
End of the Line
*ALISON L. RANDALL
Genre: Komedi
...****************...
End of the Line
ALISON L. RANDALL
[Di Ujung Saluran Telepon]
Alison L. Randall
Ketika Frank dan aku melangkah masuk ke kantor pos, di sana kami melihat ada keramaian. Semua orang sedang melongo melihat sebuah mesin yang tertempel di dinding. Aku harus melihat lebih dekat. Untunglah aku memiliki tubuh yang lebih ramping daripada pagar kawat dan tubuh Frank, kembaranku yang berumur sebelas tahun, sama saja denganku.
“Ayo.” Ajakku sambil menggenggam tangannya, dan kami pun lolos melewati celah-celah manusia di keramaian tersebut sampai akhirnya kami berada di barisan terdepan.
Akhirnya aku bisa melihatnya dengan jelas. Mesin itu ditempel di samping jendela kepala kantor pos, tempat kehormatan biasanya dikhususkan untuk poster-poster buronan. Poster Zedekiah Smith, perampok bank yang bermata seperti manik-manik, masih tergantung di sana, tapi posternya sudah di geser sedikit ke samping untuk memberi tempat pada sesuatu yang lebih penting.
Sebuah mesin telepon yang pertama di kota kecil kami.
“Bagaimana cara kerjanya?” Tanya Noah Crawford. Noah adalah tukang perbaikan keliling terhebat, dan aku yakin dia dari tadi sudah tidak sabar untuk menyentuhkan jari-jarinya di tombol-tombol yang berkilauan itu.
“Aku tidak terlalu paham,” jawab kepala kantor pos sambil mengusap-usap janggut kambingnya seolah-olah tindakan itu akan memberikannya jawaban. “Katanya, suara kita akan berjalan di sepanjang kabel-kabel yang bergantungan di atas tiang. Sama seperti telegraph, hanya saja yang muncul adalah suara, bukan titik-titik atau garis lurus.
“Ah,” bisik orang-orang dengan tidak jelas, dan aku merasa mulutku sendiri juga ikut-ikutan.
Aku menatap kotak kayu yang bersinar itu dan entah bagaimana aku merasakan sesuatu. Sebuah perasaan seperti sedang jatuh cinta. Pikiranku segera dipenuhi dengan keinginan untuk berbicara dengan kotak tersebut, dan membuat suaraku berlayar melewati kabel-kabel yang ada di langit. Aku tidak bisa melepaskan pikiranku dari kotak itu.
“Frank,” bisikku. “Aku ingin sekali menggunakan telepon itu.”
Lima menit berikutnya, Frank menyeretku ke jalan menuju rumah. “Liza–“ ujarnya, tapi aku langsung memotongnya. Kami berdua memiliki pikiran yang sama, aku bisa menjawab pertanyaan Frank bahkan sebelum dia bertanya.
“Kau benar,” kataku. “Biayanya lima sen dan aku tidak punya uang sebanyak itu. Tapi lihat.” Aku menariknya dan menunjuk ke jendela toko tuan Poulson. “Kau lihat itu?”
Aku menunjuk pada tumpukan batu berkilau yang berserakan di atas kain beludru hitam. Beberapanya berwarna abu-abu mengilat yang dilapisi dengan emas, yang lainnya berwarna seperti keju. Dan ada satu yang terlihat jelas dan bergerigi, duduk seperti tetesan air yang membeku, seperti sisa dari musim dingin.
Alis mata Frank terlihat tak karuan dan aku yakin dia tidak mengerti maksudku.
“Jika aku dapat menemukan batu seperti itu, aku dapat menjualnya di sana.” Jelasku.
Frank hanya menggelengkan kepalanya, lalu berkata, “Tapi Liza–“
Aku mengangkat salah satu tangannya—aku telah mengetahui apa yang hendak dia katakan. “Aku juga sudah memikirkannya. Aku berani bertaruh kalau kita pasti bisa menemukan batu seperti itu di sekitar sungai North Creek yang berada di dekat pertambangan.”
