
Sepulang sekolah, Adel dijemput Zahra. Gadis itu mengajaknya melihat pameran hewan peliharaan yang diadakan dekat SMA 6.
"Ikan ****** yang itu bagus banget. Aku mau beli," teriak Zahra girang. Adel hanya mengangguk. Ia tidak bagitu suka hal-hal imut dan lucu.
"Kamu mau juga, Del?"
"Nggak. Kalau ada kalajengking, aku mending beli itu," sahut Adel cuek. Zahra tertawa. Kalajengking buat apa coba?
"Berapa, Pak?" Zahra mengeluarkan dompet kecilnya.
"80 ribu, Nduk."
Zahra melongo. "Bukannya lima ribuan?"
Bapak penjual ikan tertawa. Ia menunjukkan ikan kecil biasa berperut buncit.
"Yang ini, baru lima ribu. Sepuluh ribu tiga, deh," ujarnya. Zahra cemberut. Ditatapnya ikan gendut itu dengan kesal.
"Nggak mau. Ekornya nggak ada begitu. Yang ini aja, ya. Lima ribu ...," rengeknya.
Adel menarik tangannya sebelum si Bapak kesal. Ia mengajak ke kandang hamster.
Di sana, banyak anak-anak sekolah berkerumun. Dilihat dari seragamnya, mereka siswi SMA 6. Adel teringat sesuatu. Ia meninggalkan Zahra yang asik melihat kura-kura di sebelah kandang hamster, dan mendekati seorang siswi yang sedang menyesap es teh dalam plastik.
"Mbak, maaf mau tanya. Mbak Sandra udah pulang belum, ya?" tanya Adel pura-pura lugu.
"Sandra? Kelas berapa?" Gadis itu menghentikan aktifitas minumnya.
"Emm ... kelas dua tapi nggak tahu jurusannya."
"Emang kamu siapanya?"
"Eh, sepupu ...." Adel memainkan tali tas selempangnya.
"Oh ... kalau yang kamu maksud Sandra itu, dia udah pindah sekolah. Kebetulan aku anggota OSIS jadi sedikit banyak tahu tentang anak-anak yang pindah sekolah. Eh ... tunggu! Kamu sepupunya masa nggak tahu dia pindah? Kamu bohong ya?" Gadis bernama Dina itu menatap Adel tajam.
"Buat apa bohong? Kami memang sepupu, tapi hubungan kami kurang baik. Tadi cuma tanya aja, kok."
"Hahh ... sama saudara sendiri ternyata juga kurang baik ya," gumam Dina.
"Memangnya Mbak Sandra gimana di sekolahan?" Adel memasang wajah penasaran.
"Dia dikucilkan. Penyendiri dan susah diajak sosialisasi. Tapi, waktu teman sebangkunya yang sama-sama pendiam dijadikan bahan candaan, tiba-tiba dia berteriak. Kalau nggak salah, Wina waktu itu sempat emosi karena Sandra yang pendiam tiba-tiba ngomong kasar. Ah, Wina ... sampai sekarang dia nggak masuk sekolah. Kenapa sih, anak itu?" Dina menghabiskan sisa es tehnya.
"Oh ... Mbak Wina. Dia tetangga komplekku, lho," ujar Adel. Dina menatap tak percaya.
"Serius? Terus kamu tahu kenapa dia sampai sekarang nggak sekolah?"
Adel mengangkat bahu.
"Yah, lagian ngapain juga aku cerita nggak penting sama anak kecil. Dahh ... aku mau pulang." Dina bergegas menghampiri temannya yang sudah mulai jalan. Adel mencari Zahra yang menghilang.
**
"Tambah lagi, Del ...," tawar ibunya Zahra. Adel menggeleng.
"Cukup, Bu. Terima kasih, ya."
"Iya. Anggap aja rumah sendiri. Kalau tantemu masuk siang, nggak perlu sungkan pulang sekolah mampir sini."
"Iya, Del. Lagian aku takut orang itu mecahin kaca lagi," celetuk Zahra sambil menggigit ayam terakhir. Adel menendang kakinya dengan keras.
"Aduh!"
"Siapa yang mecahin kaca?" Bu Sari menatap Adel dengan panik.
"Nggak tahu, Bu. Mungkin orang iseng." Adel meringis. Tapi Bu Sari menangkap hal yang mengkhawatirkan.
"Apa sudah lapor polisi?"
"Belum. Tapi tante sudah ngasih tahu satpam. Ya sudah, kami ngerjain PR dulu," pamit Adel sambil menggamit lengan Zahra. Mereka pun ke kamar diikuti pandangan heran Bu Sari.
"Zahra ... kamu kenapa ngomong sama Ibu kamu?" sungut Adel.
