
"Kakak, aku mau berhenti sekolah biar bisa membantumu mencari uang, jadi aku juga bisa bantu Ryan biar tetap bersekolah sekolah."
Perkataan Ronald membuatku berhenti membersihkan ikan yang akan aku siapkan untuk makan siang hari ini.
"Kamu dan Ryan harus tetap bersekolah, hanya itu harapan kakak. Kalian harus bisa menyelesaikan sekolah." kataku
"Tapi aku kasihan sama kakak, siang malam cari uang buat biaya kami, aku bisa berhenti selama setahun dan Ryan akan bekerja sama dulu, boleh?" balas Ronald.
"Ronald, berhentilah berpikir bahwa kamu akan berhenti sekolah, aku tidak akan membiarkanmu melakukan itu." kataku kepada Ronald yang menundukkan kepalanya di atas meja.
"Kamu tidak harus berhenti sekolah, Ronald. Aku disini untuk membantumu dan adikmu." kata Adrian tiba-tiba mengejutkan kami.
"Adrian, berhenti, kamu selalu bikin kami terkejut." kataku sambil tertawa.
Adrian Samaniego adalah sahabatku, dia selalu ada untuk membantu kami. Terkadang aku merasa malu karena hampir setiap hari dia membawakan kami makanan dan nasi.
"Alysia sudah bercerita kepadaku." katanya Adrian
Dia biasa memanggilku Alysia karena memang nama belakangku adalah Alysia, dan aku sudah terbiasa dipanggil begitu.
"Adrian, nanti malam ikutlah makan disini." aku mengundangnya.
"Sepertinya nanti akan hujan, aku akan datang kesini sekitar jam tujuh malam." kata Adrian.
"Hah? Kenapa kamu akan datang jam tujuh?"
"Aku akan mengantarmu ke mana kamu pergi, aku juga akan menjemputmu saat kamu keluar sehingga kamu bisa menghemat ongkos." jawab Adrian.
__ADS_1
"Aduh Adrian, stop... aku akan pulang sendiri, aku pulang kerja jam lima pagi." jawabku kepadanya.
"Alysia, aku jam lima juga sudah bangun. Besok aku bangun lebih awal karena ada urusan ayahku jadi aku pergi ke kantor lebih awal."
Dia masih saja sedikit memaksa, aku hanya bisa berterima kasih padanya dan tidak dapat memaksakan apa yang kuinginkan. Aku tahu dia tidak akan berhenti mengomel jika menolaknya, jadi ya sudahlah aku membiarkannya.
Tiga tahun lalu, ketika aku berusia 17 tahun, orang tua kami meninggal karena kecelakaan mobil. Sekarang usiaku 20 tahun, sejak mereka meninggal aku menanggung semua biaya hidup kedua adikku.
Aku menjadi ayah sekaligus ibu bagi mereka selama tiga tahun ini, dan selama itu Adrian tidak pernah bosan membantuku. Aku benar-benar malu padanya tapi dia selalu yang bersikeras tidak peduli apa yang aku tolak untuk dilakukannya.
Kadang-kadang ketika aku pulang kerja, aku hanya makan nasi dan lauk seadanya. Biasanya dia akan meninggalkan catatan di mejaku untuk mengingatkanku tidak boleh menolak bantuannya atau dia akan marah, jadi aku tidak bisa berbuat apa-apa. Mau tidak mau aku tetap menerima bantuannya dan berterima kasih padanya dengan sepenuh hati.
"Ronald, buruan sajikan mumpung Adrian masih disini biar kita bisa makan bersama." kataku kepada adikku.
"Oke kak, aku akan memanggil Ryan biar bisa makan bersama." jawab Ronald.
Adrian dan keluarganya memang memiliki kedekatan dengan keluargaku. Ibu kami adalah teman baik dan mungkin karena itulah kami menjadi dekat satu sama lain dan kami juga tumbuh seperti saudara.
"Oh iya, Lorna mengatakan bahwa ada restoran Italia yang baru dibuka di dekat hotel Hamilton. Barangkali kamu ingin melamar disana, katanya mereka sedang merekrut staf sekarang dan pemiliknya sendiri yang melakukan wawancara. Kalau tidak salah nama restoran yang dia katakan adalah La Cuèsta." kata Adrian sebelum dia pulang.
"Baiklah, habis mandi nanti aku akan pergi menemui Lorna dan menanyakannya." jawabku kepadanya dan langsung bergegas ke kamar.
Aku masuk ke kamarku untuk mengambil perlengkapan mandi, karena kami hanya punya satu kamar mandi dan itu ada di dapur.
Setelah aku mandi, aku segera pergi menemui Lorna untuk menanyakan tentang pekerjaan yang dia ceritakan kepada Adrian dan dokumen apa yang perlu bawa untuk melamar kerja.
Scene berpindah di tempat lain.
__ADS_1
"Sebaiknya kamu buruan melamar, udah banyak orang yang melamar disana, disana ada banyak lowongan seperti pramusaji, pembantu dapur, petugas kebersihan dan kasir jadi cepatlah, atau kamu akan melewatkan kesempatan ini." kata Lorna kepadaku setelah kami bertemu.
Aku berterima kasih padanya dan segera pulang untuk menyiapkan dokumen yang diperlukan dan berganti pakaian bersiap melamar kerja.
Sebuah kemeja polo putih yang lengannya terlalu panjang sampai ke siku tetapi terasa nyaman di tubuhku, lalu kupadukan dengan rok hitam berpotongan pensil dan sepatu sederhana.
Aku menghadap ke cermin dan aku tersenyum, aku hanya membiarkan rambutku terurai dan aku hanya merias wajah tipis-tipis, kemudian aku kembali menghadap cermin dan tersenyum. Meskipun pakaianku sudah agak usang tetap saja tidak bisa menyembunyikan kecantikanku yang aku warisi dari ibuku.
Kami memiliki darah keturunan Italia dari ibu, tetapi orang tuaku ditolak oleh kakek nenek kami karena ibuku menikah dengan ayahku yang miskin. Nama lengkapku Rina Maria Antonio Alysia. Antonio adalah nama belakang ibuku.
Setelah aku rasa cukup dengan dandananku, aku segera berpamitan kepada adikku dan segera pergi melamar kerja.
Selama di perjalanan aku terus berdoa semoga aku diterima meskipun hanya sebagai petugas kebersihan, aku sangat membutuhkan pekerjaan lain sekarang karena besok adalah hari terakhir kontrakku dengan tempat makanan cepat saji tempatku bekerja sekarang.
Tidak butuh waktu lama bagiku untuk mencapai restoran LaCùesta, aku kagum dengan keindahannya dan mobil-mobil yang terparkir di depannya, kendaraan di depannya.
Aku melihat penjaga berdiri di depan pintu masuk ketika akan masuk ke dalam restoran itu.
"Maaf pak, di mana saya bisa mendaftar?" aku bertanya kepada penjaga.
"Silahkan ikut berbaris dengan mereka." jawab penjaga sambil menunjuk ke barisan pelamar di dalam ruangan.
Sungguh aku terkejut karena begitu banyaknya orang yang sedang mengantri untuk melamar kerja.
"Apakah kira-kira aku masih bisa diterima disini? Aku lihat banyak sekali orang yang melamar kerja disin, tentu saja ini akan membuat persaingan semakin ketat." aku bertanya pada diriku sendiri sambil segera ikut di barisan mereka.
"Apapun yang terjadi aku akan tetap berusaha, lagipula aku sudah sampai disini, tak ada salahnya jika aku mencobanya."
__ADS_1