CURSE

CURSE
Episode 6. Man in a Dream


__ADS_3

Kehadiran Aluna di kelas biologi A nampaknya membawa warna baru disana. Mahasiswa yang berada disana mulai melakukan interaksi dengan aluna dan memulai pertemanan mereka. Aluna yang luwes dan dapat dengan mudah bergaul memberikan kemudahan sebagai penghubung Vincent dan teman-teman lainnya di biologi A. Pada awalnya Vincent enggan untuk memulai pembicaraan dengan anak yang lainya di kelas. Namun berkat arahan dan dorongan aluna, akhirnya vincent dapat sedikit memulai pertemanan dengan yang lainnya.


"Sampai nanti aluna, besok jangan lupa kita ada praktikum fisiologi hewan oke" ujar fifian teman sekelasnya.


"Oke, besok aku akan datang pagi untuk mempersiapkan bahan di lab", ujar Aluna.


"Sipp, aku pulang duluan ya, dahh."


"Iya.. dahh" Aluna beranjak dari kursi tempat dia terduduk dan melangkah keluar kelas dikala semuanya sudah pulang. "Ahh... Kepalaku" Aluna tertunduk dengan tangan memegang meja sebagai tumpuan agar tidak jatuh. Sekilas dia melihat bayang-bayang hitam di papan tulis. Namun ketika dia melihat kembali bayangan itu sudah tidak ada. Namun tampak sesosok lelaki berdiri di pintu dengan senyum melangkah mendekati.


"Kau baik-baik saja", ujarnya sembari menghampiri Aluna.


"Ahh kak Shin" Aluna kembali berdiri tegak dan mulai tersenyum. "Aku baik-baik saja kok. Tenang saja, kau tidak perlu khawatir. Ahm ada perlu apa ya sampai menemuiku di kelas?."


"Tidak apa-apa, aku hanya ingin melihatmu" mendekatkan tubuhnya hingga wajah meraka saling menatap. "Istriku, sudah lama aku menantikan kebangkitanmu."


Glekk, Aluna menelan ludahnya. "Maaf, aku tak mengerti apa yang kau maksudkan" aluna menjaga jarak dari Shin dengan memundurkan tubuhnya sedikit ke belakang.


"Kau" mengulurkan tangannya berusaha menyentuh wajah aluna. "Tidakkah kau rasakan getaran di dalam dada ini" menaruh tangan aluna di dadanya.


"Wahh, sudah hentikan. Kau bercandanya kelewatan kak Shin", lantas aluna menanggapi dengan bercandaan. "Bila kau sekarang memang mencoba menggodaku. Lakukanlah dengan sedikit romantis senior Shin !. Dah akh, aku pulang dulu", Aluna merapihkan rambutnya dan mengambil buku di samping meja. Dia meninggalkan shin begitu saja dengan percaya bahwa shin berusaha menggodanya karena menyukainya.


"Istriku" Shin menatap aluna yang berjalan menjauhi dirinya. "Aghh, kepalaku", memegangi kepalanya yang terasa sakit tiba-tiba. "Dimana aku?. Kenapa aku ada disini" Shin lantas berjalan keluar dari kelas tersebut.


•••


"Vint, bukannya dia Shin" Edgar menepuk pundak vincent yang berdiri di sampingnya.


"Mana?", Ia lantas menoleh kearah yang ditunjukan edgard. "Ahh, kau benar" Vincent melambaikan tangannya kearah Shin yang berjalan kearahnya. Mereka bertiga pergi ke kantin untuk sekedar mengobrol dan menikmati minuman disana.


"Wah, lo tampak pucat sekali Shin. Lo baik-baik saja?", tanya Edgar melihat wajah Shin yang tampak lesu.


"Ntahlah, gue sedari tadi merasa pusing. Mungkin anemia gue kambuh lagi kali yah", ujar shin yang menikmati secangkir kopi hangat.


"Ahh, aku baru tau kau suka kopi senior?. Biasanya kau selalu meminum teh hijau atau lemon tea", ujar Vincent ketika melihat shin meminum segelas ice kopi.


"Benarkah?, Gue memang tampaknya sedang kurang sehat kali yah. Arghh, ada apa dengan tubuh gue saat ini?", ungkap shin yang seakan bingung dengan dirinya sendiri. "Yaudah gue balik dulu aja dah", ia beranjak dari kursinya terduduk meninggalkan mereka berdua.


"Hati-hati senior", ujar Vincent.


"Yahh", Shin melangkahkan kakinya menuju parkiran kampus.


"Bukankah dia terlihat sedikit aneh hari ini", sela edgard.


"Aneh.. apanya yang aneh?", ujar Vincent sembari mengingat ketika Shin tadi kebingungan meminum ice kopi. "Tak taulah, mungkin dia memang sedang tidak enak badan saja", pungkas Vincent menikmati minumanya itu.