"Maaf ... keceplosan." Zahra nyengir.
"Oh ya, Ayah kamu pulang jam berapa?" Adel menimang batu berbungkus plastik dalam sakunya.
"Sekitar jam empat. Ada apa?" Zahra penasaran memandang isi kantong sahabatnya itu.
"Mau minta tolong, kamu bantu aku, ya. Aku mau menyelidiki sidik jari dalam batu ini. Semoga dugaanku benar, batu ini yang udah digunakan si pelaku."
Zahra mengangguk. Ia tahu ayahnya pasti mau membantu. Walau Adel masih anak-anak, tapi kata ayahnya, ada yang lain dalam diri anak itu. Adel memiliki bakat untuk menjadi penyelidik.
"Soal ... hantu itu. Gimana menurutmu? Apa itu Sandria?" tanya Zahra sambil bergidik.
"Entahlah, aku masih belum yakin. Malam itu aku melihatnya lagi, tapi ia tidak mau bicara apa-apa."
"Apa kita ke rumah Kakek aja?" usul Zahra. Adel menggeleng cepat.
"Jangan. Tidak apa-apa, aku nggak terganggu dengan hantu itu. Justru penasaran," gumam Adel.
__ADS_1
Mereka pun menghabiskan waktu dengan mengobrol dan membaca komik. Sesekali Adel memandang halaman lewat jendela, ia berharap Ayahnya Zahra cepat pulang.
Jam empat lewat lima belas menit, terdengar suara motor memasuki halaman rumah. Zahra menunjuk, Ayahnya sudah pulang. Kantor tempat beliau dinas memang dekat, di pusat kota, sebelah utara alun-alun.
"Biar aku yang ngomong sama Ayah," angguk Zahra. Adel mengacungkan jempol.
**
"Ini ... salinan sidik jari yang berhasil Ayah temukan di batu itu. Tapi ngomong-ngomong, kalian sedang menyelidiki soal apa?" Ayahnya Zahra menyerahkan selembar kertas kepada Adel. Adel tersenyum senang dan mengucapkan terima kasih.
"Jadi ... kemarin malam ada yang melempar jendela rumah kami dengan batu. Dan setelah Adel cari, hanya batu ini yang berbeda dengan yang ada di dalam halaman dan teras. Ternyata betul," ujar Adel.
"Kamu tahu kira-kira siapa tersangkanya?" senyum Pak Burhan, Ayah Zahra.
Adel mengangguk meski ragu. Ia pun teringat sesuatu.
"Oh ya, Pak. Apa Bapak ingat kasus anak kecil yang bunuh diri di bulan Juli 2018 lalu?"
Pak Burhan tertegun. Ia mengusap dagunya.
"Yaa ... Sandria maksudnya?"
Adel terlihat sumringah. "Iya, betul. Menurut Bapak, apa ia benar bunuh diri? Anak umur 6 tahun, apa bisa melakukan itu?"
Pak Burhan menatap Adel. Laki-laki bertubuh kekar itu mengajak Adel ke ruang kerjanya.
"Aku tunggu di sini aja," tolak Zahra saat Adel menggamit lengannya. Pak Burhan tertawa. Katanya, Zahra memang tidak pernah suka masuk ke ruang kerjanya sejak melihat banyak dokumen foto korban pembunuhan dan pelaku tindak kriminal. Gadis itu takut melihat darah dan bagian tubuh yang koyak.
"Ini, foto Sandria yang berhasil kami dapat. Di foto itu, umurnya masih sekitar tiga tahun. Dan ini, foto terakhir saat ditemukan tergantung di kamarnya." Pak Burhan menyodorkan sebuah map berisi dua buah foto dan laporan yang tidak ingin Adel baca.
Bocah itu terdiam cukup lama. Keringat dingin membasahi pelipisnya. Ia sekarang yakin, Sandria ... adalah hantu anak kecil yang selama ini menerornya.
Digenggamnya foto itu dengan erat meski tangan bergetar hebat.
"Del ... kamu nggak apa-apa?" Pak Burhan terlihat panik. Ia mengangsurkan segelas air putih yang langsung ditenggak habis.
"Hantu Sandria ...," gumam Adel sambil menatap atas rak buku. Hantu itu duduk di sana, menatapnya dengan hampa. Luka jeratan di lehernya masih nyata, dan mulut kering itu masih tak bersuara.
**
"Bu Sari, terima kasih banyak. Saya jadi sering merepotkan karena menitipkan Adel," ujar Diandra. Tangannya menggandeng lengan Adel.
"Nggak apa-apa, Mbak. Kami sudah sering bilang, jangan sungkan-sungkan. Kapan pun Adel boleh ke sini, bahkan menginap pun tidak apa-apa," senyum Bu Sari.
