
Tak terasa sudah dua jam lebih setelah Tia pingsan. Setelah menunggu selama itu, akhirnya dia pun bangun juga.
“Tia, kau baik-baik saja?” tanyaku cemas.
“Di mana aku, Ren? Bukankah aku sedang mandi tadi?” jawabnya yang masih linglung.
“Tenang saja, Tia! Kau sekarang berada di kamar kak Cynthia. Dialah yang menolongmu barusan.” kataku mencoba menenangkan Tia. “Sana ucapin terima kasih!”
“Oh, makasih kak!”
“Tidak apa-apa. By the way, sebenarnya apa yang terjadi padamu saat kau mandi, dek Tia? Bisakah kau ceritakan kejadian yang menimpamu saat di kamar mandi?” kata Cynthia memulai obrolan serius. “Aku sebenarnya tahu apa yang menimpamu di sana, dek Tia. Tapi, jikalau hal ini keluar dari mulutku, pastinya dek Eren takkan percaya,”
Tia pun mengangguk dan menceritakan semua kejadian yang menimpanya saat di kamar mandi. Katanya di sana dia bertemu dengan seorang nenek-nenek bungkuk yang lagi membelakanginya.
Terlihat selintas nenek itu seperti nenek-nenek pada umumnya yang sedang mandi, namun tiba-tiba aura di kamar mandi seketika berubah begitu Tia mendengar tawa melengking keluar dari mulut nenek itu.
“Apa kau tahu siapa nama nenek itu, Tia?” tanyaku menyela cerita Tia dengan cepat.
“Tidak, Ren! Tapi nenek itu pernah kita temui saat kita mengiranya sebagai pengemis di jalan tadi.” jawab Tia terus terang. “Aku jadi takut, Ren!”
“Nggak usah takut begitu, Tia.” kataku mencoba menenangkan Tia yang mulai ketakutan itu. “Gimana ini kak Cynthia? Apakah nenek yang ditemui oleh Tia dalam kamar mandi itu adalah dalangnya?”
Cynthia terdiam sejenak. Dia pun menggeleng. “Tidak, dek Eren! Nenek yang ditemui oleh Tia di kamar mandi adalah demit yang menjelma menjadi seseorang yang pernah kalian temui.”
Aku semakin merinding dibuatnya. Gangguan demi gangguan selalu kami dapat namun sampai saat ini kami masih belum tahu siapa dalang dibalik semua ini.
Karena waktu sudah larut malam, kak Cynthia memintaku untuk segera kembali ke kamar dan tidur. Karena esok hari aku akan diikutkan dalam proses pengusiran. Waktu aku mengajak Tia untuk tidur bersamaku, kak
Cynthia pun langsung menarik tangan Tia kembali.
“Biarkan Tia tidur denganku malam ini, dek Eren! Karena hanya kau yang diberi geleng pelindung itu oleh Vita, jadi membiarkan Tia tidur bersamamu mampu membahayakan jiwanya. Jadi, dia akan tidur bersamaku
malam ini.” kata kak Cynthia dingin, meski begitu masih dibarengi senyuman manis. “Setidaknya aku di sini mampu melindunginya,”
“Tapi kak, aku ...” jawabku yang terpotong oleh ucapan kak Cynthia.
“Tidak perlu takut. Sebelum kau tidur, sebaiknya kau ambil air wudhu dan sholat malam. Dan jikalau nanti ada siapapun dan apapun yang mengetuk pintu kamarmu, walaupun itu adalah orang tuamu sendiri, jangan pernah kau buka. Mengerti?”
Aku pun beranjak meninggalkan kamar kak Cynthia dengan perasaan resah. Kalau Tia tak tidur bersamaku, lalu siapa yang akan menemaniku dari gangguan demit-demit itu?
__ADS_1
Setelah keluar, aku pun bergegas berwudhu dan solat dia rokaat. Anehnya aku tidak diganggu sama makhluk-makhluk itu, padahal aku wudhu di tempat Tia dihantui oleh nenek-nenek itu.
