Angus Poloso - Legenda Ki Ageng Selo.

Angus Poloso - Legenda Ki Ageng Selo.
Interlude - Mesin Waktu.


__ADS_3

Setelah pembicaraan yang panjang dan tak ada artinya, akhirnya kini Mbah Jayos, selaku mentor utama segera naik ke panggung untuk memberikan sepatah dua patah kalimat yang akan dia sampaikan pada para peserta.


“Ehm, oke anak-anak. Saya ke sini akan memberikan sepatah dua patah kata bagi peserta yang akan mengikuti ujian Test of Faith ini,” kata Mbah Jayos membuka pidato. “Seperti yang kalian ketahui kalau dalam ujian ini, kalian harus mengerahkan segala kemampuan yang kalian punya untuk kembali menyegel para demit-demit ke dalam Angus Poloso. Oleh karena itu, kalian harus mencurahkan segalanya dalam ujian ini, baik harta, semangat, kemampuan, bahkan nyawa kalian. Dari seratus peserta, saya memastikan hanya tiga puluh orang saja yang akan bisa keluar dengan selamat dari ujian ini dan yang lainnya akan meregang nyawa maupun hilang!”


Mereka semua terdiam, tak ada yang berani atau memang sudah tahu akan resikonya. Aku pun juga terdiam mengetahui kalau hal ini telah diceritakan oleh kak Vita, namun namun berbeda dengan Mela, dia sudah


terlihat ketakutan setengah mati, bahkan tangannya sama sekali tak terlepas dari pelukannya kepadaku.


“Mela kau takut ya?” tanyaku khawatir.


“Eh, nggak kok. Cuman ini adalah pengalaman pertamaku, jadi ...” jawabnya mencoba menutupi rasa ketakutannya itu.


“Itu namanya kau ketakutan, tau! Nggak apa-apa kok, ada aku di sini yang siap melindungimu.”


Kemudian terdengar suara dari atas mimbar, Mbah Jayos seperti melihatku yang tengah menenangkan ketakutan Mela. “Oke, anak-anak. Sebelum ujian ini di mulai sebaiknya kalian segera beristirahat terlebih dahulu sekaligus mencari dan membentuk tim kalian.”


Dari penjelasan Mbah Jayos di atas aku berhasil mengambil beberapa kesimpulan dalam pembentukan tim nanti. Setiap tim harus mempunyai lima anggota, dan partner itu tidak dihitung sebagai anggota, jadi kami harus mengumpulkan sepuluh orang, jikalau partner mereka ikut dihitung.


“Anoo, maukah kau menjadi salah satu regu timku?” tanya seorang gadis sembari menarik-narik pakaianku dari belakang. Aku menoleh ke belakang sampai kedua mata kami saling berpapasan.


“Meme Febtyana,” ucapku yang terkejut melihatnya.


“Eh, kak Umam. Aku tak menyangka kakak bisa ada di sini. Ikut Test of Faith lagi ya kak?” jawabnya sembari balik bertanya. “Oh ya, gimana kabar Danang?”


“Ah, biasalah. Tiga tahun lalu aku gagal dalam ujian ini, jadi aku harus mengulang lagi deh!” jawabku sekenanya. “Soal Danang, dia masih seperti dulu kok. Lain kali kau mampir saja ke rumah kalau ada waktu,”


Meme Febtyana ini adalah pacar atau lebih tepatnya tunangan dari Danang. Dia adalah sesosok gadis yang mampu menyembuhkan rasa trauma Danang saat ia dihianati oleh Dewi Anjar yang telah menipunya mentah-mentah.


Melihat obrolan akrab kami, Mela yang berada di sampingku itu merasa diacuhkan, dan hal itu membuatnya tak nyaman. Dengan segera, dia mengarahkan telunjuk tangannya ke arah Meme, dan dengan tatapan


kosongnya, dia berkata, “Darling, apakah aku boleh membunuh gadis ini? Aku tak suka diacuhkan oleh orang yang kucintai. Jadi, sebelum gadis ini ikut campur, bolehkan jikalau aku membunuhnya?”


