Bayangan Ketakutan: Jejak Kecelakaan

Bayangan Ketakutan: Jejak Kecelakaan
Chapter 1: Trauma Mendalam


__ADS_3

Sarah duduk sendirian di ruang tamu yang sunyi, merenung dalam hening yang menyakitkan. Di tangannya, ia memegang foto keluarga yang dulu penuh kebahagiaan. Sorot mata bahagia Lukas, anaknya yang ceria, terlihat dalam gambar itu. Namun, senyuman di wajahnya kini hanya tinggal kenangan yang menyedihkan.


Suara kicau burung di luar jendela hanyalah kebisingan yang tak terdengar di telinga Sarah. Setelah kejadian tragis di taman bermain beberapa bulan yang lalu, dunia mereka runtuh dalam sekejap. Lukas, anak bungsunya yang berusia lima tahun, mengalami luka parah dan akhirnya meninggal dunia.


Sarah masih mengingat dengan jelas saat itu. Mereka sedang berada di taman bermain, dan Lukas sedang bermain dengan riang di atas wahana berputar. Dia melihat Lukas tertawa dan berteriak dengan gembira, seolah tidak ada beban di dunia ini. Lalu, tiba-tiba saja, ada suara ledakan keras yang menghentakkan hatinya. Dia melihat wahana berputar mengalami kerusakan dan orang-orang berteriak panik.


Insting seorang ibu langsung mendorongnya berlari mendekati Lukas. David, suaminya, juga berlari menuju wahana berputar yang menjadi medan kekacauan. Mereka berdua saling pandang, ekspresi kepanikan di wajah mereka.


"David!" serunya, mencoba memotong hiruk-pikuk kerumunan orang yang berlarian keluar dari area taman bermain. Namun, suaranya terasa tenggelam dalam kekacauan.


Ketika dia akhirnya tiba di samping wahana berputar, pemandangan yang dia lihat membuat hatinya berhenti berdetak. Wahana itu rusak parah, dan di tengah-tengahnya, dia melihat David yang berusaha keras melindungi Lukas dari reruntuhan. Air mata berlinang di mata Sarah, tetapi dia tak bisa bergerak. Rasa ketakutan memagari tubuhnya seperti belenggu yang kuat.


Suara ledakan kedua datang begitu cepat, dan dalam sekejap, dunia berubah menjadi kekacauan. Dia merasa tanah bergetar di bawah kakinya dan sebuah retakan besar muncul di tanah. Dia meraih tangan Lukas dan mencoba menariknya keluar, tetapi kekuatannya tidak cukup. Lalu, semuanya menjadi gelap.


Mata Sarah berkaca-kaca ketika dia mengenang saat-saat itu. Dia merasa seperti semua yang terjadi setelahnya adalah kabur dan tak nyata. Dia terbangun di rumah sakit, tubuhnya penuh dengan luka memar dan gips. David berada di sampingnya, matanya lelah tetapi penuh kelegaan ketika dia melihat Sarah sadar.


"Sudah berapa lama aku tertidur?" tanya Sarah dengan suara parau.


"Beberapa hari," jawab David dengan lembut. "Kau baik-baik saja. Yang penting, kita masih bersama."


Namun, kebahagiaan mereka hanya berlangsung sesaat. Ketika David menceritakan tentang Lukas, hati Sarah hancur. Mereka berdua meratap dan bersedih, merasa kehilangan yang mendalam.


Setelah pulang dari rumah sakit, mereka merasa seperti hantu yang berjalan di dalam rumah yang dulu penuh keceriaan. Mainan Lukas tergeletak di lantai, mengingatkan mereka pada kehilangan yang tak tergantikan. Setiap sudut rumah terasa berisi kenangan indah mereka bersama Lukas, dan rasa bersalah menyergap Sarah.


Dia merasa dia harus melindungi Lukas, dan dia merasa bersalah karena tak bisa melakukannya. Dia merasa dirinya adalah seorang ibu yang gagal. Setiap malam, dia terjaga oleh mimpi buruk tentang kecelakaan itu. Dia melihat Lukas berteriak dan mencoba mencapai tangan ibunya, tetapi dia tak bisa meraihnya. Mimpi itu selalu berakhir dengan kegelapan yang memisahkan mereka.


Suara dering ponselnya memotong lamunan Sarah. Dia mengambilnya dan melihat pesan dari David.


**"Aku pulang terlambat malam ini. Jangan menunggu makan malam. Aku mencoba mengatasi pekerjaan dan mengalihkan perhatian. Aku tahu ini sulit bagi kita berdua, tapi kita harus kuat. Aku mencintaimu."**


Air mata mengembang di mata Sarah ketika dia membaca pesan itu. David berusaha keras untuk tetap kuat, tetapi dia tahu bahwa mereka berdua hancur di dalam.


