
" Lo ngak kapok ya sama kita?" ucap santai Chiko yang sudah siap siaga mau beradu fisik Saat berhadapan dengan para anggota-anggota The Black.
" Woi.... pecundang kaleng kaya lo, bukan tandingan gue, mana si Bacot Atan? " teriak salah satu pria bertato sambil berdiri menyandar di mobil sportnya dengan kakinya menyilang.
Chiko yang tidak terima dirinya di bilang pecundang. Baru membuka mulutnya, tiba-tiba mulutnya tertutup. Saat mendengar suara yang tidak asing dari belakangnya.
" Ngapain lo cari gue?" ucap seorang pria yang memakai kaos putih dan jaket abu-abunya, celana jeans biru terabik di kedua lutut kaki dengan memakai kacamata, melangkah santai dengan gaya kasualnya menyembunyikan kedua tangan di saku celanya, siapa lagi kalo bukan Atan.
" Gue pikir lo banci, bisanya bersembunyi di belakang, " ucap pria bertato alias yang masih menyadar tubuhnya santai di depan mobil sport hitamnya. Dia adalah Dion ketua geng White Black. Dengan senyuman miring di bibirnya sambil bangkit berdiri santai, dari sandaran mobilnya seraya tatapan yang meremehkan Atan.
" Gue bukan kaya lo beraninya menyerang di kandang, kalo berani cari tempat bertarung di luar kandang men. "
" Jangan kaya bantal bisanya sembunyi di balik selimut, " jawab Atan dengan nada tinggi dan tatapan yang datar sambil, berjalan ke depan dengan santai serta gaya kasualnya.
Kemudian Atan mengelurkan satu tanganya, sambil melepaskan kacamata dari kedua matanya. Saat dirinya sudah berhadapan dengan Dion dan kawanya yang meremas jari -jemari mereka kuat dan berdiri di belakang Dion.
" Gue ke sini bukan mau beradu mulut dengan lo, tapi mengadu fisik dengan komplotan bacot lo di sini. "
" Kalo adu fisik, bukan dengan cara keroyokan boy, " ketus Rio dengan santai saat Ia dan kedua temanya maju berdiri di belakang Atan. Dion mengukir senyum miring di bibirnya lagi, lalu berteriak!
__ADS_1
" SERANG! "
Tanpa menunggu pasukan The Black yang lumayan banyak itu satu persatu berlari dan menyerang Atan, Rio, Fandi, dan Chiko. Tentu saja Atan dan teman-temanya tidak tinggal diam, mereka ikut meladeni para anggota The Black. Pertarungan sengit pun terjadi di kedua belah pihak.
Satu tangan dari Oktho salah satu anggota, The Black melayang ke wajah tampan Rio.
Sementara itu tiga lawan anggota The Black menyerang, Fandi dan Chiko. Atan meladeni Lima pasukan The Black, sedangkan Dion masih berdiri santai di mobil sport hitamnya itu.
" Habisin mereka! jangan sampai ada yang lolos, " teriak Dion pada anak buahnya, tiba-tiba.
" Pakkk.... satu pukulan mendarat di pipi Dion, dari tangan Atan membuat bibirnya mengeluarkan darah.
Dion yang mengukir senyum miring sambil meluruskan wajahnya, saat Dion hendak membalas pukulan Atan, dengan siaga Atan menahan tangan kanannya, dengan wajah Atan bagaikan singga yang kelaparan, satu kecepat dari Atan melipat tangan kanan Dion di belakang.
Atan berdiri membelakangi Dion dengan, senyuman miring ditarik dari bibirnya dan tatapan tajam lurus ke depan, tiba-tiba kedua bola mata kirinya berubah warna merah dan yang kanan berubah biru. Lalu menghilang saat Atan memutar tubuhnya menghadap Dion yang masih lemas atas tendangan keras dari Atan.
" Bukan tentang Markas yang harus lo serang saat musuh lewat, tapi bagaimana cara bertarung lo mengalahkan musuh saat lo jauh dari beskem, " ucap Atan dengan tatapan rendah pada Dion yang Ia anggap sudah kalah.
