
..."Jika memang ini akhirnya, aku bisa menerima. Asalkan kau bahagia, itu sudah cukup. Meskipun pada nyatanya bukan akulah alasan kebahagian itu." ...
...-Raka Alfareza-...
...🌼🌼🌼...
Jam 9 kurang 10 menit, gedung olahraga itu sudah dipenuhi oleh banyak orang. Rupanya kekuatan berita di sosial media sekolah sungguh luar biasa.
Gibran dan teman-temannya baru saja tiba disana. Banyak pasang mata yang menyaksikan ke lima orang tersebut.
Awalnya Gibran memang sengaja merahasiakan pertandingan ini dari Naura serta semua murid SMA Xavier. Tapi sialnya, informasi tersebut tak sengaja bocor di telinga admin media sekolah. Alhasil ia tak bisa membendung berita yang sudah terlanjur viral se antero sekolahnya itu.
Dari kejauhan, Gibran dapat melihat Raka beserta empat temannya yang lain berjalan kearah mereka.
"See? Gue dateng sesuai kemauan lo!" Tukas Gibran saat Raka tepat berada di depannya.
"Its alright! Tapi gue harap permainan kalian ga akan mengecewakan kita!"
Gibran tertawa. "Seharusnya lo yang harus mengkhawatirkan tim lo!! Mampu ga kalian lawan kita?!"
"Gausah banyak bacot anjing!!" Sahut Bryan yang berdiri di samping kanan Raka.
"Slow man!! Gue mau kita disini bermain adil. Agar kita tau siapa yang bener-bener berbakat dalam basket," Gibran mendekat kearah Raka, lalu membisikkan lanjutan dan ucapannya. "Dan berbakat dalam menarik perhatian Naura."
Mendengar itu emosi Raka memuncak. Tapi ia sadar karena dirinya tak bisa terbawa emosi disini. Yang ada nantinya bukan pertandingan basket yang terselenggara, tapi pertandingan baku hantam antara mereka. Dan akhirnya Raka menahan emosi tersebut dengan cara mengepalkan tangan kuat, seakan-akan membiarkan emosinya mengalir disana.
"Kita lihat aja nanti!"
Gibran kembali menjauhkan tubuhnya. "Oke! Dan jangan lupa perjanjain tempo hari,bahwa yang kalah harus menjauh dari hidup Naura sejauh mungkin."
"Tentu! Gue ga akan lupa!"
"GIBRAN!! RAKA!!"
Seruan itu berhasil membuat kedua lelaki itu menoleh. Ah ralat. Tak hanya keduanya, tetapi beberapa orang disana juga menoleh kearah gadis yang sedang berlari kecil menghampiri mereka. Ya, dia adalah Naura, perempuan yang katanya menjadi pemicu terjadinya pertandingan sengit hari ini.
"KALIAN UDAH SMA TAPI OTAK MASIH KAYAK BOCAH TAU GA!!!" Bentak Naura sembari menatap kedua lelaki tersebut secara bergantian.
"Ra, ini bukan seperti yang lo bayangkan!" Gibran berusaha menenangkan emosi Naura yang sudah mebara itu.
"Terus ngapain kalian ngadain pertandiangan ini?!" Naura beralih mentap Gibran. "Gue udah bilang kan Gib kalo gaada lagi taruhan!! Tapi ini apa?!"
Dari kejauhan, Alissa, Serinda, dan Raina baru saja tiba. Suara Naura cukup menggelegar di lobby gedung tersebut sehingga membuat mereka tak perlu susah-susah mencari kehadiran gadis itu.
"Oh ****! Kita telat!!" Celetuk Alissa saat melihat Naura sudah mulai berselisih panas dengan kedua lelaki di depan sana.
"Ini ga boleh dibiarin! Kita yang harus menenangkan Naura guys!!" Serinda langsung bertindak mendekati Naura, dan berharap ia bisa membawa Naura mundur untuk meredam emosinya.
"Kita hanya main dua babak Ra! Setelah itu selesai. Kita melakukan ini bukan semata-mata untuk membuat lo sebagai taruhannya!" Balas Gibran dengan suara yang masih bisa terkontrol.
"Ra udah!" Serinda menarik pelan lengan sahabatnya itu. "Biarin mereka kelarin urusan dulu."
Naura yang berusaha melepas cekalan tangan Serinda langsung berhasil digagalkan oleh gafis itu.
"Lepasin Ser!!"
"Ra! Percaya sama gue, semua bakal baik-baik aja!"
Naura menarik nafas panjang. Seperti kata Serinda, ia memang percuma emosi disini. Toh akhirnya mereka juga akan tetap melaksanakan pertandingan itu bukan?
