Dream Catcher

Dream Catcher
Pemakaman Suster Mina


__ADS_3

Di klinik pinggiran kota, yakni klinik Yobes pukul 04.30 dini hari, sebuah kecelakaan tunggal nahas menimpa salah seorang suster disana, ia bernama Suster Mina dari Unit Jiwa.


Kala itu Suster Mina bertugas jaga malam bersama ketiga rekan nya, hanya saja malam itu ia tiba-tiba terjatuh dari ketinggian lantai 4 dan meninggal di tempat.


Masih belum mendapat titik terang yang pasti atas kasus tersebut pihak kepolisian masih terus menyelidiki dengan menayai para saksi dan rekan kerja korban.


Suara lantang para wartawan terdengar bergemuruh di lokasi kejadian setelah kepolisian sudah memberi pembatas garis kuning.


Dania terus mengejar Salva yang di bawa seseorang yang tidak di kenal nya, sesekali Dania seakan kehilangan mereka karena keramaian yang membuat nya tidak leluasa.


Nampak dari kejauhan Salva di bawa ke pinggiran basement yang terlihat jauh dari keramaian.


Dania akhirnya berlari untuk mengejar Salva, pria itu nampak mencurigakan dengan pakaian terkesan kriminal, tak berselang lama Dania akhirnya dapat mengejar keponakan nya itu dan dengan gesit menendang punggung Pria berpakaian hitam itu dengan keras.


Pria itu langsung terhempas di sudut dinding.


" Tan..sabar dia Niko, nggak ada maksut untuk melukai Salva."


Cegah Salva dengan memegangi Dania.


Dania yang baru mengetahui bahwa itu Niko langsung melongo.


" Apa, dia Niko." Ucap Dania dengan kaget.


Niko yang merasa sedikit kesakitan karena terbentur langsung membuka masker dan topi serba hitam nya.


" Iya ini Niko Tan." Ucap nya sedikit meringis karena kesakitan.


" Siapa suruh kamu modelan Bandit kayak mau nyulik Salva."


Ucap Dania tak mau minta maaf seakan seperti memiliki dendam pribadi.


Untuk kedua kalinya mereka melihat jasad Suster Mina yang sudah di pindahkan di kamar Mayat rumah sakit swasta.


Dania di mintai datang ke kepolisian untuk penyidikan karena ada sebuah Chat di ponsel korban yang belum lama di kirimkan kepadanya.


" Nyonya Dania, mari ikut sebentar untuk di mintai keterangan guna penyidikan". Ucap seorang Polisi yang menemui nya.


Dania mengangguk dan mengikuti polisi tersebut.


Sedangkan Niko dan Salva saling berpandangan dengan perasaan tak karuan.


Mereka disuruh menunggu di koridor sampai Dania selesai di mintai keterangan.


" Va, semalam kamu melihatnya."


Ucap Niko berbicara lirih. Salva menatap Niko yang duduk di samping nya. Niko seakan mengalihkan pandangan mereka setelah mata mereka bertemu.


Salva mengangguk tanpa bergeming.


" Apa kamu juga sering bermimpi buruk." Tanpa menoleh Salva mengangguk.

__ADS_1


Niko menghela nafas yang cukup panjang.


" Maafkan keegoisan ku, ternyata kamu juga membutuhkan Pajangan itu, aku juga bingung kenapa pajangan itu bisa membawa aku bersama mimpi mu."


Salva menoleh lagi ke arah lawan bicara nya.


" Setelah kita pulang, aku akan mengantarkan pajangan itu kerumah mu."


Ucap Niko dengan sedikit murung.


Mentari akhirnya muncul tak berselang lama saat Dania keluar dari ruangan introgasi.


Mereka akhirnya pulang kerumah, Baik Salva maupun Niko seperti nya meminta ijin tidak hadir di sekolah untuk menengkan diri dari peristiwa hari ini.


Niko menepati Janji nya dengan membawa pajangan itu ke apartement Salva.


Tante Dania masih bersikap sedikit ketus dengan Niko saat mempersilahkan Niko masuk ke apartement nya, Dania masih saja mengingat-ingat kejadian tempo hari saat Niko mengusir mereka dari rumah nya. Pria itu nampak tidak enak hati melangkah masuk.


Niko memberikan Pajangan dari bulu merpati itu kepada Dania.


" Maaf kan kejadian tempo hari yang kurang mengenak kan di hati Salva maupun tante Dania, maafkan ke egoisan ku yang bersikeras menginginkan pajangan ini."


Ucap Niko dengan lirih.


