Assalamualaikum, Detective?

Assalamualaikum, Detective?
Episode 18


__ADS_3

"Sudah ku bilang kan. Kau akan menyesal pada akhirnya" ujar seseorang di belakang. Namun menimbulkan senyum simpul di bibir Pemimpin


"Malih"


Mata Shakila mengerjap beberapa kali. Melihat pria berjas hitam tengah menyandarkan tubuhnya di pintu, tangannya bersedekap dengan kaki menyilang.


"Pokoknya aku harus masuk DSI! . Ku mohon..berikan aku kesempatan dan berikan aku misi pertama" pinta Shakila bersungguh-sungguh. Apalagi di belakangnya ada Malih dan ia tidak ingin di cap gagal oleh pria itu.


Pemimpin menghela napas gusar" Tidak bisa Shakila. Kemampuanmu sangat kurang untuk menangani kasus di DSI, walau itu hanya misi pertama." Jelasnya perlahan.


Mata Shakila mulai berair" Ku mohon.." pintanya memelas dengan mengatupkan bibirnya, menahan tangis.


Jengah mendengar Shakila terus memohon. Malih menarik kursi Shakila yang berkaki tiga, kemudian mendorongnya keluar, bahkan Shakila terkejut karena kursinya di dorong Malih ke luar ruangan.


"Sudah cukup! Kau tidak bisa masuk DSI." Peringat Malih, langsung menutup daun pintu.


Blammmm


Dengan cepat Shakila berdiri dari kursi, menggedor-gedor pintu beberapa kali" Pemimpin! Ku mohon beri aku kesempatan. Aku bisa mengatasinya. Sungguh! Beri aku kesempatan." Pinta Shakila semakin keras menggedor pintu.


Perlahan pintu terbuka. Namun bukan Pemimpin yang keluar, tetapi malah Malih yang menatap Shakila dengan dengusan kasar" Berhenti, menggedor pintu!" Jengkel Malih, ingin kembali menutup pintu. Namun kalah cepat dengan Shakila yang langsung menerobos masuk.


Brakkk


Kedua tangan Shakila mengebrak meja kerja Pemimpin. Bahkan pemimpin di buat terkejut" Aku harus masuk DSI!" Tegasnya membuat pemimpin menelan selivanya.


Tidak kalah akal. Tas Shakila sudah di tarik Malih ke luar ruangan, tentu Shakila ikut mundur ke belakang karena tas ransel nya di tarik Malih" Lepaskan Lepaskan! Aku harus masuk DSI" berontak Shakila namun tidak di dengarkan Malih .


Blammmm cekleck


Pintu di kunci. Handset sudah ia pasang di kedua telinganya, membiarkan Shakila terus mengedor-ngedor pintu. Tawa pemimpin pecah melihat tingkah Shakila dan Malih yang sama-sama keras kepala.


*******


Di jalan terlihat sepi, hanya ada Shakila yang sedang berjalan dengan lesuh. Alasannya, karena tidak ada angkutan umum yang melintas. Tentu saja tidak ada! Kantor cabang DSI terletak di tempat yang bahkan jarang ada kendaraan lewat, apalagi angkutan umum .


Shakila menyewa ojeg untuk mengantarnya ke kantor cabang DSI. Dan sekarang handponya mati, jadi dengan segala rasa ikhlas di hati. Shakila harus pulang dengan jalan Kaki. Setidaknya, ia punya kaki dari pada harus menyesot-nyesot di jalanan aspal karena kelelahan.


"Semangat! Beberapa kilo lagi!" serunya menggepalkan tangan di dada. Walau matanya sudah berat ingin menangis karena kelelahan.


Tinnn tinnnn


Kelakson mobil terdengar berbunyi beberapa kali. Merasa itu serine bahaya. Shakila berjalan lebih cepat, lebih cepat lagi dan berakhiran dengan berlari kencang. Bahkan mobil itu masih mengikutinya dari belakang. Membuat Shakila menjadi panik


"Arrggggghhhh" teriak Shakila panik mempercepat larinya.


Sedangkan mobil itu terlihat santai mengikuti Shakila dari belakang. Bahkan Malih tidak berniat menyusul Shakila. Punggung tangannya menutup mulut, menahan tawa. Ketika melihat Shakila tengah berlari kencang.