"Oke! Terserah kalian mau main dengan tujuan apa, tapi gue tetep kecewa sama kalian berdua!!" Kata Naura sebelum akhirnya ia menarik Serinda pergi dari kerumunan itu.
...🌼🌼🌼...
Tribun dipenuhi oleh lautan manusia. Hanya beberapa bangku yang terlihat tak berpenghuni. Dan disanalah Naura, Alissa, Serinda, dan Reina duduk. Menyaksikan pertandingan hanya dengn tujuan ingin mengetahui hasil akhirnya seperti apa.
Tak seperti seperti biasanya, pertandingan yang mereka lakukan ini hanya membutuhkan dua babak. Tepat seperti yang mereka sepakati sebelumnya. Jika pada salah babak skor mereka seri, maka mereka harus melakukan overtime (perpanjangan waktu) untuk menentukan pemenangnya.
Sorak-sorai terdengar bersahut-sahutan di berbagai sisi di dalam area lapangan tersebut. Tepatnya di bagian tribun dimana para suporter berada.
Pertandingan sudah berjalan selama setengah jalan. Kali ini tampak tim Raka lebih unggul tiga poin daripada tim Gibran. Memang pertandingn kali ini sangatlah sengit. Kedua tim sama kuatnya, jadi tak heran jika pertandingan akan berjalan sepanas ini.
Sungguh Naura tak habis pikir dengan jalan pikiran kedua manusia itu. Untuk apa mereka melakukan hal yang tidak bergun seperti ini? Buang-buang waktu, buang-buang tenaga! Dan yang paling anehnya, kenapa Raka harus mencetuskan ide gila ini. Apa motifnya coba?
__ADS_1
"Entah pemikiran gue ini bener atau ga, tapi gue rasa ada kecemburuan yang Raka rasain Ra." Kalimat yang Alissa ucapkan itu sontak membuat Naura menoleh.
"Maksudnya?"
"Ya coba aja pikir, lo inget ga waktu itu lo pulang bareng Gibran tepat di depan mata Raka. Kemesraan lo dan Gibran yang membuat hati Raka patah saat itu juga."
Naura berfikir sejenak. Lalu ia tersenyum miring. Semua itu tidak akan mungkin terjadi. Raka cemburu kepadanya? Bullsh*t!!
Karena memang Naura tau, sejak dulu perasaan Raka untuknya hanya sekedar teman. Paling mentok sahabat. Dan ga akan mungkin ke tahap cinta.
"Come on Ra, hanya alasan itu yang masuk akal untuk menjelaskan kenapa mereka sampai rela mati-matian memenangkan pertandingan ini."
"Kayaknya ini lo kebanyakan nonton drakor deh Al. Alur kayak yang lo sebutin itu kebanyakan hanya ada di drama-drama, mana ada di dunia nyata?"
"Ada! Itu mereka buktinya!" Alissa menunjuk kearah lapangan dimana mereka bertanding.
"Kalo giu kenapa dulu dia nolak gue?"
Alissa mengedikkan bahunya. "Ya itu ga tau Ra, hanya Raka yang tau jawaban dari pertanyaan lo itu. Yang penting, cinta sepihak yang dulu lo kira berakhir mengenaskan itu akhirnya berubah. Karena, dia uda punya perasaan ke elo!"
Perkataan Alissa cukup melekat di benak Naura. Jika Naura berpikir secra logika memang itu tidak akan mungkin terjadi. Tapi jika perasaan? Peluang terjadinya mungkin hanya 20% itu pun masih banyak keraguan.
Bukannya Naura menolak kenyataan yang ada sekarang ini. Tapi ia trauma dengan perasaannya yang pernah berikan untuk Raka. Dan karena itulah Naura tak ingin lagi berekspektasi se tinggi waktu itu. Berekspektasi bahwa Raka mempunyai perasaan kepadanya.
...🌼🌼🌼...
Setelah menyelesaikan dua babak akhirnya mereka mengakhiri pertandingan yang sudah berjalan sekitar 40 menit itu.
Naura pun keluar tepat setelah wasit meniupkan peluit tanda pertandingan berakhir. Meninggalkan Alissa, Serinda, dan Reina disana.
Sesampainya di lobby, Naura mencari tempat duduk kosong yang jauh dari kerumunan orang yang hanya bisa membicarakannya dari belakang. Saat ini seakan-akan dirinya lah yang menjadi pemeran antagonis. Cibiran serta tatapan sinis kerap ia terima di tempat itu, tak terkecuali di area lobby gedung.
