Diary From The Past

Diary From The Past
Bab 24. Keputusan Kaisar Langit


__ADS_3

"Putus?” jerit Sakra.


Norgyunma mencubit lengan sang rekan, atau lebih tepat dipanggilnya sebagai sahabat kecilnya.


“Kok bisa? Dia sudah melawan langit begitu demi manusia bumi. Sudah kubilang seharusnya sedari awal, ia tidak nekad mengikuti napsunya”.


“Sst… tidak usah ikut campur”. Norgyunma melirik. Wajah Pushan yang bertekuk membuatnya khawatir.


Mereka bertiga tidak berhasil menyembuhkan Raseyan.


Luka mantan Raja Sundayana itu terlalu parah.


Tapi anehnya, Pushan justru berani membuat keputusan untuk membawa pemuda itu ke langit.


“Ia pasti ingin membunuhnya dengan tangan sendiri” bisik Sakra.


Norgyunma kembali mencubit Sakra. Ia meminta pemuda itu untuk tidak berkata macam-macam.


Sebenarnya Norgyunma mulai merasakan kejanggalan setelah kekuatan mereka tidak mampu menyembuhkan


luka Raseyan.


Luka dalam.


Akibat pukulan manusia pula.


Seharusnya luka-luka seperti itu bisa mereka pulihkan.


Ini kali pertama kekuatan mereka tidak bekerja untuk manusia.


Norgyunma bingung.


Ia yakin ada sebuah misteri yang menyelimuti luka di tubuh Raseyan.


Lamunan Norgyunma terdistraksi oleh tingkah manja Sol. Dewi itu berulang kali menawarkan makanan dan minuman kepada Pushan.


“Cih, caper” gumam Norgyunma jijik.


Ia berharap setelah ini Sol dipecat dari tugasnya sebagai kepala penjaga penjara langit.


Norgyunma tidak rela jika Sol mendapatkan promosi karena berhasil menangkap Gosta Cola.


Terlebih lagi, promosi tersebut didapatkannya di atas tragedi putusnya Alea dan Pushan.


Dewi berambut hijau itu menatap awan-awan yang menjadi pintu pembuka dimensi menuju


dunia para dewa.


Hatinya resah.


Ia tidak rela jika perjalanan ini menjadi akhir hubungan Pushan dan Alea.


Norgyunma kemudian menatap wajah Raseyan yang terbaring di pangkuannya.


“Jelek begini, dasar mata Alea rusak” gerutunya.


Pushan tersenyum.


Ia sempat tertawa lebar sebelum kembali memasang wajah cemberut.


Norgyunma pun tersadar. Pushan pasti sedang membaca pikirannya.


“Eh, cadel…. udah urus diri sendiri. Ga usah baca-baca pikiran aku” gumam Norgyunma.


“Aku udah tidak cadel lagi tau! Lagipula, kamu sendiri yang suara hatinya terlalu keras. Mengganggu pikiran aku tau” balas Pushan. Mereka berdua melakukan telepati dengan hati-hati.


“Kamu dan Alea, serius udah berakhir?”.


Pushan diam. Ia menunduk lesu.


“Payah! Kalau cinta harusnya berjuang lebih keras”.


“Aku bisa berbuat apa? Alea tidak mencintaiku lagi”.


“Lembek… masa kamu mau dikalahkan sama makhluk ringkih ini?”.


“Aku tidak tahu… jika Alea ingin bersamanya…. Aku…”. Pushan menitikkan air mata. Ia tak kuasa menjawab pertanyaan Norgyunma.


Hatinya perih.


Alea, kenapa tidak bisa setia padanya?


“Dewa Pushan, apa yang terjadi?” tanya Sol terkejut. Ia mengambil sapu tangan dari sakunya. Dewi itu mencoba menawarkan jasa untuk menghapus air mata Pushan.


Norgyunma terperanjat.


Ia melihat sebuah mantra di saputangan tersebut.


“Sial…mantra mabuk cinta” gumam dewi itu tersulut. Norgyunma menggunakan kekuatannya untuk membakar sapu tangan di tangan Sol.


Sang dewi pun terkejut. Ia tidak mengira jika Norgyunma baru saja mengirimkan sebuah energi untuk membakar barang miliknya.


“Apa yang kau lakukan?” tanya Sol tersinggung.


Norgyunma pura-pura bodoh.


“Ah, maaf… aku barusan melamun. Aku kira sapu tanganmu adalah kupu-kupu setan” ucap dewi itu berdalih.


