
[Apa Pekerjaanmu?]
Gillian Flynn

...****************...
Aku tidak berhenti bekerja memasturbasi pria karena aku payah dalam hal itu. Aku berhenti karena aku sudah menjadi yang terbaik.
Selama tiga tahun, aku diakui sebagai yang terbaik di area Tristate. Kuncinya adalah jangan terlalu banyak berpikir. Kalau kalian mulai mencemaskan masalah teknik, atau jika kalian mulai menganalisis ritme dan tekanannya, kalian akan menjadi kaku. Kalian harus benar-benar siap secara mental sebelumnya, kemudian kalian harus berhenti berpikir dan percayakan semuanya pada tubuh kalian; biarkan tubuh kalian melakukannya secara alami.
Prinsipnya sama seperti saat kita ingin melakukan pukulan golf.
Aku memasturbasi pria enam kali dalam seminggu, delapan jam sehari, dengan diselingi istirahat untuk makan siang, dan jam kerjaku selalu sibuk. Aku mengambil cuti dua minggu setiap tahun untuk berlibur, dan aku tidak pernah bekerja pada hari libur karena bermasturbasi pada hari libur adalah hal yang menyedihkan bagi semua kaum lelaki. Jadi, selama tiga tahun, kira-kira aku sudah pernah memasturbasi pria sebanyak 23.546 kali. Jadi jangan percaya dengan apa yang dikatakan oleh Shardelle jika dia mengatakan aku berhenti karena aku tidak punya bakat di bidang ini. Dia hanya wanita jalang yang menyedihkan.
Aku berhenti karena setelah memasturbasi pria sebanyak 23.546 kali selama tiga tahun lamanya, tanganku mulai menunjukkan tanda-tanda nyeri sendi pada pergelangan tangan.
Aku pertama kali memulai pekerjaan ini dengan setulus hati. Atau mungkin ‘dengan alami’ adalah kata yang lebih tepat. Aku tidak banyak melakukan hal-hal yang jujur selama hidupku. Aku dibesarkan di kota oleh seorang ibu bermata satu (baris pembuka dalam memoar hidupku), dan dia bukanlah wanita yang menyenangkan. Dia tidak punya masalah dengan minuman beralkohol atau obat-obatan terlarang, tapi dia jelas punya masalah dalam bekerja. Dia amat sangat pemalas.
Dua kali seminggu kami akan turun ke jalan dan mulai mengemis. Tapi karena ibuku tidak suka melakukan pekerjaan dengan jujur, akhirnya dia selalu melakukannya dengan strategi-strategi khusus. Dapatkan uang sebanyak mungkin dalam waktu sesingkat-singkatnya, kemudian pulang dan makan Kue Zebra, lalu menonton TV sambil berbaring di atas matras kami yang telah rusak dan penuh noda. (Itulah hal yang paling jelas kuingat dalam masa kecilku: noda. Aku tidak ingat warna mata ibuku, tapi aku ingat dengan noda di karpet kami yang telah berbulu dan berwarna kecoklatan karena tumpahan kuah sup, noda di langit-langit yang berwarna oranye seperti bekas terbakar, dan noda di dinding yang berwarna kuning seperti bekas air seni.)
Aku dan ibuku selalu berpakaian yang ‘sesuai’ saat mengemis. Dia mengenakan baju yang telah sangat usang. Sementara dia memakaikanku baju apa saja yang dimilikinya pada saat itu. Pertama-tama, kami duduk di bangku dan mulai menarget orang-orang yang tepat. Skema pekerjaan ini sangat sederhana. Pilihan pertama adalah bus gereja yang beroperasi ke luar kota. Bus gereja dalam kota hanya akan mengantarkanmu ke gereja. Tapi yang beroperasi ke luar kota, penumpangnya selalu menolong, terutama kepada wanita bermata satu dengan anaknya yang berwajah sedih. Pilihan kedua adalah dua wanita yang berjalan berdampingan.
Wanita yang berjalan sendirian biasanya selalu lari atau menjauh dengan cepat; sementara wanita yang berjalan secara rombongan sulit diladeni.) Pilihan ketiga adalah wanita yang berjalan sendirian tapi mempunyai wajah yang ramah. Kalian pasti dapat mengetahuinya juga; mereka adalah wanita yang sama yang kalian tanyai petunjuk jalan atau jam, merekalah yang kami mintai uang. Juga pria muda dengan janggut atau gitar. Jangan meminta pada pria yang memakai setelan; asumsi klise itu ternyata benar, mereka semua brengsek. Juga jangan meminta pada orang yang mengenakan cincin di ibu jarinya. Aku tidak terlalu mengerti, tapi orang-orang seperti itu tidak pernah mau menolong.
Apa sebutan kami untuk orang-orang yang kami pilih? Kami tidak menyebut mereka mangsa atau korban. Kami menyebut mereka Tony, karena ayahku bernama Tony dan dia tidak pernah mengatakan tidak pada siapapun (walaupun kurasa dia pernah sekali mengatakan tidak kepada ibuku ketika ibu memintanya untuk tetap tinggal bersamanya).
Begitu kalian telah mencegat seorang Tony, kalian langsung dapat mengetahui dengan cara apa kalian akan meminta. Beberapa orang ingin melakukannya dengan cepat seperti saat sedang mencopet. Kalian harus dengan cepat mengatakan,
“Kami butuh uang untuk membeli makanan apa anda punya uang kecil?” Beberapa orang ingin mengasihani kemalangan kita terlebih dahulu.
Mereka akan memberikanmu uang jika kalian memberikan mereka sesuatu yang dapat membuat mereka merasa lebih baik, dan semakin sedih hidup kalian, semakin mereka ingin menolong, dan semakin banyak pula uang yang akan mereka berikan. Aku tidak menyalahkan mereka. Sama halnya seperti saat kita pergi ke bioskop, karena kita ingin terhibur.
Ibuku lahir di tanah perkebunan di pinggiran kota. Ibunya meninggal saat dia lahir; ayahnya menanam kedelai dan hanya akan memperhatikannya saat dia tidak terlalu letih. Dia datang ke kota ini untuk dapat belajar di universitas, tapi tiba-tiba ayahnya terserang kanker, dan perkebunan mereka dijual, dia akhirnya terpaksa berhenti kuliah
Dia bekerja selama tiga tahun sebagai pramusaji, tapi kemudian anak perempuannya lahir, dan ayah dari sang anak pergi, dan akhirnya dia menjadi seperti ini. Masuk ke dalam golongan orang yang membutuhkan. Dia tidak terlalu bangga akan hal itu.
Kini kalian sudah tahu ceritanya. Namun itu hanya bagian pembuka saja. Kalian dapat menebak kelanjutannya. Jadi, tiba-tiba saja aku menjadi siswa berprestasi di sekolah (dulunya, tapi kenyataannya tidaklah penting untuk diceritakan), dan Mom butuh uang untuk membeli bensin agar dapat mengantarkanku sekolah (sebenarnya aku naik tiga bus sendirian agar dapat pergi sekolah).
Atau jika kalian benar-benar ingin mengetahui cerita lengkapnya; aku tiba-tiba terserang semacam penyakit langka (yang dinamai berdasarkan pria-pria brengsek yang dikencani ibuku—Sindrom Todd-Tychon, Penyakit Gregory-Fisher), dan akhirnya biaya pengobatanku membuat kami bangkrut.
Ibuku memang orang yang cerdik, namun sangat malas. Sedangkan aku lebih ambisius. Aku mempunyai stamina yang tinggi dan tidak punya harga diri. Saat aku berumur tiga belas tahun, hasil dari mengemisku lebih banyak darinya, dan saat aku berumur enam belas tahun, aku meninggalkannya, juga noda-noda di rumah, TV—dan, ya, sekolahku—lalu mulai hidup sendiri.
Aku selalu pergi keluar di pagi hari dan mengemis selama enam jam. Aku tahu siapa yang harus didekati, berapa lama, dan apa yang harus dikatakan. Aku tidak pernah malu melakukannya. Yang kulakukan ini murni transaksional: kalian membuat orang merasa lebih baik dan mereka akan memberikanmu uang.
Jadi, sekarang kalian mengerti kenapa pekerjaan memasturbasi pria terasa seperti kemajuan karir bagiku.
Spiritual Palms (bukan aku yang menamakan tempat itu, jadi, jangan salahkan aku) berada di daerah para Tony di arah barat kota. Kartu-kartu tarot dan bola-bola Kristal di ruang depan, dan soft-core sex ilegal di ruang belakang. Awalnya aku melamar pekerjaan sebagai resepsionis. Tapi ternyata pekerjaan sebagai ‘resepsionis’ yang dimaksud adalah menjadi ‘wanita prostitusi’. Bosku,
Viveca, adalah seorang mantan ‘resepsionis’ dan dapat meramal dengan melihat telapak tangan. (Walaupun Viveca bukanlah nama yang sebernarnya, nama sebenarnya adalah Jennifer, tapi orang-orang tidak akan percaya kalau seorang yang bernama Jennifer dapat meramal masa depan; Jennifer hanya dapat memberitahumu sepatu cantik macam apa yang harus kalian beli atau pasar apa yang harus kalian kunjungi, yang pasti bukan memberitahukanmu masa depan.) Viveca mempekerjakan beberapa peramal di meja depan dan melakukan bisnis yang lain di kamar belakang. Ruangan tersebut seperti ruangan di kantor dokter; ada handuk kertas, disinfektan, dan sebuah meja periksa. Ruangan itu sendiri didekorasi dengan gaya yang sangat feminin dan hanya sesuai dengan selera perempuan saja.
Kalau aku adalah seorang lelaki yang membayar perempuan untuk memasturbasiku, aku tidak akan masuk dan berkata, “Ya ampun, aku mencium wangi parfum yang sangat harum… cepat, remas penisku!” Tapi aku akan masuk ke ruangan dan hanya berkomentar sedikit, seperti yang kebanyakan dilakukan oleh para pria yang datang kemari.
Pria-pria yang datang untuk dimasturbasi mempunyai karakter yang unik. (Dan kami hanya melayani masturbasi dengan tangan di sini atau lebih tepatnya aku HANYA menggunakan tangan—aku sudah pernah berurusan dengan polisi karena pencurian-pencurian kecil, hal-hal bodoh yang kulakukan saat berumur enam belas tahun, sembilan belas, dua puluh, dan kurasa tidak perlu lagi menambahkan kasus prostitusi di catatan kriminalku.) Pria yang ingin dimasturbasi berbeda dengan yang menginginkan blow job ataupun sex.
Tentu saja, bagi beberapa pria, masturbasi hanyalah hal yang remeh. Tapi aku sudah mempunyai banyak pelanggan tetap; mereka hanya ingin sekedar dimasturbasi. Mereka tidak menganggap dimasturbasi sebagai bentuk perselingkuhan. Oleh karenanya mereka tidak takut terkena penyakit menular, atau tidak berani untuk datang lagi. Mereka cenderung adalah para pria yang kaku, seorang suami, atau pria dari kalangan ekonomi menengah. Aku tidak menghakimi mereka, aku hanya memberikan penilaianku. Mereka menginginkan agar kau berpenampilan menarik tapi jangan terlalu terlihat seperti wanita jalang. Contohnya saja, sehari-seharinya aku mengenakan kaca mata, tapi aku selalu melepaskannya ketika berada di ruang belakang,
karena itu hanya akan mengalihkan perhatian mereka—mereka pikir kalian akan memberikan pelayanan spesial untuk mereka dengan berakting sebagai petugas perpustakaan yang seksi, dan akhirnya mereka akan menjadi tegang dan menunggu lagu top ZZ dimainkan tapi ternyata mereka tidak akan mendengarnya, lalu mereka akan malu karena sudah mengira kalian akan berakting, kemudian perhatian mereka menjadi teralihkan dan akhirnya urusan akan menjadi lebih lama daripada yang diinginkan oleh kedua pihak.
