
Para petugas polisi mulai berdatangan ke kediaman Maro. Kavindra menarik napas lega.
Ia tidak sabar untuk menyerahkan buku berisi daftar benda cagar budaya yang telah dan akan dijual keluarga Maro ke luar negeri. Dokumen yang ditulis dengan manual tersebut merupakan bukti otentik perdagangan ilegal dan kegiatan penampungan benda cagar budaya hasil jarahan.
Kavindra berharap setelah ini, upaya pelindungan benda cagar budaya akan mendapatkan perhatian lebih. Semoga polisi dapat menelusuri jejak-jejak benda cagar budaya yang hilang dan mengupayakan pengembalian benda cagar budaya yang ada di luar negeri.
“Alea, kau mau membantu aku kan?
Kita harus berbuat sesuatu untuk menyelamatkan negeri ini…” ujar Kavindra.
Alea mengangguk.
Ia memiliki perasaan yang sama.
Hatinya geram. Kenapa heritage Indonesia seperti kurang mendapatkan pengakuan dari generasi muda? Tentu saja ia salah satunya.
Entah ada berapa banyak candi yang tidak ia ketahui nama dan asal usulnya.
Entah ada berapa peradaban leluhur yang mungkin bisa mengajarkannya ratusan kearifan lokal.
Bagi Alea, perjalanan time travel yang ia lalui telah mengubah cara pandangnya terhadap sejarah dan budaya dunia dan juga nusantara.
Tanpa artifak yang ditemukan di Nalanda tersebut, ia tidak mungkin mengenal nama Kadatuan Sriwijaya.
Benda-benda cagar budaya itu adalah petunjuk mengenai siapa kita di masa lalu, dan akan jadi apa kita di kemudian hari, gumam Alea pelan.
Angin malam yang dingin menjadi saksi bisu kepedihan hati kedua sahabat itu.
Meski mereka berdua besar di luar negeri, namun semangat merah putih Alea dan Kavindra tetap menyala.
“Ayo, Le… kita pulang” ajak Kavindra.
Alea pun mengikuti langkah Kavindra. Ia duduk di belakang jok mobil bersama Raseyan. Sementara itu Nobi
bersaudara sudah melingkar manis di carrier mereka masing-masing.
“Ras, kamu kenapa?” tanya Alea curiga. Wajah Raseyan pucat. Alea menyentuh dahi pemuda itu. Ia panik bukan main saat merasakan suhu tubuh Raseyan.
“Kav, dia demam… badannya panas banget”. Alea merogoh isi tasnya. Ia meminta Raseyan untuk meneguk beberapa tetes air.
“Ini Le… kerokan…. ama balsem”.
Alea menatap Kavindra yang baru saja mengeluarkan balsem dari laci mobil depan.
“Ga sekalian bekam Kav? Masa orang panas lo kerok! Dasar ajaib!” omel Alea.
Gadis itu meminta Kavindra untuk mampir ke klinik kesehatan terdekat.
“Udah jam segini, Le… rumah sakit terdekat yang ada UGDnya agak jauh. Apa ga kita bawa ke rumah aja? Besok pagi baru kita ke dokter kalau panasnya makin parah”.
Alea melirik pergelangan tangannya.
Benar juga sudah jam setengah dua pagi, gumamnya.
“Ya udah kita ke rumah gue aja… siapa tau Norgyunma bisa sembuhin…”. Alea dan Kavindra pun terdiam. Keduanya baru ingat jika Norgyunma dan dua dewa lainnya terjebak di dunia transisi.
“Nazaxenna tadi udah balik ke rumahnya?” tanya Kavindra.
“Tadi katanya gimana?” Alea balas bertanya.
Keduanya didera rasa cemas. Mereka berdua sama sekali tidak tahu jalan keluarnya.
Bagaimana jika ternyata Raseyan tidak bisa disembuhkan dengan pengobatan medis? Lagipula, keduanya baru sadar jika Raseyan tidak punya kartu identitas. Bagaimana mungkin ia bisa berobat di rumah sakit lokal?
“Bawa Raja kembali ke tempatnya”. Sebuah suara sayup-sayup mengejutkan Alea.
