CURSE

CURSE
Episode 7. Orang yang berbeda


__ADS_3

Keesokan paginya Shin masuk kuliah dikarenakan demamnya sudah turun. Vincent yang senang melihat seniornya dari kejauhan di gerbang kampus lantas berlari menghampirinya. Dia memanggil Shin dari kejauhan dengan berteriak,"Senior, kau sudah sembuh." Ia melambaikan tangannya dan berusaha meraih pundak senior yang dihormatinya itu.


•••


RUANG PRAKTIKUM


"Hey, tadi pagi aku lihat kak Shin sudah masuk kuliah loh", ujar Fifian.


"Benarkah?, Syukurlah bila dia sudah sembuh. Aku turut senang dia sembuh", balas aluna.


"Tapi.. rasanya dia sedikit berbeda dengan kak Shin yang biasanya."


"Berbeda gimana maksudmu?"


"Yah, seperti orang yang berbeda saja. Hmm.. meski sebenarnya, aku juga gak Deket juga sih sama kak Shin."


"Begitukah.. tapi setahuku dia orangnya ramah pada siapapun."


"Iya sih.. biasanya dia ramah juga padaku. Mungkin dia sedang gak mood kali yah."


"Ahnn.. bisa jadi itu."


Dari belakang vincent mendengar percakapan aluna dan Fifian. Lantas ia mengingat kembali kejadian pagi tadi. Dikala ia menyapa Shin di depan gerbang kampus.


"Kak Shin", ujar Vincent dari belakang . Shin lantas menengok kearah sumber suara yang memanggil namanya. "Kau sudah sembuh?. Syukurlah, sakitmu cepat sembuh yah." Shin hanya tersenyum dan melanjutkan langkahnya menuju gedung MIPA. "Kak Shin?", Vincent terlihat kebingungan akan sikap Shin kepadanya. "Apa aku berbuat salah?", Ia lantas meneruskan langkahnya kembali dikala Shin sudah berjalan jauh didepannya.


•••


Sementara itu nampaknya kejadian tidak terduga menimpa desa Welliam's tempat mereka melakukan ekspedisi beberapa waktu lalu. Badai besar menerjang desa tersebut dan mengakibatkan kerusakan berat disana. Tak cukup dengan dilanda badai, tadi pagi dini hari terjadi gempa bumi yang menewaskan ratusan jiwa disana. Sejumlah regu penolong dan tim SAR dikerahkan untuk mengevakuasi daerah tersebut. Semua stasiun televisi memberitakan kejadian secara serentak yang membuat pemerintah kota well mulai bertindak sesegera mungkin.


"Luna, kau sudah lihat berita breaking news hari ini?", ujar fifian sembari meminum lemon tea.


"Breaking news?. Tentang apa emang?.  Aku sibuk membantu pamanku di toko. Jadi belum sempat lihat berita di tv dan artikel di handphoneku." Aluna tampak tak tau berita terkini dengan polosnya.

__ADS_1


"Yah... Kau ini, sungguh terlalu emang. Ini berita tentang lokasi kalian melakukan ekspedisi beberapa waktu lalu di desa Welliam's."


"Apa? Desa Welliam's?. Ada berita apa memang disana?. Tunggu biar aku cek sendiri di handphone milikku." Aluna lantas memeriksa sendiri berita terkini di smartphone miliknya. "Apa-apaan ini?. Sungguh tidak bisa diduga, betapa parahnya kerusakan dari bencana alam yang ditimbulkannya", ujar Aluna setelah membaca artikel berita di handphonenya.


"Hey kau mau kemana Luna?", tanya Fifian ketika temannya itu beranjak dari kursinya.


"Maaf, aku ada sesuatu urusan. Aku pergi dulu yah, sampai jumpa besok." Aluna meninggalkan Fifian sendiri terduduk di kantin kampus.


...


