Beautiful Goodbye

Beautiful Goodbye
BAB 31 : Kolateral


__ADS_3

       Mata sipitnya mengedarkan pandang, menyapu sekeliling sedang mencari satu objek, dan di antara ramai hiruk pikuk rutinitas harian rumah sakit yang padat meski matahari sudah tergeser rembulan, satu jiwa yang kosong itu menarik perhatian Jaehyun—siapa lagi jika bukan Kim Taehyung. Rotasinya terhenti kala onggokan tubuh manusia yang dicarinya tengah meringkuk di atas bangku tunggu. Tengah terkantuk-kantuk hendak tidur.


         Bahkan ketika ketukan sepatunya menghilang di dekat Taehyung, adik lelakinya itu tak berhenti dari aksi setengah tidurnya. Jaehyun pun akhirnya duduk di sebelah bangku kosong, bersebelahan. Netranya memperhatikan wajah polos Taehyung, yang dalam hitungan detik jatuh di bahu. Lelaki itu terlelap menindih di pundak lebarnya. Berdiam sesaat tanpa berniat mengganggu.


        "Haruskah aku mengatakan ini padamu?" gumam Jaehyun bimbang.


         "Katakan saja," Taehyung menyahut dengan mata setengah terbuka.


        Jaehyun sampai menoleh ke kiri, tampak memelotot melihat Taehyung tersenyum sepintas. "Dua puluh menit aku menunggu setelah keluarnya perawat dari dalam, aku tahu ada yang kalian berdua bicarakan."


       Menghela napas panjang, Jaehyun kembali pada atensi pertamanya, sekotak ubin marmer di bawahnya—yang sedang diinjak setengah hati. Tawaran darinya disetujui Sohyun dan tak tanggung-tanggung, sang pasien mengatakan berbagai hal yang berat untuk Jaehyun yang seorang dokter.


       


       "Jangan sok tahu."


        "Kalau begitu kenapa membuat suara yang membuatku curiga?" Taehyung mengambil jarak. Tegapkan badan menatap Jaehyun. "Sekarang kumohon padamu, beri tahu aku seperti apa kondisi Sohyun?" ucapnya memberi opsi.


        "Sebaiknya kau pulang saja. Sohyun harus istirahat, apalagi ini sudah malam, setidaknya ganti pakaianmu, dan mandi. Kau tidak malu dengan baumu?"


        Kalimat Jaehyun jelas bukan jawaban yang diinginkan Taehyung. Menyuruhnya pulang tanpa melihat sendiri keadaan Sohyun! Tidak bisa.


         "Apa tertidur berminggu-minggu tak cukup untuknya?" Taehyung mulai berkelakar. Memang tidak lucu, tapi ia sudah sangat jengkel sekarang.


        "Jangan mencari masalah." Tatapan Jaehyun menajam, menusuk titik tengah bola mata menantang Taehyung. "Nyonya Hwang, ah, maksudku Tuan dan Nyonya Han sedang dalam perjalanan kemari. Tolong jangan jadi pengganggu."


      Mendengkuslah Taehyung dengan sumpah serapah yang tertahan di dasar hati. Lantas mencermati pakaiannya yang belum berganti sejak kemarin. Ini karena kesibukan Taehyung mempersiapkan sesuatu, hingga sepulangnya dari kerja dan rencana yang disusunnya, baru menyempatkan diri ke rumah sakit tanpa berganti busana.


      "Sudah paham kan apa kataku? Cepat pulang." 


        "Tapi, sebentar lagi jam dua belas, aku ingin jadi yang pertama mengucapkan ulang tahun untuknya!" kesah Taehyung.


        "Jangan banyak alasan, kau bisa mengucapkan padanya besok, sekalian dengan rencana awalmu."


     Taehyung memberengut. Ia setuju apa yang dikatakan Jaehyun, kejutan ulang tahun Sohyun tak boleh gagal. Taehyung menyerah, membalikkan badan, berjalan kesal menjauhi ruangan seraya menggerutu, "Dia pasti memberinya banyak obat bius."


      "Hei, Kim Taehyung!" teriak Jaehyun.


       Taehyung yang sedang jengah, enggan memandang, masih berjalan lurus tak berniat memedulikan.


        "Besok datanglah ke sini pagi-pagi. Sekarang pulanglah, bersihkan dirimu untuk kencan besok!"


        Deg


          Matanya membeliak. Taehyung gegas berlari menubruk sang kakak yang tersenyum geli.


          "Tadi kau bilang apa? Kencan?" Taehyung berharap tak salah dengar, maka makin kuat gelendotan lengannya, meminta Jaehyun mengulang pernyataannya sekali lagi.