•••

__ADS_1


Malam harinya di kediaman Shin


Ahh.. ahh... Ahh... Shin terbaring diranjang dengan termometer berada di mulutnya. Ibunya mengukur suhu tubuhnya yang menunjukan angka 38,9 °C. Setelah meminum obat dan meletakan handuk dingin di atas kepalanya. Ibu Shin keluar dari kamarnya dengan beberapa peralatan kompres ditangannya.


Ahh...ahh...ahh..,"Kenapa badanku tiba-tiba panas begini?." Ia letakkan handuk dingin itu di samping meja yang terdapat wadah berisi air dingin didalamnya. Perlahan dia memejamkan matanya karena pengaruh obat yang dia minum.


Malam itu dia bermimpi, melihat wanita yang sepertinya dia kenal. "Siapa dia?" Wanita itu berjalan menyusuri jalan yang gelap menuju sebuah rumah besar diantara pepohonan. Terlihat lelaki yang menunggu di gerbang rumah menanti wanita itu berjalan kearahnya. Mereka berpelukan ketika saling bertemu dan bertatap muka. Tiba-tiba  dia lihat lagi wanita itu berada di dalam sebuah peti diantara gelapnya ruangan. Lelaki yang berdiri disamping peti berlumuran darah di sekujur tubuhnya dengan pedang yang tertancap di dadanya.


Hah..ah..hah..hah.. Shin terbangun dari tidurnya. Dia membuka mata dengan mata yang terlihat kelelahan. Keringat membasahi tubuhnya disertai detak jantung yang tak menentu. Dia coba mengatur nafasnya dan meminum segelas air yang ada di samping meja. Ditatapnya jam dinding menunjukan pukul 00.00 dini hari.


"Mimpi apakah itu." Angin diluar yang dingin menusuk pori kulitnya. Dia selimuti tubuhnya dan mulai memejamkan kembali matanya.


Keesokan harinya Shin nampaknya masih belum sembuh dari sakitnya itu. Dia tak masuk kampus untuk pertama kalinya dan beristirahat dirumah untuk beberapa hari. Ketika dia selesai dari toilet. Dia bercermin dan memeriksa dadanya yang terasa sakit setelah bangun dari tidur. 


"Apa ini?", Dia lirik tubuhnya di cermin. "Sejak kapan aku memiliki luka di dadaku?", Shin lantas mengingat mimpi yang dia alami semalam. Bekas luka tersebut sama Persis dengan yang dimiliki lelaki dalam mimpinya tersebut. Kepalanya yang mulai pusing membuatnya beranjak dari cermin dan meninggalkan kamar mandi.


•••


KAMPUS


Aluna sedang bersama teman-temannya mengerjakan tugas praktikum fisiologi hewan. Vincent menjadi salah satu kelompok yang lebih awal selesai mengerjakan tugas tersebut. Dia keluar terlebih dahulu diikuti teman satu kelompoknya.


"Ahh, levelnya berbeda jauh sekali. Tuan muda Vincent emang nomer satu dah!", ujar Aluna sembari melirik kearah pintu keluar di mana kelompok pertama selesai dengan tugasnya.


"Kenapa kau merajuk sendiri?", ujar Fifian yang sadar aluna melirik pintu keluar.


"Udahlah, semua juga akan merasa takjub bila melihat keterampilannya. Dia itu emang levelnya berada di atas kita. Kalo diibaratkan kita ini mahasiswa terbaik di biologi A. Maka dia berada di level S bila dalam game", ujar Fifian kembali.


"Game?"


"Ah itu hanya perumpamaan saja kok. Lagipula dia memang the next Shin Jong senior genius kita di biologi A."


"The next Shin Jong?. Apalagi itu coba", Aluna tambah tak mengerti.


"Ah kau ini, sudahlah nanti juga mengerti sendiri. Lebih baik kita selesaikan dulu sediaan sel hewan yang akan kita amati", ujar Fifian yang menaruh preparat di mikroskop.


"Kau benar" Aluna mulai mengamati preparat yang dia buat dan mulai mencatatnya.


Tiga puluh menit telah berlalu, Praktikum telah selesai. Aluna dan mahasiswa lainnya meninggalkan lab setelah mengumpulkan hasil pengamatan mereka. 


"Luna, kau mau ikut aku ke kantin?", tanya Fifian. "Ada sesuatu yang ingin aku beli disana. Katanya ada menu kopi baru disana. Kau mau ikut denganku?", tanyanya kembali pada aluna yang selesai merapihkan jas lab miliknya.


"Hmm, boleh. Lagipula aku juga sedikit mengantuk", jawab Aluna.


"Begitukah.. oke.. ayo kita ke kantin sekarang", ujar Fifian sembari mengandeng tangan Aluna.