Mereka ingin agar kau bersikap bersahabat dan menyenangkan tapi bukan berarti lemah. Mereka tidak ingin merasa seperti menjadi predator. Mereka ingin menganggap semua ini murni transaksional. Murni pelayanan jasa. Jadi kau harus memulai dengan obrolan tentang cuaca dan tim olahraga favorit mereka. Biasanya aku berusaha mencari candaan yang dapat kami tertawakan setiap kali bertemu—candaan dapat berfungsi sebagai simbol persahabatan tanpa harus melakukan hal-hal pertemanan yang biasanya dilakukan orang lain. Jadi mungkin kau bisa mengatakan, “Kurasa saat ini sudah musim strawberry!” atau “Kita perlu kapal yang lebih besar.” (ini merupakan candaan-candaan yang hanya dapat dimengerti di situasi-situasi tertentu seperti dalam pekerjaanku), kemudian kekakuan di antara kalian akan pecah dan mereka tidak akan merasa seperti orang brengsek yang memaksamu untuk memasturbasi mereka karena kau adalah teman mereka, lalu suasana akan lebih kondusif sehingga kau dapat memulai pekerjaanmu dengan lancar.
Ketika orang-orang menanyakan pertanyaan; “Apa pekerjaanmu?” aku akan menjawabnya “Aku bekerja di bagian customer service.” Bagiku pekerjaan ini sangat menyenangkan karena dapat membuat banyak orang tersenyum. Aku tahu kalau itu terdengar berlebihan, tapi itu benar. Maksudku, aku bisa saja memilih untuk menjadi pustakawan, tapi aku takut karena pekerjaan itu tidak aman. Suatu saat, bisa saja pekerjaan itu dihapuskan, karena buku bersifat sementara, tapi ***** bersifat selamanya.
Namun masalahnya adalah pergelangan tanganku sudah sangat nyeri. Umurku baru hampir menginjak usia tiga puluhan, tapi pergelangan tanganku sudah seperti orang yang berusia delapan puluh tahunan, dan sangat tidak seksi. Suatu hari, Viveca mendatangiku di ruang belakang. Dia memiliki badan yang besar seperti gurita—memakai hiasan manik-manik di sekujur tubuhnya yang dipenuhi kerutan,
dan ada pula syal yang melingkar di lehernya, juga aroma cologne yang sangat menyengat. Dia mewarnai rambutnya sewarna dengan buah kesukaannya, tapi dia menyangkal dengan mengatakan bahwa warna rambutnya alami. (Viveca; lahir sebagai anak paling muda di sebuah keluarga ekonomi menengah; menyayangi orang-orang yang disukainya; menangis saat menonton iklan di TV; berkali-kali gagal menjadi vegetarian. Semua ini hanya tebakanku saja.)
“Apa kau seorang cenayang, anak kutu buku?” tanyanya. Dia memanggilku kutu buku karena aku mengenakan kaca mata, suka membaca buku, dan makan yogurt saat istirahat makan siang. Padahal aku bukan seorang kutu buku; aku hanya ingin menjadi kutu buku. Karena sebelumnya aku berhenti sekolah, oleh karenanya aku belajar sendiri. Aku membaca secara teratur.
. Tapi aku tidak memiliki pendidikan formal. Sehingga aku merasa bahwa aku lebih pintar ketimbang orang-orang yang ada di sekitarku, tapi jika aku berada di antara orang-orang jenius—orang-orang yang belajar di universitas, minum wine, dan dapat berbahasa latin—mereka pasti akan bosan denganku. Sungguh hidup yang penuh dengan rasa kesepian. Jadi, aku memutuskan untuk menerima panggilan tersebut sebagai lambang kehormatan. Bahwa suatu hari aku tidak akan membuat bosan orang-orang jenius. Pertanyaannya adalah; bagaimana aku akan menemukan orang jenius?
“Cenayang? Tidak.”
“Benarkah? Apa kau pernah mendapatkan penglihatan?”
“Tidak pernah.” Bagiku ramalan hanyalah untuk orang-orang bodoh saja, seperti yang dikatakan oleh ibuku. Dia benar-benar berasal dari daerah perkebunan pinggir kota, paling tidak hal ini benar adanya.
Viveca berhenti memainkan manik-maniknya.
“Aku hanya ingin menolongmu.”
Aku mengerti sekarang. Biasanya aku tidak sebodoh ini, tapi pergelangan tanganku sudah mulai sangat bermasalah. Amat sangat menyakitkan sampai-sampai satu-satunya hal yang dapat kupikirkan
hanyalah bagaimana menghilangkan rasa nyeri ini. Lagipula, Viveca hanya bertanya pada orang lain saat dia ingin berbicara saja—dia tidak terlalu peduli dengan jawaban mereka.
“Setiap aku bertemu dengan seseorang, aku selalu mendapatkan sebuah penglihatan,” sahutku dengan meniru nada suaranya yang selalu terdengar seperti orang bijak.
“Tentang siapa mereka dan apa yang mereka butuhkan. Aku dapat melihatnya sejelas melihat warna, seperti ada lingkaran cahaya di sekitar mereka.” Hal ini benar adanya, tapi tidak dengan bagian yang terakhir.
“Kau dapat melihat aura.” Senyumnya. “Sudah kuduga.”
Begitulah, akhirnya aku pindah ke ruang depan. Aku hanya akan membaca aura, artinya aku tidak butuh latihan apapun. “Katakan saja pada mereka apa yang ingin mereka dengar,” ujar Viveca.
“Anggap saja mereka semua adalah orang yang bodoh.” Dan ketika orang-orang bertanya padaku; “Apa pekerjaanmu?” aku akan menjawab, “Aku seorang vision specialist,” atau “Aku memberikan terapi pada orang-orang.” Yang juga merupakan hal yang sebenarnya.
Sebagai peramal, klien-klienku kebanyakan adalah kaum perempuan, namum sebagai ‘pelayan’ masturbasi, klienku semuanya laki-laki, jadi, kami menjalankan tempat bisnis ini bergantian sesuai jam kerja. Tempat ini tidak terlalu besar,
kami harus mempersilahkan para pria masuk ke ruang belakang, dan pastikan dia telah masuk sebelum ada wanita yang datang di ruang depan untuk minta diramal. Kau tentunya tidak ingin mendengar suara lenguhan dari orang yang sedang orgasme ketika seorang wanita sedang mengatakan padamu bahwa pernikahannya sedang runtuh. Alasan seperti; “Itu hanya suara anak anjing.” hanya bisa digunakan sekali.
Semuanya ini sangat beresiko, karena kebanyakan klien-klien Viveca datang dari golongan kelas atas atau menengah ke atas. Karena datang dari golongan-golongan seperti ini, mereka terkadang mudah merasa tersingung. Jika seorang istri orang kaya yang sedang sedih tidak ingin nasibnya diramal oleh wanita yang bernama Jennifer, mereka pastinya juga tidak ingin diramal oleh mantan pekerja sex dengan lengan yang sakit-sakitan. Penampilan adalah segalanya. Mereka tidak ingin merasa sedang berada di daerah yang kumuh.
Mereka adalah orang yang hidupnya tinggal di tengah kota tapi ingin merasa seperti di pinggiran kota. Kantor depan kami didekorasi sama seperti Pottery Barn yang muncul di iklan. Aku berpakaian dengan pantas, pada dasarnya aku terlihat seperti artis funky yang dibalut dengan blus dari J.Crew.
Para wanita yang datang dengan rombongan biasanya berpenampilan acak-acakan, seperti orang yang sedang mabuk, mereka hanya ingin mendengar hal-hal yang menyenangkan. Namun yang datang sendirian, mereka ingin kau mengatakan apa yang ingin mereka percayai saja. Mereka adalah para wanita yang sudah sangat putus asa sehingga butuh bantuan seorang ahli terapi.
Rasanya susah menahan rasa kasihan pada mereka. Aku berusaha demikian karena akan sangat aneh bagi orang yang mempunyai kemampuan mistis dan dianggap dapat melakukan hal-hal yang luar biasa, namun ternyata hanya dapat mengeluarkan kata-kata seperti, “Malang sekali nasibmu.” Tapi ini semua memang aneh sekali. Mereka tinggal di rumah yang besar, punya suami yang tidak memukuli mereka dan bahkan terkadang menolongmu mengurusi anak-anak, kadang-kadang juga dengan karirnya yang menunjang.
Dan mereka masih merasa sedih. Itulah yang selalu mereka katakan; “Tapi aku sangat sedih.” Terkadang kesedihan hanya datang saat kita mempunyai terlalu banyak waktu luang saja, biasanya. Sungguh. Aku memang bukan ahli terapi dengan surat izin resmi, tapi kesedihan memang datang hanya saat kita telalu banyak mempunyai waktu luang.
Di saat-saat seperti itu, aku akan berkata, “Gairah baru akan datang memasuki hidupmu.” Lalu disambung dengan menyebutkan hal-hal yang dapat mereka lakukan. Sebut saja pekerjaan-pekerjaan yang akan membuat mereka merasa lebih baik. Mengajar anak-anak, menjadi sukarelawan di perpustakaan, merawat anjing, atau melakukan penghijauan.
Tapi jangan mengatakannya seolah-olah kau sedang menasihati mereka, itulah kuncinya. Kau harus mengatakannya sebagai bentuk peringatan. “Gairah baru akan datang memasuki hidupmu… kau harus meraihnya dengan sangat hati-hati atau hal tersebut malah akan merusak apapun yang kau anggap penting!”
Aku tidak mengatakan bahwa semua ini selalu mudah, tapi terkadang memang mudah. Mereka ingin merasakan gairah dan tujuan hidup. Dan ketika mereka sudah mendapatkannya, mereka akan datang kembali karena kau dapat memprediksi masa depan mereka dengan benar.
Namun klienku yang bernama Susan Burke berbeda. Dia terlihat seperti orang yang berpendidikan saat pertama kali aku bertemu dengannya. Suatu hari, aku masuk ke ruang depan, baru saja selesai memasturbasi klienku. Aku masih melayani beberapa klien favoritku, dan baru saja aku selesai melayani pria kaya yang mengaku dirinya bernama Michael Audley (Kubilang ‘mengaku’ karena kurasa pria kaya tidak akan memberikan nama aslinya.)
Mike Audley; masuk kuliah dengan usahanya sendiri; sangat cerdas tapi tidak menyombongkannya; gemar melakukan jogging. Hanya tebakanku saja. Satu-satunya hal yang kutahu tentang Mike adalah, dia suka membaca.
Dia selalu merekomendasikanku buku dengan semangat yang ingin kutiru sebagai orang yang juga ingin menjadi kutu buku. “Kau harus membaca ini!” Segera saja kami membuat klub buku kami sendiri. Dia sangat suka “Cerita klasik Supernatural” dan dia juga ingin agar aku menjadi seperti dia “Lagipula kau ‘kan seorang cenayang,” ujarnya dengan tersenyum simpul).
Jadi, hari itu kami berdiskusi dengan tema kesedihan dan kebutuhan dalam buku Haunting of Hill House. Setelah selesai, aku membersihkan tanganku dengan sanitizer dan meraih buku yang dipinjamkannya padaku; The Woman in White. (“Kau harus membaca ini! Buku ini merupakan yang terbaik sepanjang zaman.”
Kemudian aku merapikan rambut dan blusku, lalu mengapit buku dengan lenganku dan keluar ke ruang utama. Tidak begitu tepat waktu, aku terlambat tiga puluh tujuh detik. Susan Burke sudah menunggu di ruang depan. Dia lalu menyalamiku dengan ritme yang kaku dan berulang-ulang sehingga
membuatku mengernyitkan mata padanya. Aku menjatuhkan bukuku dan kepala kami bertubrukan karena berusaha mengambilnya secara bersamaan. Sungguh bukan hal yang ingin kau lihat dari seorang cenayang; bertingkah seperti pelawak.
Aku mempersilahkannya untuk duduk. Aku memasang nada bicara seperti orang bijak dan bertanya kenapa dia datang kemari. Itulah cara termudah untuk mengetahui apa yang orang-orang inginkan; bertanya pada mereka apa yang mereka inginkan.
