
..."Aku akan menjadi matahari jika kamu adalah es. Dan aku akan menjadi air jika kamu adalah batu. Karena meluluhkan mu adalah tugas ku."...
...-Gibran Rahardian K-...
...🌼🌼🌼...
"Aaaa!!!" Jerit Naura saat lampu di ruangan itu tak lagi bersinar. Tubuh gadis itu seketika bergetar.
Gibran yang mendengar jelas jeritan itu ia langsung menghampiri gadis itu. Sontak ia langsung memeluk tubuh Naura yang bergetar.
"Ra, tenang ada gue." Lirih Gibran.
Naura yang mengetahui ada seseorang yang memeluk dirinya itu langsung mengeratkan pelukan tersebut. Karena menurutnya dengan pelukan itu bisa sedikit mengurangi rasa takut di dirinya.
"G--gue ta--kut Gib!" Ujar Naura dengan suara bergetar. Keringat dingin mulai mengalir membasahi kening Naura.
Melihat itu Gibran mengelus pelan kepala Naura. "Ada gue Ra, gausa takut gue nggak akan kemana-mana." Kata Gibran menenangkan gadis yang ada dipelukannya itu.
Kali ini Gibran tidak memiliki niatan untuk modus dan sebagainya. Hal itu murni karena instingnya yang tak mau melihat perempuan itu ketakutan. Pelukan itu pun tak Gibran rencanakan, tanpa ia sadari tubunya bergerak lebih dulu sebelum ia sempat memikirkan tindakan yang pas.
Berada di rangkulan Gibran membuat rasa takut di diri Naura sedikit berkurang. Ia sudah membung gengsi saat berada sedekat ini dengan lelaki itu. Karena mengatasi trauma itu lebih penting dari rasa gengsi atau apapun itu.
"Lo phobia sama kegelapan Ra??" Gibran membuka suara setelah beberapa saat keheningan menyelimuti mereka.
Naura mendengus. "Kalo udah tau, ngapain lo nanya lagi? Cari bahan pembicaraan yang lebih bermutu kek."
"Hmm.... Kalo gitu, lo anak kelas mana??"
"Kepo banget sih lo sama hidup gue!!"
"Lah, tadi lo nyuruh cari bahan pembicaraan yang bermutu, pertanyaan gue tadi bermutu loh Ra. Karena emang gue belum tau lo dari kelas mana." Bantah Gibran karena tak terima atas respon yang Naura berikan.
"Trus, kalo lo udah tau gue anak kelas mana, emang lo mau ngapain?? Ngapel setiap saat di kelas gue?!" Naura menyeringai. "Ah gue lupa kan lo udah punya pacar, jadi ga mungkin kan nanti lo ngelakuin itu?!"
"Btw pacar lo pasti akan marah kalo tau elo dari kemarin--"
"Siapa bilang gue punya pacar?!" Sahut Gibran cepat. "Gue punyanya mantan. Ah ralat, bisa dibilang mereka bukan mantan gue sih, karena emang gue ga punya perasaan apapun ke mereka. Kan gue sukanya sama lo."
"Gila!! Lo tadi barusan bilang apa?? Mereka?? Wah parah ternyata lo fakboy akut ya?! Dan sorry gue ga akan kemakan rayuan dari cowo-cowo buaya macem lo."
Gibran tertawa. "Yakin?? Kalo gue sih ga yakin sama omongan lo. Ya secara nih gue emang lebih dalam segala-galanya. Ganteng iya, baik banget, jago basket, dan tentunya tajir, siapa sih yang mau nolak pesona gue?? Buktinya lo sejak tadi nyaman-nyaman aja tuh ada di rangkulan gue."
Sontak Naura langsung melepaskan diri dari lelaki itu. "Itu beda konsep bambang!! Gue melalukan itu karena kepaksa!! Atau emang lo mau liat gue mati ketakutan?!" Suasana gelap di ruangan itu kembali mengaduk-aduk hati serta pikirannya. Dan reflek Naura kembali merangkul tangan Gibran.
"Plis jangan ke gr an. Gue melakuakn ini murni karena gue takut, bukan mau modus ke elo!!" Ujar Keira cepat sebelum lelaki itu kembali melontarkan kata-kata yang tidak masuk akal.
"Oke, untuk saat ini gue akan memaklumi tindakan lo. Tapi untuk selanjutnya, gue pastikan lo akan kembali melakukan ini karena lo udah ada rasa sama gue."