Frank mengangkat bahunya, berbura-pura tidak peduli, tapi aku lebih tahu tentang dia. Dia ingin menjelajahi tambang tua tersebut, sama sepertiku. Lagipula, Frank tahu dia tidak punya pilihan lain. Anak kembar selalu bersama-sama, khususnya yang ceking seperti kami, karena kami harus selalu menyatukan tenaga agar mendapatkan kekuatan yang sama seperti orang bertubuh normal.
Kami menghabiskan setengah dari pagi kami di jalan yang berdebu ke North Creek. Ibu membungkuskan kami sebuah bekal makan siang tapi dia tidak mengerti kenapa kami harus berjalan sejauh itu hanya untuk mencari batu. Ibu mengira kami pergi mencari bebatuan di dasar sungai kering, dan aku tidak berusaha mengoreksinya.
Aku merasa sedikit bersalah karena membohongi ibuku, tapi pikiran bahwa suaraku akan menari di sepanjang kabel di langit mengusir semua rasa bersalahku.
Kami sampai di tempat tujuan sekitar siang hari. Lubang di tebing yang tertutupi tumbuh-tumbuhan sudah ditopang dengan kayu yang kuat dan terlihat seperti bingkai foto tanpa foto.
Aku melangkah masuk, bulu roma di lenganku berdiri karena dihembus udara dingin. Bau lumut dan tiang lapuk mengambang di udara, dan juga bau keringat kuda dan kayu yang terbakar. Aneh. Tambang itu sudah lama ditinggalkan oleh para penambang.
Saat mataku sudah mulai terbiasa dengan pencahayaan yang suram di sana, aku melihat ke sekelilingku, berharap untuk dapat melihat bebatuan yang berkilau. Namun hanya debu yang dapat kulihat di sana. Frank berjalan titik di mana dindingnya menyempit, lalu menghilang di sekitar tikungan. Aku mengikutinya dengan cepat.
__ADS_1
Aku berada di belakang Frank ketika, ting, sepatunya bersentuhan dengan sebuah metal. Dia berhenti, mengambil sesuatu dari tanah, dan ketika dia berdiri, tangannya menggenggam sesuatu yang lebih dari kami harapkan.
Sebuah koin emas. Mata Frank hampir saja melompat keluar.
“Dari mana kau mengambilnya?” Bisikku pada Frank dan mengambil koin emas itu dari tangannya*.
Lalu tiba-tiba, terdengar sebuah suara yang datang dari gua besar di seberang. “Zed, pengang itu lebih tinggi.” Kemudian muncullah dua sosok laki-laki yang melangkah keluar melalui sebuah lubang di dinding.
Mereka tidak terlihat seperti penambang. Aku tahu hanya dengan melihat mereka dalam sekejap. Mereka memakai pakaian berkuda dengan sepatu kulit. Seseorang dari mereka memegang tas sandang di atas pundaknya dan mempunyai kumis yang panjang sampai melewati rahangnya. Yang satunya mengenakan topi usang, wajahnya tersembunyi di balik bayangan. Ketika dia menaikkan lenteranya, pantulan cahaya bersinar dengan terang di mata manik-maniknya.
Dia adalah Zedekiah Smith, sang perampok bank.
Aku menempelkan tubuhku ke dinding yang gelap, berharap agar tidak terlihat oleh mereka. Frank duduk membungkuk, menyembunyikan kepalanya di kerah bajunya. Tapi kali ini kami tidak cukup kurus.
“Hey!” laki-laki yang berkumis menunjuk, lalu menjatuhkan tas sandangnya dan mengejar kami.
Aku mencoba untuk berlari juga, tapi aku jatuh tersandung karena menabrak punggung Frank. Setelah kembali siuman, Frank dan aku berada di tanah, kaki kami ditarik oleh tangan yang berkuku tajam.
“Lihat ini, Zed.” Ujar orang yang menyekap kami, “Sepasang mata-mata.”
“Bukan,” bantahku. “Kami bukan mata-mata. Kami sedang mencari bebatuan untuk dijual. Ada telepon baru di kota, dan aku hanya ingin—Ow!”