Diandra tersenyum kecut. Kalau Adel menginap di rumah Zahra, ia tidak akan berani di rumah sendirian.
"Ya sudah, kami pulang dulu. Assalamu'alaikum ...."
"Ada apa?" Diandra menyalakan televisi yang tadi pagi ia pindah dari ruang depan ke kamar Adel. Sejak kejadian malam itu, mereka lebih banyak berdiam di kamar.
"Adel tadi minta tolong ayahnya Zahra untuk mengecek sidik jari di batu yang kemarin. Dan hasilnya sudah ada. Terus ... mengenai hantu itu, memang Sandria. Adik Mbak Sandra."
Diandra melirihkan volume tv. "Terus? Apa menurut polisi dia beneran bunuh diri?"
"Ibunya bersikeras bahwa Sandria memang bunuh diri dan tidak ingin memperpanjang masalah. Tapi polisi yakin, gadis itu di bunuh. Tante paham, kan kira-kira siapa pelakunya?" lirik Adel. Diandra bergidik ngeri.
"Jika kita lihat tulisan di buku harian itu, Mbak Sandra sepertinya depresi hingga tega melakukan itu. Menurut teman-temannya, di sekolahan ia kerap dikucilkan."
"Kamu tahu dari mana?" selidik Diandra.
"Tadi nggak sengaja ketemu anak-anak SMA 6 saat lihat pameran, mereka teman Mbak Wina dan Mbak Sandra."
Mereka pun terdiam cukup lama. Diandra meraih ponselnya dan membuka medsos. Ia terkejut saat postingan teratas adalah berita perundungan yang terjadi di sebuah SMK di kotanya.
"Del ... lihat!" serunya.
Mereka mematikan tv dan mencermati berita itu sama-sama. Seorang siswi di sebuah SMK Kesehatan menjadi korban perundungan dengan cara dipermalukan di depan umum. Katanya, si korban adalah gadis yang merebut pacar pelaku. Korban dipaksa buka kerudung dan disuruh berdiri di pinggir jalan dengan tulisan "Dijual" tergantung di leher. Video berdurasi lima menit itu telah dibagikan ratusan kali.
Diandra menatap Adel. Bocah itu mengangguk seolah mengerti apa yang ia pikirkan.
"Kita harus beri peringatan untuk pelaku perundungan tersebut, karena ...."
"Si perobek mulut akan mengincarnya!" sahut Diandra.
**
Pagi ini kebetulan hari minggu. Diandra izin cuti satu hari, disambut Adel dengan semangat. Mereka semalam sudah mencari informasi pelaku perundungan, dan menemukan alamatnya. Tidak jauh dari komplek mereka, berada di timur Desa Rejo, rumah Sandra.
Mereka pernah melewati jalan sekitar Desa Rejo, jadi tidak sulit untuk menemukan jalan raya utama saat pulang nanti.
"Menurut google map, sebentar lagi kita belok kiri," ucap Adel sambil melihat ponsel. Diandra memelankan laju motornya.
"Terus?"
"Kanan jalan ada masjid, terus ada gapura di sebelah kiri, nah gapura kedua kita masuk."
Sepuluh menit kemudian mereka sampai di sebuah rumah tanpa pagar berhalaman sangat luas. Pohon rambutan dan mangga mengisi lahan luas tersebut, melindungi bangunan rumah dari terik matahari.
Rumah tersebut masih semi permanen, dindingnya dari anyaman bambu bercat putih. Di sebelah kiri rumah ada kandang ayam berpagar. Diandra melihat seorang wanita setengah baya menjemur padi di halaman samping yang terbebas dari pepohonan.
"Assalamu'alaikum. Maaf, Bu, apa benar ini rumahnya Vika yang sekolah di SMK Kesehatan kelas XI?"
__ADS_1
"Wa'alaikumsalam. Iya benar, itu anak saya. Siapa ya?" Wanita itu melepas capingnya.
"Perkenalkan, saya Diandra dan ini keponakan saya, Adel. Kami kenalannya Vika. Bisa ketemu Vika sebentar?"
Ibu itu mempersilakan mereka masuk, tapi Diandra memilih menunggu di bawah pohon rambutan. Ada bangku panjang di sana.
Tak lama, gadis yang mereka lihat di medsos semalam keluar dengan wajah cemberut. Rambutnya yang lurus sebahu ia kuncir acak.
"Kalian siapa?" ketusnya. Adel hendak menjawab tapi ditahan oleh Diandra.
"Sebelum tahu kami siapa, ada hal penting yang ingin kami sampaikan. Mengenai keselamatanmu," ujar Diandra.
