Biarkan Mata BerbicaraAnjani

Biarkan Mata BerbicaraAnjani
Papa...


__ADS_3


" Anjani , maaf.... aku tidak bisa ikut bersamamu, sekarang adalah waktumu bersama papamu , berusahalah untuk bersikap dewasa dalam menghadapi papamu "


Nasehat Antoni masih terngiang ditelingaku ,


Antoni tidak mau ikut bersama denganku masuk ke dalam kantor Polisi untuk melihat papa di dalam , dia menungguku di kantin bersama dengan Pak Ali .


Papa akhirnya keluar menemuiku , dia pun terdiam dan duduk dihadapanku , kulihat rambut papa kini tidak rapi dan klimis lagi , wajahnya yang mulai tidak terawat dan mulai ditumbuhi kumis dan brewok dan bajunya yang lusuh berhari hari tidak ganti.


sesunguhnya ada rasa iba di hatiku melihat papa seperti ini , tetapi jika aku mengingat apa yang telah dilakukannya kepada mama , akupun menjadi sinis melihatnya , mataku tajam melihat papa , seakan akan benar benar ingin melihatnya sengsara .


" Untuk apa kamu datang kesini...? papa bertanya kepadaku , dia memulai percakapan diantara kami .


Aku terus mencoba diriku agar setenang mungkin berbicara dihadapan papa.


" Hanya ingin mengabarkan , pemakaman mama telah berjalan dengan baik dan lancar " aku pun menjawab pertanyaan papa dengan nada yang sedikit marah dan benci .


" APAAA..... !!!! "


Mendengar apa yang telah kuucapkan , papa pun berdiri dan menatap ku , dia tidak percaya apa yang telah ku ucapkan kepadanya .


Aku berusaha menahan emosiku kepada papa , aku hanya bisa tersenyum melihat papa menatap wajahku.


" Papa sekarang jangan khawatir , aku tidak akan merepotkan papa lagi ..." dengan nada sinis yang diiringi kebencian aku berkata kepada papa .


" Dasar anak kurang ajar...!! Plaaaak....!!! "


tiba tiba papa berteriak mendekati ku dan tangannya dengan cepat menampar pipiku .


Ini bukan yang pertama kali bagiku papa melakukan hal ini , tetapi ini adalah yang terakhir bagiku papa bisa melakukan hal ini kepadaku .


" Terima kasih pa.... " ucapku kepada papa


mataku tak bergeming melihat papa , tidak ada airmata yang keluar dari pelupuk mataku , dan tidak ada rasa sakit yang kurasakan di pipiku akibat tamparan papa , melainkan rasa dendam yang semakin membesar dan membuat rasa sakit muncul di hatiku.


" Kamu masih panggil aku papa !! tapi sedikitpun kamu tidak menghargai papamu ...!! " papa membentakku , inilah salah satu Tabiat papa yang tidak pernah lekang oleh waktu , yang membuat mama selalu menangis .


Kutatap wajah papa dengan penuh dendam dan benci ,


" Aku harus menghormati papa ?!? , pernahkah papa menghormati mama !!! dan pernah kah papa menganggap aku ada di dunia ini...PAPA..!!!"

__ADS_1


Kujawab papa dengan nada keras penuh dengan amarah yang bergejolak di jiwaku , aku merasa bukan papa yang ada dihadapan ku melainkan musuh terbesar sepanjang hidupku .


" Seharusnya papa sadar , bahwa kepergian mama , adalah akibat ulah papa , jangan mencari kambing hitam untuk melampiaskannya...


Aku bukan anak kecil lagi yang bisa papa perlakukan dan papa bohongi seenaknya , semakin hari sikap dan tingkah laku papa membuat diriku semakin membencimu ...!! ini untuk yang terakhir kalinya aku melihat papa berdiri di hadapanku ! selamat tinggal pa , semoga Tuhan selalu memberkatimu ..."


ku ucapkan kata kata terakhir kepada papa , lalu aku pun pergi meninggalkan papa yang masih terpaku mendengar kata kata yang ku ucapkan kepadanya.


" Anjani...! Anjaniii....!! Kembali kau ..!! papa belum selesai bicaraaa...!!! "


kudengar teriakan papa memanggil manggil namaku ,


" Aku tidak memperdulikan teriakan mu pa.." ku berkata dalam hati dan terus kulangkahkan kakiku , ku tutup telingaku rapat rapat agar aku tidak mendengarnya , aku merasa tugasku sudah selesai untuk memberitahukan berita tentang mama .


Ku lihat Antoni sudah menungguku di parkiran , tubuhnya yang tinggi bersandar di mobilnya , wajahnya yang tampan dengan senyuman yang manis menyambut kedatanganku .


" Sudah selesai semua Anjani ..? " Antoni bertanya kepadaku . dengan anggukan kepala kujawab pertanyaannya .


" Hei..!! Apa yang dilakukan papa lo ! dia memukul lo lagi ya...! seharusnya tadi gue ikut , jadi gue bisa mencegah hal ini terjadi .."


Antoni terperanjat saat dia melihat pipiku , ternyata tamparan papa masih membekas di pipiku , dan membuat kulit pipiku agak menebal beberapa inci .


" Kemana Pak Ali , jangan bilang kamu suruh dia pulang ya... " ku alihkan pembicaraan kepada Antoni , aku tidak mau membicarakan tentang hasil dari pertemuanku dengan papa , bagiku cukup sudah sampai di sini . dan tidak ada lagi pertemuan antara aku dan papa , sampai selama lamanya.


