Beautiful Goodbye

Beautiful Goodbye
BAB 11 : Payung Teduh


__ADS_3

     Taehyung yang baru tiba di taman bukit mempercepat langkah menghampiri sahabatnya yang telah melendeh di atas bangku kayu. Senyumnya terpatri lebar. Sudah tiga hari tak bersua membuat lelaki itu terlihat antusias hanya karena melihat penampakan gadis dengan mata bulat sayunya.


     Suara gemeresik guguran daun kering yang terinjak, menjadikan Sohyun yang mulanya fokus menatap pada jajaran hutan pohon pinus, menolehkan kepala ke belakang. Seulas senyum terbit dari wajahnya yang natural sebening kristal. Dilihatnya pemuda yang rawak pakaiannya, seperti seorang yang tak terurus berhari lamanya mendekat, sedikit tergesa, deru napasnya tersengal bagai orang yang baru menyelesaikan lari maraton bermil-mil jauhnya.


     Taehyung mendudukkan biritnya, tepat di sebelah Sohyun yang memang menyisakan satu ruang rongga yang muat dua orang sahaja. Dasi bersimpul ganda yang menjerat batang lehernya langsung ditanggalkan, melempar asal hingga menjuntai pada lengan bangku.


     "Kau sudah menunggu lama?" Taehyung bertanya sembari mengatur sirkulasi udara pernapasannya. Makin terasalah dahaga yang menggerogoti kerongkongan, dirinya sangat kehausan sekarang, usai berlari kencang menuju bukit dikarenakan mobilnya mogok di tengah jalan.


     Sohyun lekas mengulurkan tangan yang berisikan sebotol air dalam tumbler. Hendak memberikannya pada Taehyung. "Kau pasti sangat terburu-buru sekali datang kemari. Padahal aku tidak masalah kalau kau datang lebih lama dari ini," katanya sambil memperhatikan betapa rakusnya lelaki seperti Taehyung bila sudah teramat jerih. 1000 mili liter air dalam tumbler kaca itu nyaris tandas jika Taehyung tak mendadak tersedak saking lobanya.


     "Bagaimana bisa begitu?" sergah Taehyung.


     "Kenapa?" Sohyun mengulur tanya.


     Taehyung mengembuskan napas, meletakkan tumbler di bawah sangga bangku di bawah kakinya. Lalu menatap obsidian Sohyun yang merona cokelat keemasan terbias sinar baskara.


   Alih-alih menjawab, Taehyung dengan senyum menawannya terpaku memandang wajah yang terlihat pucat pudar. Tangannya begerak lembut, mengusap pipi gadis itu. Lebih tepatnya menyentuh kulit putih yang dihiasi semu kemerahan. Ibu jarinya mengelus semakin leluasa, yang awalnya tersamar bedak, kini semakin jelas memar merah di sana.


     "Kau tidak sedang baik-baik saja?"


     Bersicepat Sohyun memalingkan muka, namun tangan Taehyung lebih dulu menahannya. Yang ada kini, kedua belah tangan itu menangkup wajah Sohyun. Memaksa gadis itu memandang lekat wajah prihatin Taehyung.


     "Kali ini tolong jangan menghindar," kata Taehyung, "Tatap mataku, apa ada yang kau sembunyikan?"


     Tipis senyuman Sohyun mendapat pertanyaan terlontar dari mulut Taehyung. Ia mengangguk, apa adanya. Benar jika ia mempunyai banyak hal yang ia sembunyikan. "Belum saatnya kau tahu, Taehyung. Ini masih terlalu dini, aku ingin melewati awal pertemuan kita dengan banyak hal di luar masalah yang kuhadapi sekarang ini." Mengharap Sohyun agar Taehyung mau mengerti.


     Kepalanya terangguk-angguk mendengar buah tutur Sohyun. "Baiklah, Sohyun. Aku tidak akan memaksakan kehendakmu untuk bicara jujur padaku kali ini. Tapi—berjanjilah untuk jangan menutupi semuanya sendirian. Aku sudah kembali, sudah ada dekat di depan matamu. Aku akan menunggu saat itu hadir, kau akan menceritakannya secara jujur denganku, sahabatmu."


   Begitu tentram Kata-kata yang terucap. Kadar keceriaan Taehyung muncul, kian bertambah setelah melihat untaian merekah indah dari bibir tipis Sohyun. Lalu tanpa ada lagi ragu, didekapnya Sohyun dalam balutan dadanya. Gadis yang ia peluk itu termangu. Tangannya yang dibuai kepalan pelan-pelan terbuka, ikut membalas pelukan yang akhir-akhir ini terus datang tanpa pernah sekali pun ia minta. Yang selalu ada ketika ia butuh kehangatan dari rasa dingin kepayahannya.


     "Ini sudah ketiga kalinya kau memelukku."