        "Hei, Kim Jaehyun!" rengeknya makin menjadi.


       Sebuah tepukan melayang di bahu Taehyung, Jaehyun angkat dua jarinya; telunjuk dan ibu jari, mengisyaratkan bahwa ia mengunci mulut. Ia tak akan mengulangnya, biarkan saja Taehyung berpikir. Kemudian pergi tanpa permisi.


         "Benarkah apa yang dikatakannya?" Taehyung bermonolog sepanjang jalan. Senyum tebalnya sampai muncul berulang kali, membuat siapa saja yang melihatnya mungkin akan berpikiran ia sedang tak waras. Pokoknya Taehyung tak ambil pusing, karena saat ini taman hatinya sedang ditumbuhi banyak bebungaan yang mekar, bersama datangnya musim semi.


🔔


       Kalau bisa, Sohyun ingin merasakan ini setiap hari. Menikmati Suasana hangat menyelimuti keluarga kecil yang terjalin kini. Kadang, pertanyaan seperti Kenapa baru sekarang? atau seandainya, seharusnya, lebih baik jika, dan sebagainya memenuhi otaknya. Apakah dirinya menyesal atau justru takut? 


        Sudah sejak lama pertanyaan menggunung itu mendiami relung hatinya, namun tak mudah mendapat jawaban. Dan kali ini, ketika Tuhan memberi sedikit waktu, sebuah kesempatan dalam menemukan balasan dari rentetan tanya yang Sohyun ajukan.


         Sohyun tak menyesal untuk hidupnya yang sekarang dijalani. Ketika segala benang merah kehidupannya dipintal, maka ia diberi peluang guna merajut kisah hidupnya dan akan berakhir bagaimana. Entah dari mana filofosofi yang dipikirnya ngawur itu berkelebat bertamu. Namun Sohyun suka. Andaipun ia diberi mesin waktu untuk mengulang kehidupannya ... Sohyun tidak berharap lebih pada sesuatu yang mustahil. Ia pernah bermimpi berkelana, membuat janji dengan waktu untuk berkunjung ke masa lalu, sekali lagi dalam mimpi yang muskil dijadikan realitas. Sebatas imaji.


       


        "Tapi ini sisa sedikit lagi!"


       Dipalingkan mukanya, mencoba menghindar saat suapan dari tangan Yoon eun terus terdorong maju ke dalam mulutnya.


  


       "Bagaimana kau akan sembuh, kalau malas makan begini?"


       "Aku sudah kenyang, Bu!" tuturnya melas. Sohyun sungguh telah kenyang, bisa-bisa makanan yang baru di makannya akan dimuntahkan lagi jika dipaksakan masuk.


       "Ya, baiklah." Yoon eun menyerah, menyudahi aksi paksanya.


       Maka diambillah segelas air di atas nakas. Memberikannya kepada Sohyun. Tangan gadis itu menerima dengan gemetar, entah, tenaganya semakin bekurang, makin lemas sejak kesadarannya kembali tadi malam.


        "Terima kasih. Aku menyukai makanan buatan Ibu. Sangat enak, rasanya aku ingin bisa merasakannya setiap hari." Sebagai ganti, Sohyun puji makanan yang memang dikhususkan Yoon eun untuknya.


         Wajah Yoon eun berubah masam, ia bahkan yakin Sohyun sedang membual lagi, tadi pagi lidahnya sudah lebih dulu mencicipi masakannya, dan bagi Yoon eun hasilnya selalu sama—standar.


       


         "Ibumu sudah bekerja keras belajar memasak makanan agar Tuan Putri Sohyun tak kelaparan dan kembali sehat,"  timpal Woojin yang baru keluar dari toilet.


         Sohyun terkekeh mendengar sebutan yang disematkan Woojin untuknya, lantas beralih pada Yoon eun. "Benarkah, Bu?"


        Ditanya begitu, membuat Yoon eun gelagapan. "Itu sudah pasti. Jadi cepatlah sembuh, agar kita bisa pulang ke rumah dan menikmati kebersamaan kita sebagai keluarga."


       Sohyun menganggut. "Em, Sohyun akan pulang." Namun dengan intonasi miris nan lirih.


       Suasana berubah. Sejemang Yoon eun tertegun, kata pulang yang dilontarkan Sohyun berhasil menumbuk hatinya yang sensitif.


       "Kau yakin akan pergi?"


        "Ibu tidak rela aku pergi?"