Kulihat jam telah menunjukkan pukul 23:22. Jadi sudah saatnya untukku tidur, namun entah mengapa aku merasa di luar kamarku aku merasakan banyak sekali aura hitam yang mengepung kamarku dari segala sisi.
Tak mau memikirkannya dan jadi parno, aku bergegas menutup mataku, dan akhirnya aku pun tertidur pulas.
Sementara itu, di kamar Cynthia. Kak Cynthia lagi ngobrol serius dengan Tia. Tia pun dapat mengerti mengenai obrolan serius mereka berdua, dan diapun akhirnya mendengarkan.
“Dek Tia, apa kau bisa melihat makhluk di belakangku?” pinta kak Cynthia ramah.
“Haa... I-Itu kan, ular panca! Iyakan, kak?” jawab Tia yang sempat kaget dan takut melihat ular segede bagong itu dibelakang kak Cynthia.
Mendengar jawaban dari Tia membuat Cynthia tersenyum. “Sudah kuduga. Kau memiliki mata batin juga, Tia. Pantesan saja saat demit di kamar mandi itu mewujudkan dirinya sebagai sesosok nenek-nenek, kau bisa melihatnya.” kata kak Cynthia. “Padahal, sedari tadi nenek itu ada di dalam kamar mandi, namun dek Eren tak melihatnya sedikitpun. Jadi kau memang seorang indigo, ya walaupun ketakutanmu itu malah lebih besar ketimbang kekuatan mata batinmu itu!”
“Aku pikir hal ini adalah hal yang normal, tapi jikalau ini adalah sesuatu yang hanya bisa dilihat dengan mata batin, aku jadi ngeri!” jawab Tia sembari mengelus-elus leher belakangnya. “Apa kakak tidak bisa menutupnya?”
“Bisa saja sih. Tapi apa kau tidak merasa beruntung dengan mempunyai kemampuan ini, Tia?”
“Tidak, malah bisa tambah sial aku!”
“Hahaha... benarkah? Padahal setiap hari kau malah berinteraksi dengan mereka semua.” kak Cynthia sedikit tertawa mendapati permintaan si Tia. “Setiap orang yang kau ajak berinteraksi, yang kau pikir masih hidup, gadis kecil yang sudah kau anggap sebagai adik kecilmu itu sebenarnya sudah tiada. Termasuk kedua paman-paman yang selalu menyambut kedatanganmu di kampung halamanmu itu juga sudah tiada. Namun, kau mampu melihat mereka dan bisa berinteraksi dengannya seperti saat mereka masih hidup. Apa kau yakin mau membuang kemampuan itu?”
“Iya, Tia. Inilah sebabnya kau selalu dijauhi oleh orang-orang di sekitarmu karena mereka pikir kau adalah seseorang yang gila, karena melihatmu bicara sendiri.” jawab kak Cynthia yang masih ramah.
Setelah cukup basa-basinya, Tia pun menanyakan mengenai perihal masalah
yang dialami temannya itu. Dan dengan sigap kak Cynthia pun menyuruh Tia
untuk mengambil sebuah diari yang ia letakkan di dalam rak buku.
Di dalam diari itu sudah dijelaskan semuanya mengenai tanah perjanjian, dalang, dan tumbalnya. Dan dari sana Tia tahu semuanya. Dia bermaksud memberitahukan hal ini ke aku, namun hal itu segera dicegat oleh
Cynthia.
“Tidak perlu kau lakukan, Tia! Kau hanya akan menjadi santapannya nek Ifa. Biarkan Vita yang menangani semua ini.” kata kak Cynthia. “Lagipula kita takkan mampu menang melawan khodam milik nek Ifa. Sekarang
sebaiknya kita berdoa demi keselamatan kita dan keluarga Astia,”
__ADS_1
Tia pun mengangguk, dan mereka bergegas tidur.