Sesampainya di kantin mereka melihat banyaknya antrian untuk menunggu menu baru dari cafe yang berjualan di kantin. Mereka mengantri menunggu giliran memesan minuman yang konon katanya nikmat tiada tara. Usai mengantri dan memesan minuman. Mereka mencari tempat duduk kosong untuk menikmati minuman yang sudah berada di tangan mereka.

__ADS_1


"Hey, bukankah itu Vincent dan kak edgard", ujar Fifian menatap mereka dari kejauhan yang sedang nongkrong di pojokan.


"Ahm.. kau benar" Aluna melihat kearah yang ditunjukan oleh Fifian. Nampaknya dari kejauhan edgard melihat Aluna yang melihat kearah mereka. Ia melambaikan tangannya menyerukan agar duduk diantara mereka.


"Wahh, kalian mencoba menu kopi baru rupanya", ujar edgard. "Amh.. ayo duduk saja disini, bener gak vint", ujar edgard mengarahkan wajahnya pada Vincent yang sedang asik membaca buku.


"Ahh.. tentu, kalian duduk saja", ujarnya melanjutkan membaca.


"Cih", luna sedikit merajuk. "Baiklah, kami ikut duduk yah kak edgard", ujar Aluna menaruh ice kopi dan tasnya di samping kursi.


"Ohh.. silahkan..silahkan", ujar edgard.


"Kak edgard, tumben kalian gak sama kak shin", tanya Fifian.


"Ahh.. itu, dia lagi sakit. Kemarin aja pulang cepat", ujar edgard.


"Hmm...jadi dia sakit ya", ungkap aluna dalam hatinya. Dia sedikit mengingat kejadian kemarin. "Duh, mikir apa aku ini", wajah aluna sedikit memerah.


•••


Shin termenung melihat ke arah jendela yang terbuka. Sejuknya angin disiang hari menerpa pori kulitnya. Ia pejamkan mata menikmati hembusan angin sejuk dan kesunyian di ranjang kamarnya. Semua anggota keluarga Shin sedang pergi keluar. Ia sendiri dirumah tanpa ada siapapun yang menemaninya. Berhubung semua keluarganya memiliki pekerjaan yang penting hari itu. Ia akhirnya sendiri tanpa ada seorangpun yang menemani. "Sunyinya.. dan juga tenang sekali." Waktu terus berlalu sore pun tiba. Kira-kira pukul 17.00 ibu Shin pulang dari kerjaannya. Ia menyempatkan membeli bubur kesukaan Shin dan mengantarkan ke kamarnya. Setelah memastikan Shin meminum obatnya dan tertidur ia kembali ke ruangannya kembali. "Cepat sembuh yah sayang minum obatnya dan kembali istirahat. Bila kau perlu sesuatu bisa panggil ibu dibawah yah", ujar ibunya sembari merapihkan selimut Shin dan kembali ke ruangannya di bawah. "Iya Bu, tenang saja. Aku udah mendingan kok", balas Shin.


Dikala tidur shin kembali bermimpi yang sama seperti sebelumnya. Ia berkeringat banyak sekali, "tidak jangan, siapa kau?. Kenapa datang ke dalam mimpiku. Pergi.. pergi..", shin terbangun seraya membuka matanya. "Ada apa ini, mimpi itu.., orang itu." Seakan memberikan isyarat atau sebuah peringatan kepadanya. Shin bermimpi buruk berturut-turut dalam tidurnya. Malam-malam harinya tak tenang akan mimpi buruknya itu. Gelisah yang tiada tara membuat dia ia gundah-gulandah. Dadanya merasakan sesuatu yang tidak tau apa itu.


Sementara itu di tempat lain, terjadi kejadian yang tidak biasa di sekitar hutan kota well barat. Tampaknya tak hanya Shin yang tak bisa tidur malam itu. Seakan merasakan hal yang sama Aluna dan vincent juga merasakan sesuatu yang aneh malam itu. Meski mereka tidak tau apa mereka melewati malam dengan kegelisahan di hati mereka. Lalu disuatu rumah yang besar di ruang bawah tanah seorang peneliti ternama.


"Kau.. kau.. siapa kau!"


"Ahh..ahahaha... Aku kembali!. Sebagai ucapan terima kasih, aku pinjam ragamu."


"Tidakk..... Argggghhhh..."


...


Clak..clak..clak...


...


...


..


Hill brown, London.


Prankk, suara pas foto yang jatuh. Seorang lelaki terbangun dari kursi belajarnya. "Ada apa ini?. Aku merasakan firasat buruk akan hal ini." Ia mengemasi semua barangnya seketika setelah merapihkan pecahan kaca tersebut.


"Aku harap kau baik-baik saja nak." Lelaki itu menuju mobilnya dan meninggalkan kediamanya malam itu.

__ADS_1


•••


__ADS_2