Instingnya mengatakan bahwa pesan itu berasal dari penghuni Gunung Padang.
Alea buru-buru menceritakan perihal suara gaib tersebut kepada Kavindra.
“Ya udah kita cus aja ke sana…”.
Pria itu tidak mau berpikir dua kali. Ia mengatakan bahwa petualangan mereka belum selesai.
Kavindra meningkatkan kecepatan mobilnya.
Sementara itu Alea terus membasuh dahi Raseyan dengan saputangan basah.
Pemuda itu mulai mengigau. Alea pun bertambah panik.
Ia membiarkan Raseyan menggenggam telapak tangannya.
Hatinya perih. Ia bisa menduga jika usia Raseyan tidak akan lama lagi.
Alea melihat proses memudarnya memori-memori yang melekat di kehidupan Raseyan.
Ia bak melihat puluhan ribu jigsaw yang terpental ke tujuh penjuru.
Anehnya, ia melihat keberadaan Pushan di dalam memori-memori tersebut.
“A… Alea…. Istriku…..” igau Raseyan dengan suara parau.
“Ras, Ras… ini aku…. aku bersamamu…” panggil Alea lembut.
Ia merebahkan kepala Raseyan ke atas pangkuannya.
Lebih baik jika Raseyan berbaring, pikir Alea lagi.
Gadis itu kembali mengusap dahi Raseyan.
Panas tubuh Raseyan sangat tinggi sehingga Alea hanya bisa berharap pada keajaiban. Ya, keajaiban yang bisa menyelamatkan pria yang kini menjadi suaminya.
***
Stasiun Lampegan.
Demikian nama yang tertulis di papan stasiun kereta tersebut.
Setibanya mereka di dekat stasiun yang terdekat dengan situs Gunung Padang, Kavindra mulai merasakan sebuah keanehan.
Jalan mereka seperti dibuka oleh kekuatan yang tidak terlihat.
__ADS_1
Dalam hitungan menit, mereka telah tiba di kaki situs megalitik itu.
Kavindra pun buru-buru memarkirkan mobilnya. Setelah itu, ia bergegas membantu Alea memapah Raseyan yang sudah tidak sadarkan diri.
“Bisa ga dia naik tangga setinggi ini?” tanya pria itu panik. Setidaknya ada lebih dari seratus buah tangga untuk
naik ke atas, dan Kavindra tidak yakin mereka berdua cukup kuat untuk memapah Raseyan.
Alea tersenyum.
“Tidak perlu Kav… kita semua telah disambut”.
Di hadapan mereka ada puluhan ribu makhluk yang kini tengah memberikan penghormatan. Mereka rupanya menyambut kedatangan sepasang manusia yang pernah bertahta sebagai raja dan ratu Sundayana.
Gadis itu lalu memberi tahu Kavindra mengenai kedatangan makhluk-makhluk penghuni Gunung Padang.
Raut para makhluk itu menyiratkan sebuah kesedihan. Raut yang membuat Alea curiga bahwa umur Raseyan memang tidak akan lama lagi.
“Kav, kita disuruh pejamkan mata” bisik Alea.
Keduanya lalu menuruti perintah makhluk-makhluk tersebut. Mereka berdua memejamkan mata dan membiarkan semilir angin membawa tubuh fisik mereka pergi.
Tak berapa lama kemudian, mereka mendengar suara lembut yang berasal dari sesosok makhluk.
“Kalian boleh membuka mata sekarang…”
Alea dan Kavindra sempat mundur dua langkah.
Tentunya mereka tidak mengira akan berpapasan dengan seekor harimau raksasa.
Harimau itu tersenyum dan meminta keduanya untuk tidak takut.
Wajah sang harimau memancarkan pesona yang sangat kharismatik. Gerakan tubuhnya begitu anggun. Walau hanya sebentar bersua, Alea tahu bahwa harimau ini merupakan salah satu pemimpin yang menghuni area Gunung Padang.
“Pintu dunia transisi telah diledakkan oleh sesosok dewa jahat. Ia berhasil memukul mundur pasukan terkuat kami” harimau itu kembali membuka suara.
