Berbagi Ingatan Dengan Dua Gadis

Berbagi Ingatan Dengan Dua Gadis
Special Chapter Volume 1


__ADS_3

Singkat cerita kami sekarang sedang di ruang kesadaran bersama. Di tengah ruang kesadaran bersama ada sebuah podium lengkap dengan mic dan tempat duduk.


“Haku, apakah rekaman kamera sudah berjalan?”


“Tunggu sebentar Aku akan menyalakannya.” Aku berjalan menuju ke kamera dan menekan tombol rekam.


Tanda merah kemudian mulai bersinar di atas kamera. Yang menandakan rekaman sudah mulai.


“Oke, itu sudah siap.” Aku memberitahu Linea sambil mengacungkan jempolku.


“Baiklah ayo Kita segera mulai.” Jawab Naila yang berada di sebelah Linea.


Satu.


Dua.


“Selamat datang di acara spesial memory talkshow.” Kami berteriak bersama.


“Nah, di sini Kami memperingati berakhirnya volume 1 dari novel Berbagi Ingatan Dengan Dua gadis.” Aku menjelaskannya pada para pembaca.


Clap clap clap. Di seberang Linea dan Naila sedang bertepuk tangan dengan meriah. Karena tepuk meriah mereka Aku ikut termotivasi.


“Baik, sebelum Kita memulai acara kali ini. Mari kita kenalkan bintang tamu kali ini.” Aku kembali menjelaskan.


“Dari ujung kanan sendiri, perkenalkan Naila Asca seorang gadis jenius biologi yang licik dan jahat.”


“Hajime, mengapa perkenalanku terasa terdengar sangat buruk bagi para pembaca.” Naila memprotesku karena membuat perkenalan konyol.


“Sudahlah, lagi pula Aku tidak berbohong sama sekali. Lalu Naila, Kamu lupa menyapa para pembaca.”


“Ah! Anda benar, Hai pembaca terhormat, perkenalkan Saya Naila, seorang pencinta gadis cantik.” Naila membenarkan sendiri perkenalannya.


“Baiklah selanjutnya di sebelah Naila, perkenalkan seorang gadis sedikit sombong tapi imut dan pemalu, Linea Jovanka. Yey....”


“Haku...! Apa-apaan perkenalan itu.” protes Linea.


“Benar Hajime, mengapa perlakuan Linea sama sekali berbeda dari Saya.” tambah Naila.


“Bukan yang itu.” jawab Linea kembali.


“Mau bagaimana lagi, dalam cerita sekarang Aku lebih dekat dengan Linea daripada Naila. Jadi, itu hanya kebetulan.” jawabku pada mereka.


“Dari mananya yang kebetulan.!!” jawab Linea dan Naila bersamaan.


Mereka masih tidak puas mengenai penjelasanku, Aku pun mengabaikan kekesalan mereka.


“Yang terakhir, perkenalkan Aku Hajime Ruva. Aku akan berperan sebagai Host pada kesempatan kali ini.”


Ya seperti yang para pembaca kira Aku di sini berperan sebagai Host.


“Nah, lalu Kami akan masuk ke program pertama yaitu, 'bagaimana kesan dari para pemeran terhadap novel ini’ mari kita mulai dari Linea silahkan.”


“Eh, Saya? Saya... Etto...” Sepertinya Linea sedang sedikit gugup di sini.


“Ahem, benar Saya tidak menyangka novel ini dapat bertahan hingga sekarang. Lagi pula novel ini bertema sedikit aneh.” jawab Linea setelah dia berusaha tenang.


“Benar sekali, Saya ingat saat Author kami sempat takut jika novel ini tidak laku. Dia bilang seperti ini, ‘Bagaimana jika tidak ada yang membaca novelku, apakah Aku menulis novel genre romance atau sistem saja ya?’ untung saja ada yang membacanya.” Naila menyela.


“Benar-benar, Saya akan mendendam Author jika dia berani menghentikan perjalanan Kami tanpa Happy Ending, hanya karena takut tidak laku.”

__ADS_1


“Eh sebentar, Aku mendapat kabar dari Author, sepertinya novel ini kemungkinan Bad Ending.” sela ku.


“Eh benarkah itu?” Mereka terkejut dengan pernyataanku.


“Tentu saja itu bohong, lagi pula bukannya Ending kita sudah ditulis di buku ramalan itu.”


“Itu tidak akan terjadi...!” jawab mereka bersamaan.


“Kita lihat saja nanti.”


“Mengingat ini peringatan berakhirnya volume satu, kita memiliki ekstra chapter di akhir volume. Bagaimana pendapat Naila tentang ini?”


“Bagaimana ya....?”


“Tunggu, bisakah kita melewati topik itu?” Linea menyela.


“Mengapa?” tanyaku pada Linea.


“Bukankah itu memalukan, lagi pula mengapa Author menulis hal itu, Apakah Saya tidak memiliki privasi.”


“Eh...? bukankah sudah terlambat memikirkan tentang privasi, lagi pula Anda sudah berbagi rahasiamu dengan Kami, bertambah pada para pembaca tidak terlalu berpengaruh kan?” jawab Naila


“Ini dan itu adalah masalah yang berbeda!!” Linea membantahnya, dengan rona merah cerah di wajahnya.


Satu hal yang pasti Linea yang sekarang sangatlah imut. Naila pun setuju denganku pada kali ini, kami pun saling mengacungkan jempol. Bekerja sama untuk menggoda Linea.