Susan Burke diam selama beberapa detik. Kemudian, “Hidupku sedang mengalami kehancuran,” gumamnya. Dia terlihat amat sangat cantik, tapi juga sangat gugup dan gelisah sehingga kau tidak akan menyadari bahwa dia sebenarnya cantik sampai kau melihatnya dengan lebih cermat. Melihat menembus kacamatanya sampai ke mata birunya yang terang. Bayangkan jika rambutnya yang pirang digerai. Dia jelas terlihat kaya. Tas tangannya sederhana namun terlihat sangat mahal. Pakaiannya sedikit acak-acakan tapi jahitannya sangat bagus. Sebenarnya, bukan bajunya yang acak-acakan,
dia hanya mengenakannya seperti itu. Pintar tapi tidak kreatif, pikirku. Selalu takut mengatakan dan melakukan hal yang salah. Kurang percaya diri. Mungkin karena pernah disiksa oleh orang tuanya, dan sekarang oleh suaminya. Suami yang temperamental—tujuan hidupnya setiap hari adalah agar dapat melewati hari tanpa dipukuli. Dia juga pemurung. Dia akan menjadi salah satu dari orang-orang yang selalu bersedih hati.
Susan Burke kemudian menangis tersedu-sedu selama satu setengah menit. Aku hendak membiarkannya menangis selama dua menit, tapi dia berhenti sendiri.
“Aku tidak tahu kenapa aku datang kemari,” ujarnya. Dia mengeluarkan sapu tangan dari tasnya tapi tidak menggunakannya. “Hidupku sudah kacau. Dan sekarang menjadi semakin parah.”
Aku menenangkannya sebaik mungkin tanpa harus menyentuhnya. “Apa yang terjadi dalam hidupmu?”
Dia menyapu matanya dan menatapku selama beberapa detik, lalu berkedip-kedip. “Bukankah kau seharusnya sudah tahu?”
Kemudian dia tersenyum, seolah dia juga mempunyai rasa humor. Sangat tidak terduga.
“Jadi, apa yang harus kulakukan?” tanyanya. Dia mengurut bagian belakang lehernya.
“Aku mempunyai indra yang dapat melebihi manusia normal,” kataku. “Kau tahu apa artinya itu?”
“Kau dapat mengetahui nasib seseorang.”
“Benar, sampai titik tertentu, tapi kekuatanku lebih kuat daripada sekedar tebakan. Aku dapat menggunakan seluruh indraku. Aku dapat merasakan getaran dari tubuh seseorang. Aku dapat melihat aura seseorang. Aku dapat merasakan keputusasaan, ketidakjujuran,
atau depresi. Itulah anugerah yang kudapatkan semenjak kecil. ibuku adalah wanita yang yang sangat depresi dan hidupnya tidak teratur. Aura berwarna biru gelap selalu membayanginya—dan dari aromanya tercium keputusasaan, aroma itu sendiri tercium seperti roti.”
“Roti?” ulangnya.
“Itu hanyalah aroma dari jiwa yang putus asa.” Aku hanya menyebutkan sesuatu yang dapat mewakilkan gambaran seorang wanita yang putus asa. Bukan daun gugur, terlalu umum, tapi sesuatu yang lebih membumi. Jamur? tidak, kedengarannya tidak elegan.
“Roti? Itu sungguh aneh,” ujarnya.
Orang-orang biasanya bertanya apa warna aura mereka. Itulah tahap pertama agar mereka dapat masuk ke permainan ini. Susan mengubah posisi duduknya yang tidak nyaman. “Aku tidak ingin terdengar kasar,” sahutnya. “Tapi… sepertinya aku bukan orang yang tepat untuk ini.”
Aku bergeming sebentar. Memberikan empati adalah salah satu senjata yang sudah sangat sering digunakan di dunia ini.
“Ok,” kata Susan. Dia menyelipkan rambutnya di balik telinganya—gelang berliannya berkilauan seperti Milky Way—kini dia terlihat sepuluh tahun lebih muda. Aku dapat membayangkannya sebagai anak-anak, mungkin saat itu dia seorang kutu buku, cantik namun pemalu. Memiliki orang tua yang banyak menuntut. Selalu mendapatkan nilai A di semua mata pelajaran. “Jadi, apa yang dapat kau lihat dari dalam dariku?”
“Ada sesuatu yang terjadi di rumahmu.”
“Aku sudah mengatakannya padamu.” Aku dapat merasakan keputusasaan darinya; putus asa karena ingin mempercayaiku.
“Tidak, kau hanya mengatakan bahwa hidupmu kini terpuruk. Tapi aku mengatakan bahwa itu ada hubungannya dengan rumahmu. Kau punya seorang suami, aku merasakan banyak hal yang janggal. Aku melihatmu dikelilingi oleh aura yang berwarna hijau gelap, seperti kuning telur yang sudah busuk. Juga dikelilingi oleh getaran lembut berwarna biru kehijauan di pinggirannya. Artinya, kau mempunyai sesuatu yang baik, tapi sekarang itu menjadi buruk.”
Jelas ini adalah tebakan yang mudah, tapi aku puas dengan pilihan warnaku; rasanya sangat tepat.
“Aku merasakan getaran yang sama darimu seperti ibuku. Terdengar seperti nada piano yang tajam dan sumbang. Kau sedang putus asa dan sedih. Kau mengalami insomnia.”
Menyebutkan insomnia selalu beresiko tapi terkadang dapat sangat membantu. Orang yang merasa sedih biasanya tidak dapat tidur dengan baik. Orang yang menderita insomnia sangat senang jika ada orang yang menyadari keletihan mereka.
“Tidak, aku tidur sampai delapan jam,” kata Susan.
“Tapi kau tidak tidur dengan lelap. Kau selalu bermimpi akan hal yang tidak menyenangkan. Mungkin bukan mimpi buruk, mungkin kau bahkan tidak dapat mengingatnya, tapi saat kau bangun, kau selalu merasa lelah dan kesakitan.”
Lihat sendiri, ‘kan? Kau dapat selamat dari hampir semua tebakan yang meleset. Wanita ini berumur empat puluh tahunan; orang seperti itu biasanya bangun dan merasakan sakit di sekujur tubuh mereka. Aku tahu hal itu dari iklan di TV.
“Kegelisahanmu menumpuk di sekitar leher,” lanjutku. “Dan ada aroma peony. Seorang anak. Apa kau punya seorang anak?”
Jika dia tidak memiliki anak, aku dapat berkelit, “Tapi kau ingin mempunyai seorang anak.” Dan dia dapat mengelaknya, “Aku tidak pernah sekalipun berpikir ingin mempunyai seorang anak.” Lalu aku dapat terus memaksanya, dan akhirnya dia pun akan benar-benar percaya, karena hanya sedikit saja wanita yang memutuskan untuk tidak ingin menjadi seorang ibu tanpa keraguan sedikitpun. Ini jalan pikiran yang mudah ditanamkan ke orang lain. Kecuali yang satu ini sangat pintar.
“Benar. Aku memiliki dua anak laki-laki. Yang satu anak kandungku dan yang satunya lagi anak tiri.”
Anak tiri, ini dia. Aku akan terus mengumbar tentang anak tiri ini.
“Ada yang salah dengan rumahmu. Apa ini tentang anak tirimu?”
Dia segera berdiri, lalu meraba-raba isi tasnya.
“Berapa aku harus membayarmu?”
Kali ini aku salah. Kukira aku tidak akan pernah bertemu lagi dengannya. Tapi empat hari kemudian Susan Burke datang kembali. “Apa benar setiap makhluk hidup dan mati mempunyai aura?” tanyanya. “Misalnya sebuah objek. Atau rumah?” Lalu tiga hari kemudian, “Apa kau percaya dengan roh jahat? Apa benar hal itu ada?” dan seterusnya.
Hampir semua tebakanku tentangnya benar. Penuh keluh kesah, terlalu banyak menuntut, cerdas, pernah bersekolah di Ivy League, mendapatkan gelar di bidang bisnis. Kutanyakan padanya, “Apa pekerjaanmu?” Dia tidak henti-hentinya menjelaskan tentang kerugian besar yang pernah diderita perusahaannya, restrukturisasi, permasalahan dengan klien,
dan ketika aku mulai mengerutkan dahiku, dia menjadi tidak sabaran dan berkata, “Pekerjaanku adalah mencari masalah lalu melenyapkannya.” Kehidupan bersama suaminya baik-baik saja, tapi tidak dengan anak tirinya. Keluarga Burke pindah ke kota setahun yang lalu, dan saat itulah anak tirinya berubah dari bermasalah menjadi masalah.
“Miles tidak pernah bersikap baik,” ujarnya. “Aku adalah satu-satunya ibu yang dikenalnya—aku telah menikah dengan ayahnya sejak dia berumur enam tahun. Tapi dia selalu bersikap dingin terhadapku. Dia juga anak yang introvert dan hidupnya kosong.
benci mengatakannya. Maksudku, sebenarnya tidak masalah bagiku jika dia seorang introvert. Tapi sejak satu tahun yang lalu, sejak kami pindah ke rumah yang baru… dia mulai berubah menjadi lebih agresif. Dia selalu marah-marah. Muram. Mengancam. Dia membuatku takut.”
Miles berusia lima belas tahun, dan baru saja dipaksa pindah dari bagian pinggiran kota ke kota besar di mana dia tidak mengenal siapapun, dan ditambah lagi dia selalu kikuk jika berurusan dengan orang asing. Tentu saja dia marah. Jika aku mengatakan seperti itu, mungkin akan berguna baginya, tapi tidak. Kuraih kesempatan ini.
Aku akan mencoba pindah ke bisnis penyucian aura dalam rumah tangga. Pada dasarnya, ketika seseorang pindah ke rumah yang baru, mereka akan memanggilmu. Kau hanya harus berkeliling rumah sambil membakar daun sage, menaburkan garam, dan banyak berkomat-kamit. Pertama-tama, bersihkan energi buruk dari pemilik rumah yang terdahulu.
Sekarang banyak orang yang pindah ke jantung kota di mana banyak rumah-rumah tua yang masih berdiri. Sepertinya sebuah jenis industri baru akan langsung melejit. Dan sekarang Susan menyebutkan bahwa dia dan keluarganya pindah ke rumah tua yang telah berusia seratus tahun, pasti banyak sekali aura gelap yang tertinggal di sana.
“Susan, pernahkah kau berpikir bahwa mungkin rumah barumu mempengaruhi perilaku Miles?”
Susan lalu mencondongkan badannya ke arahku, matanya melebar. “Ya! Aku memang berpikir seperti itu. Bukankah itu gila? Oleh karena… karena itulah aku kembali lagi kemari. Karena… muncul lumuran darah di dinding rumahku.”
“Darah?”
Dia makin membungkuk dan aku dapat mencium aroma mint yang menyamarkan bau mulutnya. “Itu terjadi minggu lalu. Aku tidak ingin mengatakan apapun… kupikir kau akan menganggapku gila. Tapi itu benar. Ada darah mengalir dari langit-langit sampai ke lantai.”
Minggu depannya, aku setuju untuk bertemu dengan Susan di rumahnya. Sambil berkendara dengan mobilku, aku berpikir itu mungkin bukan darah, tapi hanya sekedar noda karat yang muncul dari dinding atau atap. Lagipula kita juga tidak tahu terbuat dari apa rumah-rumah tua seperti itu. Kita juga tidak tahu apa yang akan muncul setelah beratus-ratus tahun. Namun permasalahannya adalah bagaimana aku harus berakting.
Aku tidak terlalu tertarik untuk melakukan hal-hal seperti pengusiran roh atau menjelaskan tentang iblis-iblis. Aku pikir Susan juga tidak mau mendengarnya. Tapi dia telah mengundangku ke rumahnya, dan wanita seperti dia tidak sembarangan mengundang wanita asing ke rumahnya kecuali ada hal lain yang diinginkannya. Mungkin agar aku dapat memberikannya rasa nyaman. Aku akan mencari tahu tentang penyebab munculnya aliran darah itu, tapi tetap menegaskan bahwa rumahnya memerlukan pembersihan secara spiritual.