Lelaki berkumis menjambak rambutku. “Apa dia selalu banyak bicara seperti ini?” tanyanya pada Frank. Dan Frank, sang penghianat, mengangguk.
“Mencari batu, eh?” lelaki berkumis membuka jari-jari Frank dengan paksa. Koin emas itu berkilau di bawah cahaya lentera. “Lihat ini, Zed. Pasti terjatuh.”
Zedekiah Smith melangkah maju dan mengambil koin di genggaman Frank. “Kau tidak ingin ini, nak. Ini adalah uang kotor.”
“Kau yang membuatnya begitu,” kataku padanya. “Kau mencurinya.”
Zedekiah Smith menyipitkan matanya, dan membuatnya menjadi terlihat benar-benar seperti manik-manik. “Caleb benar. Kau memang banyak bicara.”
Lima menit berikutnya, Frank dan aku saling memunggungi di tanah.
“Tempat ini tidak akan berbahaya tanpa kalian,” omelku, dan Frank menjadi semakin ketakutan.
“Tentu saja di sini berbahaya,” jawab Caleb. “Tambang tua adalah tempat yang berbahaya. Kalian bisa terperangkap di longsoran gua, atau digigit oleh tikus-tikus pengerat. Beruntunglah kalian hanya bertemu kami. He… he!” dia mengencangkan ikatan kami lalu berdiri. “Seseorang akan menemukan kalian dalam satu atau dua hari. Dan saat itu kami sudah pergi jauh. Benar ‘kan, Zed?”
“Ya.” Zedekiah Smith berdiri kembali, memperhatikan Caleb melakukan pekerjaan kotornya. Matanya kembali berbayang.
“Lepaskan kami,” aku memohon. “Kami tidak akan beritahu siapapun.”
“Ha!” Caleb menaikkan tas punggungnya. “Aku ingin memastikan kalian tetap menjaga mulut kalian.”
Zedekiah Smith mengambil lentera dan tanpa melihat ke belakang mereka berlalu melewati dinding batu yang terbuka. Aku mendengarkan sampai langkah mereka menghilang dalam kegelapan.
Kami berdua duduk sendirian di kegelapan yang sangat pekat sampai-sampai hidungku berhenti bekerja. Caleb benar. Ini adalah tempat yang berbahaya. Aku tidak akan sanggup bertahan bahkan hanya sehari. Dan lebih parahnya, ketika ibu menemukan badanku yang tak bernyawa, dia akan tahu bahwa aku berbohong.
Aku hampir tenggelam dalam keputusasaan, tapi Frank menarik perhatianku dengan hal yang lebih mengejutkan.
“Akhirnya,” katanya. “Aku bebas.”
Aku hampir tidak percaya ketika ikatan kami mengendur. Aku segera melompat berdiri dan mencoba untuk mencari tahu bagaimana Frank melakukannya. Ternyata itu karena Frank berhasil meloloskan pergelangan tangannya yang kurus. Itulah Frank yang sederhana. Hal yang paling mengejutkan adalah dia menemukan ide itu tanpa bantuanku.
“Phew,” aku lega karena aku mendapatkan kesempatan yang kedua. Ternyata ibu tidak akan menemukan jasadku yang tidak bernyawa. Dan untuk bagian berbohong, hm, aku akan mencoba menjelaskannya.
Tapi pertama-tama, aku akan melakukan hal yang baik untuk memulai hidupku yang baru ini. Aku akan memenjarakan para penjahat itu.
Aku menggenggam lengan Frank dan berlari. “Kita harus pergi ke kota dan melaporkan Zedekiah Smith.” Lalu sebuah ide muncul dalam benakku. “Bayangkan berapa lama panggilan telepon yang dapat kulakukan dengan uang hadiahnya.”
__ADS_1
“Liza–“ ujar Frank, tapi aku tahu ke mana arah pembicaraannya.
“Tentu saja kita akan membagi dua uang hadiahnya.”
Kami berbelok dan menabrak seseorang yang mengenakan topi. Zedekiah Smith telah kembali. Sebelum kami bisa bergerak, dia menangkap kami seolah-olah kami adalah dua babi yang siap dibantai.