“Baiklah mari kita lempar pertanyaan tadi ke para pembaca. Nah lanjut ke program selanjutnya, apa pendapat bintang tamu tentang Author kita? Dipersilahkan Naila.”


“Sebernarnya Saya sedikit marah pada Author, karena membuat Kami harus menjalani semua hal gila yang terjadi di cerita. Bagaimana dia bisa memikirkan semua hal gila ini? Saya sedikit heran.” jawab Naila.


“Lalu apakah Kamu memiliki pesan yang ingin disampaikan pada Author?” tanyaku.


“Stop...! Cukup sekian dari Naila, untuk Linea apa kesan dan pesan Anda?” Aku menyela Naila sebelum dia mengeluarkan kalimat berbahaya lainnya.


“Mengapa Kami terus, bukankah ini tidak adil, Haku, Kamu sebagai pemeran utama juga seharusnya ikut bicara.”


“Eh... Tapi Aku kan hanya seorang host, bukannya bintang tamu.” Aku mencoba menghindar.


“Cepatlah atau Saya akan membuat Kamu segera menyesal.” kata Linea.


“Baiklah, Aku akan jujur. Aku berharap Author menambah lebih banyak romance dalam cerita kami. Lagi pula ini seharusnya posisi dimana Aku bisa membuka harem lalu melakukan ini dan itu.”


“Itu ditolak!!” jawab Naila dan Linea bersamaan.


“Mengapa? Bukannya sudah tertulis di tag genre jika ada romance di novel ini. Apalagi Aku bahkan tidak perlu lagi mendekati Kalian para gadis sedikit demi sedikit, seperti mc novel lain.” Jelasku pada mereka.


“Pemikiran itu sungguh yang terburuk, jika begitu bukannya Kamu seharusnya berterima kasih pada Author, kamu tidak perlu sedikit demi sedikit mendekati Kami supaya membuka Kami membuka hati padamu.” Linea kesal


“Betul sekali.” tambah Naila


“Sekarang hanya tinggal bergantung pada usahamu untuk meyakinkan Kami menjadi milikmu... Lupakan saja yang sebelumnya.”


Saat Linea menjelaskan dia segera menyadari ucapannya sangat memalukan dan segera wajahnya memerah.


“Apapun yang Anda lakukan, Saya tidak akan menjadi milikmu.” Naila menegaskan sebuah pernyataan.


“Baiklah, jika seperti itu Aku akan mengganti permohonanku. Author kumohon tolong percepatlah proses itu.”


“Hajime...!!”

__ADS_1


“Haku...!!”


Naila dan Linea bersamaan marah padaku. Lalu mereka berusaha mendekatiku.


“Tunggu dulu, tenanglah... Author tolong Aku... Baiklah mari kita segera tutup acara spesial kali ini.”


“Jangan mengalihkan topik, beraninya Kamu melarikan diri!!”


“Aku tidak, lihat baterai kamera sudah mau habis. Jika tidak sekarang ditutup kamera akan segera mati.”


“Ah!! Anda benar sepertinya Anda selamat kali ini.” Jawab Naila.


“Kalau begitu ayo cepat, apa yang Kamu tunggu.” Linea mendesakku.


“Ahem, Kalau begitu sebelum Kami mengakhiri acara spesial pada kali ini, Kami sebagai perwakilan dari Author mengucapkan terima kasih sebesar besarnya kepada pembaca yang sudah mendukung karya ini tetap berjalan hingga sekarang.”


“Kami sebagai pemeran utama juga mengucapkan terima kasih karena sudah membaca cerita perjalanan kami.”  


“Terima kasih banyak.” Kami bertiga berbicara bersamaan.


“Sebelum benar-benar mengakhiri, bintang tamu adakah yang ingin disampaikan?”


“Terus dukung Kami.” jawab Naila.


“Dan terus nikmatilah cerita kami ke depannya.” tambah Linea.


Satu.


Dua.


“Kalau begitu acara spesial peringatan berakhirnya volume resmi ditutup. Mari kita bertemu lagi di chapter berikutnya. Dan jangan lupa tinggalkan like dan komentar kalian ya, Bye... Bye....”


Kami bertiga mengucapkan kata-kata penutup bersamaan.


____________________________________________


Di ruang kesadaran saat acara sudah selesai, dan Hajime mendapat hukuman dari Linea dan Naila untuk membersihkan ruang kesadaran. Tiba-tiba seorang muncul dari tempat kosong.


Author: “Eh, sudah selesai? Aku bahkan belum muncul kali ini.”


Hajime: “Tuan mengapa Anda baru datang sekarang, acara sudah selesai, Naila dan Linea juga sudah pergi.”


Author: “Aku sedang sibuk menulis spesial chapter ini. Padahal setelah selesai, Aku langsung menuju ke tempat ini.”


Hajime: “Maafkan Aku...”


Author: “Aku hanya bisa mencobanya lagi di kesempatan berikutnya.”


Hajime: “Semangat Tuan. Fight on!!”


Setelah Hajime mengucapkan itu, Author segera pergi dengan wajah penuh kekecewaan dan lesu.


Hajime: “Huh~ Semoga saja Tuan tidak drop menulis novel kami karena kejadian ini. ”


Hajime menghela nafas dan lanjut membersihkan ruang kesadaran sendirian.


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2