Pembersihannya harus dilakukan berkali-kali. Kami bahkan belum mendiskusikan biayanya. Dua belas kunjungan dengan biaya $ 2.000 mungkin harga yang pantas. Jangan sekaligus, hal ini harus dilakukan bertahap, sekali dalam sebulan selama satu tahun misalnya, agar anak tirinya dapat mengendalikan diri, beradaptasi dengan lingkungan sekolah dan teman-temannya yang baru.
Dengan begitu dia akan sembuh dan aku akan dianggap sebagai pahlawan, dan mungkin nanti Susan akan merekomendasikanku pada teman-temannya yang juga kaya-raya. Aku dapat melakukan bisnis ini sendirian, jadi ketika orang bertanya padaku, “Apa pekerjaanmu?” aku akan menjawab, “Aku seorang pengusaha.” Dengan sikap sombong yang biasa dintonjolkan oleh para pengusaha pada umumnya. Mungkin saja Susan dan aku dapat menjadi teman. Mungkin dia akan mengundangku ke klub bukunya.
Aku membayangkan duduk di dekat perapian sambil menggigit sepotong keju dan berkata, “Aku adalah seorang pemilik bisnis, atau istilahnya pengusaha.” Setelah selesai melamun, aku memarkir dan keluar dari mobil, lalu menghirup udara musim semi dengan optimis.
Namun kemudian aku melihat rumah Susan. Aku benar-benar tercengang dan terus menatapnya, lalu seluruh tubuhku terasa bergetar.
Rumahnya berbeda dengan rumah lain yang ada di sekitarnya.
Ada nuansa gelap di sekelilingnya. Rumah itu satu-satunya rumah dengan gaya Victoria di sekitar sana. Bagian depan rumahnya sangat bergaya dan banyak pahatan batu,
detilnya sungguh mengagumkan. Dua patung malaikat yang seukuran tubuh manusia berdiri di depan pintunya, lengan pada patung tersebut terangkat ke atas, wajah mereka terlihat gembira oleh sesuatu yang tidak aku ketahui.
Aku masih memperhatikan rumah tersebut. Rumah itu terasa seperti menatapku balik melalui jendela-jendelanya yang tinggi sehingga seorang anak kecil mungkin dapat berdiri di ambangnya. Dan memang ada seorang anak kecil yang berdiri di sana.
Aku dapat melihat tinggi badannya yang ramping; dia mengenakan celana panjang abu-abu, sweater hitam, dan dasi berwarna merah yang diikat dengan baik di lehernya. Rambut hitamnya yang panjang dan semrawutan menutupi matanya. Kemudian tiba-tiba dia meloncat ke dalam dan menghilang di balik gorden.
Jalan menuju ke rumah tersebut sangat terjal dan panjang. Jantungku berdegup sangat kencang begitu aku sampai di atas, kemudian aku melewati dua patung malaikat, dan menekan bel yang ada di sisi pintunya. Sembari menunggu aku membaca tulisan yang terukir di batu dekat kakiku.
Carterhook Manor
Didirikan Pada Tahun 1893
__ADS_1
Oleh Patrick Carterhook
Ukirannya dibuat dengan gaya tulisan Victoria.
Susan membuka pintu dengan matanya yang terlihat merah.
“Selamat datang di Istana Kediaman Carterhook,” sambutnya dengan gaya yang sangat dibuat-buat. Dia melihatku menatapnya—Susan tidak pernah terlihat dalam kondisi yang baik kapanpun aku bertemu dengannya, tapi dia tidak pernah berpura-pura menyisir rambutnya, dan ada bau tidak sedap yang menguar dari tubuhnya. (Bukan ‘keputusasaan’ atau ‘depresi’, tapi bau mulut dan bau badan saja.) Dia mengedikkan bahunya dan berkata, “Aku sudah tidak tidur lagi.”
Bagian dalam rumahnya ternyata tidak seperti di bagian luar. Interiornya telah dirubah besar-besaran dan sekarang terlihat seperti rumah orang kaya pada umumnya. Nuansanya terasa lebih menyenangkan.
“Mari kita mulai dari masalah aliran darah yang pernah kau ceritakan dulu,” saranku.
Kami naik ke lantai dua. Masih ada dua lantai lagi di atasnya. Saat menaiki tangga, aku melihat ke atas dari sisi pegangan tangga dan melihat sekilas sebuah wajah sedang memperhatikanku dari lantai atas. Dia memiliki rambut dan mata berwarna hitam dan berdiri di dekat boneka porselen. Miles. Dia menatapku sebentar, lalu menghilang kembali. Anak itu sangat cocok dengan atmosfer lama dari rumah ini.
Susan menurunkan sebuah lukisan yang sangat indah ke lantai, sehingga aku dapat melihat dengan jelas dindingnya.
“Tadinya ada di sini.” Dia menunjuk dari langit-langit ke lantai.
Aku berpura-pura memperhatikan dindingnya dari dekat, tapi benar-benar tidak ada keganjilan di sana. Dia sudah membersihkannya, aku bahkan masih dapat mencium bau pembersihnya.
“Aku dapat membantumu,” ujarku. “Ada rasa pedih yang sangat mendalam keluar dari arah sini dan meluas ke seluruh rumah, tapi dapat kurasakan hal itu berpusat dari sini.”
“Rumah ini berderit setiap malam,” katanya. “Bahkan hampir seperti suara rintihan. Itu tidak mungkin terjadi, ‘kan? Semua yang ada di dalam sini masih baru. Pintu kamar Miles selalu terbanting di tengah malam. Dan dia… kondisinya semakin buruk. Rasanya seolah sesuatu sedang merasukinya. Ada aura gelap di balik punggungnya seperti cangkang keong.
Dia selalu terlihat tergesa-gesa. Aku rasanya ingin pindah saja, tapi kami sudah tidak punya uang. Lagi. Kami telah menghabiskan banyak uang untuk dapat pindah kemari, lagipula kalaupun aku bisa, suamiku takkan mau pindah. Katanya Miles hanya sedang mengalami masa pendewasaan, dan aku hanya seorang ibu yang tidak tahu cara menghadapinya.”
“Aku dapat membantumu,” ulangku.
“Mari kuajak kau berkeliling rumah,” jawabnya.
Kami berjalan melewati koridor kecil. Rumah ini memang bernuansa gelap. Sedikit saja kalian bergeser dari jendela, maka kegelapan akan merayapi kalian. Susan menyalakan lampu di sepanjang lorong yang kami lewati.
“Miles selalu mematikannya,” ujarnya. “Akulah yang selalu menyalakannya. Ketika kuminta dia untuk tetap membiarkan lampunya menyala, dia pura-pura tidak tahu menahu. Dan inilah sarang kami,” katanya. Dia membuka pintu dan tersibaklah sebuah ruangan besar yang dilengkapi dengan sebuah tempat perapian dan rak buku di sepanjang dinding.
“Perpustakaan,” kejutku. Mereka dengan mudahnya dapat mengoleksi ribuan buku. Buku-buku tebal yang biasanya dibaca oleh orang-orang jenius. Bagaimana bisa mereka dapat menyimpan ribuan buku di satu ruangan dan malah menyebutnya ‘sarang’?
Aku melangkah masuk. Tubuhku begetar. “Apa kau dapat merasakannya? Apa kau dapat merasakan… aura yang sangat menekan di sini?”
“Aku benci ruangan ini.” Dia mengangguk setuju.
“Aku harus lebih fokus ke ruangan ini,” kataku. Aku akan bersantai di dalam sini sendirian selama satu jam dan membaca apapun yang kuinginkan.
Kami kembali lagi ke koridor yang kini menjadi gelap lagi. Susan menghela napas dan mulai menyalakan lampunya. Aku dapat mendengar suara langkah kaki yang lari berderap-derap di lantai atas. Kami sampai di sebuah ambang pintu kamar yang tertutup. Susan lalu mengetuknya, “Jack, ini ibu.” Muncullah suara kursi yang ditarik dari balik pintu, kunci yang terbuka, kemudian pintunya dibuka oleh seorang anak kecil yang terlihat lebih muda beberapa tahun dari Miles. Wajahnya mirip ibunya. Dia tersenyum kepada Susan seolah dia tidak pernah melihatnya selama bertahun-tahun.
“Hai, Momma,” ucapnya. Dia memeluk Susan. “Aku merindukanmu.”
“Ini Jack, umurnya tujuh tahun,” kata Susan. Dia mengelus rambut Jack.
“Momma ada pekerjaan dengan teman Momma ini,” kata Susan sambil berlutut. “Selesaikan membaca bukumu dan Momma akan membawakanmu snack.”
“Apa aku harus mengunci pintuku lagi?” Tanya Jack?
“Ya, selalu kunci pintu kamarmu, sayang.”
Kami mulai berjalan lagi setelah mendengar bunyi pintu yang terkunci.
“Kenapa dia harus mengunci kamarnya?”
“Miles tidak menyukai Jack.”
Dia pasti dapat melihat kerutan di dahiku; Tentu saja tidak ada remaja yang menyukai adiknya yang masih kecil.
“Kau harusnya melihat apa yang dilakukan Miles kepada babysitter yang tidak disukainya. Itulah salah satu alasan kenapa kami tidak punya banyak uang sekarang. Untuk membayar biaya perawatan medis.” Dia berbalik dan menatapku dengan tajam. “Harusnya aku tidak perlu mengatakannya. Dia tidak terluka… parah. Mungkin hanya kecelakaan kecil. aku tidak tahu lagi harus berbuat apa. Mungkin aku sudah sangat gila sekarang.”
Tertawanya terdengar hambar. Sebelah matanya berkedip.
Kami terus berjalan sampai ke ujung koridor di mana ada satu lagi kamar yang terkunci.
“Akan kutunjukkan padamu kamar Miles, tapi aku tidak punya kuncinya,” katanya singkat. “Lagipula aku terlalu takut.”
Dia memaksakan tertawanya lagi. Tertawanya sangat tidak meyakinkan, bahkan kedengarannya sangat lemah sehingga tidak bisa dibilang kalau dia sedang tertawa. Kami kemudian naik ke lantai atas, di mana ada berderet-deret kamar dan lukisan dengan furniture bergaya zaman Victoria yang diatur sembarangan. Ada satu kamar yang dilengkapi tempat pembuangan. “Ini kamar untuk kucing kami, Wilkie,” kata Susan. “Kucing yang paling beruntung di dunia; punya kamar pribadi untuk tempat membuang kotorannya.”
“Nanti juga kau pasti akan membutuhkan kamar ini untuk alasan yang tepat.”
“Dia kucing yang sangat manis,” lanjutnya. “Usianya udah hampir dua puluh tahun.”
Aku tersenyum menanggapi seolah itu adalah hal yang menarik.
“Kami punya lebih banyak kamar daripada yang kami butuhkan,” kata Susan. “Kami pikir mungkin kami akan… mungkin dengan mengadopsi, tapi aku tidak ingin membawa anak lain ke dalam rumah ini. Jadi kami memutuskan untuk tinggal di rumah yang hanya jadi tempat penyimpanan ini saja.
Suamiku sangat menyukai koleksi barang antiknya.” Aku dapat membayangkan suaminya yang manja dan kaya raya itu. Seorang lelaki yang membeli barang antik tapi bukan dengan mencarinya sendiri. Mungkin dia punya kenalan seorang wanita yang bekerja sebagai dekorator yang melakukan semua pekerjaan ini untuknya. Mungkin juga dialah yang membelikannya semua buku ini. Kudengar hal itu biasa dilakukan oleh orang-orang sekarang ini—membeli buku-buku bekas yang diobral, lalu memajangnya seperti furniture. Banyak sekali orang bodoh di dunia ini. Aku tidak habis pikir betapa bodohnya orang-orang zaman sekarang.
Kami naik lagi ke lantai atas. Lantai atas ini hanya berupa loteng yang sangat luas dengan beberapa peti di sepanjang dinding.
“Tidakkah kau pikir peti-peti itu terlihat sangat aneh di sana?” bisiknya. “Kata suamiku, peti-peti itu membuat suasana terlihat lebih asli. Makanya dia tidak suka renovasi.”
