Assalamualaikum, Detective?

Assalamualaikum, Detective?
Episode 13


__ADS_3

Perlahan-lahan kaki itu semakin memundur, air mata tidak henti-hentinya mengalir dari kedua pipinya . Matanya terlihat menyiratkan ketakutan, nafas yang tidak teratur, bahkan Shakila dapat merasakan detak jatungnya semakin kencang.


"Shakilaaaaaa!!!!"teriakan itu, sang penolong yang sudah di kirimkan Allah untuknya .


Bibir Shakila terasa kelu, hatinya terus berteriak memanggil nama Malih. Berharap. pria itu dapat mendengarnya. Tapi tidak!. Nyatanya.. dia masih di lorong gelap, dengan todongan pisau runcing yang bahkan ia tidak tahu siapa di balik masker hitam itu, tubuhnya terlihat tinggi dan di selimuti jubah hitam . Bahkan Shakila tidak bisa melihat wajahnya, karena gelap dengan kupluk jubah yang dia pakai.


Apa ini hanya flem?. Bukankah kejadian seperti ini hanya ada pada flem?. Tapi kenapa ia mengalami di dunia nyata,


"Sha-kila.."suara itu terdengar kecil bahkan halus. namun suara itu terdengar seperti belati yang menusuk-nusuk jantungnya berkali-kali.


"Tolong..jangan dekati aku"pinta Shakila lirih dengan suara gemetar. Sekarang ia benar-benar berharap Allah mau menunjuk Malih untuk segera menemukannya.


Keputusannya untuk datang, entah benar atau salah. Tanpa ingin memberi tahu orang tuanya, dengan beraninya ia datang ke sekolah. Apa dia pahlawan?. Apa dia punya nyawa tujuh. Kecemasan dan ketakutannya membuat pikirannya menjadi buntu. Ketakutan yang luar biasa membuat ia tidak berpikir lebih lama lagi.


Orang itu berhenti, tidak bergerak maju lagi. Tangannya yang tadi menodongkan pisau perlahan turun ke bawah


"Lompat ke bawah"tangannya menunjuk ke pembatas.


Degg perintah itu terdengar tegas. membuat Shakila berangsur-angsur mundur kebelakang,hingga punggungnya sudah menubruk pembatas. Matanya melirik ke belakang. Di sana!,tempat dua kejadian bunuh diri terjadi. Kepalanya kembali menoleh ke depan yang langsung di tampakan dengan orang yang tadi menodongkan pisau


"Aaaaaaarrrrrrrrrgghhhhh"


Badan Shakila terjungkal ke belakang,bahkan ia tidak merasakan kakinya sudah menapak lagi pada lantai. Matanya terpejam erat, hanya Allah hanya Allah dan orang tua yang Shakila ingat


Grepppp


"Bertahanlah!" Teriak Malih yang bisa menangkap tangan shakila sebelum jatuh ke bawah.


Suara itu,suara yang di harapkan kedatanganya. Namun..Shakila cukup takut. Terlalu takut kalau ini hanya sekedar khayalan dan kenyataannya dia sudah terjatuh tampa nyawa.


"Pegang yang kuat tanganku Shakila!!"suara itu kembali berteriak memanggil namanya. Kepala Shakila menanggah ke atas,air mata kembali mengalir di kedua pelupuk matanya. Ia sudah lelah dan ingin cepat-cepat beristirahat di kasur nyamannya,bukan di atas tebing lantai dua.


"Bantu aku Malih. Aku takut" pinta Shakila kembali memejamkan matanya


Perlahan..Malih mengangkat tubuh Shakila ke atas. Tenaganya ia kerahkan untuk bisa membawa Shakila untuk menampakan kakinya ke lantai.


Brukkk


Kaki Shakila melemas tertunduk di lantai. Kesadarannya belum pulis keseluruhan atas kejadian buruk yang ia alami.

__ADS_1


Sedangkan Malih beberapa kali mengambil nafas. Matanya melirik ke lorong,dimana orang berjubah itu pergi,sampai tidak terlihat lagi.


"Kita pergi sekarang"ajak Malih melihat Shakila masih tertunduk di lantai


Suara rombongan orang terdengar menyusuri lorong sekolah. Di sana terlihat Hisyam berlari dengan beberapa pengawalnya, bahkan raut wajahnya terlihat cemas hingga ia melihat putrinya.


"Shakila?!"panggil Hisyam membuat kepala Shakila langsung menanggah


"Abiii!!"sahut Shakila memeluk Hisyam yang langsung berjongkok memeluk putrinya


Tangannya mengusap lembut kepala putrinya yang tertutup hijab" kamu baik-baik saja nak?. Tanya Hisyam mengeratkan pelukannya


Tidak lama dari arah belakang di susul Adam yang datang. Langkahnya berhenti menatap Malih yang juga sedang menatapnya. Tatapan mereka menyiratkan makna yang tidak bisa mereka ucapkan lewat bibir mereka.


"Kemarilah putraku. Petugas DSI 5!"panggil Adam tersenyum, membuat Malih melihat Adam


Kepala Malih berpaling ke arah lain" ayah jangan berharap kalau aku akan memeluk ayah" sahut Malih membuat Adam menghampiri putranya,kemudian memeluk putranya bangga


Malih menegang. bibirnya langsung terkatup rapat"Ini bukan pelukan. hanya ungkapan bangga ayah padamu" elak Adam mengusap-usap punggung Malih lembut


Perlahan Malih membalas pelukan Adam"ini juga bukan balasan. hanya menghargai ayah saja"ayah dan anak yang pintar mengelak dari perasaan mereka sendiri. Walau dalam hati, mereka mengakui saling merindukan satu sama lain.