      Suara lirih Sohyun bergema di telinga Taehyung. Sepersekian detik matanya terpejam, ia habiskan untuk menikmati aroma floral wangi tubuh perempuan itu.


     "Kalau begitu, mulai sekarang kau harus terbiasa dengan pelukanku. Karena sahabatmu ini akan selalu memberikan pelukan hangatnya, dalam suka maupun dukanya seorang Kim Sohyun," katanya tak malu mempererat sekaligus mempertahankan aksinya yang terbilang pantas dilakukan oleh sepasang kekasih.


     "Kau tahu, tiap kali menatap bola matamu? Tatapanmu itu, selalu menarikku untuk selalu berada di sisimu. Kau adalah magnet yang mampu menyeretku agar selalu mendekap tubuh rapuhmu."


     "Aku tidak serapuh itu, Kim Taehyung," tegur Sohyun yang teredam, semakin kecil saja intensitas suaranya.


     "Ya, kau adalah gadis yang kuat. Buktinya kau bisa bertahan dan menungguku selama belasan tahun."


     Sohyun berdiam saja menelinga segala celotehan sahabat lelakinya. Ia lebih suka Taehyung yang seperti sekarang ini.


     "Aku tidak akan berhenti memelukmu. Katamu baru tiga kali, bukan? Aku akan memberikannya untukmu seribu, dua ribu, lima puluh ribu kali!" Taehyung berseru penuh gairah hati. "Coba kauhitung, berapa kali kita akan bertemu di bukit ini? Mungkin sampai kita akan jadi gaek suatu saat nanti."


     Entah apa, ucapan Taehyung membuat mata sang gadis berkaca-kaca. Air mata sudah siap menganak sungai dari pelupuk mata jika Sohyun berlemah hati di depan Taehyung.


     "Tidak terhitung. Lima puluh ribu kali, itu seperti seratus tahun lebih lamanya, Tae!"


     "Seratus tahun? Aku akan menunggu, ah tidak ... kita berdua akan mengisi hari-hari kita dengan bahagia. Bersama pasangan hidup kita masing-masing atau tidak sama sekali." Taehyung melepasnya sendiri, dan kini memandang bola mata Sohyun yang kembali berbinar.

__ADS_1


     "Saat itu tiba, kita yang sudah menjadi kakek dan nenek ..."


     Sohyun dengan patuh mendengar apa-apa yang terujar. Sesekali ia menjawab pertanyaan Taehyung, berkali-kali pula senyumnya timbul karena candaan yang tak jemu digetolkan Taehyung padanya.


     "Akankah aku bisa menjadi gaek bersamamu suatu hari nanti, Taehyung? Sementara aku saja tidak yakin bisa bertahan hidup selama itu. Seratus tahun lagi, apa kita benar-benar masih bisa seperti ini? Sedang aku mungkin sudah pergi meninggalkan dunia ini."


🔔


     Gelutuk serupa serbuan peluru yang bersumber dari air hujan menimpa atap rumah pohon berhasil menciptakan gaduh deras. Sudah satu jam berlalu sejak dentuman hujan membasahi bumi, yang secara berangsur bertambah lebat intensitasnya. Selama itu pula Taehyung dan Sohyun mengasingkan diri dari bangku yang telah basah kuyup di luar sana. Teronggok kesepian setelah ditinggalkan.


     Cuaca yang terbilang cerah, berubah mendung ketika angin memaksa awan berjalan di bawah bumi yang mereka pijak. Hujan itu datang, tidak terprediksi.


     Hari sudah menyentuh waktu sore. Langit yang menggelap akan bertambah gulita jika malam bergulung menggantikan. Taehyung yang duduk di dekat jendela masih memperhatikan berkubik-kubik air ditumpahkan dari atas sana. Sambil lalu, matanya menilik wajah serius Sohyun yang tengah membaca buku sains. Gadis itu bilang, biasa menghabiskan waktunya di rumah pohon dengan membaca atau paling sering melukis. Jika sedang turun hujan sederas ini pun, Sohyun mengatakan akan bermalam di tempat ini, sampai hujan benar-benar akan reda. Sebab ibunya akan marah jika melihatnya pulang dalam kondisi badan basah.


     "Kau yakin akan bermalam di sini?"


     Taehyung menanyakan hal sama seperti sebelum-sebelumnya. Gadis kecilnya yang dahulu penakut, secara mengejutkan berani menginap di dalam kubus rumah pohon yang letaknya hampir-hampir berdekatan dengan kawasan hutan nan legap.


     Sohyun lantas menutup bukunya, memandang bubuhan kekhawatiran di wajah Taehyung. "Seharusnya iya," jawabnya, "tapi karena kau di sini, sebaiknya kita pulang. Kau pasti harus istirahat. Sepulang kerja kau langsung kemari tanpa bersalin baju dan malah terjebak hujan bersamaku—"


     "Jangan berpikir begitu. aku sama sekali tidak keberatan. Hanya saja, di sini tidak ada penghangat, aku takut kau akan sakit jika alergi dinginmu kambuh."