Ia menolak untuk memperkenalkan namanya. Menurut harimau itu, lebih baik Alea tidak pernah tahu mengenai identitasnya.
Bulu-bulu harimau itu terlihat berkilau. Pola-pola di tubuhnya berwarna emas. Wujudnya mengingatkan Alea pada harimau emas yang kini berada di ambang kepunahan. Sejujurnya Alea sangat terpesona.
“Tapi pintu itu bisa kembali terbuka…. jika saja kami menemukan manusia yang memiliki pusaka kuat di dalam
tubuhnya. Apakah Yang Mulia Raja dan Ratu masih memiliki pusaka para leluhur?” tanyanya.
Alea menggeleng. Kujang Dilahana dan cincin Puteri Agung telah dileburkan untuk prosesi pemanggilan kunci
langit. Begitu pula dengan pecahan batu bintang yang sempat ada di tubuhnya dan Raseyan. Nazaxenna telah mengeluarkan kedua pusaka itu dari tubuh mereka.
“Bagaimana denganmu? Aku dapat merasakan sebuah kekuatan pusaka dari tubuhmu”. Harimau itu bertanya pada
Kavindra. Ia sepertinya mengetahui keberadaan kristal kebijaksanaan yang tertanam di ubun-ubunnya.
“Aku?” tanyanya bingung. Kavindra memang tidak tahu. Ia tidak sadar jika Norgyunma dan Sakra telah memberinya
sebuah pusaka bertuah.
Alea pun teringat dengan kristal tersebut. Ia adalah salah satu saksi yang melihat proses masuknya pusaka langit itu ke ubun-ubun Kavindra.
Harimau itu mengendus ubun-ubun Kavindra.
Ia mengangguk.
“Aku harus mengorbankan nyawaku untuk membuka pintu itu… tapi demi Yang Mulia Raja aku akan melakukannya. Kristal itu akan membantu kami untuk menyelaraskan frekuensi. Mungkin aku akan mengalami kesulitan karena tempat yang kita tuju adalah dunia paralel yang tidak bisa sembarang dibuka oleh makhluk level bawah”.
“Kau akan mati?” tanya Alea cemas.
“Iya, kau tidak perlu khawatir. Aku sudah hidup cukup lama… tapi Yang Mulia Raja tidak boleh mati di tempat ini….
jasadnya akan membuat geger dunia ini… ia akan menjadi bukti dari sejarah yang seharusnya tidak diketahui manusia”.
Alea menitikkan air mata.
Dugaannya tepat. Umur Raseyan tidak panjang. Pemuda itu akan menghembuskan napas terakhirnya.
Harimau itu menjilat rambut Alea. Interaksinya membuat Alea mengerti kenapa Raseyan harus kembali ke dunia transisi sesegera mungkin.
Raseyan tidak boleh mendapatkan perawatan di rumah sakit modern. Darahnya akan mengungkap sebuah golongan darah manusia dan DNA yang tidak terdaftar di kehidupan modern. Tubuh Raseyan menyimpan sejumlah bukti sejarah manusia purba yang dapat menggeser teori sejarah yang ada. OLeh karena itu, ia tidak boleh mati di dunia ini. Ia harus menghembuskan napas di dunia transisi, dimana bukti mengenai keberadaannya tidak akan ditemukan oleh penduduk bumi.
“Kavindra, apakah kamu tidak keberatan? Tanpa kristal itu, kau hanya akan menjadi manusia biasa… para dewa menaruh pusaka itu agar masa depanmu lebih cemerlang, kau akan menjadi pemimpin dengan kekuatan super” tanya sang harimau.
Kavindra tersenyum lebar.
“Buatku, menyelamatkan seorang sahabat lebih baik daripada menjadi penguasa dengan kekuatan super. Itulah yang kupelajari dari para penduduk Sundayana. Hidup sederhana dan penuh syukur, dua pusaka yang selamanya akan menyelamatkan hidup manusia. Ambillah, aku tidak memerlukan pusaka tambahan”.