"In your dream!!"
"Menurut pengalaman hidup gue nih ya, ada banyak orang disekitar gue yang ternyata kemakan sendiri sama omongannya. Gue harap sih lo bukan menjadi salah satunya."
Naura berdecak keras. "Gue ga akan menjadi salah satu orang yabg lo maksud! Lagian ga ada tuh di kamus kehidupan gue kata-kata kemakan omongan sendiri!!"
"Oh gitu ya, gue pegang nih omongan lo. Tapi gue ga bisa jamin atas seberapa lama lo bertahan pada pendirian itu."
"Oke terserah lo!"
Gibran tersenyum tipis di dalam kegelapan ruangan itu.
Beberapa menit kemudian, cahaya lampu dalam ruangan itu kembali ke asalnya. Tanpa pikir panjang Naura langsung melepaskan diri dari Gibran lalu berjalan menuju pintu.
Gibran tertawa. "Jangan bilang lo lupa kalo pintu itu rusak??" Ia berjalan mendekati Naura. "Lagian kenapa sih buru-buru banget mau keluar?!"
Naura memutar bola matanya malas. "Udah deh Gib, gausa mancing lagi!! Mending lo buruan gih dobrak nii pintu!"
"Iya-iya sabar," Naura menepi, memberi Gibran ruang untuk mendobrak pintu tersebut.
Sepertinya hari ini adalah hari sial bagi Naura. Pasalnya di hari ini ia harus menerima hukuman dari pak Setyo, di hari ini pula ia harus dihadapkan seseorang yang akhir-akhir ini memang ingin ia hindari. Lebih parahnya lagi, pemadaman yang tak tepat waktu itu terpaksa membuat Naura menempel pada Gibran di ruangan itu.
__ADS_1
Jika lampu mati di saat jendela diruangan itu belum ia tutup, maka Naura pikir ia tak perlu melakukan hal gila itu. Namun sayang, semuanya terjadi berbanding terbalik dengan yang ia harapkan. Ah ****!
BRAKK!!
Pintu kayu itu akhirnya terbuka setelah menerima serangan paksa dari Gibran.
"Silahkan keluar tuan putri!!" Kata Gibran dengan nada di manis-manis kan. Dan Naura tak memberi respon apapun, ucapan terimakasih pun tak keluar dari bibir gadis itu.
"Untung gue sayang." Gumam Gibran saat melihat kelakuan Naura.
Saat Naura berjalan beberapa langkah di depan Gibran, ia memberhentikan langkah. Lalu berbalik menghadap lelaki yang menaikkan alis itu.
"Mau ngomong makasih ya? Gue rasa lo ga per--"
Naura memangkas jarak diantara mereka. Lalu ia berbisik ke telinga Gibran. "Awas aja sampe mulut lemes lo itu ngomong ya nggak-nggak tentang apa yang gue lakuin tadi." Ujar Keira dengan sedikit nada ancaman. "Inget, itu gue lakuin karena terpaksa, gak lebih!!"
Setelah selesai mengatakan apa yang ingin ia katakan, Naura pun kembali meninggalkan Gibran yang masih terbengong di tempatnya.
Beberapa detik kemudian, Gibran tertawa. "Hahaha aneh ya tu cewek! Jalan pikirannya sama sekali ga bisa gue tebak!"
Senyum licik itu terbentuk di bibirnya. "Semakin menarik!"
...🌼🌼🌼...
Naura mendengus saat ia harus menerima tatapan intens dari ketiga sahabatnya itu.
"Kalian kenapa sih? Ngeliatin gue sampe matanya mau keluar semua."
"Lo masih waras kan Ra??"
Naura menimpuk pelan kepala Serinda. Habisnya, siapa suruh dia asal jeplak.
"Kalo gue ga waras kenapa masih disini ha??"
"Lagian seumur hidup kita jadi temen lo nih Ra, belum pernah tuh ada kata-kata kalo Naura Azkia telat masuk sekolah. Eh sekrang lo bolos di jam pelajaran sejarah sama Matematika."
"Bener tuh kata Alissa. Bayangkan Ra, matematika!! Pelajaran yang lo cintai sampe ke akar-akarnya. Dan sekarang lo ga masuk, tanpa sebab lagi."