Ucapan Mela langsung membuat kami berdua tak nyaman. “Tenang, Mela, tenang! Meme ini adalah pacar adikku, jadi mana mungkin aku ada rasa padanya,”


Dengan segera Meme segera mengajak Mela berkenalan, ya walaupun aku tahu dia terlihat sedikit takut, “Aku Meme, pacarnya Danang. Salam kenal ya?”


Mela pun kembali ke kondisinya semula dan bergegas memperkenalkan diri pula. “Aku Mela, tunangannya Umam. Salam kenal juga!”


Mereka berduapun akhirnya bersalaman. Melihat tingkah Mela barusan, membuat Meme mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam timku. Namun setelah kukatakan kalau dalam ujian kali ini akan banyak petaka yang menimpa, dia pun memutuskan lagi untuk masuk ke dalam timku.


Duh! Apaan yang barusaja aku rasakan ini. Mela yang begitu manja itu ternyata memiliki sikap seperti itu. Sikap seorang yandere yang begitu over dalam mencintai seseorang. Tak mau memperburuk suasana, aku ajak mereka berdua untuk berjalan menyusuri koridor-koridor kelas di ponpes itu dan berharap ada seseorang yang mau bergabung ke tim kami.


“Oh ya, Feby. Pasanganmu mana?” tanyaku baru teringat mengenai pasangan Meme yang belum muncul.


“Oh, entahlah! Tidak biasanya Siti seperti ini,” jawab Meme yang menengok ke kanan ke kiri mencari pasangannya itu. “Umam, bisakah kau bantu aku mencarinya?” pintanya. Aku sih fine-fine aja, tapi tidak

__ADS_1


dengan Mela. Dia menatap Meme sudah seperti ingin membunuhnya. Walaupun begitu, aku tetap membujuknya supaya mengerti, dan akhirnya aku pun mendapat izinnya.


Aku meninggalkan Mela di depan kantin sementara kami berdua segera mencari Siti dari segala tempat yang ada. Ruang kelas, asrama, mushola dan sebagainya, namun tak ditemukan batang hidungnya.


Setelah lama pencarian, kami berdua menemukannya tepat di kamar mandi. Di sana dia melakukan sesuatu yang bahkan orang gila takkan mau melakukannya. Naudzubillah Min Dzalik ...!


Dia menggaruk-garuk perutnya sampai sobek dan ketika darah mengucur, dia menadahi darah yang keluar itu dengan kedua tangannya dan kemudian dia minum darahnya sendiri.


Aku benar-benar mual melihatnya, bahkan hampir saja membuatku muntah. Namun ketika aku hendak menolongnya dan mengantarnya ke lokasi para mentor, dari belakang, Meme tiba-tiba menusukkan pisau yang ia bawa, mengenai punggungku.


Mereka berdua kesurupan!


Untung saja kala itu, mengetahui ada yang janggal kepada Meme, aku bergegas memasukkan sebuah katon ke dalam pakaian belakangku, sehingga tusukan pisau itu sama sekali tak melukaiku. Dengan segera kubalikkan badanku dan kupukul bagian perutnya sehingga ia mengaduh dan lemas. Aku pukul untuk kedua kali dan akhirnya dia pun jatuh pingsan di sana.


Setelah itu, aku bergegas menuju ke tempat para mentor berada dan memberitahukan apa yang terjadi kepada anggota timku. Dengan segera dua orang di antara mereka datang menolongku untuk membopong Meme dan Siti ke mushola dan meruqyahnya.


Butuh waktu sejam lebih bagi para ustadz dan ulama di sana untuk meruqyah Feby dan Siti. Namun perjuangan keras mereka membuahkan hasil, dan Feby (kusebut saja Feby biar enak daripada Meme) juga Siti akhirnya siuman.


Sebelum itu terjadi ...