“Lepaskan!” teriakku sambil memukul dadanya.
“Shh,” bisiknya. “Caleb mengira aku melupakan sesuatu.”
Aku terperanjat. “Tapi…”
“Aku kembali untuk membebaskan kalian.”
Kali ini aku susah mengisi mulutku dengan kata-kata.
“Sekarang, kalian bersembunyilah sampai aku menjauhkan Caleb,” bisiknya.
“Apa kau merasa kasihan pada kami?” Tanya Frank dan Zedekiah Smith tertawa.
“Tidak, hanya saja aku tidak cukup bernyali unuk menyakiti orang.” Dia melemaskan cengkeramannya lalu membebaskan kami, dia kemudian mundur ke belakang. “Kalian sebaiknya melakukan kewajiban kalian dan melaporkanku. Tapi ambillah ini kalau-kalau uang hadiah itu lama diberikan.” Dia merogoh kantongnya dan menarik sebuah batu kuning pucat yang bertabur dengan kristal-kristal berwarna madu. “Aku menemukannya di dasar sungai yang kering. Mungkin cukup agar kalian bisa menelepon.”
Dia meletakkannya di tanganku dan mengedipkan matanya. Lalu dia berbalik dan berjalan keluar ke arah cahaya mentari. Frank dan aku hanya bisa berdiri dengan mulut menganga seperti duet kodok bermulut lebar.
Kami baru dapat tiba di kantor sheriff esok harinya. Aku melaporkan Zedekiah Smith, seperti yang seharusnya kulakukan, tapi entah kenapa, rasanya itu tidak lagi terasa seperti perbuatan baik.
Pemberhentian kami yang selanjutnya adalah toko tuan Poulson. Mata tuan Poulson yang tua menyala-nyala saat melihat batu kristal itu. Dua puluh lima sen untuk Frank. Dia segera menghabiskannya dengan membeli permen. Aku menyimpan bagianku untuk sesuatu yang lebih monumental.
Kantor pos tidak lagi ramai. Tapi tetap saja, di sana ada beberapa orang yang lalu-lalang saat aku berjalan ke konter dan menaruh uangku.
“Aku ingin menelepon,” kataku dengan bangga.
“Kau akan menjadi yang pertama. Siapa yang akan kau telepon?” kata kepala kantor pos sambil menggosok jenggot kambingnya.
“Siapa?” suaraku menggema. Dan dalam sekejap semua mimpiku hancur berantakan. Suaraku yang menari-nari dengan baju balet pink dan payung yang berumbai-rumbai berlalu seperti rumput kering yang diterjang angin. Suaraku tdak bisa menari di sepanjang kabel dan tidak akan pernah ke mana-mana. Tidak ada seorangpun yang kukenal mempunyai telepon.
Aku berbalik ke arah Frank dan melihatnya menyeringai.
“Kau sudah tahu, ya?” tuduhku.
Dia mengidikkan bahunya. “Aku sudah mencoba memberitahumu.”
“Benarkah?” aku mengingat-ingat kembali hari sebelumnya dan sadar bahwa mungkin dia benar. Aku terlalu sibuk menggunakan mulutku sendiri.
Setelah melihat untuk yang terakhir kalinya dengan pandangan sayang ke telepon itu, aku berbalik dari konter. Mungkin permen lebih bermanfaat untuk dibeli dengan uang itu.
“Frank,” kataku sambil mengira-ngira apa yang sedang dipikirkannya, “Lain kali kalau kau mempunyai sesuatu yang ingin kau katakan, katakanlah. Aku akan mencoba dengan keras untuk mendengarkan.”
Poster buronan Zedekiah Smith terlihat mengangguk padaku saat kami melewatinya.
[selesai]
...****************...
Guys kayak nya nih cerita bakal di tamatin dan akan di ganti ke novel sebelah gak papa kan aku kan mau review ulang dan untuk kalian jangan lupa untuk tetap mendukung aku dengan cara memberi Tips Rate bintang 5 Vote komen like papay
***VOTE
KOMEN
__ADS_1
LIKE***
Note: Mini Crazy up 1930 kata