Norgyunma mengusap tangan Sol. Ia berpura-pura meminta maaf karena telah membakar sapu tangan tersebut.


“Aku akan menggantinya…. Janji, nanti aku akan mengunjungimu di penjara”.


Sol tersenyum kecut. Sebenarnya, ia kesal. Sapu  tangan tersebut adalah benda yang telah ia persiapkan untuk membuat Pushan tergila-gila kepadanya. Ia sengaja mencuri benda itu dari gudang penjara langit. Mantra itu biasa mereka gunakan sebagai alat interogasi di penjara. Para penjaga akan menggunakan mantra mabuk cinta untuk membuat para terdakwa mengakui kejahatannya.


Dengan mantra itu para petugas penginterogasi akan mudah mendapatkan pengakuan dari terdakwa langit yang


tengah jatuh cinta.


Ia berharap keampuhan mantra itu dapat membuat Pushan jatuh cinta padanya. Sol ingin menjadi tempat satu-satunya bagi Pushan untuk bersandar.


“Hei, Sakra…” panggil Norgyunma via telepati.

__ADS_1


“Hmm, apa?”.


“Setibanya di rumah. Kita harus bereskan serangga di depan kita ini agar ia tidak mengganggu hubungan Alea dan Pushan”.


“Aku mengerti. Aku sudah membaca triknya sejak tadi…. ia licik….” timpal Sakra.


“Jangan sampai ia menjadi pendamping Pushan kita”.


Sakra setuju. Ia tidak suka dengan gaya Sol yang centil dan sok imut.


Sang dewa memuntahkan isi perutnya ke pakaian Sol.


“Ah, maaf…. Goyangan kereta inimembuat perutku terkocok”.


Wajah Sol pucat.


Sejak tadi, ia telah mencoba berdamai dengan pakaiannya yang kotor dan rambutnya yang kusut.


Kini, pakaiannya semakin kotor. Bagaimana ia harus menyelamatkan wajahnya di hadapan Pushan?


“Wah, kita sudah tiba. Ayo kita bawa pemuda ini ke Istana Kaisar Langit. Kaisar pasti bisa menyembuhkannya” ujar Norgyunma riang.


“Apa? Kau tidak boleh membawa manusia begitu saja ke istana …. Dia hanya manusia rendahan” tukas Sol menolak ide Norgyunma.


“Kata siapa tidak boleh? Sudah kau urus saja Gosta Cola… bawa dia ke penjara dan dapatkan penghargaan yang pantas kau dapatkan” balas Norgyunma.


“Aku harus bertemu Kaisar terlebih dahulu. Aku harus melaporkan bahwa aku berhasil menangkap salah satu buronan terbesar sepanjang masa”.


Sol menambahkan kalimatnya,


“Lagipula… apa pantas makhluk bumi yang kotor itu masuk ke Istana Kaisar Langit yang dipenuhi kemuliaan?”.


“Pantas… dan ia tidak kotor. Semua yang disukai Alea  tidak kotor. “ jawab Pushan sambil merampas tubuh Raseyan dari Norgyunma.


Wajah Sol memerah. Hardikan Pushan membuatnya terkejut. Siapa itu Alea? Apakah nama gadis bumi yang mereka temui di dunia transisi?


“Kau langsung saja ke penjara membawa Gosta Cola. Permasalahan mengenai siapa yang pantas masuk istana bukan urusanmu dan tidak akan pernah menjadi urusanmu.” jawab Pushan ketus.


Sakra dan Norgyunma bersorak dalam hati. Kejudesan inilah yang mereka rindukan. Kejudesan yang telah membuat banyak dewi menyerah mengejar Pushan.


***


Kedatangan Raseyan ke istana disambut sendiri oleh Kundali, dewa yang kini menjabat sebagai Kaisar Langit.


“Ia tidak bisa kami sembuhkan, apakah Yang Mulia bisa membantunya?”.


Kundali tersenyum.


Ia mendekati tubuh Raseyan yang dingin.


“Sebentar lagi… usianya sebentar lagi”.


“Apa maksudmu Yang Mulia?” tanya Pushan terkejut.


Kundali menatap Pushan.


“Seharusnya ia sudah mati… tapi kau membawanya ke dunia paralel yang diciptakan oleh Nazaxenna dan Oor, ia bisa bertahan hidup. Ia mungkin bisa memperpanjang keberadaan tubuh fisiknya di dunia itu. Tapi jika ia


Pushan terdiam.


“Apakah ini semua bagian dari rencanamu Yang Mulia?” tanya Pushan penasaran.


