
Aku masuk kelas 7-H yang terletak di lantai 2 bagian barat sekolah, dekat dengan lapangan voli. Kurasa kelas 7 merupakan masa-masa penuh drama dihidupku: pertama kali pacaran, dijauhi teman-teman, dan hal-hal lainnya yang berkaitan dengan masa-masa pubertas. Aku ingat saat itu memilih duduk di barisan pinggir dekat dengan pintu masuk, tepatnya di bagian belakang barisan. Di kelas kami memang hanya terdapat 3 baris meja dan bangku yang diletakkan sepasang, itu artinya masing-masing dari kami akan memiliki chairmate. Aku lupa siapa chairmate pertamaku, yang kuingat adalah salah satu anak geng cantik masuk ke kelas yang sama denganku, Najla.
Aku dan Najla menjadi chairmate di hari-hari pertama sekolah karena kami sudah saling mengenal sebelumnya. Di kelas, Najla tetap bertingkah laku seperti ketika di SD, dengan sikap bossy-nya, periang, dan mudah akrab dengan orang lain. Kemudian aku berkenalan dengan dua teman baru yang duduk didepan kami, namanya Laila dan Syeza. Syeza dan Najla memiliki kepribadian yang sangat mirip sehingga mereka berdua cepat akrab. Sementara Laila memiliki kepribadian yang juga periang tetapi sepertinya lebih tertarik untuk mengobrol denganku dibanding bersenda gurau dengan Najla dan Syeza. Entah bagaimana pada akhirnya kami saling bertukar chairmate. Aku jadi sebangku dengan Laila, sementara Najla dengan Syeza. Dengan begitu, Laila menjadi teman dekat pertamaku di SMP karena kami memiliki banyak kesamaan dan merasa nyaman satu sama lain.
Singkat cerita, kami mulai saling berkenalan satu sama lain, saling mengakrabkan diri dan membaur. Kami juga mulai membentuk kelompok-kelompok pertemanan kecil atau yang biasa dikenal dengan istilah “geng”, biasanya hal ini didasarkan pada letak bangku. Siapapun yang duduk berdekatan dengan kita, biasanya akan lebih mudah akrab bukan? Entah kenapa aku juga mulai get along dengan Najla, pun Najla juga sepertinya menganggapku begitu. Tetapi walaupun bisa dibilang kami teman satu geng, entah kenapa aku masih tidak menganggap Najla sebagai sahabatku.
Berkaitan dengan sekolahku, SMP 45 memiliki seragam yang sedikit berbeda dari SMP lainnya. Perbedaannya terletak pada rok untuk anak perempuan yang merupakan rok model span, bukannya model rempel seperti rok-rok yang biasanya digunakan di sekolah-sekolah lain. Rok kami tetap berwarna biru dongker seperti warna rok SMP pada umumnya, tetapi potongan pinggangnya tinggi atau kalau istilah sekarang “high waist”. Rok ini membuat siapapun yang memiliki perut sedikit off-side akan terlihat lebih proporsional. Ketika aku mencoba rok ini untuk pertama kalinya, aku begitu senang karena rok ini memberikan ilusi bahwa tubuh kita terlihat lebih ramping daripada aslinya. Sayangnya, di setiap kelebihan pasti ada kekurangan. Rok SMP kami yang span itu membuat lekuk tubuh cewek-cewek yang sedang puber-pubernya jadi lebih menonjol.
Awalnya aku nggak memperhatikan bahwa rok kami membuat pantat cewek-cewek yang montok jadi lebih jelas terceplak, belum lagi garis ****** ***** yang juga ikut-ikutan terlihat. Karena hal ini, untuk kedua kalinya dalam hidupku, aku dijauhi lagi oleh teman-temanku. Sebenarnya alasannya jauh lebih complicated dari sekedar “pantat montok terceplak”, tapi biarlah akan kuuraikan kepada kalian bagaimana duduk perkaranya. Cerita ini juga akan menjadi pembuka cerita kisah kasihku yang bermulai di SMP.
__ADS_1
Seperti yang sudah kukatakan di awal bahwa aku memilih duduk di barisan dekat pintu masuk, tepatnya di bangku ketiga dari belakang. Biar kujelaskan dulu kalau di SMP aku masih merasa bahwa aku adalah seorang bocah gendut yang jelek. Aku tidak merasa cantik sama sekali. Tapi tentu saja aku sudah meng-upgrade diri. Pada saat kelas 7, aku mengganti koleksi hijab bergoku dengan hijab segiempat. Aku juga sengaja membeli dalaman kerudung “Antem”, singkatan dari Anti Tembem. Dalaman kerudung atau yang biasa kita kenal dengan ciput menjadi sahabatku kala itu, karena sukses membuat wajahku yang bulat dan lebar menjadi sedikit lebih lonjong dan tirus. Sedikit sekali. Aku juga masih tidak tau sama sekali dengan dunia per-skincare-an, apalagi make up.