"Naura..." Suara yang sangat familiar itu terdengar. Naura pun mematikan ponselnya lalu mendongakkan kepala menatap seseorang itu.
Gibran dengan seragam basket yang sudah tertutup jaket hitam berdiri tepat di depan Naura. Raut penuh penyesalan terlihat jelas disana.
Naura berdiri, menatap Gibran sekilas, lalu mengabaikan Gibran dengan melangkahkan kakinya dari sana.
Naura menurunkan tangan Gibran secara perlahan. Lalu ia berbalik menghadap lelaki tersebut.
"Siapa bilang aku marah?" Naura menatap lekat kedua iris berwarna hitam di depannya. "Aku hanya sedikit kecewa Gib! Jadi aku butuh waktu sendiri."
Setelahnya Naura kembali membalikkan badannya. Saat hendak melangkahkan kaki, lagi-lagi ia tertahan oleh panggilan seseorang.
"Naura!!"
Tak hanya Naura yang menoleh, tetapi Gibran sontak juga ikut menolehkan kepalanya. Gibran menatap tak ramah kearah seseorang yang mendekat kearah Naura. Siapa lagi jika bukan Raka?
"Gue boleh ngomong sesuatu sama lo?"
Naura sejenak menghala nafasnya, sebelum akhirnya ia mengangguk. "Boleh. Tapi ga disini."
Setelah mengatakan itu, Naura berjalan meninggalkan tempat itu. Membiarkan Raka mengikuti langkahnya. Sedangkan Gibran harus menahan emosi di tempat. Entah apa yang akan Raka bicarakan, tapi melihat Naura menerima ajakan Raka sudah melukai perasaan Gibran.
Rupanya Naura membawa Raka ke taman di area parkir gedung tersebut. Di salah satu kursi berwarna coklat itulah Naura dan Raka duduk bersebelahan, tentu saja dengan jarak yang cukup jauh.
"Maafin gue Ra..." Suara Raka memecah keheningan yang beberapa saat lalu menyelimuti mereka. "Maaf karena gara-gara gue, semua ini terjadi." Imbuhnya.
Naura tak menjawab. Telinganya berhasil menangkan perkataan lelaki di sebelahnya, sedangkan matanya ia alihkan menatap apapun di depannya. Yang pasti ia tak sanggup menatap Raka.
"Gue yang nantang Gibran untuk tanding hari ini. Dengan tujuan gue ingin tau seberapa dalam cinta dia ke elo Ra. Gue ga mau lo kembali dikecewakan oleh perasaan yang lo punya."
"Sebagai orang yang pertama kali mematahkan hati lo, gue rasa gue punya tanggung jawab untuk membuat lo bahagia."
"Walaupun itu ga sama gue."
Perkataan Raka satu persatu menyelusup masuk ke daun telinga Naura. Tanpa sadar Naura kembali diingatkan oleh Raka atas apa yang lelaki itu lakukan padanya di masa lalu.
"Tapi sayangnya gue kalah dalam pertandingan yang gue cetuskan." Tatapan pasrah itu terlihat jelas di raut wajah Raka. Ia memang tak bisa apa apa jika semsta sudah menetapkan jalannya.
"Bertanding dengan Gibran, gue jadi tau seberapa besar perasaan yang dia punya ke lo. Seberapa sayang dia ke lo, dan seberapa enggak maunya dia kehilangan lo."
"Meskipun menyakitkan, tapi gue lega. Karena lo sudah dipertemukan oleh seseorang yang gue yakin bisa ngebahagiain lo. Seseorang yang membalas perasaan tulus lo itu."
__ADS_1
Cukup! Naura tak tahan lagi. Kenapa baru seksrang Raka melakukan ini? Memperjuangkan kebahagiaannya padahal dulu dia lah orang yang menghancurkan harapan Naura.
Naura mengalihkan tatapannya kearah Raka yang juga mengalihkan tatapan kearahnya.
"Kenapa Ka? Kenapa sekarang lo bersikap seolah-olah lo mempunyai perasaan ke gue?!"
"Kemana Raka yang menganggap gue sebatas sahabat?!"
"Kemana Raka yang dulu nolak gue?!"
"Kemana Raka yang dulu tiba-tiba menghilang tanpa bilang apapun ke gue, hah??!"
Dapat Raka lihat dengan jelas mata gadis di depannya itu berkaca-kaca, dan siap meluncurkan cairan bening itu.
"Kalo emang lo pengen gue bahagia, kenapa ga dulu aja lo nerima gue?"
"Apa lo baru suka gue karena fisik gue yang sekarang lebih baik daripada dulu?"
