
Wajah Giandra kembali mengernyit, lalu gelang geleng kepala mendengar perkataan yang menurutnya gila dan konyol ini.
"Loe tahu nggak, Reza tuh idola wanita di sekolah ini. Banyak yang ngefans padanya, dan ingin menjadi pacarnya, termasuk aku dan Icha. Tapi tak ada satupun yang menarik hatinya. Orangnya terlalu dingin." Celetuk Lala.
__ADS_1
"Kalian sudah selesai makan?" tanya Giandra alih alih menanggapi perkataan mereka tentang Reza, sang kapten Tim Basket sekolah ini. Dia tidak menyangka kedua temannya ini begitu tergila gila pada Reza.
"Udah, makanya kita nyusul Loe ke sini."
"Tapi makanan ku belum di bayar."
"Udah kita bayar kok, tenang aja."
"Terimakasih ya, nanti aku ganti uang Kalian." Giandra hendak mengambil uang di saku rok, tapi tangannya di tahan Lala.
"Gak usah. Anggap traktiran kita ke Loe sebagai siswa baru di sekolah ini dan juga sebagai pertemanan kita." kata Lala yang ikut di angguk'in Icha.
Giandra tersenyum haru."Terimakasih ya __!"
"Sama sama Giandra." Icha dan Lala balas tersenyum.
Tepukan tangan yang menggema di udara membuat mereka kembali fokus ke lapangan.
"Reza _ Reza _Reza_ Reza!" terdengar teriakan seorang siswi menyerukan nama Reza, lalu diikuti siswa lainnya.
"Kalau dia, Jesika. Ketua Tim Cheerleader." kata Icha melihat pandangan Giandra beralih pada gadis yang menyerukan nama Reza tadi.
"Dia menyukai Reza, dan keduanya dekat. Tapi keduanya belum jadian. Karena beredar gosip kalau Reza tidak menanggapi perasaan Jesika. Dan Jesika tidak mau menyerah begitu saja. Dia akan terus berjuang memiliki Reza."
"Dan aku gak menyangka kalian berdua ternyata tukang gosip." kekeh Giandra yang langsung di sambut tawa lepas oleh Icha dan Lala.
"Gosip itu hiburan Gia, hidup itu perlu hiburan biar gak membosankan!" kekeh Icha.
"Bukan hiburan tapi Dosa!" kata Giandra membuat wajah Lala dan Icha meringis.
__ADS_1
"Tahu gak, Gosip itu di buat oleh orang Iri, di sebarkan oleh orang Bodoh, dan di terima dengan baik oleh orang yang Idiot." kekeh Giandra.
"Jadi kau mengatakan kami bodoh dan idiot?" Icha dan Lala menatapnya tajam dan kesal.
Tawa Giandra pecah dan lepas, melihat wajah cemberut keduanya yang menggemaskan. Cukup keras suara tawanya hingga menarik perhatian sang kapten. Wajah yang tadi di lihatnya sangat mendung kini berbinar ceria.
"Wajah kalian benar benar lucu dan menggemaskan Baby!" ledek Giandra.
"Giandraaaaa__!" teriak Icha dan Lala semakin kesal dengan ledekan itu. Giandra seketika berdiri dan lari menghindar pukulan ke dua teman barunya. Icha dan Lala segera mengejarnya. Ketiganya berlarian kejar mengejar menuruni tribun. Dan tidak sengaja Giandra menabrak seseorang. Giandra kaget, begitu juga dengan orang yang di tabrak yang merupakan murid laki laki. Es krim yang dipegangnya jatuh ke lantai dan mengena di celana dan sepatunya.
"Maaf, aku gak sengaja." kata Giandra panik. Reflek dia menurunkan tubuhnya dan membersihkan lelehan es krim di celana dan sepatu pria itu mengunakan telapak tangan. Lexi yang memang sengaja membuat drama penabrakan ini ikut menurunkan tubuhnya."Tidak apa apa __ tidak perlu di bersih kan." memegangi bahu Giandra untuk berdiri."Berdirilah, tidak usah di bersihkan."
Giandra segera berdiri mengikuti tarikan ke dua tangan Lexi di bahunya. Tapi kemudian dia segera mundur menghindari tangan Lexi. Kejadian buruk di hotel kemarin membuatnya trauma untuk bersentuhan dengan laki laki. "Aku benar benar tidak sengaja." ucap Giandra kembali dengan wajah memelas.
Lala dan Icha juga kaget melihat celana dan sepatu Lexi yang kotor.
"Ya ampun, celana dan sepatu kamu kotor Lexi. Maafkan Giandra, dia tidak sengaja." kata Icha.m, wajahnya tampak takut.
"Iya, ini bukan hanya kesalahan Giandra, tapi kami bertiga. Ini gara gara kita yang mengejarnya. Seharusnya kita gak berlari kejar kejaran di sini." sela Lala ikut merasa bersalah.
Lexi segera mengulas senyum manis yang membuat wajahnya semakin tampan, di mata siswi lain. Tapi tidak di mata Giandra, karena saat ini Giandra hanya fokus di rasa bersalah karena menabrak serta membuat celana dan sepatu Lexi kotor.
"Kalian tidak perlu merasa bersalah begitu. Ini kan tidak sengaja. Sudahlah __ !" kata Lexi dengan suara rendah bahkan terdengar lembut.
"Kamu gak marah?" tanya Lala heran, sama halnya dengan Icha. Karena mereka berdua tahu, bahkan seluruh penghuni sekolah ini tau temperamen buruk Lexi. Pria kasar dan arogan meski pada wanita. Dia bahkan suka melakukan perudungan dan bullying pada siswa lemah. Sebagian siswa di sekolah ini takut padanya dan tidak mau mencari masalah.
Jadi sikap baiknya ini membuat Icha, Lala serta beberapa siswa yang berada di situ melihat sikap baiknya heran dan bingung.
...Bersambung....
__ADS_1
Jangan lupa jejak dukungan ya, like komen positif, vote, hadiah kopi, subscribe, dan bintang lima. Terimakasih