Dokter Jenius, Ahli Kungfu

Dokter Jenius, Ahli Kungfu
Tidur dipinggir jalan.


__ADS_3

Sasha adalah wanita karir yang menjalankan perusahaan besar, jadi dia berbeda dari banyak gadis lain. Jika itu adalah gadis biasa, dia mungkin akan lari karna canggung dan malu.


"Haha, aku tidak melihat apapun. Aku benar-benar tidak melihat apapun." Dylan langsung meletakkan Bh Sasha sambil tersenyum kecut.


Sasha dengan cepat berjalan ke ruang tamu dan menyambar Bhnya.


"Dylan, tanpa izinku, kamu tidak boleh naik ke atas. Mengerti?" Sasha sepertinya memikirkan apa yang ada di pikiran Dylan.


"Jangan khawatir. Aku tidak akan naik ke atas." Dylan berkata dengan serius.


Sasha khawatir. Dylan mengambil kesempatan untuk diam-diam naik ke atas mengintipnya.


Setelah melihat Sasha pergi, Dylan terus berbaring di sofa dan kemudian menyalurkan tenaga dalam ke tubuhnya. Dia harus segera memulihkan tenaga dalamnya sekarang, karna jika Sasha menemui bahaya, Dylan tidak bisa maksimal untuk melindunginya.


Kekuatan Dylan disebut tenaga dalam. Itu adalah teknik yang disiapkan khusus oleh lelaki tua itu untuknya. Kekuatannya dibagi menjadi lima tingkat. Dylan telah belajar selama beberapa bertahun, dan dia selalu gagal menembus ke puncak tingkat pertama.


karna jantung Dylan sering kambuh, dia tidak bisa menembus keranah berikutnya. Dia tidak punya banyak waktu untuk berkembang. Selain itu, Dylan menghabiskan sebagian besar waktunya mempelajari masalah jantungnya.


Dylan mendengar suara air Sasha sedang mandi. Pendengaran Dylan sangat baik, berbeda dari kebanyakan orang. Jika itu adalah orang biasa, mereka tidak akan mendengar suara-suara ini, tetapi dia bisa mendengarnya dengan jelas.


Dylan tidak tahu mengapa pendengarannya begitu sensitif.


Dylan pernah bertanya kepada lelaki tua itu mengapa pendengarannya begitu sensitif, tetapi lelaki tua itu juga tidak tahu. Sebenarnya, pendengaran sensitif juga merupakan hal yang baik.


Sekitar satu jam kemudian, Sasha berjalan keluar. Rambut hitamnya terurai panjang, dengan pakaian putih yang dikenakan dia terlihat menawan.


Wangi tubuhnya benar-benar membuat mabuk kepayang. Dylan benar-benar ingin berlari memeluk Sasha dan membelainya.


"Mengapa kamu menatapku seperti itu?" Ketika Sasha melihat Dylan menatapnya, dia tersenyum kecil.


"Kamu sangat cantik." Ucap Dylan.


"Kamu tidak serius sama sekali." Sasha berkata dengan marah.


"Aku mengatakan yang sebenarnya. Kamu benar-benar cantik." Dylan berkata dengan serius.


Sasha terlihat bahagia, karna setiap wanita senang dipuji. Meskipun Sasha adalah wanita yang dewasa, dia sangat memperhatikan perawatan.


"Dylan, untuk merayakan kedatanganmu, aku mengajakmu untuk minum." Setelah Sasha merapikan rambutnya, dia berjalan kedepan kulkas dan mengeluarkan sebotol anggur merah.


"Kamu sedang datang bulan, jadi kamu tidak boleh minum, apalagi es." kata Dylan.


Sasha terlihat malu dan sedikit marah. Mengapa Dylan selalu membicarakan masalah ini? Apakah dia tidak tahu bagaimana menjaga suasana?