"Apa dulu lo terlalu malu buat menerima seseorang yang ga punya ayah?!"
"Atau lo dulu menganggap perasaan gue yang masih bocil sebagai lelucon??"
Dan benar, cairan itu seketika meluncur bebas membasahi mata serta pipi Naura.
"Asal lo tau, selama lima tahun ini, hanya itu lah penyesalan terbesar di hidup gue!! Seakan-akan gue ingin kembali di detik dimana lo belum mengungkapkan perasaan itu Ra!!"
"Andai dulu gue menerima lo, apa penyesalan itu bisa terhapus? Dan apakah dengan gue menerima lo bisa membuat lo bahagia dengan posisi gue yang harus tinggal jauh dari lo?"
"Pertanyaan-pertanyaan serupa sering singgah di pikiran gue Ra. Sedetikpun gue ga bisa melupakan lo."
"Tapi sekarang sudah sangat terlambat untuk gue membalas perasaan lo. Perasaan yang mungkin udah lo kubur dalam-dalam."
"Karena itu, gue bertekad akan membuat lo bahagia. Gue ga akan membiarkan lo nangis lagi. Meskipun bukan gue, tapi gue akan berusaha semaksimal mungkin untuk mencarikan seseorang yang bisa memberi kebahagian di hidup lo." Suara Raka melembut diakhir kalimat. Membuat tangis Naura semakin menjadi-jadi.
"Kenapa lo ga jujur aja sama gue Ka? Kenapa lo saat itu membiarkan gue membenci sahabat satu-satunya yang gue miliki? Apa dengan ini lo harus pergi lagi untuk kedua kalinya sebagai sahabat gue?!"
Secara reflek Raka menarik Naura kedalam pelukannya. Membiarkan gadis itu menangis sejadi-jadinya. Ya, memang disini ialah yang salah. Disaat dia bertekad untuk tak membuat Naura menangis lagi, tapi kenyataannya?
"Kali ini gue ga akan pergi Ra. Sebagai sahabat, gue akan jaga lo." Raka mengelus pelan punggung Naura untuk sedikit menenangkan gadis itu. "Tapi gue yakin, Gibran pasti akan melakukan hal itu lebih baik daripada gue."
"Seharusnya lo ga perlu melakukan taruhan bodoh ini Ka!! Dengan itu lo ga perlu jaga jarak seperti kesepakatan kalian!! Gibran pacar aku, dan kamu sahabat aku. Batasan itu udah cukup buat aku Ka!!"
Sahabat. Saat ini memang hanya sebatas itu ikatan yang mereka miliki. Raka sadar akan apa yang telah ia lakukan. Karena itu dia tidak boleh berekspektasi tinggi bahwa perasaan yang Naura miliki dulu masih tersisa untuknya.
Tapi sayangnya perasaan itu benar-benar lenyap. Digantikan perasaan cinta yang Naura miliki untuk Gibran. Menyakitkan memang, tapi mau tak mau ini adalah konsekuensi yang harus Raka dapat.
Raka merenggangkan pelukannya. Lalu tangannya terulur untuk menghapus bulir air yang berada di bawah mata gadis itu.
"Lo harus bahagia Ra! Jangan biarkan siapapun membuat lo mengeluarkan air mata ini. Cukup aku yang jadi orang terakhir yang buat kamu nangis."
"Jangan salahkan diri lo atas apa yang terjadi. Tak ada yang salah jika kita saling menjauh. Lo harus bisa bahagia dengan pacar lo sekarang. Dan sekarang giliran gue untuk move on dari cinta pertama gue. Seperti lo, gue yakin kelak akan menemukan seseorang yang benar-benar tepat."
Sebelum berdiri, Raka terlebih dahulu mengelus pelan rambut Naura. "Aku pergi ya Ra?" Untuk terakhir kalinya Raka menampakkan senyum manis itu.
Dengan kepergian Raka, Naura akhirnya mendapatkan jawaban atas pertanyaan yang dulu sempat mengganggu dirinya. Meskipun sudah terlambat, tapi setidaknya itu berhasil membuat masa lalu yang ia sebut kelam itu menghilang. Menyisakan masa lalu dengan kenangan indah antara dirinya dan sahabat kecilnya. Raka Alfareza.
...🌼🌼🌼...
...Hai readers!!!...
...Semoga kalian suka part ini ❤️❤️...
...Thanks bagi kalian yang selalu mengikuti cerita aku sampe saat ini ❤️❤️...
...Sampai jumpa di part selanjutnya yaa...
...Pastinya akan lebih seru dari ini...
...Salam sayang...
...From me ❤️...
...To Be Continued...
__ADS_1