Aluna berjalan menyusuri lorong kampus ketika nomor yang dia hubungi tak juga menjawab panggilannya. "Ada apa ini? Kenapa nomor mereka tidak dijawab semua sih." Ia melanjutkan menelusuri lorong kampus melihat kelas dan lab mencari keberadaan shin dan Vincent. Sesaat aluna melihat ke ruang kelas dimana anak semester tiga sedang memulai kuliahnya. Tak juga dia temukan Shin diantara para kakak tingkat yang sedang mendengar kuliah dari dosen yang sedang menyampaikan ceramahnya. Sesaat ia menerima sms dari edgard yang melihat aluna menengok kelasnya.


Drett..drettt, getar handphone..


Kau nyari Shin?, tanya edgard melalui SMS.


Ah, iya. Kak edgard tau dimana dia berada?, balas aluna dalam pesan singkatnya.


Dia tadi pagi ikut kuliah, namun rupanya baru saja dia izin karena urusan mendadak, ungkap edgard.


...


"Huhh, kenapa ini? Tiba-tiba ada kabar tidak baik dan tiba-tiba mereka tidak bisa dihubungi. Padahal ada sesuatu yang ingin aku diskusikan." Aluna berjalan meninggalkan gedung MIPA menuju gerbang kampus. Ia berjalan pulang menuju toko tempat pamannya menjual roti di ujung jalan kampus yang letaknya agak jauh. Di toko itu pula dia tinggal dengan bibi dan pamannya yang merawat dia ketika tinggal dengan mereka selama studinya di well university. Dari kejauhan dilihatnya mobil terparkir dekat dengan toko roti pamannya. Sekilas seperti mobil yang ia kenal lantas mata Aluna sedikit melirik kearah mobil itu. "Ahh, tidak mungkin. Sekarang dia kan sedang melakukan penelitian di London. Mana mungkin dia kemari. Ahahaha, bodohnya aku." Aluna lantas berjalan menuju toko roti pamannya setelah melihat mobil yang cukup familiar untuknya.


Aluna melangkah menuju pintu  toko. "Paman, aku pulang." Aluna terdiam sejenak setelah kakinya memasuki ruangan. "Pelanggan?", ungkap aluna dalam benaknya. "Kau sudah pulang Aluna. Ayo kemari duduklah, lihat siapa yang datang." Paman aluna tampak sumringah dengan seseorang yang terduduk didepannya. Sampai lelaki itu membalikan badannya dan berkata,"Kau sudah pulang nak?", ujar lelaki tersebut dengan tersenyum. Aluna terkaget melihat wajah lelaki tersebut. "Ayah?, Kaukah itu." Ia menghampiri meja tempat ayah dan pamannya terduduk. Dikarenakan sudah lama sekali anak dan ayah tidak saling bertemu. Ronald dan aluna berbicara di ruang tengah berdua. Sedangkan Renal dan istrinya Winy berada di toko untuk melayani pelanggan yang kebetulan datang berkunjung dan menikmati roti dan teh hangat di tempat.


Ruang TV


Mereka cukup lama terdiam memandangi televisi yang menyala sekitar 10 menit yang lalu. Ronald memulai pembicaraan terlebih dahulu kepada putrinya itu.


"Kuliahmu bagaimana? Apakah semua berjalan lancar."


"Amh.. iya, bisa dibilang begitu."

__ADS_1


"Begitukah? syukurlah, bila semuanya baik-baik saja. Aku cukup senang mendengarnya."


"Iya", Aluna masih melihat kearah televisi dan sedikit tertunduk tak tau harus bicara apa. Sampai saat ayahnya mulai pembicaraan serius terhadapnya.


"Maaf... Ayah tak pernah menghubungimu karena pekerjaan. Kau pasti kesepian bukan?. Aku tau bahwa... Aku bukanlah seorang ayah yang baik bagimu.


"Tapi percaya atau tidak semua ayah selalu menyayangi anaknya. Begitu pula diriku, meski aku tak tau bagaimana cara mengekspresikannya. Untuk itulah aku minta maaf atas semua kesepian dan kesedihan yang kau alami selama ini."