"Ya, aku tahu, tapi untuk merayakannya, aku akan minum sedikit." Sasha sangat canggung.


Dylan selalu berbicara tentang datang bulan, dia merasa sedikit malu ingat saat pertama bertemu.


"Baiklah, karna kita sudah tinggal bersama, mari kita rayakan." Dylan tersenyum.

__ADS_1


Sasha memutar matanya dan tidak mengatakan apa-apa. Dia menuangkan anggur untuk Dylan, mereka berdua perlahan mulai minum. Bibir merah Sasha terlihat semakin merah dan sangat seksi.


Melihat bibir merah Sasha, Dylan sangat ingin mendekat dan menciumnya. Namun, hubungan mereka saat ini sepertinya belum mencapai tahap ini. Tidak perlu terburu-buru, Dylan memahami prinsip ini.


"Sasha, cepat pergi istirahat. Besok kamu masih banyak tugas di perusahaan." Setelah minum beberapa gelas. Dylan memandang Sasha dan mengingatkan.


Dylan masih lelah. Dia juga tahu bahwa Sasha juga pasti kelelahan.


"Baiklah, kamu juga istirahat lebih awal. Kamu bisa pilih kamar di lantai pertama." Sasha berbalik pergi.


Dylan berjalan ke kamar tamu, cukup luas. Mungkin jika ada keluarga Sasha datang, mereka akan tidur disini.


Dylan tidak membereskan kamar itu, meskipun dia tidur di jalan, dia masih bisa tidur.


Setelah berbaring di tempat tidur, Dylan mengendus selimut. Tidak ada bau wanita. Dia mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi Gita.


"Gita, Sasha." Dylan melihat daftar kontak. Setelah mengingat-ingat. Mereka berdua sedikit mirip? Mungkinkah mereka masih kerabat?


Namun, Dylan merasa itu tidak mungkin, karna jika Gita dan Sasha adalah saudara, orang-orang itu tidak akan berani menghancurkan kliniknya secara paksa.


Dylan berencana menghubungi Gita, dia tidak tahu bagaimana keadaannya sekarang. Sejak rumahnya akan dibongkar paksa, Gita jarang pergi ke sana.


Meskipun dia tidak menghabiskan banyak waktu dengan Gita, Dylan memiliki kesan yang baik padanya. karna Gita sangat baik padanya dan dia bahkan merawatnya.


"Dylan, ada apa?" Sepuluh detik kemudian, suara Gita terdengar.


"Gita, di mana kamu sekarang?" Tanya Dylan.


"Haha, tentu saja aku peduli padamu. Kamu adalah kakakku yang cantik." Ketika Dylan sedang ngobrol, wajah cantik dan sosok Gita muncul di benaknya.


Ingatan malam itu masih jelas di benaknya. Dylan sepertinya tidak bisa melupakannya. Tentu saja, dia juga tidak ingin melupakannya.


"Aku di kamar yang diberikan oleh perusahaan. Dylan, apakah kamu masih disana?" Gita bertanya dengan prihatin.


karna dia tahu Dylan tidak punya tempat tinggal lain, Gita mengkhawatirkan Dylan. Dia tidak tahu bagaimana keadaan Dylan sekarang.


"Gita, Aku tidur di jalan sekarang. Cuacanya dingin dan rasanya sangat tidak nyaman." Suara Dylan terdengar sangat memelas.


"Cih! Apakah aku gadis polos? Apakah kamu pikir aku akan mempercayaimu?" Ucap Gita dengan ketus.


"Gita, aku benar-benar di jalan sekarang. Sangat dingin. Aku kedinginan" Dylan melanjutkan.


Gita terdiam selama beberapa detik. Jelas, dia sedikit terpengaruh ucapan Dylan.


"Dylan, di mana kamu sekarang? Aku akan mencarimu." Gita berpikir sejenak dan menjadi sedikit kasihan.