"Ada apa dengan anak itu? Apa dia pikir aku penculik" gumamnya heran, melihat Shakila masih berlari. Hingga larinya semakin melambat mungkin karena kelelahan.

__ADS_1


Mobil Malih semakin diperlambat, ia masih ingin mengikutinya dari belakang. Kepala Shakila menoleh melihat mobil hitam itu masih mengikutinya sampai sekarang. Tangisnya langsung pecah karena takut. Namun ia juga tidak bisa berlari lagi, hingga tubuhnya jatuh ke aspal.


Halis Malih menaik sebelah" Kenapa dia menangis?" Bingungnya. Tapi ia juga tidak berniat turun untuk menanyakan ke adaan Shakila, ia lebih memilih melihat Shakila di dalam mobil.


Jatungnya sudah berdetak tidak karuan. Bahkan Shakila masih duduk di aspal. Antara lelah, takut, dan cemas, semua sudah bercampur aduk. Tangannya memeluk kedua lutut, membenamkan kepalanya di sana. Kepalanya tidak ingin menoleh lagi ke pada mobil hitam, karena tahu mobil itu masih di sana. Dan ia tidak tahu siapa orang yang berada di dalamnya. Apa pencuri, penjahat atau apapun dan Shakila tidak peduli. Yang pasti Shakila sudah tidak mampu berlari lagi.


Beberapa menit shakila masih dalam ke adaan sama. Shakila enggan bergerak dari tempatnya, ia pun mulai tidak terlalu khawatir karena orang di dalam mobil tidak kunjung keluar. Mungkin dia bukan penjahat.


Tinnn tinnnn


Klakson mobil mulai berbunyi kembali. Tangan Shakila menutup kedua telinga, tidak ingin mendengarkannya" Aku tidak dengar! Dan jangan mendengarnya." Katanya, sambil memejamkan mata dengan erat.


Pintu mobil terbuka. Malih ke luar mobil lalu bersedekap, menyanderkan tubuhnya di badan mobil. Kepalanya menggeleng kecil melihat Shakila yang terlihat mulai ketakutan kembali.


"Di kejar mobil saja sudah ketakutan! Ini mau masuk DSI ." Desisnya tidak percaya dengan akal jalan pemikiran Shakila.


"Hei!" Panggil Malih membuat tubuh Shakila menegang.


Perlahan ia menoleh ke belakang" Malih!" Mulutnya menganga hingga tanduk mulai muncul di atas kepala" Apa kau mengerjai ku!!" Shakila berdiri dengan sorotan tajam melihat Malih yang terlihat santai, seakan tidak merasa bersalah karena membuat Shakila ketakutan.


"Apa?" Sahutnya enteng.


"Dasaarrrrrrrrrrr" geram Shakila, melepas sepatunya lalu melemparkannya pada Malih tepat lurus pada wajah.


Bukkk


Malih terperangah dengan sepatu yang sudah dengan indahnya menimpuk keningnya. Bahkan ini untuk pertama kalinya Malih tidak bisa menangkap sepatu yang dilemparkan orang.


Drrrttt Drrrttt Drrttt


Hampir saja Malih ingin mengamuk karena sudah lancangnya dia menimpuk keningnya dengan sepatu. Sebelum teleponnya berdering meminta di angkat. Menahan emosi, tangan Malih mengambil handpond di saku lalu mengangkatnya dengan kesal.


"Assalamualaikum!!" Salam malih dengan nada tinggi. Kelihatan Malih benar-benar marah atas perlakuan Shakila tadi.


"Wa'alaikumsalam. Heii...kawan! Ada apa? " Sahut orang di sebrang yang tidak lain Zio.


"Ada apa?!" Tanyanya langsung mencoba mengontrol emosi.


"Baiklah..! Langsung ke inti saja. Dimas sudah ada di kantor. Cepatlah datang, gue ingin cepat-cepat bergaya Detektif conan" pinta Zio gemas.


Mata Malih berputar malas" Gue ke sana sekarang. Assalamualaikum klik" telepon langsung dimatikan Malih.


Tidak memperdulikan Shakila yang menatapnya bersalah. Malih segera kembali masuk ke mobil, dan meninggalkan Shakila sendiri di sana. Mata Shakila mulai berkaca-kaca hingga dia kembali menangis.


"Bahkan dia meninggalkanku. Apa dia tidak tahu aku membutuhkan tumpangan" tangisnya semakin kencang, sambil berjalan dengan penuh harap ada seseorang yang memberi tumpangan seperti saat Malih meninggalkannya sendiri.