       Ada dua makna yang bisa ditangkap otak Sohyun. Pergi sesaat atau selamanya. Sohyun rasa sama buruknya untuk Yoon eun.


         "Ibu akan merindukanmu, jadi cepatlah pulang usai menikmati musim semi pertama hari ini." Direngkuh tubuh kurus itu erat-erat, enggan melepas. Yoon eun benar-benar takut sekarang, apabila sesuatu yang buruk dan tak diinginkan terjadi.


         "Selamat ulang tahun."


        Kepala gadis itu tengadah, sambil mengerutkan dahi. Ulang tahun, kata Ibunya?


        "Ini seperti bukan dirimu, yang gampang pelupa."


        Barulah Sohyun mengerti tatkala Yoon eun menunjukkan kalender yang diberi tanda bulat. Tanggal empat.


        "Sudah lama aku tidak mendengar ucapan seperti itu, dari Ibu."

__ADS_1


       Terhenyak Yoon eun.


        Woojin melihatnya, melihat air muka muram di wajah istrinya. Semalam pun, disaksikannya wanita itu kebingungan tiap kali bertatap muka dengan Sohyun.


       "Seperti malam-malam ulang tahun yang berlalu, aku berharap seseorang akan mengetuk pintu kamarku sambil mengucapkan selamat. Aku bahagia karena Tuhan mengabulkannya, Ibu tak hanya berdiri saja, melihatku dari sudut terasing. Gembira, sangat, Ibu mengatakannya tanpa aku meminta lebih dulu." Sohyun tersenyum senang, lantas mengaitkan lengannya, supaya Yoon eun lekas menghilangkan kegundahan di wajahnya.


       "Jauh lebih baik daripada tidak sama sekali," imbuhnya.


        Yoon eun kembali memeluk tubuh Sohyun. Betapa pengertiannya perempuan itu. "Kau selalu saja membuat Ibu takut."


        Suasana berkasih-kasihan harus terjeda karena nyaring gawai mendering. Yoon eun mendengkus, Woojin tak juga mengubah nada dering ponselnya yang berisik, atau paling tidak mengecilkan volumenya. Pria baya itu sekilas meringis meminta maaf sebelum merogoh ponsel.


        


         "Soyoon terus menanyakan kabarmu, dia menelepon lagi, Ayah bosan harus berbohong terus pada anak kecil itu. Jawablah!" Suara Woojin menggelegar.


         Sohyun menerimanya, meletakkan benda pipih itu ke dekat daun telinganya.


        "Paman, cepat katakan di mana Sohyun eonni? Kenapa dia langsung pulang dan tak mau bertemu? Ini sudah puluhan kali aku menelepon. Apa bunga dariku tidak menarik? Pasti ada sesuatu kan, Paman!"


         "Pelankan suaramu, Soyoon. Tidak baik bicara keras di telinga orang yang lebih dewasa. Kami tidak tuli."


         "Kakak!"  Soyoon kembali berteriak, tanda girang.  "Ini betulan kau?"


          "Ada apa mencariku?"


           "Tiba-tiba aku merindukan Kakak. Aneh, padahal biasanya kita bertemu tiap bulan sekali, beberapa hari lalu aku bermimpi bertemu wanita cantik, aku yakin, itu pasti Kakak. Sekarang aku di Taebaek. Ayo kita bertemu!"


          "Hari ini aku ada janji."


         "Batalkan saja."


            "Tidak bisa."


           "Kenapa tidak?"


            "Orang yang akan kutemui sangat penting untukku."


            "Jadi dia lebih berarti daripada aku?"


            "Kamu ini sangat cemburuan, ya?"


            "Masak, sih?"


           "Temui aku setelah kau bisa melihat. Bagaimana?"


           "Kenapa begitu?"


           "Memang Kakak tidak akan datang kalau operasi mataku dilaksanakan?"


           "Sepertinya tidak."


          "Kau marah karena aku berteriak tidak sopan?"


           "Tidak."


          "Ya, sudah. Kalau begitu jangan datang. Tidak perlu datang, Kakak memang tidak peduli lagi padaku!"


        Sambungan telepon terputus. Soyoon yang kesal dan Sohyun yang menanggapinya datar seperti biasa. Ia tak bisa menunjukkan sisi melankolisnya, tidak harus mengucap kata-kata sedih sebagai salam perpisahan.


        "Wajar saja, Soyoon masih kecil, suatu saat dia pasti akan mengerti," Yoon eun menimpali.


         "Bukankah dia sangat mirip denganku, Bu." Sohyun menatap lurus ke arah ibunya, "Seperti itulah sifat asli Sohyun kecil ... dahulu."