“Hahaha ... aku adalah penguasa malam dan kegelapan. Kuikat jiwa dan tubuh gadis ini untuk mengakhiri gadis yang bersamamu, cicit Kyai Marwan,” Feby teriak-teriak sembari mengarahkan telunjuknya ke arahku.


Para ustadz dan ulama lain lagi membaca doa.


“Dia adalah kegelapan itu sendiri. Lepaskan kami anak muda, kau akan tahu sendiri kalau gadis itu tidaklah sebaik yang kau duga,” sahut Siti yang menyahuti pembicaraan kami. “Tidak hanya kami yang sedang mengamati gadis itu, namun ada ribuan, tidak jutaan demit dan iblis yang sedang memata-matai gadis itu sekarang. Dan begitu kalian lengah, maka nyawa gadis itu akan melayang di tangan kami. Hahaha!”


“Demi Allah, dan demi keagungan kalam-Nya. Jangan bicara yang tidak-tidak mengenai tunanganku. Iblis keparat!”


Sesadarnya mereka dari kesurupan, mereka berdua bilang tak tahu apa-apa. Feby pun tak tahu kalau aku mengikuti ujian ini dan dia masuk ke reguku. Itu berarti dia kesurupan sebelum aku bertemu lagi dengannya.


Aku yakin kalau demit-demit yang sudah merasuki Feby dan Siti itu adalah panggilan dari seseorang, karena tak mungkin demit itu tahu kalau aku mengajak Mela untuk mengikuti ujian ini, dan mana mungkin sesosok demit kelas teri mampu merasuki tubuh manusia yang punya garis darah dari Kyai Marwan, selain karena kehendak manusia itu sendiri yang mengizinkannya.


...


Setelah semua kembali normal, aku, Feby, dan Siti bergegas menuju ke halaman ponpes guna mencari anggota. Namun sayangnya kami terlambat. Semua peserta sudah mendapat pasangan mereka masing-masing.


Tak mendapat anggota baru, kami segera kembali ke tempat di mana kutinggal Mela. Di sana sudah berkumpul empat pria yang mencoba merayu Mela untuk ikut ke kelompoknya. Tak tahu mengapa, saat mereka mencoba menyentuh dan meraba tangan Mela yang halus itu membuat tempramenku meninggi seketika dan langsung memukul keempat pemuda itu.


“Kalian jangan ganggu kekasihku!”


“Cih! Berani juga kau?”


Mereka berempat langsung memukuliku secara bergantian. Jujur saja seni bela diriku kalah dengan mereka. Sehingga di sana aku hanya menjadi bulan-bulanan mereka saja. Feby dan Siti tak bisa berbuat banyak untuk menolongku karena mereka hanya gadis yang lemah, sementara Mela, mencoba menolongku namun dia terkena imbasnya pula.


Sampai datang Mbah Ibu yang datang dan melerai perkelahian kami. Melihat cicitnya terluka akibat dipukuli oleh peserta-peserta lain, membuat amarah Mbah Ibu memuncak. Dia hendak mengeluarkan keempat peserta tadi, namun hal itu kucegah.

__ADS_1


“Jangan, Mbah Ibu! Kalau kau mengeluarkan mereka, maka akan mempersulit anggota timnya yang lain. Jadi kumohon untuk memaafkan mereka!” kataku yang mencoba membujuk Mbah Ibu. “Lagian aku orang pertama yang memukul mereka, jadi salahnya juga padaku.”


Mbah Ibu akhirnya menghela napas panjang. Dia pun segera mengobati luka-lukaku dengan ajian Sewu Urip miliknya. “Ya udah, nak! Terkadang keputusan baikmu ini bakal menjadi petaka buatmu nanti. Namun, mbah


bersyukur kau mempunyai hati yang lapang!”


Setengah jam kemudian, karena kami sudah tak bisa mencari anggota lain, maka kami dipasangkan secara acak dengan peserta yang masih tersisa. Ya walaupun anggota kami kurang dari sepuluh orang, namun setidaknya mereka mempunyai kekuatan mental dan supranatural yang mumpuni.


