FOUR AGENT

FOUR AGENT
1


__ADS_3

*Tok


Tok


Tok*


"Permisi tuan." Terdengar suara dari luar ruangan yang bertuliskan 'Albert Vishaka'.


"Ya. Masuklah." Suara dari sang pemilik ruangan mengijinkan sang pengetuk pintu.


"Bagaimana misimu?" Orang yang dipanggil tuan, atau sebut saja Tuan Al bertanya pada sosok gadis cantik di depannya itu.


"Lancar tuan. Hanya saja, sang target berusaha kabur dan saya terpaksa untuk 'melukai' si target." jawab sang gadis, Jaseena Jisoo Nasheema.


Tuan Al mengangguk mengerti. "Baiklah. Kau tunggu sini dulu. Kita akan menunggu tiga orang lain lagi."


"Tiga?" Sang gadis, sebut saja Jisoo mengernyit bingung. Dan pertanyaan itu hanya dijawab dengan anggukan ringan dari sang pimpinan.

__ADS_1


Tidak sampai sepuluh menit, pintu kembali diketuk. Kali ini dua orang gadis yang masuk ke dalam ruangan. Keduanya melangkah mendekati meja sang pemimpin dan berdiri disebelah Jisoo yang sudah lebih dahulu menghadap sang pemimpin.


"Dimana dia?" tanya Tuan Al yang tidak melihat kehadiran satu orang terakhir. Kedua gadis bertatapan sebentar sebelum menoleh kembali kearah depan.


"Dia sedang ke toilet tuan." jawab salah satunya sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Jawaban itu jelas mengundang tanda tanya bagi Jisoo.


"Gya ke toilet? Serius?" tanya Jisoo. Gadis yang menjawab pertanyaan dari Tuan Al melirik kearah Jisoo, kemudian mencebikkan bibir.


"Dia sakit perut. Kau tau dia habis menghabiskan banyak makanan pedas ketika dikantin tadi." jawab gadis yang satunya lagi.


"Maaf tuan. Saya terlambat." potong gadis terkhir yang menjadi topik pembicaraan ketiga rekannya tadi.


"Lain kali janganlah kau memakan makanan pedas terlalu banyak, Gya." peringat sang gadis yang tadi pertama menjawab pertanyaan dari Tuan Al. Jennie Aenira Meica.


"Aku sudah mengingatkannya, Jenn. Dan gadis ini terlalu kepala batu." sungut gadis yang terakhir menjawab. Enjelica Rose Stamton. Si gadis, Lalisa Gya Andria yang diperingatkan hanya bisa menyeringai kikuk.


"Baiklah. Karena sudah berkumpul semua, Jaseena Jisoo Nasheema, Jennie Aenira Meica, Enjelica Rose Stamton, dan Lalisa Gya Andria. Hari ini aku memiliki misi untuk kalian tangani.

__ADS_1


"Misi ini membutuhkan kerjasama kalian dengan agen rahasia lain. Agen rahasia ini berjumlah 7 orang, dan juga berasal dari naungan badan intelijen cerebrus." jelas Tuan Al.


Penjelasan tuan Al rupanya membuat keempatnya tersedak secara mendadak. "Ma-maaf? Ce-cerebrus?" tanya Rose memastikan bahwa informasi yang diterima oleh gendang telinganya itu benar.


"Ya. Benar. Cerebrus." angguk Tuan Al. Keempat agen itu bertatapan dengan raut wajah yang tidak bisa dijelaskan. Keempatnya jelas masih mengingat tentang kejadian 'itu'.


"Kenapa tuan?" Akhirnya Jisoo bertanya setelah memberanikan diri. Tuan Al tersenyum kecil, dia tau keempatnya masih mengingat kejadian 'itu'.


"Diminta oleh pemerintah. Lagipula, agen kita dan juga agen badan intelijen lainnya juga ikut terjun dan membantu secara sembunyi-sembunyi. Jadi tidak masalah bukan?"


Keempat gadis itu hanya bisa bertatapan kemudian mengangguk dengan berat. "Senyum kalau begitu." goda sang pemimpin yang melihat raut tidak terbaca keempatnya.


Dengan sangat terpaksa, senyum kecil terlukis walau terlihat sangat tidak ikhlas untuk tersenyum. "Ya sudah, silahkan kembali ke aktivitas kalian yang tadi tertunda."


Dengan segera keempatnya membungkuk tanda hormat kepada sang pemimpin. Dan menghilanglah mereka dari pandangan tuan Al dibalik pintu tertutup. Tuan Al hanya bisa menghela napas panjang melihat keberatan dari keempat agen rahasianya itu.


'Semoga tidak ada kendala berarti dalam misi ini.' batin tuan Al sambil menatap langit-langit ruangannya.

__ADS_1


__ADS_2