Dylan sangat tersentuh karna Gita benar-benar peduli padanya. Setelah mengetahui bahwa dia ada di jalan, dia ingin membantunya. Pemilik kontrakan yang begitu cantik, Dylan merasa sangat puas. Dylan sebenarnya merasa agak menyesal karna dia membohongi Gita.


"Gita, lupakan saja. Kamu tidak perlu peduli padaku. Jika kamu mengalami kesulitan, datang saja padaku kapan saja." Setelah mengatakan itu, Dylan menutup telepon.

__ADS_1


"Sialan Dylan, kamu benar-benar berbohong padaku." Gita sedang berbaring di tempat tidur dengan ponsel di tangannya. Dia menggerutu.


"Ada apa denganku? Kenapa tiba-tiba aku peduli padanya?" Ucap Gita, sambil melirik ponselnya.


Dia tidak tahu mengapa, tetapi ketika dia mendengar Dylan tidur di jalan, dia merasa sangat tidak nyaman. Dalam benak Gita, wajah tampan Dylan muncul. Dia menggelengkan kepalanya dan memukul bayangan itu.


Tepat ketika Gita hendak tidur, SMS masuk. Seseorang telah mentransfer 200 juta kepadanya.


"Ya Tuhan!" Melihat begitu banyak uang, Gita benar-benar terkejut.


Gita sempat tidak percaya. Tapi setelah dia menerima uang dari orang yang menghancurkan kliniknya, Gita baru percaya. Dia memikirkannya, siapa yang membantunya. Tetapi setelah berpikir lama, dia masih tidak bisa mengingat siapa yang begitu baik dan membantunya.


***


Dylan sudah tidur. Meski sedang memejamkan matanya, ia tidak berani tidur terlalu lelap.


Tok! Tok! Tok!


Dylan mendengar seseorang mengetuk pintunya.


"Siapa?" ucap Dylan.


"Ini aku, Dylan. Dasar pemalas. Kenapa kamu belum bangun?" Suara Sasha terdengar.


Setelah mendengar suara Sasha, Dylan ingat bahwa dia adalah pengawal Sasha sekarang, jadi dia harus bangun sebelum Sasha.


Melihat jam tangannya, Dylan melompat. Ya Allah, sekarang sudah jam enam. Dia tidak sholat subuh.


"Dylan, cepat bangun. Setelah sarapan, kita harus pergi ke perusahaan." Sasha berdiri di luar pintu dan berteriak.


Dylan bangun dengan sempoyongan. Meskipun dia lelah, tidak ada yang bisa dia lakukan. Dia bersedia menjadi pengawal Sasha.


Setelah keluar dari kamar, dia melihat Sasha sedang sarapan. Tapi sarapan ini semua pesan online bukan masakan sendiri.


"Dylan, kamu harus bangun jam enam. Atau kamu harus bangun jam setengah lima. Apakah kamu tidak sholat subuh?" Sasha memandang Dylan dengan genit.


"Baik?" Jawabannya singkat.


"Bagus." Sasha mengangguk.


Dylan menyeret tubuhnya yang lelah dan perlahan berjalan ke kamar mandi. Saat ini, Dylan sedang memikirkan hari-harinya di pegunungan. karna di pegunungan, lelaki tua itu sering memintanya untuk tidur lebih awal dan bangun lebih awal.


Sasha melihat Dylan memasuki kamar mandi dengan lesu dan tidak bisa menahan diri untuk tidak menggelengkan kepalanya.


Di mata Sasha saat ini, Dylan benar-benar pemarah. Sifat buruknya harus diubah.


Kurang dari lima menit setelah Dylan memasuki kamar mandi, dia perlahan keluar.


"Begitu cepat?" Sasha memandang Dylan dengan ekspresi terkejut.

__ADS_1


"Ada apa? Apakah ada masalah?" Melihat ekspresi Sasha yang terkejut, Dylan juga bertanya dengan bingung.


__ADS_2