Cursed And Love

Cursed And Love
27 : Aku ini kekasihnya [1]


__ADS_3

"Maaf mengganggu waktumu, Nona. Kami datang untuk meminta beberapa keterangan padamu." Ucap seorang petugas pria bertubuh besar.


Serena tersenyum tipis, ia mempersilahkan petugas itu untuk duduk di kursi yang biasa digunakan untuk bersantai di depan rumah. "Tentu saja, apa yang ingin anda tanyakan?" Ucap Serena dengan tenang, meskipun sebenarnya ia sekarang sedang gelisah.


Petugas itu berdehem, ia mengeluarkan sebuah buku kecil dari saku jaketnya. "Seperti yang kau tahu, belakangan ini kota sedang berada dalam zona peringatan, dan semua area hutan di wilayah ini adalah zona terlarang." Jelas petugas tersebut, ia mengeluarkan beberapa lembar foto, "beberapa hari lalu tim kami melihat orang mencurigakan yang berkeliaran pada malam hari di dekat pos keamanan, karena itu kami sedang memeriksa apakah ada warga yang tidak menaati aturan." Tuturnya lagi.


Serena memperhatikan foto itu dengan seksama, di sana terlihat siluet seseorang bertubuh besar tertangkap kamera di antara pepohonan. Tetapi karena kualitas foto itu sangat buruk, maka tentu saja tidak ada yang bisa mengenali siapa orang tersebut.


"Jadi..., kau mendatangiku untuk bertanya siapa yang ada di foto ini?" Tanya Serena bingung.


"Ah! Tidak... Tidak, tentu saja bukan," Sanggah sang petugas, "memang itu adalah alasan utama, tetapi tugasku adalah untuk memeriksa orang-orang yang ada di rumah ini." Jelasnya sambil tersenyum ramah.


Duarrrr!


Baiklah, sekarang Serena mulai takut. Perkataan petugas itu barusan seperti petir di siang bolong yang menyambarnya. Ya, tentu ia takut jika orang-orang yang tinggal di rumahnya ini diperiksa. Terutama Van, bagaimana ia harus menjelaskan tentang laki-laki itu. Kembali masuk dan menyuruhnya bersembunyi pun juga sudah tidak bisa.


"Ah..., aku tinggal-"


"Kenapa kau lama sekali?" Louis datang dan memotong pembicaraan Serena dan petugas keamanan itu.


"Ah, Selamat siang, Tuan. Saya sedang bertugas untuk memeriksa anggota rumah ini." Sapa petugas itu dengan ramah.


Louis menatapnya dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan sebelah alis gang terangkat, "kami hanya tinggal berdua," Cetus Louis santai dan sukses membuat Serena menatap ke arahnya.


"Begitu, ya? Lalu... Apa kalian keluarga atau semacamnya?" Tanya petugas itu lagi.


Louis melihat Serena sebentar, ia tahu jika sekarang gadis itu kesulitan untuk menjelaskan situasi ini. "Kekasih," Jawab Louis ramah, "aku tinggal dengannya setelah kembali dari kota lain baru-baru ini." Tambah laki-laki itu.


Serena langsung menatapnya dengan tatapan kaget, terlihat jelas jika gadis itu sedang menuntut penjelasan. "Tunggu-"


"Apa masih ada yang ingin kau tanyakan, Pak?" Lagi-lagi Louis memotong ucapan Serena.


Petugas itu terlihat bingung dengan tingkah Louis dan juga Serena, "ah..., kekasih, ya. Dan hanya kalian berdua yang tinggal di sini...." Gumamnya sambil mencatat sesuatu pada buku kecilnya.

__ADS_1


"Ya~ Begitulah~" Sahut Louis sambil tersenyum.


Petugas itu kembali memperhatikan mereka, "apa kalian benar-benar sepasang kekasih? Kenapa Nona ini terlihat seperti tidak nyaman?" Bingungnya.


Louis dan Serena sama-sama menelan ludah, sepertinya mereka memang sangat buruk dalam bersandiwara.


"Ah..., kau tahu, pertengkaran itu audah biasa bukan?" Louis kini merangkul pinggang ramping Serena dan lagi-lagi membuat gadis itu memicing tajam padanya. "Lagi pula, Pak. Apa menanyakan hal yang bersifat pribadi seperti itu juga bagian dari tugasmu?" Desis Louis pelan. Meskipun ia tersenyum, terlihat jelas sorot mengintimidasi dari netra laki-laki itu.


"Ah! Maaf..., t-tidak, aku tidak bermaksud seperti itu. Maaf." Sanggah petugas itu dengan kikuk.