Sarah merasa kesepian di rumah yang sekarang terasa begitu kosong tanpa Lukas.


Dia mengangkat foto Lukas dari meja dan meraih album foto keluarga. Dia membuka halaman pertama dan melihat senyum Lukas yang menggemaskan di dalamnya. Wajahnya terasa seperti terkena pukulan saat dia menyadari bahwa dia takkan pernah melihat senyum itu lagi.


"Tidak adil," gumamnya dengan suara gemetar. "Tidak adil sama sekali."


Sarah meletakkan foto itu kembali ke meja dan menangis dalam pelukan dirinya sendiri. Trauma mendalam dari kejadian itu membekas dalam hatinya, dan dia merasa seperti dia terjebak dalam mimpi buruk yang tak kunjung berakhir. Hidupnya hancur, dan dia tidak tahu bagaimana dia bisa melanjutkan. Tetapi, dia tahu dia harus mencoba, untuk Lukas, untuk David, dan untuk dirinya sendiri.


Tiba-tiba, dia merasa ada hembusan angin sejuk yang lewat di sekitarnya. Dia mengangkat kepala dan melihat sesuatu yang tidak biasa. Di pojok ruang tamu, dia melihat bayangan hitam yang melayang-layang. Matanya membesar, dan dia merasa seolah-olah kegelapan itu memiliki kehadiran yang aneh.


Tangan Sarah gemetar saat dia berusaha meraih ponselnya, tetapi sesuatu yang aneh terjadi. Cahaya lampu berkedip-kedip, dan dia merasa seolah-olah suara-suara aneh merasuki telinganya. Dia merasa pusing dan hampir pingsan. Tiba-tiba, dia melihat Lukas muncul di depan matanya.


"Ma... ma... ma..." suara Lukas terdengar lirih dan samar.


Sarah meraih tangan Lukas, tetapi dia tidak bisa merasakan sentuhannya. Dia melihat anaknya tersenyum padanya, tetapi senyuman itu terlihat begitu aneh dan tak nyata. Lalu, dalam sekejap, Lukas menghilang, meninggalkan Sarah dalam kebingungan dan kepanikan.


Dia merasa jantungnya berdegup kencang, dan dia melihat bayangan hitam itu semakin mendekat. Kegelapan itu menyelimuti dirinya, dan dia merasa seolah-olah dia terhisap ke dalam dunia yang lain. Semua sekitarnya menjadi kabur, dan dia tidak tahu apa yang terjadi pada dirinya.


Ketika dia membuka mata, dia merasa kebingungan. Dia berada di tengah-tengah hutan yang gelap dan menyeramkan. Pohon-pohon besar berdiri menjulang di sekitarnya, dan angin sejuk menggigit kulitnya. Dia merasa sangat lemah dan tak berdaya.


"David? Lukas?" teriaknya dengan suara parau. Tetapi tidak ada suara yang membalas.

__ADS_1


Dia mencoba berjalan, tetapi kakinya terasa lumpuh. Dia merasa seolah-olah dia terjebak dalam perangkap yang aneh dan mengerikan. Dia merasa seolah-olah ada sesuatu yang mengintai di balik bayangan-bayangan pohon.


Tiba-tiba, dia merasakan ada yang menyentuhnya dari belakang. Dia berbalik dengan cepat dan terkejut melihat bayangan hitam itu di depan matanya. Kali ini, bayangan itu terlihat lebih nyata, tetapi wujudnya samar-samar dan misterius.


"Dekatilah aku," bisik bayangan itu dengan suara serak.


Sarah merasa takut, tetapi dia merasa dia harus menghadapinya. Dia berjalan mendekati bayangan itu dengan hati-hati.


"Siapa... siapa kamu?" tanyanya dengan gemetar.


"Namaku... adalah... Inara," jawab bayangan itu perlahan.


"Inara?" ulang Sarah, merasa seolah-olah namanya memiliki arti yang tak terungkapkan.


"Ini... adalah dunia lain, dunia gelap yang tak terlihat oleh banyak orang. Tempat ini penuh dengan kegelapan dan kehancuran, dan aku adalah penjaga dari batas antara dunia ini dan duniamu," jelas Inara dengan suara yang terdengar samar.


Sarah merasa bingung. Dia tidak tahu apa yang harus dipercayai atau bagaimana dia bisa berada di tempat ini.


"Apa... apa yang terjadi padaku? Di mana suamiku? Di mana Lukas?" tanya Sarah dengan suara penuh keputusasaan.