Dania langsung luluh dan iba mendengar ucapan seorang pria yang sebaya dengan keponakan nya itu.


Tante Dania menghela nafas panjang dan menepuk - nepuk pundak Niko dengan lembut.


Niko mengangguk.


" Apa Niko sama seperti Salva sering bermimpi buruk..?"


Niko langsung mengangguk.


" Sejak kapan..?"


Tanya Dania lagi


" Sejak umur 5 tahun tante, kata mendiang orang tua ku aku sering gelisah saat tidur, Makanya sampai sekarang aku masih menjalani Hipnoterapi di klinik itu, namun akhir-akhir ini aku seperti muak makanya aku mencari jalan pintas dengan mencari pajangan itu, penghantar mimpi baik " Dream Catcher".


Karena fungsi dari benda itu adalah menangkap mimpi.


Mata Niko menatap Pajangan yang di bawa Salva.


Dania mengangguk dan bertambah iba, ia sekarang sangat memaklumi mengapa Niko bersikeras dengan Pajangan itu.


Tiba- tiba Salva ikut bertanya kepada Niko.


" Apa yang selalu kamu lihat di mimpi mu..? Kenapa setelah kamu bertamu di mimpiku aku jadi melihat sesuatu yang mengerikan."


Niko menatap Dania dan menjawab dengan ragu.

__ADS_1


" Makhluk itu sering berada dalam mimpiku dan terus mengejarku, hanya saja dalam 2 malam ini aku selalu berada dalam mimpi mu, mungkin karena pajangan itu."


" Kamu selalu mengingat makhluk itu di pagi hari mu..?"


Niko mengangguk.


" Salva selalu melupakan sesuatu yang ia mimpikan, yang ia katakan hanya tempat ia bermimpi saat itu."


Ucap Dania menambahkan.


" Sebenarnya makhluk itu selalu ada di mimpi mu, hanya saja kamu selalu ingin melupakan nya.


Ucap Niko menyeletuk.


Salva menatap Niko dengan tajam karena tidak mengerti apa yang di bicarakan Niko barusan.


" Saat makhluk itu pertama kali datang ke mimpiku aku juga sama seperti mu, perasaan takut menghantui ku, makanya Saat di tanya apa yang aku mimpikan.. aku selalu menceritakan tempatnya saja tanpa menceritakan yang kutemui, hanya saja aku kesal dan menantang makhluk itu, disana ada samurai yang sangat tajam, aku pernah menebas ekor nya dengan Samurai itu."


Dania dan Salva terkejut dengan cerita Niko barusan.


" Apa sebenarnya Wujud makhluk itu..?" Tanya Dania dengan sedikit ngeri.


" Dia berwujud Makhluk Mitologi Yunani kuno, aku kurang paham dengan namanya. Ucap Niko menjawab.


" Pajangan ini seingatku oleh-oleh dari mendiang orang tua ku sepulang dari Athena di ibu kota Yunani."


Salva mengangkat pajangan itu.


Mereka bertiga saling adu pandang dengan tanpa mengaitkan apapun.


Bahkan dalam pikiran Dania bagaimana cara nya Pajangan itu dapat menghalau kedua remaja itu tanpa berselisih.


Dengan cekatan dan berinisiatif Dania mengambil pajangan itu dari Salva, ia mengambil beberapa benang rajut lalu merajut nya menjadi 2 bagian.


Ia menyertakan bulu merpati dengan andil, lalu menyerahkan masing-masing satu ke Salva dan Niko.


Kedua remaja itu melongo dengan kepiawaian rajutan tangan Dania, ia mempelajari pola itu dari mengingat-ingat Pak botak berperut buncit di pasar Antik kala itu yang juga secara spontan membuat untuk menipu nya.


" Gimana, Adilkan, tante rasa kalian pasti bermimpi baik, berkat pajangan penangkap mimpi ini. Ucap Dania merasa bangga.


Raut wajah Kedua remaja itu tak bisa berbohong, Pajangan yang sempat di perebutkan mereka itu kini menjadi 2.


Pajangan yang ter kesan estetik itu sudah sirna seketika.


Penyelidikan pun Akhirnya di hentikan, karena keluarga dari mendiang Suster Mina sudah mengiklaskan dan ingin segera memakam kan.


Dania dan kedua Remaja itu turut hadir dalam prosesi pemakaman Mendiang Suster Mina.


Suasana berkabung dengan Warna serba hitam menyelimuti siang itu.


Dalam prosesi pemakaman itu Niko menatap Dania dan Salva dan berbisik pelan.

__ADS_1


" Ada yang aneh dari pemakaman ini."


__ADS_2