“Pushan…. “ Kundali menarik napas.


Ia mencoba menjelaskan sesuatu yang mungkin akan sulit diterima oleh dewa itu.


“Relakan Alea untuknya”.


Norgyunma jatuh terduduk. Ia lemas setelah mendengar permintaan Kaisar Langit tersebut.


Pushan menatap Kundali dengan perasaan tak menentu.


“Sampai ia meninggal?” tanya Pushan lagi.


Kundali mengangguk.


“Waktunya tidak lama lagi. Kau tahu bahwa tanpanya, kau tidak akan lahir. Hanya sebentar saja, sampai ia menghembuskan napas terakhir”.


Hati Pushan perih. Ia tahu maksud Kundali.


Ada sebuah ujian mengenai kemelekatan yang harus ia lalui.


Tak hanya manusia, para dewa juga harus melalui ujian yang diberikan oleh Pemilik Kehidupan, sang perancang semesta, atasan mereka semua.


Oleh karena itu, dunia dewa juga tetap dipenuhi oleh konflik yang tidak berkesudahan. Sebagian dari mereka tidak


bisa mengendalikan gelora untuk berkuasa atas sesuatu. Sebagai calon Kaisar Langit, Pushan tahu bahwa ia harus bisa memiliki kemampuan kendali asa dan rasa.


Perubahan adalah kebenaran abadi, dan dalam kebenaran tidak ada baik dan buruk. Segala kejadian adalah rancangan Sang Pemilik Kehidupan untuk membantu ciptaannya


berkontemplasi akan arti penciptaan mereka.


“Aku paham….” jawab Pushan. Ia menerima perintah Kundali dengan penuh hormat.


“Antar Raseyan sampai ia bertemu kembali dengan Alea. Aku meminta maaf karena memberikan tugas yang sangat berat padamu. Tapi sampai Raseyan menghembuskan napas terakhirnya, kau tidak boleh


mengganggu hubungan mereka berdua”.


Norgyunma tanpa sengaja menabok wajah Sakra. Ia terlalu terkejut saat mendengar perintah Kundali.


“Sakit….” teriak Sakra dengan pipi yang bengkak.


“Kalian berdua…. Mulai hari ini kubebaskan dari tugas kalian menjaga cawan suci Dinasti Syailendra” ujar


Kundali.


Norgyunma dan Sakra melotot.


“Terus aku jobless, Yang Mulia?” tanya Sakra polos.


Wajah Norgyunma pucat. Bagaimana dengan gaji bulanannya? Harga cairan pembilas rambutnya sangatlah mahal. Bahkan sangking mahalnya, ia sering meminta diskon kepada para kelinci pengumpul bunga-bunga di awan yang menjual cairan tersebut. Tanpa gaji yang mumpuni, mana mungkin ia bisa membeli cairan pembilas rambut tersebut?

__ADS_1


“Jadi mulai hari ini, apakah kami harus lamar kartu tanda pencari kerja?” tanya Norgyunma panik.


“Memangnya kalian pikir ini di bumi? Sejak kapan dunia kita memiliki konter kartu-kartuan!” jawab Kundali ketus.


Kaisar Langit itu mendekati tubuh Raseyan. Ia meletakkan telapak tangan di atas dahi pemuda itu. Sambil


mengirimkan energi yang akan kembali menghidupkan sel-sel Raseyan, Kundali memberikan perintah baru kepada Norgyunma dan Sakra.


“Kalian dan Naga Swarna akan menjadi pelindung pusaka baru yang akan kuberikan pada Kavindra”.


Norgyunma dan Sakra menarik napas lega. Mereka sangat takut menyandang status sebagai pengacara alias pengangguran banyak acara.


“Kalian semua pergilah ke bumi, dan bawa Raseyan” perintah Kundali.


Kaisar Langit itu menyerahkan sebuah kristal ke tangan Norgyunma.


“Apakah ini pusaka barunya? Tunggu, dari warnanya... apakah ini kristal kebijaksanaan??” tanya Norgyunma terpana.


Pusaka tersebut adalah pusaka langka. Di dalam kitab pusaka yang mereka pelajari saat kecil, ada sebuah


kristal yang dapat memfasilitasi perubahan peradaban di sebuah galaksi. Kristal-kristal itu hanya diberikan pada manusia yang dipercaya dapat mengemban tugas sebagai agen perubahan sebuah kaum.


“Apakah ini artinya?” pertanyaan Sakra terputus.


