
Ucapan Selamat Pagi'
"Pagi, Sayang. Di mana suamimu?" tanya Rima begitu melihat menantunya turun tangga dan menghampiri meja makan seorang diri. "Jangan bilang dia sudah berangkat ke kantor, karena mama gak akan percaya itu." Rima terkekeh. "Mama ...." Delia ikut tertawa. "Mama bener, Mas Dirga emang masih ngorok." Delia mengayunkan tungkainya menuju arah dapur. Melihat kegiatan Bi Asih yang tengah menyiapkan sarapan. Delia mengambil nampan yang di atasnya sudah terisi makanan. Namun, aksinya terhenti oleh larangan ART senior itu. "Jangan, Non! Biar nanti Ina sama Meli aja yang bawakan ke meja makan. Non duduk saja," ucap bi Asih. "Apa, sih, Bi. Kan cuma bawain. Delia gak ikut masak juga." Delia cemberut. Kecewa karena inisiatifnya untuk sekedar membantu malah tidak mendapat persetujuan. Padahal, ia sangat jenuh sebab tak ada kegiatan selain makan dan berdiam diri di kamar. Delia kembali melangkahkan kakinya gontai. Menarik kursi makan, lesu. Semangatnya hilang seketika. "Kenapa, Sayang?" Mama Rima khawatir melihat Delia yang tadi bersemangat sekarang justru menekuk wajah. "Delia bosen, Ma." "Bosen gimana?" tanya Rima heran. "Ya, gak ada kegiatan, Ma. Biasanya di desa, Delia suka masak, bikinin ayah bekal ke perkebunan. Siang sepulang sekolah, Delia mengajar anak-anak mengaji dan baca tulis." Curahan hati Delia di dengar seksama oleh Rima. Pun dengan Sultan Bagaskara yang baru saja keluar dari kamarnya. "Delia ini memang anak yang rajin, Ma. Jadi gak heran kalau dia jenuh. Di sini, Delia dilarang ini itu. Karena semuanya memang sudah tersedia," ucap Sultan. "Delia mau gak, kuliah lagi." Tawaran Sultan membuat Rima menyipitkan matanya. "Kuliah?" "Iya, Delia lulus SMA, kan?" Delia mengangguk. "Kalau begitu, bagaimana kalau kamu teruskan pendidikanmu ke perguruan tinggi?" tanya Sultan. Delia menoleh pada Rima, ibu mertuanya yang tampak ingin mengatakan sesuatu. Mungkin dia keberatan dengan usul yang diberikan suaminya. "Delia ...." "Pah, kalau Delia kuliah, kapan kita dapet cucu," potong Rima. Delia terkejut. Matanya membola. "Cucu?" Bibir Delia menganga tak percaya, secepat itu mertuanya membahas keturunan. "Ma, inget, baru dua hari," kata Sultan. "Biarin, pokoknya mama mau cucu. Delia gak boleh pake a**************i apa pun." "Ya, tapi boleh gak Delia kuliah?" tanya Sultan, meminta persetujuan istrinya. Bagaimanapun setiap keputusan selalu ia ambil setelah berdiskusi dengan wanita yang telah menemaninya selama puluhan tahun itu. "Ya ... gimana Delia aja, kamu mau?" tanya Rima kemudian, memberi kesempatan pada Delia untuk mengambil keputusan. Karena bagaimanapun, Delia yang nantinya akan menjalani. Kalau memang dia mau, Rima setuju-setuju saja. "Eum ...." Delia sangat bingung. Di sisi lain ia memang ingin meneruskan pendidikan. Namun, ia sadar diri, siapa yang menawarinya kesempatan emas ini. Mereka adalah keluarga suaminya. "Nanti Delia tanya Mas Dirga dulu, Ma, Pa. Delia kan harus dapat izin dari suami Delia." Mendengar jawaban Delia membuat Rima menaruh simpati yang semakin besar. Ia menoleh pada Sultan. Saling bersitatap penuh arti. Ada kebanggaan yang tersirat di mata keduanya. Bagi Rima, keputusan suaminya mengangkat Delia sebagai menantu tidaklah salah. "Ya, sudah. Nanti, bicarakan ini pada suamimu yang pemalas itu." Rima mengusap punggung tangan Delia. "Sekarang, kita sarapan dulu." Delia tersenyum lebar. "Apa perlu, Delia panggil Mas Dirga, Ma?" "Gak usah, hari ini biarkan dia di rumah. Sebetulnya mama gak suka dia buru-buru masuk kantor setelah menikah. Kalian jadi gak ada waktu bersama, kan?" Delia tersenyum kikuk. "Nanti bawain aja sarapannya Dirga ke kamar, ya?" "Iya, Ma." *** Setelah