"Dalam dunia ini, waktu dan ruang saling terjalin dengan cara yang aneh. Aku membawamu ke sini, ke tempat yang berada di antara keduanya. Suamimu dan anakmu masih berada dalam dunia kamu, tetapi kamu bisa melihat mereka dari sini," jelas Inara.


Sarah merasa hatinya terasa berat. Dia merasa seolah-olah dia terperangkap dalam kenyataan yang aneh dan tak terduga.


"Aku ingin kembali! Aku ingin kembali ke duniaku!" teriaknya dengan penuh keputusasaan.


"Inilah yang harus kamu lakukan, Sarah. Kamu harus melewati ujian-ujian yang akan kuberikan padamu. Jika kamu berhasil, kamu akan kembali ke duniamu dengan pengetahuan dan kekuatan baru," kata Inara dengan serius.


"Ujian? Kekuatan baru? Apa yang kamu bicarakan?" tanya Sarah dengan bingung.


Sebelum Sarah bisa menanggapi lebih lanjut, segalanya menjadi gelap dan dia merasa seolah-olah dia terlempar kembali ke dalam dunia nyata. Dia membuka matanya dengan cepat dan merasa nafasnya tersengal-sengal.


Dia kembali berada di dalam ruang tamu yang sunyi, foto keluarga di tangannya. Segalanya terasa begitu aneh dan kabur. Dia tidak tahu apakah pengalaman itu nyata atau hanya mimpi buruk.


Dia merasa lelah dan terluka. Trauma mendalam dari kecelakaan itu terus menghantui dirinya, dan dia merasa


seolah-olah dia tidak bisa lagi hidup dengan damai. Tetapi, dia merasa ada kekuatan baru yang tumbuh di dalam dirinya. Kekuatan untuk melawan kegelapan, untuk menghadapi ketakutannya, dan untuk menemukan jawaban yang ia cari.


Sarah menggenggam foto Lukas erat-erat dalam genggamannya. Dia tahu dia harus kuat, tidak hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk David dan untuk Lukas. Dia harus menemukan keberanian dalam dirinya sendiri untuk mengatasi trauma mendalamnya dan menghadapi tantangan yang ada di depannya.


Sarah duduk kembali di ruang tamu yang sunyi, tetapi kali ini, dia merasa lebih tegar. Pengalaman aneh yang baru saja dia alami dalam dunia gelap telah meninggalkan bekas di dalam pikirannya. Dia merasa ada sesuatu yang berubah dalam dirinya, suatu semangat baru yang menggelora.


Dengan tangan gemetarnya, Sarah meletakkan foto Lukas kembali ke meja. Dia berjalan ke jendela dan menatap keluar. Cahaya matahari yang redup menerangi halaman rumah mereka yang sepi. Angin sejuk mengusap wajahnya dan mengembalikan dia ke dalam kenyataan.


"Sesuatu yang aneh terjadi," gumamnya pada dirinya sendiri. "Aku harus mencari tahu lebih banyak."


Tapi sebelum dia bisa memikirkan lebih lanjut, suara langkah kaki di pintu masuk membuatnya berbalik. David masuk ke dalam ruangan dengan ekspresi lelah di wajahnya. Dia meraih bungkusan makanan dari toko dan meletakkannya di meja.


"Bagaimana hari ini?" tanya David dengan lembut, tetapi ada raut kekhawatiran yang tersembunyi di matanya.


"Agak aneh," jawab Sarah dengan ragu. Dia memutuskan untuk tidak menceritakan pengalaman anehnya di dunia gelap kepada David. Dia takut suaminya akan khawatir lebih banyak tentang kondisinya.


David mengangguk mengerti, tetapi pandangannya masih penuh kepedulian. Mereka berdua merasa seperti berada di antara kenangan yang indah dan luka yang dalam. Kehilangan Lukas meninggalkan luka yang tak terobati dalam hati mereka, dan setiap langkah mereka seakan diiringi oleh bayangan anak mereka yang pergi.

__ADS_1


Mereka makan dalam keheningan yang canggung. Suasana yang dulu penuh keceriaan dan obrolan hangat sekarang terasa begitu berat. Sarah berusaha untuk tersenyum pada David, tetapi senyum itu tidak pernah mencapai matanya.


Setelah makan malam selesai, David membantu Sarah membersihkan meja. Mereka duduk bersama di sofa, tetapi suasana masih canggung. David menatap Sarah dengan tatapan penuh perhatian.


"Bagaimana perasaanmu?" tanya David dengan lembut.