Jadi rumah ini sudah dikompromikan; suaminya ingin rumah ini tetap bergaya lama, tapi Susan ingin semuanya terlihat baru, sehingga mereka membagi rumah ini menjadi dua bagian; bagian luar tidak direnovasi dan masih terlihat asli sedangkan bagian dalamnya direnovasi sehingga terlihat baru. Tapi alih-alih puas, keluarga ini malah membencinya. Bahkan setelah menghabiskan berjuta-juta dolar, mereka masih tidak bahagia. Orang kaya selalu suka menghambur-hamburkan uang.
Kami turun melewati tangga belakang dan sampai di dapur yang bergaya modern.
Miles duduk menunggu di dapur. Susan terkejut ketika melihatnya.
Dia terlihat lebih kecil dibandingkan usianya. Wajahnya pucat, dagu yang mancung, dan mata hitam pekat seperti laba-laba. Dia terlihat sedang memperhatikan kami. Kurasa dia sangat cerdas tapi benci sekolah. Tidak mendapatkan perhatian yang cukup—walaupun dia mendapatkan seluruh perhatian Susan, itu masih belum cukup. Mempunyai sifat yang kejam dan egois.
“Hi, Momma,” ujarnya. Wajahnya seketika berubah menjadi lebih cerah, secercah senyum terpancar di bibirnya. “Aku merindukanmu.” Dia berubah menjadi seperti Jack yang selalu bersikap manis. Dia menirukannya dengan sangat sempurna. Miles ingin memeluk Susan, dan sambil dia berjalan, dia menirukan postur tubuh Jack. Dia kemudian memeluk Susan. Susan memperhatikanku dari balik kepala Miles, pipinya memerah, bibirnya terkatup rapat seolah dia mencium sesuatu yang sangat bau. Miles lalu menatapnya. “Kenapa Momma tidak mau balik memelukku?”
Susan memeluknya sebentar. Miles dengan segera melepaskan pelukannya seolah dia tersiram air panas.
“Aku sudah mendengar apa yang kau katakana padanya,” ujarnya. “Tentang Jack. Tentang babysitter. Semuanya. Dasar wanita jalang.”
Susan tersentak kaget. Miles lalu memandangku.
“Aku benar-benar berharap kau pergi dari sini dan jangan pernah kembali. Ini demi kabaikanmu sendiri.” Dia tersenyum kepada kami berdua. “Ini masalah keluarga. Iya, ‘kan, Momma?”
Lalu dia berjalan dengan menyentak-nyentakkan sepatu kulitnya dan naik ke atas tangga, tubuhnya membungkuk ke depan. Dia memang membungkuk seolah dia sedang memikul cangkang serangga yang keras dan berkilau.
Susan tertunduk menatap lantai, menghela napas, lalu menegakkan kepalanya kembali. “Aku butuh pertolonganmu.”
“Apa pendapat suamimu tentang semua ini?”
“Kami tidak membicarakannya. Miles adalah anaknya. Dia yang membesarkannya. Kapanpun aku menyinggung hal itu, dia hanya berkata bahwa aku sudah gila. Dia sering mengataiku gila karena berpikir rumah ini berhantu. Tapi mungkin itu ada benarnya juga. Lagipula, dia selalu bepergian, dia bahkan tidak akan tahu kalau kau ada di sini.”
“Aku dapat membantumu,” kataku. “Tapi mungkin kita bisa membicarakan biayanya terlebih dahulu.”
Dia setuju dengan jumlah biayanya, tapi tidak dengan jangka waktunya. Katanya, “Aku tak dapat menunggu satu tahun agar Miles menjadi lebih baik, dia bisa membunuh kami sebelum hal itu terjadi.” Dia mengeluarkan tertawa kaku itu lagi. Maka aku pun setuju agar datang dua kali seminggu.
Aku kebanyakan datang di siang hari, ketika anak-anak sudah pergi ke sekolah dan Susan masih di tempat kerjanya. Aku benar-benar membersihkan rumahnya. Aku membakar daun sage dan menabur garam di sekitar rumahnya. Aku merebus bunga lavender dan rosemary, lalu mengepel seluruh bagian rumahnya dengan itu termasuk dinding dan lantainya. Kemudian aku duduk di perpustakaan dan membaca buku. Aku juga berkeliling dan memeriksa barang-barang di rumah itu. Aku dapat melihat jutaan foto Jack yang tersenyum lebar, dan hanya ada sedikit foto Miles dan Susan yang berwajah murung, tapi tidak ada satu pun foto suaminya. Aku merasa kasihan pada Susan. Anak tiri yang pemarah dan seorang suami yang selalu bepergian, pantas saja pikirannya menjadi gelap.
Dan walau begitu, aku pun dapat merasakannya juga. Rumah ini terasa hidup. Aku dapat merasakannya memperhatikanku, apa itu masuk akal? Rumah ini mengerubungiku. Suatu hari, aku sedang mengepel lantai, lalu tiba-tiba aku merasakan ada sesuatu yang menyayat jari tengahku—seperti digigit—dan ketika kulihat, jariku telah berdarah. Aku membungkus jariku dengan kain lap yang masih bersih dan menyaksikan darahku mengalir keluar. Dan aku merasa seolah rumah ini merasa puas.
Aku mulai merasa ketakutan. Namun tetap kucoba untuk melawan rasa takutku. Aku sendirilah yang mengada-ada mengatakan rumah ini berhantu.
Sudah enam minggu sejak aku mulai menyucikan rumah ini, saat itu aku sedang merebus bunga lavender di dapur—Susan sudah pergi bekerja, anak-anak ke sekolah—tiba-tiba aku merasakan ada kehadiran seseorang di belakangku. Aku berbalik dan melihat Miles yang masih dengan seragam sekolahnya, dia sedang memperhatikanku, sebuah senyum menyeringai menghiasi wajahnya. Dia sedang memegang buku The Turn of The Screw milikku.
“Kau suka cerita horror?” senyumnya.
Dia sudah menggeledah isi tasku.
“Aku sedang mencoba memahamimu. Kau ternyata orang yang menarik. Bukankah kau sudah tahu sesuatu yang buruk akan terjadi? Aku jadi penasaran.”
Dia melangkah mendekatiku, aku pun mulai bergerak mundur. Dia berdiri dekat dengan air yang sedang kumasak. Pipinya memerah karena uap panas.
“Aku hanya mencoba menolong, Miles.”
“Tapi apakah kau dapat merasakannya juga? Ada hawa jahat di rumah ini.”
“Ya, aku juga merasakannya.”
Dia menatap air di panci, lalu menyentuhkan jarinya di pinggir, kemudian menariknya kembali dengan cepat, jarinya segera berubah menjadi pink. Dia melihatku dengan mata hitamnya yang berkilau bak laba-laba.
“Kau ternyata tidak terlihat seperti yang kubayangkan jika kuperhatikan dari dekat. Kupikir kau ini… sexy.” Dia mengatakannya dengan nada ironi, dan aku tahu apa maksudnya; seorang gadis peramal sexi dengan lip gloss, rambut keriting, dan anting-anting yang besar. “Kau terlihat seperti seorang babysitter.”
Aku mundur lebih jauh darinya. Dia pernah menyakiti babysitter sebelumnya.
“Apa kau mencoba menakutiku, Miles?”
Kuharap aku dapat meraih kompor lalu memadamkan apinya.
“Aku hanya ingin menolongmu,” jawabnya. “Aku tidak ingin kau ada di sekitar Susan. Jika kau kembali lagi, kau akan mati. Aku tidak ingin mengatakan lebih dari ini. Tapi paling tidak, kini aku sudah memperingatimu.”
Dia berbalik dan meninggalkan dapur. Ketika kudengar dia telah sampai di tangga depan, aku segera membuang air lavenderku di saluran air, kemudian berlari ke ruang makan untuk mengambil tas dan kunci mobilku. Aku harus pergi dari sini. Ketika kuraih tasku, sebuah aroma yang sangat busuk menguar masuk ke hidungku. Dia muntah ke dalam tasku—kunci, dompet, dan handphoneku sudah tenggelam dalam muntahannya. Aku tidak mau mengambil kunciku dan menyentuh cairan menjijikkan itu.
Susan tiba-tiba menerobos masuk dari pintu depan. Dia kelihatan sangat panik.
“Apa dia ada di sini? Apa kau baik-baik saja?” tanyanya. “Pihak sekolah meneleponku dan mengatakan bahwa Miles tidak hadir di kelas. Dia pasti masuk lewat gerbang depan sekolahnya lalu berlari keluar dari pintu belakang. Dia tidak suka kau ada di sini. Apa dia mengatakan sesuatu padamu?”
Tiba-tiba kami mendengar suara seperti sebuah benda yang dipukul dengan keras dari lantai atas, lalu diikuti sebuah raungan. Kami segera berlari ke sumber suara. Di koridor, sebuah boneka kain kecil buatan tangan tergantung dari langit-langit. Sebuah wajah tergambar di sana dengan spidol. Hidungnya terbuat dari benang merah. Sebuah teriakan terdengar dari kamar Miles yang berada di ujung koridor. “Tidaaaaaaaak!!!! Dasar wanita jalang!!!!!”
Kami hanya bisa berdiri di depan pintu kamarnya.
“Apa kau ingin berbicara dengannya?” tanyaku.
“Tidak,” jawab Susan. Dia lalu berbalik.
Dia berjalan di sepanjang koridor dengan menangis terisak-isak. Dia lalu mencopot boneka itu dari gantungannya.
“Kupikir ini adalah gambaran diriku,” kata Susan sembari memberikan boneka itu padaku. “Tapi aku tidak memiliki rambut kecoklatan.”
“Kurasa ini diriku,” ujarku.
“Aku sudah muak merasa ketakutan terus-menerus,” bisiknya.
“Aku mengerti.”
“Tidak, kau tidak mengerti,” katanya. “Tapi kau akan mengerti.”
Susan pergi menuju kamarnya. Aku kembali bekerja. Sumpah, aku bekerja. Aku membersihkan rumahnya di setiap inci sampai ke dinding dan lantainya dengan bunga rosemary dan lavender. Aku mengasapi setiap ruangan dengan bunga sage yang telah dibakar sebelumnya, lalu merapalkan mantra ajaibku yang hanya berupa komat-kamit sembarangan saat Miles kembali berteriak di lantai atas dan Susan menangis di kamarnya. Kemudian aku menumpahkan semua benda yang ada di dalam tasku ke dalam bak cuci lalu membersihkannya dengan air sampai benar-benar bersih.
Ketika aku hendak membuka pintu mobilku, seorang wanita paruh baya yang memiliki pipi tembem memanggilku dari ujung blok. Dia berjalan dengan cepat melewati kabut, ada senyuman tipis di wajahnya.
“Aku hanya ingin memberimu ucapan terima kasih atas bantuanmu kepada keluarga ini,” ujarnya. “Karena sudah sudi menolong Miles. Terima kasih.” Kemudian dia meniru gerakan mengunci bibir dengan jarinya, lalu segera berlari kembali sebelum aku dapat mengatakan padanya bahwa aku sama sekali tidak melakukan apa-apa untuk menolong keluarga ini.
Seminggu kemudian, aku sedang bersantai-santai di apartemen kecilku (satu kamar tidur, empat belas buku), aku melihat ada hal yang janggal di sana. Sebuah noda, seperti rembesan dari benda yang berkarat di sisi dinding ranjangku. Ini mengingatkanku kembali akan ibuku dan hidup lamaku. Semua ‘transaksi’ yang pernah kami lakukan—ini untuk itu, itu untuk ini—dan tidak ada perbedaan dari itu semua sampai sekarang. Ketika transaksinya selesai, pikiranku kembali kosong, menunggu transaksi selanjutnya. Tapi Susan Burke dan keluarganya berbeda, mereka masih terus menghantuiku. Susan Burke, keluarganya, juga rumahnya.