Suatu hari ketika kami sedang belajar, ada satu orang temanku yang duduk di barisan paling ujung bernama Feri, tertangkap basah sedang memperhatikanku. Aku memang selalu merasa bahwa ada seseorang yang sedang menatapku dari barisan ujung, tetapi ketika aku menengok ke arah barisannya, dia langsung buru-buru membuang muka dan kembali berkutat dengan bukunya. Tak lama tersebar gosip bahwa Feri memang menyukaiku. Jujur ketika mendengar gosip tersebut, bukannya senang aku malah kaget. Kaget karena aku tidak percaya ada orang yang menyukaiku dan kaget karena Feri bisa dikatakan termasuk kedalam kategori “cogan”, singkatan untuk cowok ganteng, tapi kenapa dia menyukaiku cewek yang gendut dan jelek ini?
Pada saat itu aku sama sekali belum sadar bahwa diriku sedang mengalami perubahan. Perubahan yang pasti dirasakan oleh tiap remaja perempuan. Perubahan itu bernama pubertas. Aku tidak sadar bahwa aku bertambah tinggi, pinggangku mengecil tetapi pinggulku membesar sehingga memberikan bentuk tubuh seperti gitar, kulitku lebih halus dan menjadi sedikit cerah, suaraku tidak lagi kekanak-kanakan dan menjadi sedikit melengking tetapi tidak sampai pada tingkatan cempreng, dan wajahku? Aku tidak tau kalau pubertas juga bisa merubah wajah seseorang dari jelek menjadi cantik, tetapi sepertinya itulah yang terjadi padaku.
Kemudian, di suatu malam yang penuh dengan tugas, BB Onyx-ku bergetar dan berbunyi “PING!!!”. Tentu saja pada saat itu hampir kami semua menggunakan BlackBerry sebagai gawai andalan, masih jarang sekali yang menggunakan Android/Iphone. Aku membuka HP-ku dan menemukan ada beberapa chat BBM masuk dari salah seorang teman kelasku, namanya Marvin. Beginilah chat Marvin malam itu:
“Halo gw marvin😊”
__ADS_1
“Lo Rere kan??”
Sebelum membalas pesan itu, aku melihat profile picture-nya terlebih dahulu dan memastikan bahwa itu memang Marvin. Profile picture-nya adalah seorang kapten dari salah satu klub bola ternama, dan dibawah foto tersebut tertulis nama panjang Marvin: Marvin Christian Pasaribu. Baiklah, ini memang Marvin, teman sekelasku yang merupakan teman dekat Feri. Marvin duduk didepan Feri.
“Y. Ada apa yah??”
Aku menjawab dengan singkat BBM dari Marvin. Seketika Marvin langsung menjawab dengan cepat.
“Gpp, salken ya. Gw Marvin😊” jawabnya.
__ADS_1
Jujur pada saat itu aku kembali bingung sebingung-bingungnya orang bingung. Ada apa dengan dua emoji senyum yang selalu dikirim Marvin? Kenapa dia mengucapkan “salken ya” yang kutau biasanya hanya ditujukan ke “cewek-cewek cantik”? Marvin mau apa dariku?
Seiring berjalannya waktu dan berkat kegigihan Marvin yang setiap pulang sekolah selalu mengirim pesan BBM, kami jadi dekat dan terbiasa bercerita mengenai hari kami dan apapun yang terjadi pada kami satu sama lain. Anehnya kedekatan kami hanya terjalin di BBM, tetapi di kelas kami tidak lebih dari teman sekelas, bahkan kami tidak saling menyapa. Marvin sibuk dengan teman-teman cowoknya (gengnya) dan aku pun juga begitu. Dia jarang sekali mampir ke barisanku, bahkan jika mampir dia tidak melihatku sama sekali dan malah bercanda dengan Laila. Saat kutanya di BBM mengenai sikapnya yang seolah tidak kenal denganku kalau di kelas, Marvin hanya memberikan jawaban bahwa dia nggak mau ada orang yang tau kalau dia suka sama aku. Apakah menurut kalian itu hal yang wajar?