CATATAN KELAM

CATATAN KELAM
PENGUMUMAN


__ADS_3

Halo, saya Rachma Nurlela. Author CATATAN KELAM.


Mohon maaf, untuk cerita ini saya sudahi sampai di sini karena telah terikat kontrak dengan platform lain. 🙏🙏


Bagi kalian yang masih penasaran dengan kelanjutannya, silakan cari CATATAN KELAM di platform inisial WN atau kunjung Facebook saya, Rachma Nurlela. Terima kasih.❤


Penggalan chapter selanjutnya:


"Apa rencana kamu selanjutnya?" tanya Diandra sambil mengambilkan sepotong telur ke piring Adel.


"Entahlah. Apa kita pancing saja pemilik kunci ini? Adel rasa ini petunjuk penting."


"Caranya?"


Adel tak menjawab. Memilih menghabiskan nasi kecap di piringnya dengan lahap.


Selesai makan, mereka menonton tv sejenak. Tidak ada acara yang menarik, Adel memilih membaca novel.


Jam 9, Diandra sudah terlelap dengan ponsel yang masih memutar film drama. Adel melirik sekilas, ia pun meraih ponsel itu dan mematikan film yang masih setengah jam di putar.


Tiba-tiba ia teringat rencananya tadi sore. Diraihnya sekeping kunci dalam plastik tersebut, mengeluarkannya hati-hati, lalu di foto menggunakan ponsel Diandra. Ia mengunggah foto tersebut di akun medsos. Dalam keterangan, ia tuliskan tempat ditemukannya benda tersebut.


Bocah itu berpikir untuk menghubungi Hendi, satpam komplek yang memberikan nomornya malam itu__untuk jaga-jaga. Ia berpesan atas nama Diandra, untuk mengawasi pintu masuk komplek dari orang asing.


Respon Hendi di luar dugaan. Ia menyambut pesan Adel dengan antusias. Bahkan setelahnya berbasa-basi, mengira bahwa yang mengirim pesan adalah Diandra.

__ADS_1


"Dasar, genit ...," sungut Adel. Ia merasa laki-laki itu tertarik dengan tantenya. Yah, usia Diandra memang terbilang matang untuk memiliki pasangan. Tapi Adel merasa, wanita itu masih betah sendiri__menikmati hidupnya yang sepi hanya bersama bocah yatim piatu, Adel. Mungkin karena nasib yang sama itulah, Diandra menyayangi Adel lebih dari siapapun.


Adel memilih untuk tidak meladeni chat Hendi yang di luar topik. Ia pun mematikan lampu dan berbaring di samping Diandra. Sebelum terpejam, samar ia melihat bayangan di depan televisi.


"Aku capek. Pergi kamu ...," gumam Adel setelah tahu siapa bayangan itu. Hantu Sandria.


Adel sedang tidak ingin mengusik tentang hantu bisu itu. Baginya, yang terpenting adalah menemukan siapa sosok perobek mulut yang meneror para pelaku perundungan.


**


"Del ... kamu yang melakukan ini?" tukas Diandra di sela-sela mengunyah roti. Ditunjukkannya postingan tentang kunci dalam akun medsosnya tersebut.


"Iya. Adel mau memancing siapa pemilik kunci tersebut. Kalau memang itu milik si perobek mulut, kita akan segera mengungkap siapa dia sebenarnya."


"Tapi ... bukankah ini bahaya?" Diandra menatap bocah itu dengan ragu.


"Oh ya, tentang buku itu ... katanya Rio sudah mengembalikan ke Sekar."


"Terus?"


"Sekar terlihat khawatir, Rio sudah membaca isi buku itu. Tapi Rio meyakinkan, kalau ia tidak membukanya, hanya menemukan di bawah loker, lalu membawanya pulang karena belum bertemu Sekar secara langsung."


Adel menenggak susunya hingga tandas. Masih ada waktu lima belas menit sebelum berangkat sekolah.


"Apa Tante pernah melihat hal mencurigakan dari Mbak Sekar selain buku harian milik Mbak Sandra?"

__ADS_1


"Hmm ... nggak ada. Eh, tapi pernah lihat jari dia terluka. Katanya kena gunting. Yah, mungkin waktu beres-beres gudang, tak sengaja tergores. Dan lagi, saat pertemuan Tante terakhir dengan Sandra waktu itu, ada Sekar di sana. Tapi ia tidak menoleh sedikit pun ke Sandra, seperti orang yang tidak mengenalnya."


"Kalau begitu, kenapa Mbak Sekar bisa ke rumah Mbak Sandra? Dan buku itu ...."


"Sudahlah. Ayo berangkat sekolah saja. Jangan mikir hal selain pelajaran, saat di sekolahan. Mengerti?" Diandra menarik tangan Adel.


Setelah mengantar Adel sekolah, Diandra terpikirkan untuk melihat rumah Sandra. Ia penasaran, apa gadis itu masih di rumah atau sudah berangkat ke Jakarta.


Melewati jalan yang sepi, perasaan Diandra tidak nyaman, padahal ia sudah beberapa kali melewati jalan persawahan itu. Ia merasa ada sesuatu yang ikut membonceng, namun tidak berani melirik spion.


Tiba di tikungan tempat dulu motornya sempat mogok, Diandra membunyikan klakson tiga kali sambil merapal doa keselamatan. Motornya kembali ringan, pembonceng 'asing' itu sudah hilang.


Rumah suram bercat hijau itu sudah terlihat. Halamannya penuh semak, daun-daun kering seperti tak pernah terpijak. Sepi.


Diandra berusaha mendengarkan suara sekecil apapun dari luar halaman, namun ia hanya mendengar suara anak kecil dari ujung jalan__rumah penduduk lain yang jaraknya sekitar 200 meter.


Ia kembali menajamkan telinga, saat samar terdengar suara panci berdentang. Pelan. Dari arah belakang rumah yang kemungkinan dapur.


"Mau ke mana Mbak?" tepuk seorang pencari rumput yang membawa karung dan sabit.


"Eh ... nggak. Sa ... saya cuma lewat. Kebetulan saya sedang mencari rumah untuk adik saya. Apa rumah ini kosong?" kilah Diandra berbohong.


"Yang saya tahu, pemiliknya jadi TKW dan anaknya tinggal satu, perempuan. Tapi jarang kelihatan. Lagian kalaupun kosong dan di jual, emang Mbak mau rumah singup seperti ini?"


Diandra menatap rumah itu sejenak, lalu menggeleng.

__ADS_1


"Sudah, jangan bengong di depan rumah ini. Nanti sawan," pesan laki-laki setengah baya itu sebelum pergi. Diandra mengangguk dan segera meninggalkan tempat itu, diikuti sepasang mata yang mengintip dari balik jendela.


***


__ADS_2