Kuhidupkan laptop tuaku dan mencari sesuatu di internet; Patrick Carterhook. Setelah menunggu beberapa saat, muncullah sebuah link yang merujuk ke sebuah artikel dari sebuah universitas:
Pembunuhan di Zaman Victoria; Kisah Mengerikan Keluarga Patrick Carterhook
Pada tahun 1893, seorang pemilik departemen store terkemuka bernama Patrick Carterhook pindah ke rumah mewahnya di jantung kota dengan istrinya yang sangat cantik, Margaret, dan dua putra mereka, Robert dan Chester. Robert adalah anak yang bermasalah, selalu menjadi korban penindasan oleh teman sekolahnya dan membahayakan hewan peliharaan di sekitar tempat tinggalnya. Saat berumur dua belas tahun, dia membakar salah satu gudang milik ayahnya dan tetap berdiri di sekitar sana menyaksikan gudang tersebut luluh lantak dilahap kobaran api. Dia tidak henti-hentinya menyiksa adiknya. Saat berumur empat belas tahun, Robert tidak dapat mengendalikan dirinya sendiri. Keluarga Carterhook memutuskan untuk menjauhkannya dari masyarakat. Pada tahun 1895 mereka mengurungnya di dalam rumah. Sejak saat itu dia tidak pernah lagi terlihat keluar rumah. Robert perlahan tumbuh menjadi lebih kasar di dalam penjaranya yang gelap. Dia mengotori barang milik keluarganya dengan kotoran dan muntahannya sendiri. Seorang pembantu rumah tangga dilarikan ke rumah sakit dengan bekas luka parah; dia tidak pernah kembali bekerja di rumah itu lagi. Juru masak mereka juga melarikan diri di musim dingin. Rumor menyebutkan bahwa telah terjadi sebuah ‘kecelakaan’ di tempat kerja dan akhirnya dia menderita luka bakar serius akibat siraman air mendidih.
Tidak ada yang tahu pasti apa yang sebenarnya terjadi di dalam rumah tersebut pada tanggal 7 Januari 1897, tapi hasil tes darah tak dapat disangsikan lagi. Patrick Carterhook ditemukan tewas di ranjangnya dengan luka tusukan; dari tubuhnya ditemukan 117 bekas luka tusukan. Istri Patrick, Margaret, ditemukan terbaring tewas terbacok kapak—kapak tersebut masih menancap di punggungnya—ketika dia hendak melarikan diri lewat tangga dan sedang berlari menuju ke loteng. Sementara Chester yang saat itu masih berumur sepuluh tahun, ditemukan tewas tenggelam di dalam bak mandi. Robert menggantung dirinya sendiri di tiang kamarnya. Saat jasadnya ditemukan, dia mengenakan pakaian yang cukup bagus; dia mengenakan setelan biru yang telah tertutupi oleh darah orang tuanya dan masih basah setelah selesai menenggelamkan adiknya.
Di bawah artikel ada sebuah foto tua dari keluarga Carterhook. Empat wajah tanpa senyuman dari balik pakaian ala zaman Victoria mereka. Terlihat di sana seorang lelaki jangkung yang berumur sekitar empat puluh tahunan dengan janggut lancip. Seorang wanita muda yang cantik dengan rambut pirang dan tatapan mata sedih dan tajam. Dua anak laki-laki, yang muda berambut pirang seperti ibunya. Sementara yang paling tua berambut hitam dengan mata hitam cerah, dia tersenyum menyeringai dan kepalanya sedikit miring. Miles. Anak yang paling tua itu terlihat seperti Miles. Tidak benar-benar mirip, tapi auranya sama; rasa puas dirinya, superioritasnya, pembawaannya yang mengancam.
Miles.
Jika kalian melepas keramik lantai yang telah dibanjiri oleh darah dan air tersebut; jika kalian menghancurkan tiang yang menyangga tubuh Robert Carterhook, dan kalian robohkan dinding yang menyerap gema teriakan itu, apa itu artinya kalian telah menghancurkan seluruh rumah tersebut? Apakah rumah itu masih dihantui walaupun organ dalamnya telah dikeluarkan? Atau apakah kengerian itu masih berkeliaran di udara? Malam itu aku bermimpi ada sebuah sosok yang membuka pintu kamar Susan, berjalan mendekat saat dia sedang tertidur, lalu berdiri dengan tenang di dekatnya dengan pisau pemotong daging yang diambil dari dapur mewahnya. Dari kamarnya tercium aroma daun sage dan bunga lavender.
Aku tidur sepanjang siang hari itu dan terbangun dalam kegelapan, di tengah amukan petir. Aku menatap langit-langit apartemenku sampai hari mulai gelap, kemudian berpakaian dan berkendara ke Carterhook Manor. Aku tidak lagi membawa bunga-bungaku.
Susan membukakan pintu dengan matanya yang basah. Wajah pucatnya kelihatan bersinar dari balik kegelapan rumahnya.
“Kau benar-benar seorang paranormal,” bisiknya. “Aku baru saja hendak meneleponmu. Keadaannya semakin buruk dan tidak dapat dihentikan.” Ujarnya. Dia lalu merebahkan dirinya di sofa.
“Apa Miles dan Jack ada di sini?”
Dia mengangguk dan menunjukkan jarinya ke atas. “Miles mengatakannya padaku kemarin malam dengan sangat tenang bahwa dia akan membunuh kami,” ujarnya. “Dan aku sangat cemas karena… Wilkie…” dia kembali menangis. “Ya Tuhan.”
Seekor kucing kemudian melangkah masuk ke dalam ruangan. seekor kucing jantan yang terlihat sangat kurus dan acak-acakan. Susan menunjuknya.
“Lihat apa yang dia lakukan pada… Wilkie yang malang!”
Aku melihatnya lagi. Di panggal paha atas kucing tersebut hanya terdapat sejumput bulu. Miles telah memotong ekor kucing tersebut.
“Susan, apa kau punya laptop? Aku ingin menunjukkan sesuatu kepadamu.”
Dia membawaku ke ruang perpustakaan dan berjalan menuju meja bergaya Victoria yang jelas adalah milik suaminya. Dia menekan sebuah tombol dan perapian itu pun menyala. Dia lalu menyalakan laptopnya. Aku menunjukkan pada Susan mengenai Website dan kisah keluarga Carterhook. Aku dapat merasakan napasnya yang hangat di leherku sembari dia membaca artikelnya.
Aku menunjuk foto yang terdapat di sana; “Apakah Robert Carterhook mengingatkanmu akan seseorang?”
Susan mengangguk seolah sudah tidak sadar lagi. “Apa maksudnya ini?”
Hujan mengguyur bingkai hitam jendela. Aku ingin melihat hari yang cerah. Hawa berat di rumah ini membuatku tidak tahan.
“Susan, aku menyukaimu. Aku tidak suka banyak orang. Aku menginginkan yang terbaik untuk keluargamu. Dan kurasa aku bukan orang yang tepat.”
“Apa maksudmu?”
“Maksudku, kau perlu seseorang untuk menolongmu. Aku tidak dapat menolongmu. Ada sesuatu di rumah ini. Kurasa kau harus segera pindah dari sini. Aku tidak peduli dengan apa kata suamimu.”
“Tapi kalau kami pindah… Miles masih bersama kami.”
“Benar.”
“Kemudian… dia akan sembuh begitu kami pergi dari rumah ini?”
“Susan, aku tidak tahu pasti.”
“Aku semakin tidak mengerti apa maksudmu.”
“Maksudku, kau butuh orang lain selain aku untuk menyelesaikan masalah ini. Aku tidak mampu melakukannya. Aku tidak bisa. Kurasa kau harus pergi malam ini juga. Pergilah ke hotel. Pesan dua kamar yang bersebelahan. Kunci pintu penghubungnya. Kemudian… kita akan mencari jalan keluarnya. Tapi satu-satunya hal yang dapat kulakukan untukmu adalah menjadi temanmu.
Susan berdiri namun badannya sudah hampir roboh, dia memegang tenggorokannya. Dia mendorongku agar menjauh darinya, lalu meminta izin dengan berbisik, dan pergi menghilang keluar ruangan. Aku menunggunya. Pergelangan tanganku kembali berdenyut sakit. Aku mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan yang terisi penuh oleh buku ini. Tidak ada pesta yang akan mengundangku. Tidak ada kesempatan untuk dapat diperkenalkan dengan teman-teman yang kaya raya. Aku menghancurkan peluang besarku; aku memberikan jawaban yang tidak diinginkannya. Tapi kali ini aku merasa telah menjadi orang baik. Bukan berarti aku mengatakannya pada diriku sendiri, tapi aku benar-benar merasa begitu.
Aku melihat bayangan Susan melewati pintu dan turun melewati tangga. Kemudian Miles berlari mengejar di belakangnya.
“Susan!” teriakku. Aku masih berdiri tapi aku tidak dapat mengendalikan diriku agar pergi keluar dari ruangan ini. Aku mendengar sebuah bisikan. Bisikan tersebut terdengar seperti teriakan dan kemarahan. Kemudian hening. Dan masih hening. Kukatakan pada diriku sendiri bahwa aku harus keluar. Tapi aku terlalu ketakutan untuk pergi sendirian ke koridor yang gelap itu.
“Susan!”
__ADS_1
Seorang anak yang meneror adiknya dan mengancam ibu tirinya. Seorang anak yang dengan tenang mengatakan bahwa aku akan mati. Seorang anak yang memotong ekor kucing. Sebuah rumah yang menyerang yang memanipulasi penghuninya. Sebuah rumah yang telah menyaksikan empat kematian dan masih ingin lagi. Aku meyakinkan diriku agar tetap tenang. Koridor tersebut masih gelap. Tidak ada tanda-tanda keberadaan Susan. Aku masih berdiri kemudian mulai bejalan ke arah pintu.
Miles tiba-tiba muncul di ambang pintu, dia berdiri tegak dan kaku, masih mengenakan seragam sekolahnya. Dia mencegat jalan keluarku.
“Sudah kukatakan padamu agar jangan kembali lagi kemari, tapi kau masih saja kembali—kau kembali lagi dan lagi,” katanya dengan penuh alasan seolah dia sedang berbicara dengan seorang anak yang sedang dihukum. “Kau tahu bahwa kau akan mati, ‘kan?”
“Di mana Susan, Miles?” aku melangkah mundur. Dia berjalan ke arahku. Dia hanya seorang anak kecil, tapi sudah dapat membuatku ketakutan. “Apa yang kau lakukan dengan Susan?”
“Kau masih tidak mengerti, ya?” ujarnya. “Malam ini adalah malam kematian kita.”
“Maaf Miles, aku tidak bermaksud membuatmu marah.”
Dia kemudian tertawa terbahak-bahak hingga matanya berkerut.
“Tidak, kau salah paham. Dialah yang akan membunuhmu. Susan akan membunuhmu lalu membunuhku. Lihatlah ruangan ini. Kau pikir kau berada di sini karena kebetulan? Lihatlah dengan jelas. Lihatlah buku-buku ini dengan cermat.”
Aku telah melihat buku-buku ini dengan jelas. Setiap kali aku membersihkan ruangan ini, aku melihat seluruh buku yang ada di sini. Aku membayangkan akan mencuri satu atau dua buku untuk klub buku kecilku dengan…
Dengan Mike. Pelanggan favoritku. Setiap buku yang pernah kubaca bersama Mike selama beberapa tahun belakangan ada di sini. The Woman in White, The Turn of The Srew, The Haunting Hill House. Aku hanya memberikan selamat kepada diriku sendiri ketika aku melihatnya—betapa pintarnya aku karena telah membaca buku-buku untuk orang jenius ini. Tapi ternyata aku bukanlah seorang kutu buku, aku hanyalah seorang pelacur bodoh di perpustakaan yang tepat. Miles mengeluarkan sebuah foto dari laci meja, sebuah foto pernikahan. Sinar mentari di musim panas di belakang mempelai wanita dan pria membuat gambar mereka sedikit gelap. Susan terlihat sangat cantik, sangat anggun, versi ceria dari seorang wanita yang kukenal. Mempelai prianya? Aku hampir tidak mengenali wajahnya, tapi aku sangat kenal dengan penisnya. Aku telah memasturbasi suami Susan selama dua tahun!
