Ceo Menikahi Gadis Desa

Ceo Menikahi Gadis Desa
BAB 9


__ADS_3

Malam Kedua


"Lanjut gak, Mas?" "Gak!" Delia terkekeh pelan. "Ya, udah, Delia bobo aja. Selamat malam Mas Dirga." Delia menutupi tubuhnya dengan selimut. Berbaring memunggungi Dirga. Sehabis mandi di malam hari, lelaki itu tampak jauh lebih segar. Entah apa saja yang dia lakukan hingga hampir satu jam baru keluar dari bilik mandi. "Delia," panggil Dirga. "De ... Delia." Dirga mendekati Delia, memastikan jika gadis itu memang sudah tertidur. Wajah Dirga hanya berjarak beberapa sentimeter saja dari sisi wajah Delia. Dirga mengusap pipi istrinya itu. "Entah kenapa, aku gak tega dan masih gak berani melakukan lebih dengan gadis ini," gumam Dirga. "Selamat bobo, ya. Kamu itu sebenarnya memang cantik. Tapi ...." Dering suara ponsel mengalihkan atensi Dirga. Ia buru-buru menerima panggilan sebelum bunyinya bertambah gaduh dan mengganggu tidur Delia. Dirga menempelkan benda canggih itu di telinganya, sedikit menjauh dari tempat tidur. "Kenapa?" ketus Dirga pada lawan bicaranya di seberang sana. "Tadi sore aku dari tempat kamu, loh. Sekarang, apa lagi?" "Gak bisa, ini udah malam. Aku capek." Dirga menutup sambungan telepon, kesal. Sebelah tangannya mengepal erat. "Sial!" umpat Dirga. Ponsel ia lemparkan ke atas sofa. Buru-buru Dirga mengambil jaket dan kunci mobil. Menyambar kembali ponsel, lalu pergi. Kendaraan roda empat Dirga kembali membelah jalanan Ibu Kota yang masih terasa ramai. Padahal, waktu sudah hampir tengah malam. Dirga sesekali menjambak rambut, frustasi. Dia tidak ingin menemui seseorang yang meneleponnya selarut ini. Namun, ancamannya sangat menyebalkan. Mau tidak mau Dirga harus pergi juga. Dirga membelokkan laju kendaraannya tepat di sebuah apartemen. Ia keluar setelah memarkirkan mobilnya. Melangkah menuju lobi apartemen, kemudian menunggu lift terbuka untuk gilirannya. Sampai di depan salah satu unit, Dirga menekan bel. Tak lama, seseorang dari dalam membukakan pintu dan langsung memeluk Dirga. Menjinjitkan kaki, menjangkau bibir Dirga. Membawa serta ia ke dalam unit tanpa melepas pagutan. "Are you h***y?" tanya Dirga begitu keduanya menyelesaikan sesi pertama. "Yes, Honey. Aku emang lagi mau. Aku kangen sama kamu," ucapnya, menggoda. "Gak Angel, lepas! Gak bisa, aku lagi gak mood malam ini." Dirga mendorong pelan tubuh wanita itu agar menjauh. Jujur saja ia sedang tidak berminat menyentuh Angel, meski semolek apa pun dia. "Ayolah, Ga. Jangan nolak terus, kenapa, sih? Atau jangan-jangan, kamu baru abis maen sama perempuan kampung itu. Iya, Ga?" "Angel, apa perlu saya ingatkan? Dia itu punya nama, namanya Delia, bukan perempuan kampung," sentak Dirga, tidak suka atas sebutan Angel bagi Delia. "Dan, ya, kalaupun aku sama dia, itu sah sah aja, dia istriku." "Owh, istri?" Angel mendecih. "Sejak kapan kamu mau berkomitmen, Dirga? Bukankah kamu menolak saat aku ingin menikah denganmu?" Dirga berpaling saat Angelica menangkup kedua pipinya. Membelainya, mengecup bibirnya. Angel begitu agresif. Dia tidak akan berhenti sampai keinginannya terpenuhi. Angel mendorong Dirga sampai terduduk di sofa. Wanita itu hampir kembali beraksi. "Saya gak bisa." Dirga bangkit, menjauhkan diri dari wanita penuh nafsu itu. "Saya harus pulang." "Wah, wah, wah. Apa seorang maha Dirga bisa berubah secepat ini? Kenapa, Ga? Karena si perempuan kampung itu? Hebat sekali dia," cibir Angel. Melempar tanya secara beruntun. "Kamu meminta datang hanya untuk