**********


"Kalian tahu kehidupan kami dulu?" Adam membuka suara membuat shakila semakin menunduk dalam


"Kami tidak seperti kalian. Kehidupan kami tidak serumit kisah kalian" sambung Adam dengan beberapa jeda di beberapa kalimat


Kepala Adam menoleh melihat Malih yang terlihat tenang" kami sudah memutuskan!. Kami akan menikahkan kalian berdua. secepatnya!"


Shakila terperangah, begitupun Malih menatap ayahnya terkejut" Ayah!. ini bukan jaman perjodohan!."sahut Malih keberatan dengan keputusan ayahnya


"Begini Malih..ayahmu bermaksud baik. Kalian dari kecil tidak bisa di pisahkan. Bahkan sampai dewasa, saat Shakila dalam musibah, yang selalu menolongnya adalah kamu Malih. "


Malih berdiri " itu adalah tugasku sebagai DSI paman"tekan Malih masih tidak setuju dengan pendapat keduanya


"Pokonya kamu harus menikah dengan Shakila Malih!" Tegas Adam tanpa ingin di bantah


"Aku ingin menggapai cita-citaku dulu. Kalian tidak bisa memaksaku begitu saja"

__ADS_1


"Malih!"


"Kenapa ayah selalu memutuskan sesuai dengan kehendak ayah!. Aku juga ingin menjalani kehidupanku sendiri ayah. Ayah tidak pernah mengerti dengan keinginanku" merasa kesal Malih keluar rumah meninggalkan semua orang, yang hanya termenung dengan pikirannya masing-masing


"Aku juga tidak bisa menerima nya abii, paman" kini shakila yang mulai bersuara,kemudian berlari pergi memasuki kamar .


Hatinya benar-benar menohok sakit. saat mengetahui kalau Malih tidak menginginkannya. Lagian..kenapa ia harus menangis?.bukannya dia membeci Malih. Bukanya dia lelaki yang paling di benci Shakila. Tapi..dia juga yang selalu ada menolong Shakila.


Drrrttt Drrrttt


Tangan shakila mengambil handpond di atas meja belajar. Dilayar tertulis nama yang tadi sempat membuatnya menangis. Dengan ragu Shakila mengangkatnya..


"Jangan pikir karena aku sering menolongmu!. Aku akan menerima perjodohan secara rcuma-cuma. Aku harap kamu menolak perjodohan itu. Assalamualaikum"dingin dan datar. Hati Shakila langsung mencelos. Butiran-butiran air mata sudah kembali memabanjiri ke dua matanya


"Kenapa mereka terus menekanku!. Tidakah mereka berpikir. aku juga lelah. karena kejadian mengerikan tadi" tangis Shakila pecah. Hatinya serasa di timpuk - timpuk beban beberapa kali. Sedangkan orang-orang terlalu sibuk dengan pikirannya sendiri, membuat Shakila merasa sendiri


"Ya Allah..." Kepala nya tertunduk dalam dengan tubuh yang bergetar karena tangis yang semakin kencang.


******


Tubuhnya terdiam, enggan bergerak. Matanya menatap lurus langit-langit di atas balkon apartemen. Kejadian hari ini cukup membuatnya lelah. Apalagi, dengan permintaan ayah dan paman yang terdengar konyol di telinga, membuat Malih berlari kabur ke apartemennya sendiri.


Untunglah dari hasil kerjanya, dia mampu memberi apartemen. Gajih yang lumayan, mampu membuatnya membeli apartemen di kawasan Jakarta. Ingatannya kembali berputar tentang keinginan ayahnya. Lagian..Malih di buat heran!. Apa mereka ingin membiarkan Shakila hidup bersamanya?. Dengan ancaman di mana-mana!. Bahkan, membayangkan saja itu sudah terasa jadi beban di hati Malih.


"Tidak biasanya Lo disini. Ada masalah yah?" Di sana berdiri zio bersedekap menyanderkan tubuhnya di pintu balkon


Menghela napas berat" hanya masalah yang gak bisa gue tanggani" sahutnya kecil


"Masalah apa yang gak bisa Lo tanggani. Ini baru pertama kalinya gue denger" balasnya mencoba menajamkan pendengarannya. sekedar untuk meyakinkan,kalau ia tidak salah dengar. karena ini untuk pertama kalinya, ada masalah yang tidak bisa di tanggani malih


Tangan Malih mengibas tidak peduli"lupakan!. Lo orang yang hidup cuma godain Gadis-gadis mana ngerti" tentu ucapan Malih membuat zio terkekeh kecil


Kepalanya memangut-mangut"okhe okhe. Gue gak akan bertanya masalah Lo. Lo juga tahu jawabannya sendiri" sambungnya. ada arti dalam kata-kata yang di ucapkan zio dan Malih mengerti


"Gue harus dzikir buat nenangin diri. Karena di sana tempat hati gue tenang"balasnya. Di balas senyum lebar dari zio


"Itu baru sahabat gue!" Tepak zio semangat pada bahu Malih


Bersambung..

__ADS_1


Apa yang terjadi selanjutnya. Tunggu part selanjutnya 😄


Maafkan kawan-kawan ada kesalahan kata yang ana rubah dari mengusap rambut menjadi mengusap kepala putrinya yang tertutup hijab. Terimakasih revisinya 🙏😄


__ADS_2