"Assalamualaikum" salam seorang gadis melambaikan tangan riang.


Kepala Shakila menoleh, ia masih sesegukan" wa'alaikumusalam" suaranya sangat serak di pendengar gadis cantik itu.

__ADS_1


"Apa kamu habis menangis?" Kepalanya memiring, melihat Shakila yang menundukkan kepalanya malu ketahuan habis menangis.


Shakila menggeleng kecil. Membuat wanita itu mengangguk paham, tidak ingin memperpanjang pembicaraan "Ayoo! Ikut denganku. Malih meneleponku tadi, menyuruhku untuk menjemput seorang wanita dipinggir jalan dekat kantor DSI. Dan juga untuk mengantarmu pulang dengan selamat sampai tujuan." Ajaknya menepuk-nepuk jok motor agar Shakila cepat naik.


Halisnya menaut bingung" Memang kamu siapa?" tanyanya ragu.


Senyumnya mulai melebar" Aku Farah, anggotanya Malih. Lebih tepatnya anak buahnya pak Malih. Tapi aku lebih suka menyebutnya Malih, karena dia lebih muda dariku" ujarnya cengengesan.


Melihat Shakila masih diam saja, Farah menarik tangan Shakila untuk mendudukkan nya di jok motor. Motor sudah di hidupkan dan Farah langsung menjalankan motornya dengan santai.


"Kamu siapanya Malih? Pacarnya, yah?" tebak Farah penasaran. Karena jarang Malih menyuruh anggotanya untuk menjemput seseorang. Apalagi wanita.


Kepala Shakila menunduk dalam" Dalam Islam tidak ada pacaran" sahutnya yang langsung di beri anggukan Farah.


"Kalau begitu kamu tunangannya?"


Degg


Bibir shakila bungkam. Entahlah..Shakila ingin mengatakan kalau ia dan Malih di jodohkan. Ada perasaan bangga saat ia ingin mengatakan itu. Tapi di sisi lain, melihat sikap Malih padanya. Malih benar-benar tidak akan pernah menerima perjodohan orang tua mereka.


"Bukan" suaranya lebih kecil dari sebelumnya tapi Farah masih bisa mendengar.


*********


"Dia sudah ada di ruang interogasi?" Masker dan topi sudah di pakai Malih di luar ruangan.


Satpam yang menjaga pintu introgasi mengangguk" Dia sudah di dalam pak" menunjuk pintu masuk.


"Baiklah. kalau begitu, apa zio juga di dalam?" kini Malih menatap satpam yang terlihat masih muda, mungkin umurnya sekitar 20-an ke atas.


"Pak zio di dalam pak."


Tampa ingin bertanya lebih. Malih segera masuk ke dalam ruangan. Di dalam ruangan tidak ada apapun. Selain meja kayu dan kursi berkaki tiga untuk petugas yang melakukan introgasi. Di sana zio sedang berdiri, melihat Dimas dengan tatapan menyelidik. Ia benar-benar melakukan gaya detektif Conan untuk mengintrogasi Dimas.


"Selamat sore DSI 7. Dan selamat sore Dimas" sapanya kemudian duduk di kursi. Tatapannya menatap lurus ke arah Dimas "Apa kami menganggu waktumu?" sambungnya menyanderkan tubuh di kursi.


"Tidak. Sama sekali tidak" wajahnya terlihat biasa. Tidak ada guratan cemas atau takut di sana


Malih mengangguk" Sebenarnya ada beberapa hal yang ingin kami tanyakan padamu soal bunuh diri yang terjadi dua kali di sekolah"


Dimas berdecak"Ckk. kalian membawaku kemari hanya untuk menanyakan soal bunuh diri. Bukankah kalian lebih pintar dariku? Bukanya sudah jelas, mereka bunuh diri, kenapa bertanya padaku" heran Dimas.


"Benar kamu tidak tahu apapun" selidik Zio curiga.


"Aku sungguh-sungguh tidak tahu! Kenapa kalian memaksaku untuk menjawab pertanyaan kalian?" Kesal Dimas mendelik sebal.


"Siapa yang memaksamu. Kami hanya bertanya saja" Malih menyeringai karena melihat Dimas mulai tegang.


Bersambung..

__ADS_1


Maaf telat post hehe 😂


__ADS_2