Ia tidak mengira jika Kavindra memiliki ketetapan takdir yang luar biasa megah. Pemilik pusaka itu akan berhasil


membawa negara yang ia pimpin ke arah kejayaan.


Pushan menunduk. Ia tidak bisa membayangkan jika suatu hari Kavindra akan menjadi pemimpin besar di negara


yang ditinggali Alea.


“Pasti mereka bertengkar setiap hari” tawanya dalam hati.


Kundali menepuk pundak Pushan.


“Ingat…. Jika Raseyan menghembuskan napasnya, hapus memori Alea mengenai apa yang sudah terjadi di dunia transisi. Setelah itu, Alea akan kembali jadi milikmu”.


Pushan mengangguk. Ia menerima perintah Kundali dengan hati lapang.


“Ah, Yang Mulia sebelum kami pergi….” Norgyunma memberanikan diri untuk menyampaikan pendapat.


“Aku tahu, kepala penjaga penjara bernama Sol itu kan?”.


Tentu saja Kundali sudah tahu. Ia sendiri yang sengaja menjebak Sol untuk membuka topengnya selama ini. Nazaxenna sudah memberi tahu Kundali perihal Sol dan janjinya untuk tidak membalas dendam kepada pembunuh sang suami.


Sayang sekali, dewi itu menjilat ludahnya sendiri. Ia melanggar janjinya terhadap Nazaxenna, bahkan rela


memanipulasi penangkapan Gosta Cola untuk kepentingannya sendiri.


Sol tidak tahu jika ia masuk dalam jebakan Nazaxenna.


Penangkapan Oor hanyalah sebuah perangkap. Nazaxenna sebenarnya ingin menguji Sol. Ia mulai meragukan niat Sol untuk bertobat setelah melihat perilaku dewi itu sebagai kepala penjaga penjara. Sol sering memanfaatkan kecantikannya untuk kepentingan pribadi.


Ia juga sering menggunakan senjata dan peralatan yang ada di penjara untuk membangun kekuatan di dunia tujuh dimensi.


“Tenang saja… saat ia kembali ke Penjara Langit. Aku sudah meminta Kepala Penjara Langit untuk mencopot dan


mempermalukannya. Ia dan Gosta Cola akan berbagi ruang sel” jelas Kundali lagi.


Benar juga, pikir Norgyunma. Berkat batu yang ditempelkan oleh Sol, sel-sel di tubuh Gosta Cola bertransformasi. Ia tidak lagi bisa dikategorikan sebagai manusia biasa. Ya, kini Gosta Cola bukan lagi seorang manusia, tepat seperti keinginannya.


Ia telah berubah menjadi dewa level rendah. Namun sayang sekali, takdir menetapkan bahwa  ia akan menjalani


sisa hidupnya sebagai dewa tawanan di penjara langit.


“Terima kasih Yang Mulia. Jika boleh, tambahkan hukumannya” pinta Norgyunma.


“Hukuman tambahan? Karena menggoda calon Kaisar Langit?” tanya Kundali.


Norgyunma tersipu.


“Aku tidak bisa melakukannya. Aku tidak bisa menyalahgunakan wewenangku untuk hal-hal yang receh” ujar Kundali yang kini telah menjadi Kaisar Langit.


Pushan memberi kode kepada Norgyunma.


Gerakan jemari Raseyan adalah sebuah tanda bahwa mereka semua harus kembali ke dunia Alea.


“Ia tidak ingat jika engkau memiliki hubungan dengan Alea. Ia hanya tahu jika kau adalah prajurit dari langit yang


akan membantu penangkapan Horrack” lanjut Kundali.


“Horrack? Dewa perusak itu?” seru Norgyunma, Sakra dan Pushan secara bersamaan.


“Ya, Nazaxenna sekarang ada di bumi untuk menjebaknya. Bantu ia dan Clauss untuk menyeret Horrack kembali ke sini”.


Ketiga dewa itu mengangguk.


Mereka paham akan sejumlah tugas baru dari Kaisar Langit.


Selain menangkap Horrack, ada misi-misi lain yang harus mereka jalankan.


Pushan yang harus mengantarkan Raseyan kembali ke sisi Alea.


Lalu Norgyunma dan Sakra yang harus menanamkan kristal kebijaksanaan ke dalam tubuh Kavindra.


“Kami pamit Yang Mulia”.


Kundali melepas kepergian mereka dengan sorotan dingin.


Ia berharap Pushan dapat melewati ujian terberatnya.


Merelakan Alea untuk Raseyan.


***



Vote, komen dan sharenya yaa Fanalea! Thank you


__ADS_1


__ADS_2