
Waktu berlalu, tak terasa mereka sudah menghabiskan waktu 3 bulan bersama-sama. Cukup banyak kendala dan beberapa hal rumit yang terjadi, tapi semuanya bisa dilalui dan baik-baik saja.
Van sudah semakin banyak bicara, sekarang laki-laki itu terlihat normal layaknya orang lain. Bahkan laki-laki itu sudah dibuatkan kartu identitas, walaupun tentu saja itu semua palsu. Ia harus berterimakasih pada Louis yang mau direpotkan dengan semua itu, meskipun sebenarnya Louis melakukan hal itu demi Serena.
Sejauh ini mereka benar-benar belum menemukan titik terang tentang asal usul Van, laki-laki itu sendiri juga belum mengingat siapa dirinya atau dari mana asalnya. Serena sempat membawa Van menemui psikiater pribadi kenalan ibunya dulu, dan benar saja bahwa laki-laki itu memang mengalami amnesia yang parah.
Lalu tentang hal aneh perihal kemampuan Van menyembuhkan luka, sampai sekarang hanya Serena lah yang mengetahuinya. Ia menyembunyikan itu rapat-rapat agar Van tidak semakin mencolok dengan semua keanehannya.
"Bunga, yang ini harus aku letakkan di mana?" Ucap Van yang sedang membawa satu keranjang penuh bunga mawar yang baru saja ia potong dari kebun.
Serena sedang sibuk membuat buket bunga, beberapa orang pembeli juga terlihat sedang menunggu di luar toko itu. "Letakkan saja dulu di sana, biar nanti aku yang memotongnya." Sahut gadis itu tanpa melihat ke arah Van, tangannya sangat sibuk menyusun satu-persatu tangkai bunga agar menjadi sebuah rangkaian cantik.
Van melakukan apa yang Serena suruh, kini laki-laki itu mendekati Serena yang terlihat kewalahan karena buket yang sedang ia buat kali ini sangat besar.
"Kenapa tidak meminta bantuanku," Tangan kekar laki-laki itu ikut menyangga buket bunga yang hampir roboh.
Serena tidak menggubris perkataan Van barusan, ia masih menyusun tangkai bunga dengan tergesa-gesa karena pelanggan yang memesan buket itu meminta agar diselesaikan secepat mungkin untuk ulang tahun kekasihnya.
"Cantik sekali," Van sejak tadi memperhatikan buket bunga yang sedang dirangkai oleh Serena, "sepertimu, Bunga." Matanya melirik pada Serena yang terlihat mematung sebentar.
Gadis itu mendelik, "dari mana kau belajar merayu seseorang?" Desisnya pelan, semburat merah samar terlihat dari pipi putihnya. "Nah, sudah selesai." Ucap Serena senang, ia tersenyum puas menatap buket bunga yang baru saja dibuatnya.
"Bunga, apa kau bisa membawanya?" Van terlihat khawatir saat melihat Serena membawa buket yang sangat besar untuk segera diberikan pada pelanggan.
__ADS_1
Bahkan tubuh gadis itu kini tenggelam, sekarang ia terlihat seperti buket berjalan.
"Pfft...."
Van yang melihat itu berusaha menahan tawanya, ia tak berhenti tersenyum saat melihat Serena yang begitu kecil membawa sebuah buket yang membuat gadis itu terlihat semakin kecil.
••••••••••─── •☽• ───••••••••••
"Haahh..., merepotkan sekali saat pelanggan datang dalam waktu yang bersamaan," Serena menyandarkan punggungnya yang terasa nyeri pada kursi, gadis itu merenggangkan tubuhnya.
Van tersenyum, laki-laki itu sedang membersihkan tangkai bunga yang baru ia petik tadi, sebelumnya ia juga ikut membantu Serena. "Bunga sudah bekerja keras," Laki-laki itu tersenyum hingga matanya menghilang, manis.
Van terdiam menatap gadis itu, "memangnya kenapa jika tidak pernah diberi bunga? Apa bunga itu penting?" Van bertanya dengan wajah polos.