ini? Sampe mengancam segala." Dirga menggeleng tidak percaya. Sejujurnya dulu, ia hanya ingin bermain untuk sekali saja dengan wanita seperti Angel. Namun, karena keadaannya saat ini, Dirga terpaksa harus terikat. Angel yang mengaku hamil olehnya mulai banyak menuntut. "Wajar dong, aku kangen sama ayah dari bayiku." "Belum tentu juga itu anakku, 'kan?" Dirga mengelak. Ia masih sangat-sangat meragukan kenyataan yang ada. "Ga, aku kan udah bilang. Aku gak ada main sama pria lain setelah kamu." "Setelah, sebelumnya? Jangan belaga suci! Kamu sama saya sama," ketus Dirga. "Dirga! Ya, oke. Sebelumnya mungkin aku ada main sama yang lain, tapi setelah sama kamu enggak. Dan usia kandunganku hitungannya sesuai dengan pertama kali kita ketemu di klub, aku diajak kamu ke apartemen ini." Ya, hunian bertingkat yang Angel tempati merupakan salah satu unit milik Mahadirga. Dia mengizinkan wanita itu tinggal di sana sejak malam, dimana ia mabuk berat dan menghabiskan waktu bersama Angel. Angel jadi satu di antara wanita-wanita yang sering Dirga kencani. Dan sejauh ini, Angel yang paling berbeda. Namun, entah kenapa malam ini, rasanya Dirga sama sekali tidak berminat. "Sekarang bilang sama aku, kenapa kamu mau nikah sama si Delia itu, sedangkan sama aku enggak?" cecar Angel, merasa Dirga terus menghindar ia pun berubah menjadi kesal. "Delia itu beda, dia gak akan banya nuntut seperti kamu," jawab Dirga. "Oh, ya. Belum apa-apa, kamu udah bandingin aku sama dia. Kamu kenal aku lebih dulu. Dan cuman aku yang bisa buat kamu senang, Ga." Dirga terduduk lesu. Menunduk, menopang kepala dengan kedua tangannya yang bertumpu pada lutut. "Perempuan banyak nuntut itu wajar, Dirga. Ayolah, kamu gak bodoh untuk bisa tertipu gitu aja sama wajah lugu dia. Aku yakin gak lama lagi dia bakal nunjukin sifat aslinya. Mungkin aja lebih buruk dari aku. Lebih bar-bar. Jangan sampe kamu nyesel udah nolak aku." Dirga masih terdiam. Tak sepatah pun terucap dari bibirnya. Apa benar yang dikatakan Angel? Pikirnya. Mengingat sikap Delia tadi yang sedikit berani membuat Dirga hampir membenarkan apa yang dikatakan Angelica. Jika Delia yang kemarin hanya menunduk sambil menggigit bibir, yang terjadi tadi tidak demikian. Delia lebih sering tersenyum. Sempat memanyunkan bibir, bahkan menggoda Dirga sebelum tidur. Menawarinya sesuatu yang tertunda. "Kenapa diam? Benar apa yang aku bilang. Apa malam kedua dia sudah menunjukkan sifat aslinya?" Dirga masih bergeming mendengar spekulasi Angel. "Setelah mendapatkan kasih sayang papa dan mama kamu dia jadi berani." Benar, tapi, tidak! Batin Dirga. Delia pernah mengajaknya bercanda sebelum malam ini. Saat dia memasangkan dasi. Mungkin memang sifatnya menyenangkan, hanya saja karena belum begitu saling mengenal, Delia jadi lebih pendiam. Mungkin. Pikir Dirga. Ia bangkit, hendak berlalu tanpa menggubris lagi perkataan Angel. "Delia itu baru kehilangan ayahnya, jadi wajar kalau dia jadi sedih dan pendiam. Mungkin memang aslinya ceria, senang bercanda. Tidak tau, bukan?" gumam Dirga. Mengangkat bahu, lalu benar-benar meninggalkan Angel yang terus meneriakan namanya. *** Pukul 02.30 Delia terbangun. Ia menyingkap selimut yang menutupi tubuhnya. Dilihatnya sisi sebelah tak berpenghuni. Ke mana suaminya pergi? Delia mengusap wajah. Celingukan ke kanan dan ke kiri. Menelisik segala sudut, tidak ada Dirga di sana. Kaki Delia turun, berpijak pada lantai yang dingin. Mulutnya beberapa kali masih menguap. "Mas!" panggil