Balik lagi di kamarku. Entah sudah berapa lama aku tertidur, namun perasaan buruk masih terus menghantuiku dalam mimpi. Sampai aku terbangun.
Entah mengapa aku terbangun jam satu malam. Ketika aku mengedipkan mata, tiba-tiba muncullah sesosok bayangan putih, memakai kain kafan, yang masih terikat dengan tali pocong muncul di depan mukaku.
Aku langsung menjerit seketika melihat pemandangan mengerikan itu, tapi anehnya, suaraku tak bisa keluar, tak peduli seberapa kerasnya aku berteriak. Sial!
Untuk mengalihkan pandanganku dari pocong itu, aku menoleh ke arah jendela yang ada di pojok kanan kamar. Awalnya sih tak kulihat apa-apa di sana, namun tiba-tiba muncul seorang wanita yang memakai pakaian serba putih, rambutnya panjang tak terurus, dia menyeringai di luar sana sembari tertawa yang jelas-jelas itu bukan tertawaan manusia.
Rasanya aku ingin pingsan kala itu. Belum sempat aku merasa lega, tiba-tiba aku dikejutkan oleh sesosok nenek-nenek yang entah datang darimana langsung tiduran di samping kiriku. Kalau tak salah ingat,
kurasa inilah nenek-nenek yang ditemui oleh Tia sewaktu ia pergi ke kamar mandi tadi. Sial, benar-benar sial hidupku!
Kukira diriku akan tamat, tiba-tiba gelang yang dikasih Vita tadi di sekolah memancarkan aura putih yang menyilaukan, mirip dengan cahaya senter. Saat itu, gelang itu mengeluarkan sejenis asap warna putih yang
langsung mengikat ketiga demit itu dan menghisapnya.
“Dasar, keturunan Kyai Marwan sialan!” umpat mereka. “Ini belum berakhir. Setelah ini, aku pasti akan mendapatkan gadis ini untuk kujadikan tumbalku,” tambah mereka.
Setelah mereka menghilang, aku mendapatkan notif dari handphone kalau Vita ingin chat lewat telepon. Dengan mengusap keringatku yang sudah berceceran, aku pun mengangkat teleponnya.
“Halo, Ren! Gimana?” tanya Vita yang terdengar seperti mengerti dengan kejadian yang barusan kualami. Dia terdengar seperti orang yang senang melihatku seperti hampir mati barusan. Duh!
“Gimana apanya? Aku hampir mati tau!” umpatku kesal.
“Hahaha ... jangan khawatir gitu, Ren! Kan sudah kubilang kalau selama kau memakai gelang itu, takkan ada demit yang bisa menyentuhmu. Tapi aku senang kau baik-baik saja,” jawabnya seperti tak merasa bersalah
sedikitpun.
“Lalu, memangnya kau telepon aku cuma ingin mengejekku gitu ya?!”
“Tidak, tidak. Aku tak bermaksud begitu. Esok hari aku akan datang ke sana dengan mengajak kedua kakak keponakanku, kak Hera dan kak Nuril. Aku harap kalau kau bisa bekerja sama, Ren!”
Dan tiba-tiba dia menutup teleponnya. Duh, dasar anak aneh! Padahal aku ingin membuatnya menemaniku malam ini dengan chatting, karena aku tak bisa tidur malam ini. Kok aku bisa berteman dengan gadis seperti itu ya?
Tak mau memikirkan hal-hal lain lagi, aku mengambil gelas yang ada di meja sebelah ranjangku dan mengisinya dengan air putih dari galon di sampingnya. Sebelum kuminum air itu, aku lafadzkan surah Al-Iklas, Al-Falaq, dan An-Naas, dan juga ayat Kursi. Setelahnya aku pun meminumnya. Dan tak terasa tiba-tiba aku yang tak bisa tidur setelah terbangun tadi, merasakan kantuk, dan kemudian tertidur pulas sampai pagi.
-BERSAMBUNG-
__ADS_1