"Tapi kan Ra, jam hukuman di sekolah kita itu berlaiu selambat-lambatnya sampe jam 9.15. Nah ini lo jam 10 lebih 5 baru muncul." Sahut Serinda.
"Jadi gini ya temen-temen yang paling Naura sayangi, gue tuh waktu bersihin gudang kenak insiden yang tidak diinginkan."
"Insiden??" Reina sontak menutup mulutnya, "Jangan-jangan lo diapa-apain sama penjaga gudang Ra?!"
"Yee... Ya ga gitu juga cantik!!" Sahut Alissa.
"Haishh!! Guys-guys mending kita gausah lanjutin pembucaraan ini. Gue bener bener ga mood sejak dihukum tadi. Dan you know lah, gue belum sepet sarapan tadi pagi." Kata Naura akhirnya.
Jika ia tak memberhentikan topik pembicaraan ini disini, dapat ia pastikan bahwa teman-temannya akan semakin mengkorek informasi darinya. Dan tidak bisa terjamin bahwa ia nntinya tidak mengatakan yang sebenarnya.
"Kalo lo laper bilang dari tadi kek Ra." Serinda bernjak dari kursinya. "Yaudah skuy ngantin!!" Ajaknya. Lalu ketiga perempuan yang lain pun menginuti langkah Serinda.
"Nah gitu dong peka! Ini nih baru sahabat tercinta gue." Seru Naura sembari merangkul leher Serinda. Sedangkan Serinda hanya tersenyum tipis.
Namun saat baru beberapa langkah keluar dari kelas mereka berempat terpaksa menghentikan langkahnya. Tubuh Naura menegang saat ia mendengar panggilan dari seseorang.
"Hai Naura!!" Senyum jahil serta sorot mata menggoda itu tercetak jelas di wajah lelaki itu. Saat menoleh sontak Naura langsung memelototi lelaki yang bersandar pada dinding kelasnya. Sial
.
"Siapa Ra??" Bisik Reina yang rupanya masih terdengar di telinga Gibran.
Gibran berjalan mendekati keempat perempuan itu. "Oh sorry gue belum memeperkenalkan diri. Gue Gibran Rahardian ketua tim basket SMA Xavier dan calon pacar dari Naura Azkia." Ketiga perempuan yang mendengar itu sontak menutup mulutnya karena terkejut. Ternyata ini sosok asli dari ketua tim basket favorit sekolah mereka? Daebak!!
Naura berdecak kesal. "Lo apa-apaan sih Gib?! Mending lo sekarang pergi dari sini!!"
"Naura cantikk jangan galak-galak dong.. Toh sahabat lo fine-fine aja dengan kehadiran gue."
"Tapi gue ga suka liat lo disini Gib!"
__ADS_1
Kruuukk...
Suara perut Gibran yang dengan tidak sopannya berbunyi. Naura pun langsung memelototi lelaki itu, agar lelaki itu membuat alasan untuk pergi dari sana.
"Ahh sorry ya perut gue bunyi." Gibran tertawa hambar. "Maklumlah gue belum sarapan dari pagi."
"Gimana kalo lo sekalian ikut kita ke kantin??" Usulan Alissa itu berhasil meningkatkan rasa kekesalan Naura.
"Ide bagus tuh!" Timpal Reina. "Kalo lo ga mau sih ga papa,"
Mendengar tawaran itu membuat Gibran tersenyum puas. "Gue mau kok."
"Yaudah yuk keburu kantinnya semakian rame." Kata Serinda lalu melangkah menuju kantin.
Siang ini Mood Naura berhasil dihancurkan oleh kehadiran Gibran. Ia heran kenapa dimana ia berada dan entah kenapa ia melihat kehadiran sosok Gibran. Apa mungkin lelaki itu memata-matai setiap gerak-gerik yang ia lakukan?? Hebatnya lagi, bagaimana caranya lelaki itu tahu ia berada di kelas mana. Bayangkan sendiri jika kalian penguntit dengan skill sehebat Gibran. Pasti risih kan??
"Eee guys.." Naura menjeda ucapannya. Ketiga perempuan itu memberhentikan langkahnya. "Sorry banget kayaknya gue ga jadi ke kantin. Perut gue mules banget, mau ke km. Daripada kalian telat nungguin aku mending sekarang aja ke kantinnya,"
Serinda mendengus. "Ah elah Ra, kan tadi elo yang laper."