"Jika dari kalian ada yang mau menyerang, silakan maju karena bos kalian sudah lemah.
"
" Dia menunjukkan dirinya sebagai musuh, dalam selimut yang artinya berani menyerang dari belakang, " suara nada tinggi dari Rio. Yang masih ngos-ngosan akibat tadi Ia meladeni okto yang merupakan salah satu anggota yang kuat bertarung dalam anggota The Black.
__ADS_1
Saat anggota The Black mau menyerang lagi, segerombolan satpam datang untuk mengamankan kericuhan. Akibat tawuran anak-anak muda nakal tersebut, yang diberitahu oleh ayah Atan. Saat mengetahui Kericuhan putranya di salah satu Kafenya yang menjadi berita utama di stasiun televisi. Dia tidak mau melapor ke polisi karena Ia tahu pasti itu ulah Atan Rayanin putra pertama Ceka Rayanin. Demi nama baiknya Ia harus melakukan ini, walau beruntung Atan tidak terekam atau terlihat oleh kamera.
" Sebaiknya lo perhatikan Si Kara , karena Dialah musuh selimut kalian, " ucap Dion di samping kuping kiri Atan sebelum meninggalkan Atan dan teman-temanya.
Rio yang mendengar ucapan Dion langsung, merespon ke Atan karena Ia tidak percaya kalo Kara yang melakukan semua itu.
" Kara? Mengapa Tan? " lo jangan percaya Tan, " ucap Rio tidak percaya.
" We Kaleng, Kara adalah mantan gue jadi wajar kalo Dia memata-matai kalian, yang jelas demi menunjukan kesetian cintanya pada seorang Dion, " sahut Dion lagi, dengan senyum miring dibibirnya.
Dan disusuli senyuman miring dari Okto dan, teman-temanya. Mereka kembali melangkah memasuki kelima mobil sport hitam yang ada di parkiran Kafe, dengan masing-masing mengenakan kacamata hitam, kelima mobil itu berputar arah bersamaan dengan tancapan gas yang sengaja dibuat-buat oleh Dion dan kawan-kawanya, sesuai tujuan, keluarlah asap yang tebal dari kenalpot mobil sport mereka.
" Woi Banci kalo mau freestyle mobil bukan disini tempatnya, " ketus Fandi yang sudah kesal dengan kesengajaan Dion dan gengnya itu.
Lalu kembali menutup hidungnya mengikuti Atan, Rio dan Chiko yang sama menutup hidung dan mulut mereka Masing-masing. Setelah puas dengan apa yang mereka perbuat, Dion dan gengnya melajukan mobil ke arah jalan keluar dari parkiran Kafe Ganji. Sebelum meninggalkan Oktho selaku anggota The Black, menurunkan kaca mobil yang menghadap ke arah dimana itu berdiri Atan dan Rio, lalu berkata,
" Apa yang dikatakan bos Dion tadi, sangatlah benar, buktinya sekarang Dia menelpon gue, " Oktho pun menunjukkan layar ponselnya mengarah ke wajah Atan dengan suatu panggilan masuk dari tulisan Kara memanggil.
Dengan senyuman miring di bibirnya Oktho, kembali memasangkan kacamata hitam di kedua bola matanya lalu melajukan mobilnya mengikuti keempat mobil sport hitam yang sudah lebih dulu pergi meninggalkannya.
Atan meremas jari jemarinya dengan erat dan, terlihat wajah Atan ikut berubah seperti sebulumnya dengan tatapan yang sangat menyeramkan.
" Sudah gue duga kalo cewe patung itu, memang berpura-pura polos, " ucap Atan sembari mengeluarkan otot-otot di tangan dan lehernya. Rio, Fandi, dan Chiko yang melihatnya hanya diam karena mereka yakin jika mereka bersuara, maka mereka sendirilah yang akan menerima pelampiasan kemarahan Atan. Para Satpam yang mengamankan perkelahian itu sudah pergi setelah Dion mengatakan kalo Ia tidak akan berkelahi lagi.
__ADS_1
Jangan Lupa Like, komen, saran dan kasih jejak bintang di ceritaku ini.