"Jadi, apa sekarang sudah selesai? Aku harus kembali bekerja dan tidak nyaman jika meninggalkan kekasihku sendirian untuk urusan seperti ini." Ucap Louis datar, lengan kekarnya masih memeluk erat pinggang Serena.


Petugas itu langsung berdiri, ia tersenyum canggung sambil merapikan barang yang ia bawa. "Terima kasih atas waktu kalian, sekali lagi aku minta maaf jika mengganggu." Ujarnya.


Setelah berbincang sebentar, petugas itu langsung pergi dari sana. Sekarang tersisa Serena dan Louis yang sama-sama menghela nafas pelan.


"Louis..., lepaskan tanganmu." Desis Serena pelan, matanya masih mengekor pada mobil petugas yang bergerak menjauh dari halaman rumah.


"Ah! Hehe... Maaf." Kekeh Louis sambil melepas rengkuhannya pada pinggang Serena.


Louis terkekeh pelan, sejujurnya ia cukup bangga dengan aktingnya tadi. "Bagaimana? Aku cukup mahir bukan? Kekasihku?" Candanya sambil mencolek lengan Serena.


"Sangat bagus, seharusnya dulu kau tidak menolak tawaran untuk menjadi selebriti itu," Balas Serena, gadis itu berlalu masuk ke dalam rumah.


Louis mengikutinya hingga ke dalam toko, "aku harus kembali, ini sudah sangat terlambat," Ucapnya sambil mengambil berkasnya yang menjadi tujuan utama ia kembali ke rumah itu. "Jika ada hal seperti tadi, telfon aku saja, Ok?" Ucapnya lembut.


Serena hanya mengangguk, ia menatap punggung Louis yang menjauh dan berlalu pergi dari hadapannya.


Tunggu... Di mana anak itu?!


Serena langsung teringat dengan Van yang ternyata sudah menghilang dari ruangan itu, padahal tadi ia takut sekali jika petugas keamanan masuk ke dalam sana lalu menemukan laki-laki itu.


Serena bergegas masuk ke rumah utama dan mencari Van, ia menuju loteng dengan tergesa-gesa. "Van? Kau di dalam?" Panggilnya.

__ADS_1


Tidak ada sahutan, gadis itu langsung membuka pintu dan tidak menemukan Van di dalam sana. "Van?" Panggilnya lagi.


Serena bergegas turun, ia kembali ke dalam rumah dan masih tidak menemukan tanda keberadaan laki-laki itu.


Apa dia ke hutan lagi?


Serena menatap lama ke arah kebun belakang.


Brakkk!


Serena tersentak, ia dikagetkan oleh suara keras yang berasal dari kamarnya.


Apa itu?


Batinnya dengan waspada.


Gadis itu melangkah pelan ke arah kamarnya. "Van? Kau di mana?" Teriaknya, ia bertambah takut saat tidak mendapat sahutan sama sekali.


Gadis itu mengambil pisau yang kebetulan ada di atas meja makan, ia berjalan dengan waspada. Meskipun hatinya bersikeras jika itu adalah Van, tetap saja rasa takutnya lebih besar.


Kriettt~


Pintu dibuka. Kosong, tidak ada apa-apa di dalam sana. Serena masuk sambil menghembuskan nafas gusar, tetapi perhatiannya teralih pada pintu lemarinya yang sedikit terbuka.


"Kenapa ini terbuka, sih?" Gumamnya kesal.


Serena menutup keras pintu lemari itu, tetapi ia dikagetkan dengan suara rintihan seseorang dari dalam lemari yang juga sukses membuatnya menjerit.


"Aahhhh! Apa yang kau lakukan di sini?!" Teriaknya kesal.


Van meringis sambil mengelus kepalanya yang terbentur pintu lemari karena Serena menutupnya dengan keras, laki-laki itu menatap polos ke arah Serena.


"Tunggu...." Desis Serena, "KELUAR DARI LEMARIKU!!" Serena langsung berteriak dan menarik Van untuk keluar dari sana setelah melihat paka*an dal*m dan sebangsanya tersangkut dan berserakan di sekitar laki-laki itu.

__ADS_1


"Kenapa kau bersembunyi di sini, sih?!" Ucapnya kesal, tetapi wajahnya memerah. "Cepat keluar!" Usirnya.


Van mengerjap polos, ia tidak mengerti kenapa Serena mengusirnya. Padahal, Louis lah yang menyuruhnya bersembunyi di sana agar tidak ketahuan dan dimarahi oleh Serena. Namun, nyatanya sekarang ia tetap dimarahi oleh gadis itu.


__ADS_2