Diam-diam, Alea kagum dengan sifat ksatria dan kesetiakawanan Kavindra. Ia rela membuang masa depannya yang cerah untuk menyelamatkan Raseyan yang jelas-jelas akan meninggal.
Harimau itu memejamkan mata. Ia menggunakan segenap tenaganya untuk bertransformasi menjadi bola cahaya.
Kristal dari ubun-ubun Kavindra pun perlahan meninggalkan tempat asalnya. Kristal itu lalu terserap masuk ke dalam bola cahaya yang berwarna putih gading tersebut.
Lapisan bola itu pun semakin tebal. Setelah mencapai ukuran yang diinginkan, bola itu menembus sebuah area yang berada di tengah-tengah kumpulan bebatuan andesit. Harimau itu meledakkan dirinya.
Pintu masuk menuju dunia transisi pun terbuka akibat ledakan energi tersebut.
“Terbuka!!” jerit Alea. Ia tidak mau membuang waktu. Alea dan Kavindra langsung memapah Raseyan masuk. Mereka berdua pun bertemu dengan Norgyunma, Sakra dan Pushan. Rupanya, ketiga dewa itu tengah berkumpul di mulut pintu masuk dunia transisi.
“Bantu kami….” seru Alea. Pushan langsung menggendong tubuh Raseyan. Tanpa banyak bertanya, dewa itumengikuti instruksi Alea untuk membawa Raseyan ke kediaman Oor.
“Pintu masuk dunia transisi akan tertutup kembali, kita harus keluar secepatnya” seru Kavindra.
“Raseyan… apa kau masih bisa mendengarku?” tanya Alea sambil merapihkan tempat dimana Raseyan terbaring. Alea mengusap tangan sang suami, berharap Raseyan masih bisa menjawabnya.
Gerakan mata Raseyan yang lemah membuat Alea semakin khawatir. Inikah akhir ceritanya dengan pemuda itu?
“Pergilah Alea… jangan sampai terperangkap disini…” lirihnya lemah.
“Aku tidak mungkin membiarkan kau mati sendirian disini. Kau suamiku…” bantah gadis itu.
Raseyan tersenyum. “Terima ka-sih Alea… tugas… tugasmu selesai sampai disini. Uhuk…uhuk…”.
Meskipun terbatuk-batuk, Raseyan berusaha menyelesaikan kalimatnya.
__ADS_1
“Kini pergilah… itu perintahku sebagai su-suamimu”.
Alea menggeleng.
“Alea… cepetan….” Panggil Kavindra panik. Ia dapat mendengar suara gemuruh bebatuan jatuh. Suara itu pasti berasal dari mulut pintu masuk, gumamnya gusar.
“Terima kasih Alea… terima kasih atas memori indah yang telah kau berikan kepadaku…. Aku, aku sangat mencintaimu”.
Raseyan pun menghembuskan napas terakhirnya.
Wajahnya tersenyum.
Ia terlihat sangat tampan.
Putih, bersih, dan berkilau.
Ya, raja Sundayana itu telah tiada.
Mantan pangeran dari peradaban purba yang telah berhasil menikahi Alea.
Seketika, batu bintang yang berada di belakang tubuh pemuda itu terpecah menjadi puluhan bagian. Alea benar-benar terkejut. Batu yang telah dibentuk kembali oleh Clauss tersebut memberikan reaksi yang tidak terduga.
Dari batu tersebut keluar dua siluet sepasang manusia yang menggenggam pecahan batu bintang. Mereka terbang
ke atas dan bergandengan tangan.
Alea pun berlari mengejar kepergian dua siluet hitam itu ke luar kediaman Oor.
Ia melihat bagaimana dunia transisi kembali menjadi tempat yang didominasi permukaan kasar berwarna hitam kelam. Kedua siluet itu kemudian menabur pecahan batu bintang di berbagai penjuru.
Tubuh Alea langsung gemetar.
Pemandangan itu serupa dengan pemandangan yang ia lihat saat pertama kali menginjak dunia transisi.
“Kedua siluet itu, kedua siluet yang aku lihat bukan siluet Oor dan Freya?”.