"Iya tapi, ini lebih urgent. Ya kali gue makan sambil nahan itu,"
"Ihh Naura!! Yaudah deh kita ke kantin dulu."
"Oke have fun ya!!" Kata Naura dan langsung berlari kecil menuju ke arah berlawanan dengan mereka.
"Ee, kayaknya gue ga jadi ke kantin deh." Kata Gibran beberapa detik setelah kepergian Naura. "Sorry ya, kapan-kapn deh nanti gue ajak temen gue sekalin buat makan bareng. Oke?!"
Ketiganya mengela nafas. Sangat wajar jika Gibran juga membatalkannya. Lagian Naura juga tidak ikut. Dan mereka pun tau alasan Gibran mengiyakan ajakan Alissa itu karena memang Gibran ingin bersama Naura. Wajar bukan??
"Iya gpp kok, yaudah kita duluan." Kata Alissa dan langsung berjalan meninggalkan Gibran
Setelah kepergian ketiga perempuan itu, Gibran pun langsung melesat menyusul Naura. Ia tau mules adalah alasan Naura agar gadis itu bisa menghindari dirinya. Dan tentu saja ia tak akan membiarkan hal itu terjadi.
Senyum pun merekah di bibir Gibran saat ia melihat seseorang yang berjalan tak jauh di depannya. Meskipun dari belakang, ia sangat mengenali perempuan itu.
Gibran berjalan di belakang Naura dengan tetap menjaga jarak aman. Entah kenapa ia merasa akhir-akhir ini tak menjadi seperti dirinya yang biasanya. Karena memang biasanya para kaum hawa lah yang mengejar-ngejar dirinya, bukan sebaliknya seperti ini.
Dan juga ia heran mengapa setelah beberapa hari ia mengejar Naura, tapi pendirian gadis itu masih kokoh. Disaat semua cewek tergila-gila padanya, tapi Naura malah tak peduli dan bahkan risih akan kehadiran dirinya. Hebat bukan??
Tapi Gibran tetap percaya akan ada dimana saatnya hati es perempuan itu leleh. Karena pada dasarnya es akan tetap mencair jika disinari matahari bukan?? Maka dari itu Gibran tidak sabar menunghu kedatangan hari dimana perjuangannya akan terbalaskan.
"Gib plis gue udah bener-bener bad mood gara-gara lo!!" Tukas Naura yang langsung membalikkan tubunya. Ternyata dugaannya benar, Gibran dengan senyum jailnya itu sudah mengikutinya sejak tadi.
"Ee gimana kalo kita minum es coklat Ra?? Gue denger-denger coklat bisa membalikkan mood."
Naura berdecak kesal. "Lo paham ga sih apa yang gue maksud?? Atau lo emang pura-pura bodoh untuk mengerti maksud gue??"
Senyum di bibir Gibran luntur. "Gue ga maksud aneh-aneh kok Ra, gue cuma pengen neraktir lo minum, udah itu doang. Gue bela-belaiin nyari tau kelas lo karena gue mau neraktir lo di kantin, gue tenaga lo udah terkuras buat bersihin gudang tadi. Apa salah??"
"Emang gue minta lo ngelakuin itu?? Enggak kan?? Yaudah gausa melakukan hal yang membuat diri lo susah!!" Perkataan tajam itu akhirnya keluar dari mulut Naura. "Ah atau setelah tadi gue melakukam hal itu lo rasa hati gue udah terbuka lebar buat lo?? Jangan harap!!"
"Lagian ngejar-ngejar gue gaada untungnya juga kan buat lo?? Jadi stop melakukan hal yang ga perlu itu!"
"Udah ngomongnya??" Tanya Gibran santai. "Sekarang ganti gue yang mau ngomong." Untuk kesekian kalinya Gibran menjeda ucapannya sebelum akhirnya ia mengatakan hal dipikirannya.
...🌼🌼🌼...
...Hai semua!!...
...Kira-kira apa ya yang mau Gibran omongin??🤔...
...Penasaran gaa???...
...Tunggu author mengupdate part selanjutnya yaa!!! 😍...
...Mari selalu support author dengan Like+Vote+Komen+Rate dan Share yaa ❤️❤️ yang meningglakan komen di sepanjang cerita ini akan author feedback ceritanyaa 😍...
...Mari saling support ❤️...
__ADS_1
...TO BE CONTINUED...