sarapan pagi selesai, Delia tidak langsung kembali ke kamarnya. Ia pergi ke taman depan, seperti biasanya rutinitas pagi di sana ialah menyiram bunga. Delia ingin sekali melakukan sesuatu. Ia yang selalu bergerak aktif jadi pemalas sejak tinggal di rumah Bagaskara. "Aduh, Delia, ngapain, Sayang?" Rima buru-buru menghampiri menantunya. "Ina, ini kenapa Delia yang kerjain?" sentaknya pada Ina yang semula tengah memotong ranting-ranting dan dedaunan kering pada bunga kertas. "Non Delia maksa, Nyah," jawab Ina. "Padahal udah Ina larang, loh. Ina gak bohong, Nyah." Logat jawa yang kental—yang dimiliki Ina, terdengar unik di telinga Delia. Dulu, saat ia masih kecil, mimpinya ingin pergi jalan-jalan keliling pulau jawa. Jakarta dan Daerah Istimewa Yogyakarta menjadi kota yang membuatnya penasaran. Kini, Jakarta sudah ia pijaki, suatu hari, Delia berharap bisa melihat Candi-candi di sana, tidak hanya dalam gambar saja. "Bener kata Mbak Ina, Ma. Gak apa-apa, ya, Delia ikut motong-motong tanaman, nyiram-nyiram di sini. Delia udah biasa, kok. Waktu di Kalimantan, depan sama belakang rumah Delia itu ada banyak tanaman. Ada Bunga, cabai, tomat, sayuran-sayuran yang biasa Delia jual ke pasar. Jadi Mama tenang aja, Delia gak akan rusak tanaman Mama," ujar Delia panjang lebar. Sangking antusiasnya ia bicara sambil terus mengerjakan apa yang ia sukai. Rima menggeleng-gelengkan kepala. Anak ini memang rajin, pikirnya. "Baiklah, tapi kamu hati-hati. Jangan sampe tangan kamu terluka, oke!" Delia mengangguk. Atensinya beralih pada Sultan yang keluar sambil menenteng tas. Beliau hendak pergi ke kantor. "Ada apa, nih. Seru banget pemandangan mantu sama mertua," ucapnya bergurau. "Eh, Papa. Sini, Pah, tasnya mama bawain." Sultan Bagaskara menggerakan telapak tangannya. "Udah, tinggal naik mobil aja, kok. Papa bisa sendiri," ujarnya seraya menyunggingkan senyum. "Ini, loh, Pah, Delia. Dia pengen ngerjain ini, nih, tugasnya Ina sama Meli. Udah mama bilangin, tapi katanya bosen kalo diem aja." Rima menjelaskan apa yang terjadi. "Sambil jemur badan, Pah, biar sehat." Seloroh Delia. "Lagi pula, kerjaannya gak berat, kok. Menyenangkan malah. Itung-itung, Delia nurunin sarapan yang baru masuk. Olah raga, Pah," imbuhnya, menunjukkan senyum semanis gulali. "Delia ini memang anaknya sangat aktif. Isman sering sekali menceritakan banyak hal tentang kamu. Saya jadi meridukan dia." 'Tuk sejenak, Sultan terdiam. Matanya menatap hampa seakan tengah membayangkan keberadaan Isman—ayah Delia—dengan segala curahan tentang putrinya. Delia pun ikut terhanyut. Sudut matanya menggenangkan air kesedihan. "Ayah," lirihnya. "Andai ayah lihat betapa beruntungnya Delia diperlakukan layaknya putri sendiri di rumah ini." Samar, senyum Delia tercetak. Rasa haru tak dapat ia bendung. Delia menyeka ujung matanya. "Sudah, jangan sedih-sedih." Sultan menepuk pundak Delia dengan sayang. "Jangan lama-lama di sini, nanti kulitmu terbakar panas matahari. Cepat temui Dirga, jangan sampe suamimu itu kabur lagi ke kantor," imbuh Sultan, terkekeh bersama Rima. Entah apa maknanya, hanya mereka dan Tuhan yang tahu. "Kabur seperti semalam, ya." Ina buru-buru menutupi mulutnya. Menyesali ucapannya yang pasti berbuntut panjang. "Ma, urus itu kenapa? Tanya maksud ucapannya apa. Papa berangkat." "Iya, Pah. Dah!" Rima melambaikan tangan pada mobil yang berlalu meninggalkan pekarangan rumah. *** "Kamu tahu Dirga semalam pergi, tapi gak cerita sama mama." Begitu mendapat penjelasan dari Ina, Rima mengambil langkah cepat menaiki anak tangga. "Enggak cukup apa semalam kena jewer. Dasar anak itu, kapan bisa berubahnya, sih. Duh, mama