Diary Rere

Diary Rere
Sembilan


__ADS_3

MOS SMP 45 berlangsung kurang lebih selama seminggu. Suasananya begitu semarak dan penuh suka cita. Untuk pertama kalinya aku bisa melihat kisah romansa terbuka di depan mataku yang dipertontonkan secara bebas. Ya, aku melihat beberapa kakak kelas ‘berpacaran’; tatapan mesra satu sama lain, berpegangan tangan, dan jalan bareng sebagai sepasang kekasih. Di dalam hati, aku juga ingin merasakan hal tersebut.


Terdapat dua pasang kekasih yang kuingat banyak membuat iri orang-orang yang melihat. Pasangan pertama adalah kakak kelas yang merupakan anak basket bernama Fadli dengan anak PMR yang bernama Audona. Menurutku mereka sangat cocok dan serasi. Ka Fadli dengan perawakannya yang tidak terlalu tinggi tetapi lincah ketika di lapangan, sangat mahir mendribel dan men-shot bola basket, ditambah lagi dengan kulitnya yang hitam manis menambah pesona Ka Fadli di kalangan adik-adik kelas yang unyu-unyu. Sementara ka Audona memiliki kulit putih bersih, tubuh langsing, dan payudara yang berisi. Walaupun rambut Ka Audona gimbal mengembang seperti nggak sampoan 2 minggu, hal itu tidak mengurangi pesonanya di mata kami.

__ADS_1


Kalau Ka Audona dan Ka Fadli adalah pasangan kelas 8, which is hanya 1 tahun di atas kami, satu pasangan lagi yang juga banyak menarik perhatian pasang mata adalah pasangan kelas 9, yang kala itu bagiku sangat tua dan tidak terjangkau. Ka Keenan Sudirja dengan Ka Suli. Ka Keenan Sudirja biasa dipanggil ‘Kesu’. Selama MOS, sering sekali Ka Kesu dan Ka Suli disorot karena kebersamaan mereka yang terlihat jelas di mata kami, apalagi mereka berdua merupakan anggota OSIS. Seperti Ka Fadli dan Ka Audona, Ka Kesu dan Ka Suli juga merapakan pasangan yang serasi. Mereka seperti diciptakan untuk satu sama lain. Dengan perawakan yang sama-sama tinggi, Ka Kesu dengan tampangnya yang seperti cowok-cowok di anime mampu membuat Ka Suli yang blasteran bertekuk lutut. Kekurangan Ka Kesu hanya satu yaitu hidungnya pesek. Sementara menurutku Ka Suli sempurna, tubuhnya tinggi semampai namun berisi, rambutnya sepundak dengan warna hitam kecoklatan, dan tentu saja hidungnya mancung.


Selain asyik mengamati pasangan-pasangan yang bersliweran ketika MOS, aku juga senang sekali ketika Hari Demo berlangsung. Hari Demo adalah hari dimana seluruh ekstrakurikuler yang ada di SMP 45 dipertontonkan di lapangan utama. ‘Demo’ adalah kependekan dari kata ‘Demonstrasi’. Ekskul-ekskul unggulan di SMP 45 seperti basket, futsal, dan paskibra menjadi ekskul yang paling ditunggu-tunggu penampilannya karena dari tahun ke tahun terkenal sangat apik.

__ADS_1


Basket dan futsal tentu saja beranggotakan cowok-cowok bertalenta dan sering kali juga manis dan ganteng. Mereka memperlihatkan skill bermain yang ciamik yang membuat mata kami (baca: aku) fokus pada wajah dan otot-otot mereka yang terbentuk karena sering latihan. Sementara beberapa teman-temanku yang cowok tentu saja daydreaming bisa menjadi seperti mereka yang memiliki skill bagus dan berani tampil di lapangan utama dan diperhatikan oleh ratusan pasang mata.


Aku sendiri memilih untuk ikut ekskul PMR dengan alasan yang sangat kocak kalau diingat-ingat kembali. Alasanku ikut PMR adalah karena aku ingin menjadi dokter. Lucu bukan? Alasan yang begitu polos. Cita-cita menjadi dokter sebenarnya tidak datang dari lubuk hatiku. Menjadi seorang dokter adalah impian ayah terhadapku setelah melihat hasil psikotes TK yang memberikan beberapa rekomendasi karier berdasarkan kemampuan dan kepribadianku. Akhirnya sedari kecil ketika aku ditanya apa cita-citaku, aku selalu mengingat kalimat ayah bahwa aku akan menjadi dokter. Ditambah lagi ketika kelas 5 SD aku berhasil terpilih menjadi “Dokcil” atau Dokter Cilik yang tugasnya adalah berjaga setiap hari Senin dibelakang barisan upacara untuk melihat dan membantu guru menangani murid yang pusing atau pingsan. Kemudian bila ada murid yang berjalan ke belakang barisan dan duduk di pelataran, kami para Dokcil dengan sigap akan memapah mereka ke UKS untuk diberikan pertolongan pertama: mengoleskan minyak kayu putih ke pelipis, hidung, dan pusar mereka, tentu saja atas seizin pasien kami. Perjuanganku menemukan ‘cita-citaku sendiri’ akan kubahas di lain waktu. Intinya, pilihan cita-cita ayah terhadap diriku sewaktu kecil memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap minat dan pilihan-pilihan hidupku sekarang.

__ADS_1


Aku daftar pada ekskul PMR, begitu juga dengan Jani dan Aira. Entah kenapa ingatanku tentang mereka sangat samar, yang bisa kuingat adalah walaupun kami satu sekolah dan satu ekskul, persahabatan diantara kami benar-benar selesai. Entah apa alasannya. Aku ingat hari ketika seluruh anak kelas 7 yang baru bergabung di ekskul PMR dikumpulkan pada hari Sabtu, hari yang biasanya digunakan oleh berbagai ekskul untuk berkumpul dan latihan. Hari itu aku begitu takut dan ragu untuk masuk ke lapangan utama, tempat berkumpulnya anak-anak PMR. Aku nggak pede sama sekali bertemu dengan orang banyak, apalagi pasti ada momen perkenalan. Rasanya saat itu aku ingin kabur saja, ikut naik motor dan kembali pulang bersama ayah yang Sabtu itu mengantarku.


Namun tetap saja, selama aku menjadi anggota PMR banyak momen menyenangkan yang terjadi. Untuk pertama kalinya, aku mengasah keberanianku berbicara di depan umum, bertemu dan berkenalan dengan teman-teman baru & senior, dan mengetahui sedikit ilmu mengenai ke-PMR-an. Pada tanggal 23 Februari 2014 kami mengikuti lomba membuat tandu dan pertolongan pertama (PP). Aku dan Muni (salah seorang anggota PMR) menjadi salah satu tim yang mewakili PMR SMP 45 pada lomba PP. Aku ingat sekali pada saat lomba aku begitu kikuk dan bodoh, sama sekali tak layak diikutsertakan, tetapi entah kenapa aku terpilih menemani Muni untuk ikut lomba. At the end, kami tentu saja tidak memenangkan lombanya, tetapi yang membuatku mengingat hari itu adalah walaupun kami tidak membawa piala, sore hari ketika kami pulang dan sampai di sekolah tiba-tiba saja kepalaku diguyur air dan ditaburi tepung terigu. Aku mendapat kejutan ulang tahun. Aku begitu terkejut hingga tak bisa berkata apa-apa, namun akhirnya aku larut pada kebahagiaan yang teman-teman dan seniorku buat dengan mengerjaiku di hari ulang tahunku.

__ADS_1


__ADS_2