CESREM

CESREM
PART 4 PEMBUNUHAN BERANTAI


__ADS_3

Hujan begitu deras menuruni kota Busan malam ini, tak ada hentinya kala ia turun sedari siang tadi. Petir di sertai angin kencang agaknya membuat keadaan semakin mencekam, di tambah listrik yang sengaja di matikan karna cuaca yang tidak memungkinkan.


Aku tinggal sendirian sebagai pria single yang hanya mengandalkan uang kerja paruh waktu, itulah sebabnya yang dapat ku lakukan sekarang hanya terbaring menunggu keajaiban datang. Berulang kali aku mencoba mengubah posisi tidur, sayangnya tak ada satupun posisi yang membuatku nyaman. Suara gemuruh petir yang makin menjadi tak dapat sedikit pun membuatku tenang, ingin menyalakan televisi listrik dimatikan, mencoba menyalakan ponsel pun percuma batrenya sudah habis beberapa jam yang lalu. Kurasa aku akan mati kebosanan. Hujan semakin deras terdengar. Udara semakin dingin dan menusuk, aku menaikan selimut sampai sebatas dagu, perlahan mataku tertutup karna kantuk yang mulai berkunjung serta waktu yang semakin larut.


Baru 5 menit mataku terpejam, keduanya kembali terbuka karna indra pendengaranku tak sengaja mendengar samar samar teriakan dari luar yang teredam oleh suara hujan yang semakin deras. Aku mencoba menajamkan indra pendengaranku, menunggu beberapa saat untuk memastikan bahwa aku tak salah dengar


"mungkin hanya halusinasi" mencoba berfikir positif, sayangnya suasana malam ini memang terasa berbeda. Ada hal janggal yang membuat malam kali ini berbeda, aku mencoba acuh dan kembali tertidur hingga suara itu kembali datang, masuk dan menjadi bagian di dalam mimpiku


Pagi menjelang, mataku terbuka saat kulit tanganku menyentuh dinginnya ubin lantai, saat kesadaranku penuh aku mendecak sebal. Kebiasaanku yang tak pernah hilang. Setiap pagi selalu terbangun di kolong ranjang, aku bahkan heran dan bertanya tanya apakah tidurku seperti orang kesurupan? Ck terkadang aku membenci diriku sendiri. Aku beranjak dari kolong kasurku untuk bersiap siap pergi kuliah, saat bangkit berdiri, aku membelalakan mataku


"apa yang terjadi?" gumamku entah pada siapa. Tentu aku terkejut, semua pakaian serta peralatan di kamarku rusak dan berantakan, biasanya aku terbangun hanya akan mendapati diriku yang ada di bawah kolong tapi kali ini, semua barang barangku ikut berantakan


"apakah aku benar benar tidur seperti orang yang kesurupan?" pandanganku terus menyusuri setiap inci kamar, hingga noda darah membuatku berfikir ulang. Aku mengecek noda itu, siapa tau itu hanyalah gincu. Tapi kalaupun ia gincu dari mana?


"ini memang darah" baunya terasa anyir menyengat hidung, semua pakaianku berlumuran darah dan berceceran dimana mana, karna penasaran aku mencoba mengecek ruangan lainnya.


Dan...


Keadaan tidak beda jauh, semua barang barangku berceceran dan rusak, noda darah yang mengering serta baunya yang menyengat membuatku sedikit pusing. Aku mencoba meraih telepon rumah untuk menghubungi polisi setempat agar rumahku di selidiki. Baru menyentuh gagangnya telepon lebih dulu berdering, langsung saja ku angkat

__ADS_1


"yeobeseo?"


"Jungkookie! Oh ya ampun syukurlah, syukurlah!"


"eomma-"


"Jungkook kau tidak apa-apa, tidak ada yang luka? Sayang katakan pada eomma, kau tidak apa apakan?" Aku mengerutkan dahi bingung, di sebrang telpon ibu terdengar seperti sedang menangis


"a-aku baik saja eomma, ya ampun harusnya aku yang bertanya apakah eomma baik saja? Kenapa eomma menangis?"


"oh sayang, eomma benar benar cemas kaulah yang harusnya di khawatirkan sayang... Ibu benar benar hilang harapan saat melihat berita di tv" tanpa pikir panjang aku langsung menyalakan televisi. Yang pertama kali muncul di layar adalah berita yang mengatakan adanya sebuah pembunuhan berantai yang terjadi di sebuah apartemen. Bertepatan di apartemen yang tengah ku injaki sekarang. Seluruh penghuni meninggal, dan seterusnya aku tak dapat mendengar apapun bahkan suara telpon yang masih tersambung. Pandanganku memburam, gagang telpon di peganganku perlahan merosot dan jatuh kelantai. Aku terdiam untuk beberapa saat hingga suara sirine polisi mulai terdengar dari luar.


Keringat sudah membanjiri seluruh tubuhku


Noda darah dimana mana, tubuh yang terkoyak bahkan ada beberapa bagian yang terpisah dari tempat asalnya. Aku ingin muntah, rasanya benar benar mengerikan. Tubuhku perlahan merosot, merasa seluruhnya lemas karna efek pusing.


"ini polisi, apakah masih ada yang selamat?!"dua menit menanti akhirnya polisi telah sampai di tempatku berada, aku segera keluar dan langsung di evakuasi salah satu petugas. Setelahnya aku di bawa keluar tempat menyeramkan itu.


Aku sempat di bawa ke kantor untuk di tanyakan beberapa hal yang ku ketahui tentang kejadian semalam. Semua ku jelaskan dari awal aku mendengar teriakan hingga aku terbangun dengan keadaan apartemen yang sudah berantakan. Lalu aku di tanyai  tentang kenapa aku bisa selamat. Aku menjawab seadanya

__ADS_1


"aku memiliki kebiasan tak bisa diam ketika tidur, aku bahkan tidak tau kenapa, jadi setiap kali aku bangun pasti sudah ada di bawah ranjang" polisi mengangguk faham, setelahnya aku di bolehkan pulang karna ibuku yang menyusul ke kantor.


Di satu sisi aku bersyukur karna memiliki kebiasaan yang aneh seperti itu. Sebab jika bukan karna kebiasaanku itu mana mungkin aku bisa selamat dari pembunuhan berantai yang terjadi semalam. Langkahku sedikit melambat ketika mendengar pembicaraan polisi yang ada di dekat pintu keluar


"pembunuhnya belum tertangkap, dan kurasa akan sulit karna para penyidik tak menemukan satu pun barang bukti yang di tinggalkan. Sepertinya memang sudah di rencanakan"


"omong omong apakah ada korban yang selamat?"


"ada namun hanya 2 orang bahkan yang satunya sudah gila"


"sungguh?"


"ya, saat kami masuk apartemennya, hanya ada orang yang melamun sambil bergumam tak jelas. Tak ada satu pun barang sama sekali di sana. saat di intrograsi pun dia hanya melamun" segera aku menghampiri keduanya dan bertanya


"permisi tuan jika boleh aku tau, di apartemen nomer berapa dia tinggal?" mereka saling tatap, dan salah satunya menjawab pertanyaanku


"23 bersebelahan denganmu" aku terdiam sesaat, hingga keringat dingin kembali turun dari kedua pelipisku


Tapi kamar itu telah lama kosong sejak 3 tahun pertama aku pindah ke sana, bahkan tak ada satu pun orang gila yang pernah tinggal di sana. Lalu siapa orang itu?

__ADS_1


__ADS_2