Delia. Tidak ada sahutan. Tungkai Delia ayunkan ke arah jendela. Mengintip dari celahnya manatahu ada Dirga yang sedang melamun di balkon. Namun tidak mungkin juga, pikir Delia. Pintu menuju ke sana tertutup rapat dan terkunci. "Mas Dirga ke mana, ya?" Delia memutuskan untuk tidak lagi mencari keberadaan suaminya itu. Ia lebih memilih meneruskan niatnya semula. Delia masuk ke dalam bilik kamar mandi untuk mengambil air wudhu. Seperti biasa, kegiatan yang tak pernah Delia lewatkan. Salat sunah. Delia masih ingat pesan ayahnya untuk tidak meninggalkan ibadah. Untuk selalu mengingat Tuhan kapanpun dan di manapun juga. Tak terasa, air mata Delia mengalir. Mengingat kembali kejadian hari itu saat kehidupannya berubah 180 derajat dalam sekejap. Andai ayahnya masih ada. Delia yakin dia akan turut bahagia. Gadis itu mengusap wajah. Selesai berdoa ia panjatkan lantunan ayat suci. Mengirimkan doa pada dia yang sudah tiada. Delia mengingat satu pesan yang ayahnya sampaikan sebelum menghembuskan napas terakhir. Bahwa, Delia harus ikhlas menjalani kehidupan barunya. "Ayah bilang Delia gak boleh menyalahkan siapa pun. Ayah bilang Delia jangan nyalahin Mas Dirga. Tapi mungkin, kalau ayah tidak menyelamatkan Mas Dirga, Ayah masih ada di sisi Delia sekarang." Delia masih duduk bersila. Memeluk kitab suci sembari berurai air mata. "Ayah bilang, sosok suami yang baik, haruslah memiliki jiwa seperti ayah, sebab ayah cinta pertama bagi seorang putri. Tapi Delia, Delia tidak melihat semua itu ada di diri Mas Dirga," gumam Delia. Mengusap kembali wajahnya. Delia berdiri untuk membuka kembali mukena yang ia kenakan. Dua rakaan cukup membuatnya tenang. Meskipun sesekali bayangan ayahnya masih tetap menari dalam angan. Delia terkejut begitu ia berbalik badan. Ada Dirga di belakangnya tengah berdiri mematung. "Lho, Mas Dirga, dari tadi?" tanya Delia. Dirga berdehem sebelum menjawab. Dia membanting tubuhnya duduk di pinggiran tempat tidur. "Enggak, kok. Barusan, baru banget nyampe pas kamu udah selesai," bohong Dirga. Sebetulnya ia memang sudah berdiri sejak lama. Mendengar semua keluhan Delia. Dirga semakin merasa bersalah setelahnya. Karena, ia yang menyebabkan Delia kehilangan sosok ayahnya sekarang ini. "Mas Dirga habis dari mana?" tanya Delia lagi. "Dari bawah," jawab Dirga asal. "Dah tidur lagi, gih." Perintah Dirga. Meminta agar Delia kembali melanjutkan tidurnya yang tertunda. "Gak apa-apa, Mas. Delia gak ngantuk lagi, kok. Tapi Mas Dirga habis dari bawah, bawah mana, dari luar, ya?" Entah sejak kapan Delia mulai banyak bertanya. "Enggak." "Dari luar pasti, nih. Kalo cuman ke lantai bawah, ngapain bawa-bawa jaket?" Dirga melirik jaket yang tersampir di lengannnya. Benar juga. Alibi yang konyol. Dirga tersenyum, bukan karena kebohongannya diketahui. Melainkan karena, mendapati Delia yang mulai memperhatikan hal-hal kecil. "Kau mencariku, De?" Delia terkekeh pelan. "Ya. Tapi, omong-omong, formal sekali bahasanya, Mas. Habis rapat sama gubernur, ya?" Dirga menggelengkan kepala, bibirnya tak berhenti tersenyum sekarang. "Ini baru malam kedua kita satu kamar, kan?" "Ya, lalu?" "Eum ... enggak." Dirga mengusap tengkuk leher. Bangkit dari tempat tidur, menyimpan jaket di sofa. Ia bergerak mengganti pakaian. Sedangkan Delia, pergi keluar kamar. "Apa dia sengaja menghindar?" Dirga tersenyum-senyum sendiri. "Tapi ... aku cukup suka Delia yang sekarang. Delia yang tidak hanya menunduk saat aku menatapnya," gumam Dirga.


__ADS_2