Miles memperhatikanku, matanya meruncing, seperti seorang komedian yang menunggu penontonnya mengerti leluconnya.
“Dia akan membunuhmu, dan aku yakin dia akan membunuhku juga.” Ujarnya.
“Apa maksudmu?”
“Dia sedang memanggil polisi sekarang. Dia memintaku untuk mengulur waktu. Ketika dia tiba kemari, dia akan menembakmu, dan dia akan mengatakan kepada polisi salah satu dari dua cerita berikut ini. Satu; kau adalah penipu yang mengaku punya kekuatan supranatural untuk memangsa orang-orang yang tidak berdaya. Kau mengatakan pada Susan kalau kau dapat menolong putranya yang tidak stabil secara mental—dan dia mempercayaimu—tapi yang malah kau lakukan adalah datang ke rumah ini dan mencuri barang-barang miliknya. Ketika dia mencoba berbicara denganmu, kau menjadi kasar, kau menembakku, kemudian dia menembakmu dengan alasan mempertahankan diri.”
“Aku tidak suka cerita yang pertama ini. Apa pilihan yang lainnya?”
“Kau benar-benar mempunyai kekuatan supranatural. Kau percaya bahwa rumah ini menghantuiku. Tapi ternyata aku tidak dirasuki oleh roh jahat, aku hanya sekedar remaja sociopath biasa. Kau menekanku terlalu keras, lalu aku membunuhmu. Dia dan aku berusaha meraih pistol tersebut, lalu dia menembakku dengan alasan mempertahankan diri.”
“Kenapa dia ingin membunuhmu?”
“Dia tidak menyukaiku, dia tidak pernah menyukaiku. Aku bukan anaknya. Dia mencoba membawaku kembali ke ibuku, tapi ibuku sama sekali tidak ingin membesarkanku. Kemudian dia mencoba mengusirku ke sekolah asrama tapi ayahku tidak menyetujuinya. Dia pastinya ingin aku mati. Memang begitulah dia. Begitulah caranya bekerja; dia mencari dan melenyapkan masalah. Dia orang yang sangat jahat.
“Tapi dia terlihat sangat…”
“Tidak berdaya? Jelas tidak. Dia ingin kau berpikir begitu. Dia adalah seorang eksekutif sukses yang cantik. Dia dari kalangan atas. Tapi kau perlu berpikir seolah kau sedang memangsa orang yang lebih lemah dari pada kau. Kau harus merasa di atas. Apa aku salah? Bukankah begitu caramu bekerja? Memanipulasi orang yang mudah dimanipulasi?”
Ibuku dan aku memainkan permainan itu selama satu dekade; berpakaian dan berpura-pura menjadi orang yang harus dikasihani. Aku tidak menyangka malah akan menjadi korban itu sendiri.
“Dia ingin membunuhku… karena ayahmu?”
“Susan Burke mempunyai pernikahan yang sempurna, dan kau merusaknya. Ayahku kini sudah pergi.”
“Kuyakin hanya karena memiliki beberapa… ‘pertemanan’ dengan wanita lain bukanlah alasan kepergian ayahmu.”
“Paling tidak Susan percaya dengan alasan itu. Itulah masalah yang telah ditemukannya dan kini dia berencana untuk melenyapkannya.”
“Apa ayahmu tahu kalau… aku di sini?”
“Belum. Dia memang selalu bepergian. Tapi begitu ayahku mengetahui kalau kita telah mati dan mendengar ceritanya dari Susan; begitu Susan mengatakan padanya kalau dia ketakutan dan menemukan kartu nama seorang paranormal di dalam buku Rebecca-nya, dan dengan putus asa meminta pertolongan darinya… bayangkan rasa bersalahnya. Anaknya mati karena dia ingin dimasturbasi oleh wanita lain. Istrinya terpaksa mempertahankan keluarganya dan membunuh seseorang karena dia menggunakan jasa masturbasi. Rasa bersalahnya yang begitu besar akan mencegahnya untuk memberikan maaf padamu. Dan itulah intinya.”
“Begitukah dia menemukanku? Dari kartu nama?”
“Susan menemukan kartu namamu. Dia pikir itu aneh. Janggal. Ayahku suka cerita hantu, tapi dia orang sangat skeptis—dia tidak akan pernah mendatangi seorang peramal. Tapi lain halnya jika… dia bukan seorang peramal. Dia mengikuti ayahku. Dia membuat janji bertemu. Kemudian kau berjalan keluar dari ruang belakang dengan buku The Woman in White, dan dari situlah dia mengetahuinya.”
“Lalu dia menceritakan semua rahasia ini kepadamu.”
“Awalnya aku menganggapnya sebagai pujian,” jelasnya. “Kemudian kusadari bahwa dia hanya ingin mencoba mengalihkan perhatianku. Dia mengatakan padaku rencananya untuk membunuhmu sehingga aku tidak akan menyadari bahwa dia juga akan membunuhku.”
“Kenapa dia tidak menembakku di tempat sepi saja dari dulu?”
“Kalau begitu ayahku tidak akan menderita. Dan bagaimana kalau dia ketahuan? Tidak. Dia ingin membunuhmu di sini, di mana dia akan terlihat sebagai korban. Itulah cara yang paling mudah. Jadi dia membuat-buat cerita rumah berhantu itu untuk memancingmu agar datang kemari. Carterhook Manor, sangat mengerikan.”
“Tapi cerita itu kubaca di internet.”
“Cerita keluarga Carterhook itu hanyalah fiksi belaka. Oke, mungkin itu nyata, tapi mereka tidak mati dengan cara seperti yang kau baca.”
“Aku benar-benar membacanya.”
“Kau membacanya karena Susan-lah yang menulis cerita tersebut. Begitulah internet. Apakah kau tahu betapa mudahnya membuat sebuah halaman website? Kemudian membuat beberapa link yang merujuk ke situsmu, lalu membiarkan orang menemukannya dan menambahkannya ke halaman web mereka? Itu amat sangat mudah. Khususnya untuk seseorang seperti Susan.”
“Tapi foto itu terlihat seperti…”
“Apa kau pernah ke pasar loak? Ada bertumpuk-tumpuk foto tua seperti itu di sana, hanya satu dolar per lembarnya. Bukan hal yang sulit untuk menemukan foto anak kecil yang menyerupaiku. Khususnya jika kau mengenal seseorang yang mudah percaya. Seperti kau.”
“Bagaimana dengan rembesan darah di dinding?”
“Itu hanya cerita yang dibuat-buatnya. Dia ingin menciptakan mood horror agar kau perlahan percaya padanya. Dia tahu kau suka cerita hantu. Dia ingin kau datang dan mempercayainya. Dia suka membuat orang menjadi gila. Dia ingin kau menjadi temannya, mencemaskan dirinya, dan kemudian—bam!—membuatmu terkejut ketika kau menyadari bahwa kau akan mati, dan kau ketakutan terhadap hal yang salah. Dia membuat seluruh indramu mengkhianatimu.”
Miles menyeringai kepadaku.
“Siapa yang memotong ekor kucingmu?”
“Itu adalah seekor kucing manx, bodoh, mereka tidak punya ekor. Bisakah aku menjawab pertanyaan-pertanyaan yang lain di jalan saja? Aku lebih memilih untuk tidak menunggu dan mati di sini.”
“Kau ingin ikut denganku?”
“Coba kupikir-pikir dulu; pergi denganmu atau tetap tinggal dan mati. Yeah, aku lebih memilih pergi denganmu. Dia mungkin sudah selesai menelepon. Dia kini mungkin berada di bawah tangga. Aku sudah memasang tangga darurat di kamarku.”
Suara sepatu heels Susan bergema dari seberang ruang santai dan menuju tangga. Susan berada dua lantai di bawah dan berlari naik ke atas sambil memanggil-manggil namaku.
“Tolong bawa aku bersamamu,” pintanya. “Tolonglah. Hanya sampai ayahku pulang. Tolonglah, aku sangat ketakutan.”
“Bagaimana dengan jack?”
“Dia sangat menyukai Jack. Dia hanya ingin menyingkirkan kita.”
Suara langkah kaki Susan kini sudah terdengar dari lantai bawah dan masih naik.
Kami melarikan diri dengan tangga darurat. Rasanya sangat dramatis.
Kami sudah berada di dalam mobilku, lalu aku melajukannya sebelum menyadari ke mana aku akan pergi. Wajah pucat Miles memantulkan sinar lampu dari mobil-mobil yang berjalan dari arah berlawanan. Rintik hujan mengalir dari dahi ke pipinya lalu turun ke dagunya.
“Telepon ayahmu,” kataku.
“Ayahku kini ada di Afrika.”
Hujan membasahi atap mobilku yang mungil. Susan Burke (penipu ulung!) sudah meracuniku dengan ketakutan terhadap rumah itu, aku telah gila dibuatnya. Sekarang yang kubayangkan adalah; seorang wanita sukses yang menikahi pria kaya. Mereka memiliki anak yang sangat tampan. Hidup mereka sangat sempurna kecuali satu hal; anak tiri yang aneh. Aku mempercayainya ketika dia mengatakan padaku bahwa Miles selalu bersikap dingin terhadapnya. Aku kini yakin bahwa dialah yang selalu bersikap dingin terhadap Miles. Aku yakin dia memang sudah sedari awal mencoba menyingkirkan Miles.
Seseorang yang sangat perhitungan seperti Susan Burke pastinya tidak ingin membesarkan anak aneh dari wanita lain. Kekejaman Susan terhadap anak pertamanya merusak hubungan mereka. Suaminya pergi darinya. Sentuhannya kini terasa dingin bagi suaminya. Suaminya lalu pergi menemuiku dan terus-terusan menemuiku. Kami punya banyak kesamaan dengan buku-buku, dia mencoba membohongi dirinya sendiri bahwa dia sedang berhubungan dengan wanita lain sementara hubungannya dengan Susan semakin kacau balau. Dia akhirnya memutuskan untuk pergi dan meninggalkan Miles karena dia bepergian ke luar negeri—segera setelah dia kembali pulang, dia akan mengatur semuanya. (semua ini murni hanya tebakanku belaka, tapi Mike yang kukenal, yang selalu tertawa renyah ketika dia datang, terlihat seperti pria yang akan mengambil kembali anaknya.) Sayangnya Susan mengetahui rahasianya dan menyalahkanku atas kehancuran rumah tangganya. Bayangkan amarahnya ketika dia mengetahui seorang wanita rendahan sepertiku berselingkuh dengan suaminya.
Dan sekarang dia harus tinggal dengan seorang anak aneh dan sebuah rumah yang tidak disukainya. Bagaimana menyelesaikan masalahnya? Dia mulai merencanakan sesuatu. Dia memancingku ke rumahnya. Miles memperingatiku dengan caranya yang tidak jelas, mempermainkanku, menikmati sedikit permainannya. Susan mengatakan sesuatu yang tidak jelas kepada tetangga—bahwa aku di sana untuk menolong Miles yang malang—sehingga ketika kebenarannya terkuak—bahwa aku adalah mantan pekerja prostitusi dan penipu—Susan akan terlihat hancur dan menyedihkan. Dan aku akan terihat seperti orang yang jahat. Itulah cara yang paling sempurna untuk menjalankan sebuah kejahatan.
Miles melihatku dengan wajahnya yang besar dan penuh senyuman.
“Apa kau sadar bahwa sekarang kau adalah seorang penculik?” katanya.
“Kurasa kita harus pergi ke kantor polisi.”
“Kita harus pergi ke Chattanooga, Tenessee,” perintahnya, dan entah kenapa terdengar tidak sabaran seolah sedang menjalankan rencana yang telah disusunnya sejak lama. “Ada festival Bloodwillow yang diselenggarakan di sana tahun ini. Festival itu selalu diadakan di luar negeri—ini adalah yang pertama kalinya festival itu diadakan kembali di Amerika Serikat sejak 1978.”
“Alu tidak mengerti apa maksudmu.”