Mereka adalah: (Umam dan Mela), (Feby dan Siti), (Andre dan Wulan), dan (Agung dan Cici). Karena sudah pernah mengikuti ujian ini, aku diminta oleh semuanya untuk menjadi pemimpin sekaligus penanggung jawab kelompok ini, sedangkan Feby diangkat menjadi wakilnya. Hal itu sedikit membuat Mela cemberut setengah mati, namun pada akhirnya dia pun setuju.


Setelah semua siap, kami semua dipanggil oleh Mbah Jayos ke dalam aula ponpes. Kami adalah tim yang terakhir yang belum dikirim ke dimensi lain oleh para mentor, namun ternyata ini ada alasan buat Mbah Jayos bicara pada kami.


“Le, apa kau tahu mengapa kau kupanggil ke mari?” tanya Mbah Jayos ramah. Tatapan matanya terlihat sejuk untuk dilihat. “Apa kau tahu alasannya mengapa aku menyegel kekuatanmu?”


Aku mengangguk pelan. “Iya, Mbah. Tapi aku juga tidak mengerti.”


Kulihat Mbah Jayos sedikit melirik ke arah Mela yang masih tak henti-hentinya merangkul lenganku erat-erat, seolah takut dengan tatapan Mbah Jayos padanya.


“Oh begitu? Lalu apa yang tidak kau mengerti itu, nak?” tanyanya.


“Mengapa mbah menyegel kekuatanku? Aku yakin ada alasan lain selain apa yang dikatakan Mbah Gel beberapa waktu lalu. Apa itu?” jawabku yang meminta sebuah kepastian akan alasan mengapa kekuatanku disegel, padahal di ujian kali ini aku sangat membutuhkannya.


“Iya, kalau darling masih punya kekuatan, pastinya dia nggak akan terluka macam tadi, mbah,” seru Mela membelaku.


“Kalau dipikir-pikir memang ada benarnya kata-katamu, Mam!” sahut yang lain membelaku.


Mbah Jayos hanya tersenyum kecut mendapati pembelaan mereka semua. “Diam kalian semua! Kalian tak tahu apa yang sudah kurencanakan. Aku melakukan semua ini untuk melindunginya!”


Semua terkejut seketika. “Melindungi? Melindungi dari apa?”


“Banyak hal. Kukatakan satu saja alasannya. Melindungi dari kejaran Ki Sugeng, Ki Ujek, dan Ki Susilo. Apa kalian sudah paham?” jawab Mbah Jayos yang sedikit membentak. “Asal kalian tahu, mengajak Mela dalam


ujian ini menimbulkan banyak bencana, kalian tahu? Semua sekte sesat yang ada di penjuru negeri ini pada berbondong-bondong ke jawa hanya ingin mendapatkannya!”


“Jadi semua ini salahku?” tanya Mela yang mulai menyalahkan dirinya sendiri. “Jadi aku hanya ada di sini karena diriku dikhawatirkan, bukan karena kau ingin mengajakku begitu, Mam?”


Mela bergegas keluar dari ruang, dan aku langsung menggenggam tangannya dan kupeluk dia. Pertama-tama dia masih memberontak, namun pada akhirnya dia pun menyerah dan membiarkanku menenangkan hatinya.


“Cih! Jadi baper liatnya,” ujar Andre. “Kudenger-denger sih mereka sudah bertunangan. Apa itu benar?”


“Iya, kak Umam itu adalah kakak dari pacarku, jadi aku tahu semua tentang dia. Kalau Mela, ini baru pertama kali aku bertemu dengannya.” Jawab Feby.


Setelah semua siap, kami pun dikirim ke dimensi lain yang menghubungkan ruang dan waktu oleh Mbah Jayos. Entah kita akan dikirim ke tempat mana maupun petualangan apa yang akan kami hadapi, namun satu yang pasti.


Kami akan saling menjaga satu sama lain supaya tim yang kupimpin kali ini berhasil melewati ujian ini tanpa harus kehilangan siapapun.

__ADS_1


__ADS_2