“Alea…. Cepat!!!” teriak Kavindra yang kini menumpang di punggung belakang Sakra. Kakinya tidak sanggup berlari secepat para dewa. Ia pun meminta Sakra untuk menggendongnya.
Pushan langsung menyambar tubuh Alea.
Ia menyusul Norgyunma dan Sakra yang sudah terlebih dahulu terbang menuju mulut pintu masuk.
Dar!!!!!!!!!!!!
Reruntuhan bebatuan andesit menutup kembali jalur masuk menuju dunia transisi. Dunia perangkap para pasukan zaitun itu kini telah tertutup untuk selamanya.
Alea tidak bisa lagi mengeluarkan air matanya. Ia terlalu shock setelah menyadari bahwa dunia transisi itu
adalah dunia yang menyimpan bukti kisah cintanya dengan Raseyan.
Siluet sepasang kekasih itu bukanlah siluet Oor dan Freya seperti yang pernah ia duga. Itu adalah siluet mereka berdua, ia dan Raseyan. Dunia imajinasi yang dibangun oleh keduanya yang tidak bisa mewujudkan kisah cinta mereka di dunia nyata.
Pushan langsung menyentuh dahi Alea. Ia menjalankan perintah Kaisar Langit untuk segera menghapus memori gadis itu.
“Maafkan aku, Alea” bisik Pushan lirih. Kini ia harus membuat Alea melupakan perasaannya yang pernah tumbuh
untuk Raseyan, raja Sundayana yang kehidupannya tidak pernah tercatat sejarah. Ia menghapus total memori Alea mengenai dunia transisi. Dunia yang seharusnya tidak pernah diketahui oleh manusia.
Pushan baru menyadari bahwa kisah siluet sepasang manusia legendaris yang menjadi cerita turun temurun di dunia para dewa adalah kisah mengenai Alea dan Raseyan. Pikirannya terusik. Hatinya menjadi semakin gundah.
“Ayo kita pulang…” ajak Kavindra sambil berurai air mata.
Norgyunma dan Sakra mengiyakan ajakan Kavindra. Meskipun kristal kebijaksanaan tidak lagi bersemayam di kepala pria itu, Kavindra tetap tuan mereka.
Sepanjang perjalanan pulang, Pushan memandang Alea yang tertidur di jok mobil Kavindra.
Dewa itu teringat dengan alat perekam yang menjadi awal mula kembalinya Alea ke dunia transisi.
Alat itu jatuh di bawah kakinya saat mereka semua berhasil keluar dari dunia tersebut.
Saat ia mengetahui memori yang tersimpan di benda itu, Pushan pun langsung melemparnya ke dalam mulut pintu. Tepat satu detik sebelum bebatuan andesit menutup seluruh jalur masuk pintu dunia yang menyimpan kenangan Alea dan Raseyan tersebut.
"Haaah..... " ujar Pushan mengambil napas panjang.
Di memorinya, terputar kembali kisah legendaris mengenai dua siluet manusia yang muncul di dunia transisi. Saat remaja, ia pernah menonton pertunjukan kisah itu bersama Norgyunma dan Sakra. Tentu saja ia menonton itu karena dipaksa kedua sahabatnya. Maklum, ia memang bukan penggemar kisah roman picisan jadi tidak mungkin ia menonton pertunjukan itu atas kemauan sendiri.
Dua siluet itu konon muncul dari transformasi memori sepasang manusia yang cintanya memang tidak pernah ditakdirkan untuk bersama.
A love that was never meant to be.
Mata Pushan kemudian menerawang ke langit.
Ia teringat dengan pertunjukan yang kali pertama ditampilkan saat upacara inisiasi Clauss sebagai penjaga dunia-dunia transisi. Pertunjukan yang berasal dari ide Nazaxenna, ketika ia masih menjabat sebagai Kaisar Langit. Pertunjukan yang kemudian menjadi populer sebagai hiburan di dunia para dewa.
Pertunjukan yang berjudul.
Diary from the past.
***
Yeay, Tamat!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
Sungkem pembaca satu persatu.
Novel ketiga dari seri Alea.
Komen dan votenya selalu ditunggu.
xoxo
Jaz
__ADS_1