           Pasokan udara terasa menipis, rintihan sedu Sohyun mengingatkan Yoon eun pada masa lalu mereka. Benar, tepat sekali, tanpa ia sadari saban kali melihat Soyoon, maka dirinya akan diingatkan pada Sohyunnya yang dulu begitu ceria dan aktif, namun sekarang? Semua berubah.


          


🔔


          Tangannya menggantung sejak tadi, langkahnya terpaku di depan pintu. Belum berani masuk meski percakapan telepon yang didengarnya telah usai. Taehyung serasa perlu bernostalgia sejenak, membayangkan kepribadian Sohyun dan dirinya dulu, sebelum embel-embel kedewasaan merapat bersama semakin bertambahnya umur.


       "Segeralah masuk, jangan buat Nona Sohyun menunggu."


        Suara seseorang menginterupsi kegiatan Taehyung. Lelaki itu menoleh melihat seorang wanita berpakaian perawat muncul di belakangnya.


         "Oh, Perawat Hong, maaf tidak menyadari keberadaanmu." Menunduk malu-malu.


         "Ayo masuk!"


         Mereka berdua masuk bersama. Ketiga orang di dalam ruangan lekas mengganti ekspresi serius di wajah mereka berganti hangat dengan senyum ramah.


        "Rupanya kau sudah datang, Nak Taehyung. Kemarilah." Woojin menggandeng Taehyung.


         Sohyun tersenyum senang. Tak bisa menutup raut bahagianya.


        "Aku tidak terlambat, kan?"


        Gadis itu menggeleng lugu. Lalu mengalihkan tatap pada wanita di sebelah Taehyung, Eunjung.


        "Lama tidak bertemu," sapa Sohyun.


        "Akhir-akhir ini saya sering dipindah tugaskan, baru bisa kembali ke sini. Bagaimana kabar Anda, Nona?"


         "Jangan pura-pura tidak tahu."


        Wanita itu pun berdesus, Sohyun terlalu blak-blakan. Dan dibuat membelalang lantaran Sohyun menarik tubuhnya, sang Nona memeluknya, setelah itu berbisik, "Aku tahu kau menyukai dokter Kim, saranku, katakan saja padanya. Karena dia sudah menyerah padaku."


       Eunjung kian membulatkan mata, sejak kapan dan dari mana Sohyun mengetahuinya?


        "Kontrollah ekspresimu, Perawat Hong, dan Berbahagialah!"


        Sohyun melepas pelukannya, namun Eunjung masih syok dengan wajah bingung.


         "Aku harus segera pergi, terima kasih sudah mengunjungiku."


        Eunjung manggut-manggut, refleks meraih jemari dingin Sohyun. "Nona juga."


Berbahagialah! 


🔔

__ADS_1


          Kedua belah jemari Sohyun dan Taehyung saling terkait. Taehyung enggan melepaskan tautannya, sementara Sohyun tak menolak, mengizinkan sahabat lelakinya terus menggenggamnya seolah takut akan lepas.


         


         "Oh, ya, sebelum kita datang ke taman bukit ... aku memiliki kejutan."


        Sohyun berhenti, menitikkan fokusnya pada wajah semringah Taehyung. "Kejutan?"


       Taehyung mengangguk, sedangkan Sohyun mendengkus karena untuk kedua kalinya Taehyung sudah menyiapkan selembar kain panjang di saku celananya. Bisa ia tebak, untuk apa benda tersebut jika bukan untuk menutup matanya.


        "Kau harus tahu, Kim Taehyung ini tak pernah sekali pun gagal dalam membuat kejutan. Kau pasti akan suka dengan surprise yang kami siapkan."


         "Kejutan ulang tahun, maksudmu?"


        "Ya." Taehyung menjawab ragu-ragu, kejutan ulang tahun, mungkin, tapi ada yang lebih dari itu.


        Sohyun pasrah ketika matanya tertutup. Dan sekarang dapat dirasakan bahwa tangan Taehyung kembali mengenggamnya erat, mulai berjalan ke arah kiri, menuju timur.


🔔


       "Kau duduklah di sini," pinta Taehyung, menuntun Sohyun pada sebuah bangku kayu.


        Segera berlari ke depan, duduk berseberangan di depan Sohyun yang masih dibelenggu kegelapan. Taehyung tersenyum puas, menggapai sebuah gitar akustik dan memangkunya. Di belakangnya sudah ada Jungkook, Yoongi, dan Jaehyun.  Yang kali ini bertugas mengiringi lagu yang akan dinyanyikan Taehyung.