Tangan Antoni mengeplak ngeplak mesra kepalaku ,


dia benar benar memahami dan mengerti apa yang ku mau , walaupun dia merasa memiliki ku , tapi dia selalu memberikan kepercayaan dan ruang privasi bagiku , dia tidak paranoid dan tidak posesif , setidak nya aku benar benar merasa dilindungi dan nyaman untuk selalu bersamanya .


Pagi yang telah berganti malam , kulewati hari ini dengan airmata , kehancuran , sakit hati , dendam, kebencian dan senyum kepastian . Kulihat lampu lampu disepanjang jalan yang menerangi wajah Antoni yang duduk disampingku , rasanya tidak bosan aku memandangi wajahnya , mungkin bisa di bilang Antoni adalah lelaki yang ideal dan impian , dia tampan , pintar dan pewaris tunggal perusahaan keluarganya .


Entah mengapa dia bisa suka dan jatuh cinta denganku.... cinta.... apakah cinta itu ada di dunia ini .


" Eh.. lo jangan buat gue jadi Salting donk..! gue tau kalo gue ini bikin hati lo kesengsem..." canda Antoni membuyarkan lamunanku tentangnya.


" Yeee... Ge ' Er lo... hahahahahha..."


Dengan mesra ku pukul wajah Antoni , dan kubelai mesra rambutnya . Setidaknya aku mengakui bahwa dia bisa membuatku merasa bahagia dan melupakan segala galanya , dia benar benar berusaha untuk membahagiakan ku .


" Anjani kita makan dulu ya... biar kita pulang langsung istirahat , kamu mau makan dimana ?"


Jika Antoni tidak berkata tentang makan , mungkin aku akan melewatinya seharian ini , karena kepalaku penuh dengan masalah sehingga aku tidak merasakan lapar dan lelahnya tubuh ini .

__ADS_1


" Ya..... ampuun...gue lupa , lo pasti juga lapar yaa..maaf yaa... maa' aaf bangeet "


ku raih tangan Antoni dan ku meminta maaf darinya dengan kata kata manja dan kupasang wajah melasku dihadapannya .


" Hahahahahaha..... ga usah lo kasih tampang muka jelek lo dihadapan gue , biar lo jelek gue tetep sayang kok sama lo...!" . Dengan mesra Antoni mencubit hidungku dan mencandaiku lewat perkataannya.


Akhirnya Antoni membawaku kesalah satu resto , mobilnya berhenti di depan Rumah makan Padang . Rumah makan Padang ini dimana pertama kali aku bertemu dengan Antoni , ada kenangan disini antara aku dan dia , dan untuk pertama kalinya aku bisa mempercayai seorang laki laki didalam hidupku , hanya dia.... hanyalah Antoni .


" Kita makan disini yaa... kita balik kesini , rumah makan ini gue jadikan museum buat gue...hahahaha..


soalnya disini gue bisa buat lo yakin kalo gue sungguh sungguh sayang sama lo ..."


Dengan tatapan yang penuh kepastian Antoni berkata kepadaku , ternyata ada alasan tersendiri bagi Antoni , kenapa dia memilih Rumah Makan ini untuk kami makan malam saat ini .


" Cowok ini romantis sekali ..." gumamku dalam hati.


Antoni memilih tempat yang menghadap ke arah taman , dimana kami bisa melihat lampu taman yang temaram dan cahaya bulan yang tidak begitu terang .


" Antoni , gue mau ngomong serius boleh ... "


Sambil menyantap makananku , Aku mulai memberanikan diri untuk berkata kepada Antoni tentang apa yang ingin kulakukan setelah ini.


" Boleh lo mo ngomong apa aja sama gue , asal gue ga mau denger kalo lo mau pergi dari rumah gue... ,


karena lo adalah bagian dari tubuh gue , kalo lo pergi dari gue.. berarti lo telah bawa nyawa gue pergi juga "


kata kata Antoni bagaikan pisau tak berbentuk yang telah menghunus dadaku , dia seperti bisa membaca pikiran ku , sangat tepat dan padat apa yang dikatakan oleh Antoni dengan apa yang ingin ku katakan kepadanya . Tatapan mata ku terpaku melihatnya tidak mampu aku melanjutkan kata kataku kepadanya.


" Anjani , Lusa kita sudah mulai UAS , gue harap lo harus konsen dulu sama pelajaran , jangan mikir yang lain dulu , setelah UAS baru kita mikirin langkah selanjutnya ".


Dengan santai Antoni berkata kepadaku , dia benar benar telah memahami diriku , dan benar benar ingin membahagiakan diriku .


Aku hanya bisa terdiam menunduk dan hanya anggukan kepalaku saja yang bisa menjawab semua perkataan dan pertanyaan dari Antoni .


Ku lihat Antoni yang begitu lahap menyantap makan malamnya , lalu ku berkata kepadanya ...


" Antoni , sekali lagi terima kasih untuk semua ini ".


Antoni pun melotot mendengar perkataanku..


" Ayoo cepet dimakan ituu..! lo mau cepet pulang apa mau tidur dirumah makan ini ?! "

__ADS_1


Mendengar dia memarahiku , seperti anak kecil , aku pun buru buru menghabiskan makan malam ku , dan kami pun bersama tertawa bahagia .


============= °°° ============


__ADS_2