“Itu adalah pertemuan supranatural terbesar di dunia. Susan tidak mengizinkanku pergi ke sana. Jadi kau harus membawaku ke sana. Kupikir kau akan senang—bukankah kau suka cerita horor?. Kita bisa tiba di jalan tol jika kau berbelok ke kiri di persimpangan ketiga dari sini.”
“Aku tidak akan membawamu ke Chattanooga.”
“Kau harus. Akulah yang berkuasa sekarang.”
“Kau ini sedang bermimpi, nak.”
“Dan kau adalah seorang pencuri, dan sekarang sedang menculik seorang anak kecil.”
“Aku tidak melakukan keduanya.”
“Susan tidak memanggil polisi karena dia ingin membunuhmu.” Dia mulai tertawa. “Dia memanggil polisi karena aku melihatmu mencuri. Perhiasannya hilang satu per satu.” Dia menepuk kantong blazernya. Aku mendengar suara berdenting di baliknya.
“Sekarang dia kembali ke lantai atas dan menemukan anak tirinya yang bermasalah diculik oleh mantan pekerja prostitusi yang sekaligus juga seorang pencuri dan peramal gadungan. Jadi kita harus bersembunyi selama beberapa hari. Tenang saja, Bloodwillow tidak akan dimulai sampai hari kamis.”
“Susan ingin membunuhku karena dia mengetahui tentang hubunganku dengan ayahmu.”
“Kau bisa mengatakan yang sejujurnya bahwa kau memasturbasi ayahku,” ujarnya. “Aku tidak akan tersinggung.”
“Susan mengetahuinya.”
“Susan tidak mengetahui apa-apa. Dia benar-benar seorang idiot yang pintar. Aku tahu itu. Aku meminjam buku ayahku sepanjang waktu. Aku menemukan kartu namamu, aku menemukan catatanmu di pinggiran buku. Aku pergi ke tempat kerjamu dan mengetahui segalanya. Sebagian yang Susan katakan benar; dia memang menyangka aku ini aneh.
Ketika kami pindah kemari—setelah kukatakan padanya aku tidak mau, kurasa aku sudah sangat jelas mengatakan kepadanya kalau aku benar-benar tidak ingin pindah—aku mulai membuat-buat kejadian aneh di dalam rumah. Hanya untuk menjahilinya. Akulah yang membuat website tersebut. Aku. Aku mengarang cerita mengenai keluarga Carterhook. Aku menggiring Susan untuk menemuimu, hanya untuk melihat apakah dia akan dapat menyadarinya lalu pergi dari sana. Tapi ternyata tidak, dia malah mempercayai omong kosongmu.”
“Jadi Susan mengatakan yang sebenarnya, tentang semua hal-hal mengerikan yang terjadi di rumahnya. Kau benar-benar mengancam untuk membunuh adikmu?”
“Itulah yang sangat kusayangkan, dia percaya begitu saja tanpa meragukan sedikitpun apakah aku akan benar-benar melakukannya atau tidak.”
“Kau memang menyerang pengasuhmu hingga terjatuh dari tangga?”
“Ya ampun, dia terjatuh. Aku tidak sekasar itu, aku hanya cerdas.”
“Dan bagaimana dengan hari itu, ketika kau muntah ke dalam tasku, teriakanmu di lantai atas, dan boneka yang menggantung?”
“Aku memang muntah ke dalam tasmu karena kau tidak mau mendengarkanku. Kau tidak mau pergi. Boneka itu juga aku yang membuatnya. Juga ujung pisau cukur di lantai yang melukai jarimu. Sebenarnya itu adalah ide yang terinsprirasi dari strategi perang asal Roma. Apa kau pernah membaca…”
“Tidak. Bagaimana dengan teriakan itu? Kau terdengar sangat marah saat itu.”
“Oh, itu tidak dibuat-buat. Susan menggunting kartu kreditku dan meninggalkannya di atas meja. Dia mencoba mengurungku. Tapi kemudian aku menyadari bahwa kau adalah satu-satunya kesempatanku agar dapat keluar dari rumah sialan itu. Aku perlu orang dewasa untuk melakukan segalanya, sungguh; mengendarai mobil, menginap di kamar hotel.
Karena aku terlihat lebih muda daripada umurku. Umurku lima belas tahun tapi aku terlihat seperti anak berusia dua belas. Aku butuh seseorang seperti dirimu agar dapat pergi ke mana-mana. Karena aku tahu kau tidak akan ke kantor polisi. Aku yakin orang sepertimu pasti punya catatan kriminal.”
Miles benar. Orang-orang sepertiku tidak akan pernah pergi ke kantor polisi, karena mereka tidak akan pernah percaya pada kami dan alih-alih kamilah yang akan dipenjara.
“Belok kiri di sini,” perintahnya.
Aku pun membelokkan mobilku ke kiri.
Aku mempercayai ceritanya, lalu berbelok, dan memeriksa tempat tersebut. tunggu dulu.
“Tunggu. Susan berkata bahwa kau memotong ekor kucingmu. Kau bilang itu adalah seekor manx…”
Dia kemudian tersenyum.
“Ha! Pertanyaan yang bagus. Jadi sekarang kau tahu seseorang telah berbohong padamu. Kurasa kau sendirilah yang harus memutuskan untuk mempercayai cerita siapa yang kau percayai. Apa kau ingin percaya bahwa Susan-lah yang gila atau aku, itu kuserahkan padamu. Yang mana yang akan membuatmu merasa nyaman? Awalnya kupikir akan lebih baik kalau kau berpikir bahwa Susan lah yang gila—sehingga kau akan menjadi simpatis terhadap keadaanku, dan kita bisa menjadi teman. Teman seperjalanan. Tapi kemudian aku berpikir; mungkin akan lebih baik jika kau berpikir akulah yang jahat. Mungkin dengan begitu kau akan mengerti bahwa akulah yang berkuasa di sini… bagaimana menurutmu?”
Kami hening sepanjang jalan sementara aku menimbang-nimbang pilihanku.
Miles kemudian memotong, “Maksudku, aku yakin ini hal yang menguntungkan bagi kita bertiga. Jika Susan memang gila dan ingin kita lenyap dari hadapannya, well, kita memang pergi dari hadapannya sekarang.”
“Apa yang akan dia katakan pada ayahmu ketika dia pulang nanti?”
“Itu tergantung dengan cerita mana yang ingin kau percayai.”
“Apa ayahmu sekarang memang berada di Afrika?”
“Kurasa ayahku bukanlah faktor yang harus kau pertimbangkan dalam membuat keputusan.”
“Ok, bagaimana kalau kau lah yang gila, Miles? Ibumu akan memanggil polisi untuk mengejar kita.”
“Berhenti di parkiran gereja sana.”
Aku mengamatinya dari atas ke bawah, mencari jika dia membawa senjata. Aku tidak ingin menjadi mayat yang dibuang di halaman gereja yang terbengkalai.
“Lakukan saja, ok?” bentak Miles.
Aku berhenti di halaman parkir gereja yang berada dekat pintu masuk jalan tol. Miles segera melompat keluar menerobos hujan lalu berlari menaiki tangga dan berhenti di bawah atap pintu depan gereja. Dia mengeluarkan handphone dari blazernya dan menelepon seseorang, dia memunggungiku. Dia berbicara di telepon selama satu menit. Kemudian dia membanting teleponnya ke lantai, lalu menginjak-injaknya beberapa kali, dan berlari kembali ke dalam mobil. Baunya tercium seperti aroma di musim semi.
“Ok, aku baru saja menelepon ibu tiriku. Aku mengatakan padanya bahwa kau membuatku gila, aku sudah muak dengan rumah itu dan semua tingkahnya yang aneh—kebiasaannya membawa masuk orang-orang yang tidak menyenangkan—sehingga aku melarikan diri dan tinggal di rumah ayahku. Kubilang padanya dia baru saja kembali dari Afrika, jadi aku akan tinggal di sana. Dia tidak akan pernah menelepon ayahku.”
Dan dia juga telah menghancurkan handphonenya sehingga aku tidak akan pernah tahu kalau dia benar-benar telah menelepon Susan atau jika dia hanya berpura-pura lagi.
“Dan apa yang akan kau katakan pada ayahmu?”
“Ingat, kalau kau mempunyai dua orang tua yang saling membenci dan sibuk bekerja atau bepergian dan ingin kau pergi dari kehidupan mereka, kau dapat mengatakan bermacam-macam alasan. Kau punya ribuan alasan yang dapat kau pilih. Jadi kau tidak perlu khawatir. Lewati jalan tol ini dan akan ada sebuah motel sekitar tiga jam dari sini. Mereka mempunyai TV kabel dan restauran.”
Aku pun berjalan di jalan tol. Anak ini sangat pintar walau hanya berumur lima belas tahun. Bahkan lebih pintar dariku saat umurku dua kali lipat darinya. Aku mulai mempercayai bahwa inilah tindakan yang benar; bahwa kebajikan hanyalah untuk orang-orang aneh. Aku mulai berpikir anak ini mungkin akan menjadi partner yang baik.
Anak remaja mungil ini membutuhkan orang dewasa untuk dapat bergerak di dunia ini, dan tidak ada hal lain yang dibutuhkan oleh seorang penipu wanita selain anak-anak. “Apa pekerjaanmu?” Tanya orang-orang nantinya, dan aku akan berkata, “Aku adalah seorang ibu.” Bayangkan hal-hal yang dapat kuselesaikan dan penipuan yang dapat kulakukan jika orang berpikir bahwa aku adalah seorang ibu.
Lagipula pertemuan Bloodwillow itu terdengar keren.
Kami berhenti di sebuah motel tiga jam kemudian, seperti yang telah Miles perkirakan. Kami memesan kamar yang bersebelahan.
“Tidurlah yang pulas,” ujar Miles. “Jangan berani pergi di malam hari, atau aku akan memanggil polisi dan menceritakan bahwa kau menculikku. Aku bersumpah itulah terakhir kalinya aku akan mengancammu, aku tidak ingin dianggap bajingan. Tapi kita harus pergi ke Chattanooga! Kita akan bersenang-senang di sana. Aku tidak percaya bahwa aku akan ke sana. Aku sudah sangat ingin pergi ke sana sejak kecil!” Miles kemudian menari tarian kegirangan yang aneh lalu masuk ke kamarnya.
Sepertinya dia seorang anak yang cukup menyenangkan. Tapi dia juga mungkin seorang sociopath. Aku akan pergi dengan anak cerdas ke tempat di mana setiap orang ingin mendiskusikan buku. Akhirnya aku akan pergi meninggalkan kota ini untuk yang pertama kalinya dalam hidupku, dan sekarang aku dapat bersikap seperti ibu baru.
Aku memutuskan untuk tidak mencemaskan apapun; aku mungkin tidak akan pernah mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di Carterhook Manor. Tapi pilihanku sekarang adalah antara mengacaukan segalanya atau tidak, jadi kupilih untuk percaya bahwa aku tidak akan mengacaukan segalanya kali ini. Aku telah meyakinkan banyak orang untuk percaya akan banyak hal selama hidupku, tapi ini mungkin akan menjadi pencapaian terbesarku; meyakinkan diriku sendiri bahwa apa yang kulakukan sebenarnya beralasan. Bukan hal yang baik, tapi paling tidak beralasan.
Aku naik ke ranjang dan memperhatikan pintu penghubung di kamarku. Aku kemudian mengecek kuncinya, lalu mematikan lampu, menatap langit-langit, lalu kembali melihat ke pintu penghubung.
Kugeser lemari pakaian ke depan pintu tersebut.
Sekarang tidak ada lagi yang harus kucemaskan.
...[selesai]...
...****************...
😧 Kali ini author crazy up berkali kali lipat dari sebelumnya karana.... eumm nggak tau juga sih kenapa mungkin karana mau ujian kali ya 🤔🤔🤔
Sebenarnya banyak sih draft yang author punya tapi baru 500 kata
tapi nanti jika kalian mau author crazy up lebih sering lagi kalian harus sering sering nih semangatin author dangan cara beri tips rate bintang 5 Vote komen like papay
***Vote
Komen
Like***
__ADS_1
Note\= Crazy Up 11684 kata dalam 5 hari
Ini hanya salinan dari novel kemarin