Serena juga terdiam, ia terlihat berpikir sejenak. "Tidak ada yang istimewa, sih. Mungkin aku hanya iri..." Jawab gadis itu, ia terlihat sedang menerawang, "melihat banyak orang yang datang ke sini dan memesan bunga, terkadang mereka meminta untuk dibuatkan kartu ucapan untuk orang yang mereka sayangi..., itu yang membuatku iri." Serena tersenyum tipis.
"Kau tahu... Menjadi mereka yang diberi bunga serta semua kasih sayang itu menandakan jika mereka diingat dan penting untuk seseorang," Tambah gadis itu lagi, "aku tidak pernah mendapatkan yang seperti itu, sejak dulu aku memang selalu sendiri." Lirihnya, wajah gadis itu datar tanpa ekspresi.
"Kenapa memikirkan itu, Bunga kan penting dan sangat berharga untukku." Van tersenyum manis sambil menyodorkan setangkai mawar merah.
Lagi-lagi Serena dibuat mematung oleh laki-laki itu, Van memang orang yang tidak bisa ditebak. Terkadang ia bingung, apa laki-laki itu sadar dengan setiap perkataannya? Ada beberapa hal yang seharusnya tidak dikatakan ke sembarang orang bukan?
__ADS_1
Apanya yang berharga? Apa karena Serena memberinya tempat tinggal? Atau karena Van menganggap gadis itu adalah orang baik yang menyelamatkan hidupnya, Serena cukup dibuat pusing dengan semua perlakuan manis laki-laki itu.
Namun, tetap saja Van hanyalah bocah polos berbadan besar di matanya. Ia menganggap semua perkataan yang keluar dari mulut laki-laki itu hanya sekedar ucapan tanpa emosi, lagipula Van memang begitu polos, kan?
Ia juga senang jika laki-laki itu menganggapnya penting, hal itu cukup untuk membuatnya merasa diinginkan untuk tetap bernafas di kemudian hari. Selain sahabatnya yang menyebalkan itu, sekarang Van juga hadir dan mengambil bagian penting dalam hidupnya.
"Yah, terimakasih, Bocah." Serena mengambil mawar itu, bibirnya bergerak membentuk sebuah lengkungan senyum.
Van bersungut-sungut, terlihat raut kesal pada wajah laki-laki itu. "Aku kan bukan anak-anak lagi." Gumamnya pelan. Ya, laki-laki itu selalu mengatakan jika ia sudah besar dan akan sangat kesal jika Serena memanggilnya dengan sebutan bocah seperti tadi.
Serena sontak terkekeh, ditambah lagi saat ia melihat bagaimana ekspresi Van. "Ah! Benarkah? Sudah besar ya...." Ucapnya pelan, gadis itu sedang berusaha menahan tawanya. Ini adalah salah satu hiburan yang disukainya baru-baru ini, menggoda Van dengan sebutan bocah hingga laki-laki itu kesal, entah kenapa rasanya sangat menyenangkan untuk Serena. Rasanya ia gemas sekali ingin tertawa kencang, tapi itu sangat bertentangan dengan egonya yang harus selalu terlihat tenang dalam situasi apapun.
Belakangan ini juga Van sering sekali mencoba meniru Louis hanya karena Serena selalu bilang jika laki-laki itu adalah orang dewasa yang kekanakan, Van juga ingin jadi dewasa. Dimulai dari meniru gaya bicara Louis ataupun cara berpakaian, bahkan raut wajahnya saja ikut ditiru oleh Van.
Tapi bukannya terlihat bagus, hal itu justru membuatnya terlihat seperti anak kecil. Laki-laki itu sempat tidak mau menemui Serena beberapa hari dan mengurung dirinya di loteng karena gadis itu menertawakan tingkahnya saat meniru Louis, meskipun akhirnya luluh juga setelah dibujuk setengah mati.
"Bunga, cinta itu apa?"
•
•
•
__ADS_1
Holaa, kangen saya gak? Mweheheheh^^ Maaf yaa Author slow update banget, ini novel sepi amat jadi saya lagi fokus buat cerita lain juga. But don't worry, yang ini bakal terus saya up kok karena emang mau saya ceritain sampe tamat😆, yakali Serena sama Van kesayangan saya cuma mendem di dalam kepala doang, yang lain harus tau juga yakan hihihi😈💜