Tanpa sadar mata Aluna berkaca-kaca mendengar ucapan dari ayahnya itu. Dia menutup wajahnya dan meneteskan air mata dan berkata,"aku tau bahwa ayah bekerja keras untuk aku. Aku tau bahwa kau menyayangiku. Aku..aku.. tak tau kenapa aku jadi menangis." Ronald lantas menepuk pundak anaknya tersebut. "Maaf yah, tapi aku janji. Aku akan menjadi ayah yang lebih baik lagi untukmu Luna." Ia menahan air matanya dengan menarik napas dan sedikit menenggakan kepalanya agar air matanya tak keluar. Hingga beberapa menit kemudian Aluna sudah sedikit tenang dan mereka mulai berbicara dengan santai kembali. Ayah dan anak itu berbincang cukup lama hingga tak sadar waktu makan malam sudah tiba. Winy datang menghampiri mereka dan mengingatkan untuk makan malam bersama. Mereka berempat menikmati waktu mereka menyantap menu makan malam dengan beberapa perbincangan kecil. Aluna tampak bahagia dengan suasana malam itu. Bahkan sampai ia akan pergi tidur saja wajahnya masih menampakan senyuman. "Bila ini mimpi, aku mohon jangan bangunkan aku untuk sejenak. Rasa bahagia di dadaku ini. Aku ingin merasakannya lebih lama lagi."


Kediaman Vincent


Terlihat lelaki yang sedang merebahkan dirinya di kasur mengarahkan pandangannya ke jendela kamar. Tampak diwajahnya berjuta pertanyaan ketika dia memandangi sebuah batu yang berada di tangannya tersebut. Lelaki itu adalah Vincent yang sedang kebingungan menemukan sebuah batu merah seperti berlian di dalam tas miliknya. Seingatnya ia tak pernah memiliki benda seperti itu. Lantas dia merasa kebingungan menemukan batu yang nampak seperti berlian itu di dalam tasnya. Tak lama Edgar mengetuk pintu kamarnya dan menghilangkan semua lamunan yang sedang ada dalam benaknya tersebut.


Toktoktok...


"Vint, kau didalam?."


"Masuklah, tidak dikunci kok", ujar vincent sembari menaruh batu tersebut di atas meja.


Edgar membuka pintu dan menengok kedalam kamar Vincent. "Ahh, disini rupanya kau dari tadi", ujar edgard.


"Kenapa? Ada perlu sesuatu denganku." Vincent berdiri dan keluar dari kamarnya. Edgard sekilas melihat batu diatas meja dikala melirik disekitar kamar Vincent. Namun ia abaikan dan mengikuti langkah kaki sepupunya itu.


"Kau baik-baik saja kan?. Aku cari-cari di sekitar kampus tidak ada. Aku telpon tidak diangkat", ujar edgard sembari terduduk di sofa.


"Tidak kok, aku hanya sedang banyak pikiran saja. Lagipula kelasku hanya satu saja. Jadi tadi pulang duluan. Soal handphone, aku lupa mengisi ulang baterai", ujar Vincent menjelaskan kepada sepupunya itu. Ia lantas mengambil beberapa minuman di kulkas dan menyalakan televisi.


Sesaat setelah menyalakan televisi. Mereka menyaksikan berita mengenai bencana yang terjadi di well barat. "Wahh, tidakkah bencana ini terlalu mendadak. Padahal beberapa waktu lalu sudah dilanda badai. Kini ada gempa bumi yang menewaskan sampai ratusan orang. Bila dipikir-pikir ngeri juga fenomena di well barat sana. Sudah seperti terdapat kutukan di sana", ujar edgard mengomentari berita tersebut.


Sekilas Vincent sedikit memikirkan perkataan sepupunya itu. "Kutukan?. Aku jadi teringat akan sesuatu. Tapi, ahh masa iya. Bukankah itu konyol."


"Apanya yang konyol maksudmu?", ujar edgard yang sekilas mendengar gumaman sepupunya itu.

__ADS_1


"Ah tidak ada kok. Ayo kita nikmati saja minumannya", ungkap Vincent sembari menuangkan minuman untuk edgard.


...


__ADS_2