Sarah menggeleng pelan. "Aku merasa seperti aku sedang berada di dalam mimpi, atau mungkin lebih seperti mimpi buruk yang tak kunjung berakhir."


David meraih tangan Sarah dengan lembut dan menatap matanya dengan penuh kasih sayang. "Kita akan melewatinya bersama, sayang. Kita harus kuat, untuk Lukas."


Sarah menggenggam tangan David erat-erat. Dia merasa kehangatan dan dukungan dari suaminya, dan itu memberinya sedikit kelegaan. Mereka berdua merenung dalam keheningan, mengingat saat-saat indah yang pernah mereka miliki dengan Lukas.


Kemudian, dengan tiba-tiba, mereka mendengar suara aneh yang berasal dari lorong. Mereka berdua berpaling ke arah suara dan merasa rasa takut yang mendalam merasuki mereka. Suara langkah kaki yang pelan dan getaran aneh mengguncang lantai.


David meraih Sarah dan menariknya ke belakangnya, berusaha untuk melindungi istri dan rumah mereka. Mereka berdua menatap lorong dengan ketakutan, menunggu apa yang akan muncul.


Tiba-tiba, bayangan hitam muncul di ujung lorong. Itu terlihat lebih besar dan lebih menakutkan daripada sebelumnya. Mata merah yang menyala terfokus pada mereka, dan suara gemuruh mengisi ruangan.


Sarah merasakan denyutan di dadanya. Dia merasa kegelapan itu berbicara padanya, memanggilnya dengan suara yang menakutkan. Tapi dia tahu dia tidak bisa hanya berdiam diri. Dia harus menghadapinya, untuk dirinya sendiri dan untuk Lukas.


Dia melepaskan pegangan tangan David dan berjalan perlahan menuju bayangan itu. David mencoba menahannya, tetapi Sarah menggelengkan kepala dengan tegas. Dia tahu dia harus menghadapinya sendiri.


"Siapa... siapa kamu?" tanyanya dengan suara gemetar.


Bayangan itu mengambang di udara, tetapi kali ini, ada sesuatu yang berbeda. Sebuah cahaya lembut mulai memancar dari dalam kegelapan, membentuk siluet yang lebih jelas dari wujud bayangan itu.


"Sar... Sarah," bisik suara lembut yang terdengar.


Sarah merasa dadanya terasa sesak. Dia mengenal suara itu. Itu adalah suara Lukas.


Air mata mengalir deras dari mata Sarah. Dia merasa hatinya berdesir dengan kebahagiaan dan kebingungan. Dia meraih tangan Lukas, meskipun tangan itu tak terasa seperti yang seharusnya.


"Lukas? Apa... apa yang terjadi?" tanya Sarah dengan suara lirih.


"Ma... ma... ma... Aku... di sini... untuk memberi... kamu... kekuatan," jawab Lukas dengan susah payah.


Sarah merasa ada kehangatan yang menyelimuti tubuhnya. Dia merasa seolah-olah dia merasakan kehadiran Lukas di sekitarnya. Cahaya lembut yang berasal dari bayangan itu mulai memancar lebih terang, mengisi ruangan dengan aura yang tenang.


"Kamu... harus... melawan... kegelapan... dalam dirimu... untuk kembali," kata Lukas dengan suara yang semakin redup.


Sarah mengangguk, meskipun dia tidak benar-benar mengerti apa yang harus dia lakukan. Tetapi dia tahu dia harus mencoba, untuk Lukas dan untuk dirinya sendiri.


Bayangan Lukas semakin memudar, tetapi cahayanya tetap bercahaya. "Jangan... pernah... lupakan... aku... Aku... akan selalu... bersamamu..."


Dengan suara terakhir itu, bayangan Lukas menghilang sepenuhnya, meninggalkan Sarah dengan perasaan campur aduk di hatinya. Dia merasa lebih kuat, lebih siap untuk menghadapi tantangan yang ada di hadapannya.


David mendekatinya dan merangkulnya erat-erat. "Apa yang terjadi, sayang?"


Sarah menatap David dengan mata berkaca-kaca. "Lukas... Dia... dia memberiku kekuatan."


David terkejut mendengarnya, tetapi dia merasa kehadiran Lukas di sekitar mereka. "Kita akan melalui ini bersama, sayang. Kita akan menghadapinya, untuk Lukas."


Sarah menggenggam tangan David dan tersenyum padanya. Mereka berdua merasa lebih dekat dengan Lukas daripada sebelumnya, dan mereka tahu bahwa dengan keberanian dan dukungan satu sama lain, mereka bisa mengatasi trauma mendalam yang mereka alami.

__ADS_1


**TO BE CONTINUED...**


__ADS_2