     Sohyun manggut-manggut mendengarkan, Taehyung masih mengingat tentang alergi yang bahkan ia sendiri lupa. Kemudian sedikit mengeluarkan tenaga, Sohyun menggeser lemari plastik, tepat di belakang benda persegi panjang itu, sebuah payung usang berada.


     "Payung itu?" Taehyung terlonjak, menunjuk payung yang sudah lama tak ia lihat bentuknya. Meski sudah tampak berubah warna, tak akan memudarkan ingatan Taehyung pada benda yang pernah melindungi tubuh mereka dari guyuran air pun salju yang berjatuhan. Payung itu yang melindungi tubuh mereka berdua. Benda bersejarah yang mereka beli setelah mengumpulkan uang dalam celengan masing-masing.


     "Aku ramal, hujan akan reda sepuluh menit dari sekarang."


     Taehyung menatap Sohyun yang tiba-tiba berucap demikian tenang. "Kau masih suka meramal cuaca?"


🔔


     Air berkecipak, kala dua pasang kaki berjalan menepuk permukaan air di atas lantai jalan beraspal yang masih basah menggenang. Sohyun dengan ramalannya, terbukti benar, hujan lebat yang nyaris menyamarkan pandang pelan tapi pasti meninggalkan sisa rintik yang kian menyusut ukurannya.


     Tepat di bawah lindungan payung klasik berwarna kuning, dua anak manusia meneduh di antara percik air yang meninggalkan gerimis.


     "Sehabis hujan di bulan Juli, di minggu ke tiga, tiap tahun selalu ada pelangi," Sohyun memberi tahu di sisa perjalanan pulang mereka.


     "Benarkah?" Taehyung mulai tertarik.


     Sohyun berhenti melangkah. Taehyung yang bertugas memegang payung ikut membatu, lelaki itu menunggu penjelasan dari Sohyun yang semringah sejak tadi.


     "Warna-warninya muncul di balik pegunungan yang paling besar." Sohyun menunjuk dataran tinggi di sebelah utara. "Aku menamainya Elort, dan itu anaknya, Egort," tunjuknya pada dua gunung yang sepintas mirip.


     "Kalau Elort dan Egort adalah ayah dan anak, lalu di mana yang jadi ibu?" Taehyung menyahut.


     "Itu!" Jari telunjuk perempuan itu kembali menunjuk satu gundukan yang tak berada jauh dari posisi mereka berdiri.


     "Di bukit yang sudah kita temukan. Meski tak setinggi Elort dan Egort, Enorty punya sesuatu yang lebih menarik. Pohon oak tinggi, dua ratus tahun."


     Taehyung tergugu memandangi wajah Sohyun. Hatinya berasa damai, hanya karena disaksikannya antusiasme dari perangai Sohyun. Dirinya baru tahu bahwa taman bukit yang mereka jadikan markas memiliki nama Enorty.

__ADS_1


     "Kadang aku penasaran," bibirnya berhenti bergerak. Sementara matanya tak mau berpaling menatap raut penasaran sahabatnya.


     "Kau begitu sangat-sangat tertarik pada alam, nama-nama yang kau berikan... caramu memperhatikan sekitarmu... tapi kau justru mengambil jurusan musik."


     "Dalam buku harian milik Ibuku, di sana tertulis, kalau Ayah kandungku sangat menyukai musik. Dia suka bermain piano, telapak tangannya besar dan ruas jari-jarinya panjang. Dia penggemar berat karya Debussy dan Bach. Tapi kadang suka berselingkuh dengan memainkan banyak lagu-lagu klasik milik Liszt atau pun Cage."


      "Aku menyukai alam. Aku sudah jatuh hati padanya sejak lama. Aku merasa tidak perlu, ketika aku bisa lebih memahami semesta tanpa campur tangan teori berbelit para ilmuwan. Tapi—aku juga tidak mau hidup seperti itu. Seakan aku tidak punya usaha untuk menghargai dedikasi mereka. Mendiang Stephen Hawking, dia seorang ilmuwan hebat abad ini, buku yang sejak tadi kubaca adalah salah satu karyanya. A brief history of time, bukankah itu judul yang sangat indah?"


      "Intinya aku sedikit lebih menyukai musik."