pusing, deh," keluh Rima. "Ma, Ma, Mama udah, biar Delia aja yang bangunin Mas Dirga, Ma. Lagi pula, Mas Dirga bilang cuma cari angin, kok." "Cari angin sampe lebih dari jam dua pagi, Del? Cari angin apa. Kamu ... kan udah mama bilang, jangan diem aja. Kamu harus ngerti posisi kamu sebagai istri. Kalau didiemin Dirga makin seenaknya." Rima masih mengutuk putranya sendiri. "Percaya diri, Sayang. Ambil simpati Dirga." Keduanya berhenti tepat di depan pintu kamar. Rima memegang pundak Delia. "Atau jangan-jangan, kamu memang gak mau Dirga jadi suami kamu seutuhnya?" Delia mengernyitkan dahi demi mendengar pertanyaan ibu mertuanya barusan. "Kamu gak cinta sama anak mama, Del? Iya? Kamu yang terpaksa dinikahi sama Dirga?" cecar Rima. "Ma ... gak gitu! Delia ikhlas, kok, jalani pernikahan ini. Cuman, ya ...." "Cuman kamu memang belum bisa, atau gak bisa terima Dirga?" "Mama." Delia menggigit bibir bawahnya. "Gini deh, Ma. Kan kita sama-sama gak saling kenal. Delia gak mau ah, kalau tiba-tiba Delia ngatur Mas Dirga. Ngelarang ini ngelarang itu, nanti ... bukannya Mas Dirga sayang sama Delia, malah ...." "Ya, sudah-ya, sudah. Mama paham. Tapi pernikahan itu bukan soal ikhlas atau enggaknya, Sayang. Soal saling menerima gitu, loh. Ini ... kamu bener, gak ngerasa tertekan, Dirga gak pernah kasar 'kan sama kamu?" Ada kekhawatiran di mata ibu mertuanya. Delia jelas melihat itu. Apakah Dirga dulunya seorang yang kasar? Tanya Delia pada dirinya sendiri. "Enggak, Ma. Mas Dirga malah baik banget sama Delia. Beneran." "Betul begitu?" tanya Rima memastikan jawaban menantunya bukanlah sebuah kebohongan. "Iya, Ma. Sebodoh-bodohnya Delia, Delia gak akan diem aja kalo Mas Dirga bertindak kasar, atau misal gak ngehargain Delia sama sekali. Delia pasti udah minta pulang ke Kalimantan kalau sampe Mas Dirga begitu." Seulas senyum yang Delia berikan mampu meyakinkan Rima. Ia mengusap pangkal lengan Delia. Rasa sayangnya tidak bohong. Rima memang sangat-sangat menyukai Delia sejak pandangan pertama. Entah kenapa, Delia mampu meyakinkan Rima bahwa dia lah pendamping yang ia cari-cari selama ini untuk putranya. "Jadi ... Mama gak perlu khawatir lagi. Delia gak mau Mas Dirga mikir kalau Delia ngatur-ngatur dia atau ngadu ini-itu ke Mama soal Mas Dirga. Delia cuma gak mau nyiptain jarak antara Mama sama anaknya hanya gara-gara ego Delia. Delia paham, kok, sebagai istri Delia berhak menuntut, tapi gak sekarang. Mas Dirga pasti masih syok sama pernikahan kami yang tiba-tiba." Delia mendapatkan segala keberanian untuk berucap dari Rima. Ibu mertua yang menganggapnya seperti putri. Memberinya kepercayaan penuh hingga Delia tidak ingin mengecewakannya. Mama yang melahirkan suaminya itu, sejak kemarin mengatakan banyak hal. Bahwa Delia harus percaya diri, bahwa Delia harus menemukan keberaniannya kembali. Mendapatkan keceriaannya kembali. Untuk tidak hanya menunduk saat ada yang berbicara dengannya. Untuk tidak hanya diam saat seseorang mengguruinya. Delia berhak berpendapat, menyuarakan apa yang diinginkan. "Makasih, ya, Ma. Mama udah jadi ibu mertua yang baik hati. Baik banget sampe Delia merasa seperti sedang bermimpi. Padahal, kalau Delia lihat di sinetron-sinetron mertua itu ...." "Kejam?" potong Rima. Delia menyengir. "Mengalahkan ibu tiri," imbuh Rima sambil tertawa. "Sudah, ah. Mama mau bangunin anak malas itu." Rima sudah menjangkau keberadaan pegangan pintu. "Ma ... biar Delia aja, ya," tawar Delia. "Enggak, Sayang. Mama mau sekalian ngasih 'ucapan selama pagi' buat anak kesayangan mama itu." Senyum Rima sarat akan makna. Delia hanya mematuhi apa yang diingikan mertuanya itu. Ia turut masuk, mengekor di belakang Rima.