"Apa sih, nggak usah berbelit-belit, deh. Buruan, aku sibuk." Benar-benar anak nggak punya sopan santun.
"Kamu pelaku perundungan itu, kan? Saya harap, mulai sekarang kamu harus hati-hati saat keluar rumah. Kalau bisa jangan sendirian."
Gadis itu melotot. Ia memandang Diandra dengan curiga.
"Kamu ngancam aku? Jangan-jangan kamu keluarga ****** itu, ya!"
Diandra menarik nafas panjang dan menghembuskannya kasar.
"Bukan. Tapi kami khawatir akan ada sesuatu buruk terjadi padamu. Jadi, berhati-hatilah ...."
Vika terlihat marah. Ia terus menuduh Diandra adalah keluarga yang membela korban.
"Ya sudah, kami sudah kasih peringatan. Kalau ada apa-apa, tolong hubungi saja nomor ini," Diandra memberikan secarik kertas yang langsung diremas oleh Vika. Tanpa menunggu lama, ia pun memilih pulang.
Vika memandang Diandra dan Adel yang mulai menjauh dengan ragu. Ia mengambil kembali kertas yang tadi sempat diremas dan dilempar, memasukkannya ke dalam saku celana 3/4nya.
Tiba di rumah, Adel mendapat telepon dari Zahra.
"Halo, Del. Ayahku mau ngomong penting sama kamu. Bisa datang ke rumah nggak?"
Adel memandang Diandra yang sedang memutar kunci. "Kenapa?" tanyanya.
"Zahra nyuruh main, Ayahnya mau ngomong penting."
"Soal apa?"
Adel mengangkat bahu. Diandra pun berbalik arah dan mengajak anak itu segera ke sana.
Tiba di rumah Zahra, Pak Burhan sudah menunggu di teras bersama Zahra. Bu Sari sedang arisan di rumah sebelah.
"Ada apa Pak?" Adel mengerling ke arah Zahra, tapi anak itu menggeleng.
"Mari, masuk ke ruang kerja saya."
Diandra meminta izin untuk ikut masuk, Pak Burhan mempersilakan.
"Saya sudah mencocokkan sidik jari kemarin dengan beberapa data yang saya punya. Sesuai dugaan kamu, sidik jari itu milik Sandra. Kebetulan dulu saat kematian adiknya, kami meminta data itu untuk penyelidikan."
"Satu lagi, Pak. Tentang perobek mulut yang sampai saat ini belum tertangkap ...."
"Kenapa?"
"Apa Bapak tahu kira-kira siapa dan apa motifnya?"
Pak Burhan termenung. Ia mengambil beberapa lembar kertas dan menunjukkannya ke Adel dan Diandra.
"Sayangnya, belum ada data yang jelas, karena rata-rata korban mengalami trauma dan tidak bisa bicara. Yang jelas, pelaku menggunakan gunting yang sama setiap kali melakukan aksinya."
"Menurut kami, sosok itu selalu mengincar pelaku perundungan, Pak," ujar Diandra yang membuat Pak Burhan terperanjat.
"Pelaku perundungan?"
"Iya. Ini berdasarkan kasus yang sudah-sudah. Kebetulan, salah satu korban adalah tetangga kami, Wina. Sehari sebelum ia menjadi korban perobek mulut, Wina melakukan perundungan terhadap Sandra."
"Sandra?" Lagi-lagi Pak Burhan kaget. Polisi justru belum tahu hal ini.
"Ya. Dan Sandra pernah memberikan kami sebuah kertas berisi pesan menggunakan aksara jawa." Diandra melirik Adel. Anak itu merogoh tas dan mengeluarkan buku catatannya.
"Ini ...." Diulurkannya secarik kertas pemberian Sandra waktu itu.
Pak Burhan mengamati sejenak. Ia membaca tulisan hasil terjemahan Adel dibawah aksara jawa yang tertulis dalam tinta biru.
"Titi wanci? Boleh saya pinjam kertas ini?"
Adel mengangguk. "Silakan ...."
Setelah tidak ada lagi yang perlu dibicarakan, mereka pamit pulang.
Malamnya, Adel merasa tidak nyaman. Ada yang mengganjal pikirannya. Ia berusaha mengalihkan dengan membaca beberapa komik, sedang Diandra asik bermain ponsel.
Tiba-tiba HP Adel berbunyi.
"Del ... gawat. Kata Ayahku, ada korban lagi. Ini Ayahku lagi ke TKP ...." seru Zahra panik.
"Korban? Kamu tahu siapa korbannya?" tanya Adel gemetar.
"Namanya Vika. Persis seperti yang kamu khawatirkan tadi siang."
__ADS_1
***