ATABUAN

ATABUAN
Jangan Pergi- Atabuan.


__ADS_3


Atan yang menangis keras dalam hati sambil terus menatap jendela luar, dimana itu Kara yang mulai dipasang alat pernafasan dan para dokter yang mulai sibuk menangani Kara. Atan menatap lewat jendela luar dengan air mata mengalir dikedua pipinya. Saat Atan yang kwatir dengan keadaan Kara, tiba-tiba Atan teringat akan sesuatu.


Atan berlari keras dari koridor rumah sakit sambil mencari-cari sesuatu. Atan terus berlari keras, sambil terbayang dengan keadan Kara dirumah sakit, Atan berhenti disebuah tepi jembatan dimana itu ada sungai. Kedua tangan Atan memegang pegangan besi pada jembatan tersebut sambil menatap sungai. Atan kembali meneteskan air mata sambil mengatup kedua tanganya dan kedua mata ikut menutup sambil menghadap ke sungai.


Atan membuat permohonan sambil meneteskan air dan berbisik dalam hatinya,


" Jangan kau ambil dia, aku belum siap kehilangan dia, ini pertama kali aku memohon padaMU. Aku sangat mencintai Kara, sedikit saja berikan aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya. "


Atan yang memohon dengan tangis sambil terus memohon dalam hati dengan pikiran Atan yang kemana-mana. Di saat bersamaan hembusan angin datang dimana itu seperti sebuah perjuangan. Kara yang saat ini ditangani dokter di ruang ICU dengan berbagai alat medis sudah dipersiapkan.


Dokter keluar dari ruangan ICU sambil, memanggil keluarga Kara. Saat itu Bibi Kara Ana ada disana dengan kedua teman Atan Chiko dan Jongky serta Rani yang lagi menangis dipojokan tembok dan juga Reno yang sedang menatap dalam dari luar melihat ke dalam ruang Icu dimana itu tubuh Kara yang terbaring kaku disana.


" Sebelum kami melakukan operasi pada Kara, satu hal yang harus keluarga Kara tahu bahwa operasi pengeluaran peluru akan berjalan dengan lancar. Namun itu tidak menjamin keselamatan Kara."

__ADS_1


Ucap salah satu dokter yang mau menangani Kara, ya keadaan Kara memang bisa dibilang sangat kritis, hanya muzisat Tuhan yang mampu mengubah segalanya. Karena racun didalam tubuh Kara sudah tersebar kemana-mana, bahkan saraf-saraf Kara tidak berfungsi lagi.


" Apa maksud dokter? keponakanku bisa diselamtkan bukan? " tanya Ana yang mulai kwatir sambil menatap serius dokter.


" Kami tidak bisa menjamin keselamatan Kara, karena peluru yang ditembakkan pada Kara bukan peluru biasa melainkan peluru anti racun mematikan bagi tubuh manusia. "


" Kesembuhan Kara hanya tergantung pada yang Kuasa, karena 87% racun itu sudah menyebar kemana-mana di dalam tubuh Kara. "


" 87% kata dokter? berarti harapan kesembuhan Kara sangat tipis😭😢, " seru Ana dengan syok yang berat.


Dokter itu berucap dan kembali, mengenakan masker lalu ia kembali masuk ke dalam ruang icu untuk memulai operasi, pada Kara dengan dua dokter dan para perawat yang sudah ditugaskan untuk membantu operasi pengangkatan peluru Kara.


Rani yang mendengar bahwa kesembuhan, Kara menipis kini menangis semakin keras dengan tubuh menjongkok. Sedangkan Ana, Reno dan kedua sahabat Atan berdiri didepan jendela kaca luar ruang operasi sambil mengatup tangan mereka untuk berdoa, disisi lain Reno dan Ana tidak henti-hentinya menangis walau Reno menangis dalam diam.


__ADS_1


" *Sandarkan kepalamu dibahuku, jika kamu tidak mau tangisan itu dilihat orang lain, aku mohon kembalilah...aku ingin menyandarkan diriku padamu walau dari kejauhan. "


" Kembalilah Kara...saat ini aku butuh sandaranmu, butuh dirimu yang selalu kuat walau dalam kekuatan itu dirimu lemah, " batin Reno*.


*Tidak terasa air mata yang terbendung disana kini mengalir keluar juga dari kedua bola mata Reno. Terkadang senyumanmu bukanlah senyuman kebenaran melainkan senyuman tangisan, tidak akan ada manusia yang tidak mengenal tangisan semua akan merasakan tangisan itu. Walau dalam situasi yang berbeda.


Sekuat-kuatnya seorang pria dimata, semua orang namun jika sudah dihadapkan pada gadis yang dicintainya maka dia akan lemah. Ibaratnya seperti daun hijau pada sebuah tumbuhan apa pun itu.


Daun itu akan terlihat indah jika ia tetap hijau namun jika sudah mengering digengam oleh tangan manusia maka daun itu akan hancur berkeping-keping. Saat angin sepoi datang maka kepingan daun yang kering itu akan hilang dari gengamanmu, dan yang ada dalam tangamu adalah kekosongan telapak tangan*.


Sama seperti cinta jika sudah dihadapkan, pada SEBUAH TAKDIR, kamu tidak bisa menolaknya atau menentangnya yang kamu lakukan hanya dua kata bisa menerima atau mengikhlaskanya.


" *Saat aku tertidur kau datang dalam mimpiku, saat aku tersadar kau tidak ada disisiku, yang kulihat hanyalah langit dan hembusan angin, aku tersadar dari mimpi yang hanyala mimpi bayangamu, aku ingin tidur kembali agar bisa melihatmu lebih lama. Walau aku sadar itu hanyalah sebuah mimpi. "


" Angin dan langit terlihat dekat dengan diriku namun tidak bisa aku sentuh, mereka selalu ada bersamaku saat aku tersenyum dan menangis, keduanya terasa berada didekatku namun tidak bisa aku sentuh, saat hati ini ingin memeluk dirinya yang saat ini menangis, mungkin aku akan pergi namun ragaku adalah langit dan angin yang akan selalu bersamamu walau hanya menatap, " batin Kara dibawah alam sadar. Tidak terasa butiran bening air mata mengalir deras dari kedua mata yang saat ini tertutup "

__ADS_1


**Bersambung***.


__ADS_2