      Sohyun mengakhiri ucapannya dengan senyum lepas. Wanita itu tak henti menebar keindahan parasnya di depan Taehyung yang terpaku memandangnya. Dilihat dari sisi manapun, bagi seorang pria macam Kim Taehyung yang seolah tersihir pesona yang dipunyai Sohyun, sahabat perempuannya terlihat makin memesona. Baginya yang merasa jantung hati menjadi legap dan aliran darah yang berdesir tak tentu, Taehyung mulai menyadari satu hal, pada akhirnya, dia jatuh pada gadis di depannya. Cinta itu ada, tertumbu pada sahabat yang selalu ingin ia lindungi keberadaannya.


      "Sohyun..." Ia memanggil, sementara hatinya berdebar menguat tiap mili detiknya.


     Merasa terpanggil, Sohyun lekas menoleh. Melihat Taehyung menatapnya penuh arti. Ia tidak buta, tatapan yang diberikan Taehyung, berbeda. Semakin lama ia tatap, bertambah keras pula darahnya mendidih. Kelopak mata tak ada mau berkedip. Taehyung sudah satu langkah lebih maju, membelai surai mahkotanya yang bergerak tertiup angin.


      "Maafkan aku."


     Tanpa aba-aba, satu kecupan lembut bertengger di bibir Sohyun. Taehyung yang melakukannya, pipinya memanas tatkala deru napas menerpa pori-pori kulit wajahnya. Sohyun terpaku, menerima sentuhan yang tak pernah sekali pun ia rasakan dalam hidupnya.


     Matanya terpejam rapat, Taehyung berasa bibir itu mengakibatkan candu. Hingga tanpa ia sadari betul, tangan kirinya yang bebas menekan tengkuk Sohyun, memberikan lumatan tak biasa sampai-sampai lidahnya terbenam cukup dalam di mulut Sohyun yang menangis dalam diam. Gadis itu bukan sedih apalagi tidak suka. Namun yang dilakukan Taehyung telah salah. Tidak seharusnya seperti ini.


     Sore ini, di bawah payung, ciuman yang tak terduga datang. Siapa yang mengira, Taehyung berani mengambil kesucian bibir ranum milik Sohyun. Tepat di bawah lindungan payung kuning, semua terjadi tak tercegah.


     Taehyung segera melepas tautan bibirnya sesaat usai menyadari tindakan lancangnya. Tubuhnya serasa mati kutu, masih menyisakan napas panas menderu, Taehyung tertunduk malu. Pria itu merasa bersalah. Kecewa dengan perbuatan kurang ajarnya.


     "Sohyun ... aku minta maaf. T-tolong ampuni aku, sungguh aku tidak bermaksud apa-apa. Aku hanya—"


     "Sepertinya sudah waktunya kau mencari kekasih," sela Sohyun setelah berhasil menguasai diri. "Temukan seorang wanita. Jadikan dia kekasih hatimu, lamar ia segera dan nikahi dia," imbuhnya seolah tak terjadi apa-apa. Sohyun tetaplah Sohyun, yang tidak akan lengah dengan semudah itu terhadap perasaannya.


 


     "Aku memaafkanmu. Aku harap ini menjadi pertama dan terakhir kali kau melakukannya."


     Tak ada sepatah kata keluar dari Taehyung, laki-laki itu terdiam lama mencerna kalimat yang terucap. Apakah ini berarti Sohyun tidak memiliki perasaan apa-apa padanya? Hingga gadis itu dengan mudahnya menyarankan dirinya untuk mencari wanita lain. Agar dia bebas mencumbu di dalam tali pernikahan.


     Sohyun lekas melangkah ke depan, membiarkan Taehyung bertahan dengan pemikirannya. Membuat lelaki itu merenungkan perkataannya.


     Merasa payung yang dipegangnya layu, Taehyung membelalak, tersadar jika Sohyun telah berjalan lebih dulu. Tampak dari posisinya, Sohyun di depan, menjarak hingga sepuluh meter jauhnya.


     "Kim Sohyun!" pekiknya, berlari kecil di atas aspal licin.


     "Tetaplah bersama. Jangan pergi!" katanya, menggenggam telapak tangan Sohyun. Cepat-cepat ia memayungi tubuh Sohyun yang sedikit basah terkena rinai hujan.


     "Aku janji ini terakhir kali aku melakukannya."


    Sohyun dapat merasakan kesungguhan itu, dari biji mata yang begitu dalam menatapnya. Sohyun tersenyum sekilas, sebelum sesuatu yang Taehyung sendiri tak menyangka, ia dapati dari gadis bermarga sama dengannya itu.


     Sohyun berjinjit, memegang tengkuknya, hingga badannya merunduk, mendaratkan kecupan sedetik di bibirnya.


     "Aku juga akan berjanji, ini pertama dan terakhir aku melakukannya. Kita impas."

__ADS_1


     Taehyung sudah pasti syok, mendadak darahnya berdesir hebat. Jantungnya berdetak keterlaluan. Benarkah Sohyun menciumnya? Atau yang ia rasakan barusan hanyalah mimpi belaka?


     


__ADS_2