         Sohyun masih menunggu dengan sabar, suasana di sekitarnya terdengar sunyi, hanya sayup angin dan bau dedaunan basah. Gadis itu tersentak, tiba-tiba tangan seseorang menggamit tangan kanannya.


           "Kau di sini?" tanya Sohyun seakan tahu pemilik tangan tersebut.


          "Untuk temanku, sahabatku, dan malaikatku. Untuk Sohyun, aku di sini."


        Sohyun mengulas senyumnya.


        "Bersiaplah."


       Yeri membisik lembut ke telinganya, sambil membuka penutup mata di wajah Sohyun. Dan ...


       Senandung patah-patah dari petikan gitar mengalun.


If you’re not the one then why does my soul feel glad today?


If you’re not the one then why does my hand fit yours this way?


If you are not mine then why does your heart return my call?


If you are not mine would I have the strength to stand at all?


       Sohyun tergugu-gugu di tempatnya. Melihat Taehyung menyanyikan lagu yang dirilis tahun 2003 itu. Lagu kesukaannya, yang tak seorang pun tahu. If you're not the one.


I never know what the future brings


But I know you’re here with me now


We’ll make it through And I hope you are the one I share my life with


I don’t wanna run away but I can’t take it,


I don’t understand


If I’m not made for you then why does my heart tell me that I am?


Is there any way that I can stay in your arms?


        Matanya berkaca-kaca, tersentuh kata-kata yang berasa tulus, diungkapkan lelaki yang berusaha tidak menimbulkan sumbang dalam genjrang gitar di pangkuannya.


If I don’t need you then why am I crying on my bed?


If I don’t need you then why does your name resound in my head?


If you’re not for me then why does this distance maim my life?


If you’re not for me then why do I dream of you as my wife?


I don’t know life so far away


But I know that its just a trip


We’ll make it through And I hope you are the one I share my life with


And I wish that you could be the one I die with


And I’m praying you’re the one I’Ve build my home with


I hope I love you all my life


       Terukir senyum lebar, kala tiga pria di belakang Taehyung mulai bermain alakadarnya. Sohyun melihat kilat kesal di mata lelaki di hadapannya, walau singkat. Namun, Taehyung memilih menyelesaikan lagu hingga bait akhir.


‘Cause I miss you, body and soul so strong that it takes my breath away


And I breathe you into my heart and pray for the strength to stand today


‘Cause I love you, whether it’s wrong or right


And though I can’t be with you tonight


You know my heart is by your side


         "Bukankah dia lelaki yang romantis?" tutur Yeri, usai mengabadikan momen tersebut dalam kamera tangan.


           Sohyun terangguk pelan, menatap Taehyung yang berdiri. Pria itu tampak gugup, beberapa kali menggaruk tengkuk serta mengusap peluh.


         "Mungkin lagu yang kunyanyikan tidaklah sempurna. Mungkin persembahan kami terkesan biasa, tapi Sohyun ... yang harus kautahu, bahwa aku tidak main-main  sekarang. Semua lirik yang ada di lagu tersebut, telah mewakili perasaanku selama ini."


         Taehyung mulai turun, berjalan mendekati Sohyun yang mematung dengan pandangan tak terbaca.


         "Kim So Hyun, maukah kau menikah denganku?" Taehyung bertanya sangat hati-hati. Takut ucapannya lancang. Ia hanya ingin jujur. Sayangnya, Sohyun tak bereaksi apa-apa, kecuali air mata yang mendadak menderas dari pelupuk mata.


         "Hei, hei, jangan menangis." Taehyung mulai panik, menyeka bulir demi bulir cairan hangat yang justru kian berjatuhan.


          "Aku tidak akan memaksamu untuk menerimanya," jelas Taehyung, merasa bersalah. Harusnya ia dapat menahan keinginannya sebentar, jika tahu perbuatannya membuat gadis yang dicintainya menangis.


            "Kautahu betapa bahagianya aku ketika kau mengajakku mengambil foto pernikahan di butik waktu lalu? Saat itu, aku selalu berharap kita bisa menjadi sepasang kekasih—suami dan istri."

__ADS_1


             "Maaf kalau perbuatanku membuatmu jadi tidak nyaman. Tidak perlu ditanggapi serius, tidak apa-apa. Sungguh."


          Taehyung sudah pasrah jika permintaan tersebut ditolak. Tak ingin memaksa. Restu telah ia kantongi, hanya perlu persetujuan Sohyun. Mau atau tidak. Taehyung harap bukan jawaban menggantung.


__ADS_2