Gadis Luar Biasa

Gadis Luar Biasa
Gadis Luar Biasa


__ADS_3

Beberapa bulan kemudian, Moana sudah bekerja di salah satu anak perusahaan sang Kakak, menjadi salah satu desainer aksesoris perhiasan, kini hari-harinya penuh dengan pekerjaan, namun... dia tampak menikmati, karna dia termasuk gadis yang suka bergaul, dan bahkan sudah memiliki beberapa teman di kantor.


Tak banyak yang tahu, bahwa dia adik dari Presdir tempat mereka bekerja, karna Moana meminta para atasan untuk merahasiakannya untuk saat ini.


Karna bukan tidak mungkin, jika dia memberi tahu identitas aslinya, banyak yang ingin memanfaatkannya, dia hanya mengantisipasi segala sesuatu yang mungkin akan tejadi, jika sampai orang-orang di kantor tahu siapa dia sebenarnya.


Sedangkan Kirana masih betah bekerja secara daring, dan beberapa minggu ke depan, kemungkinan dia akan resmi bekerja di kantor, dan menjabat sebagai presdir di perusahaan mendiang sang ayah.


Bukan karna apa, dia selama ini kerja secara daring, dia ingin memahami betul konsep perusahaannya, secara keseluruhan, hingga saat dia sudah aktif bekerja di kantor, tak lagi merepotkan orang-orang kepercayaannya suatu saat nanti.


Dddeeerrrrrrrrrrtttt......


Suara getar ponsel membuyarkan konsentrasi Kirana, yang sedang fokus menatap layar laptop di depannya.


Sesegera mungkin dia meraih benda pipih yang berada di samping laptopnya, dan menempelkannya ke telinga kanannya.


"Yaaaa halo Assalamualaikum" Suara yang sangat sopan menurut Geby saat mendengar suara Kirana di balik ponselnya, salah satu hal yang dia sukai dari Kirana, dia memiliki suara yang sangat merdu.


"Nyonya apakah anda membutuhkan saya  sekarang ini..?"


"Wa'alaikumsalam, Sudah aku bilang jika memanggil, tidak perlu pakai embel-embel nyonya, dan salam itu wajib di jawab." Kirana mendesah harus dengan cara apa lagi agar Geby menuruti permintaannya yang satu ini.


"Y-yaa  wa'alaikumsalam, nyonya maksud saya Kira-kirani". Sambil menepuk-nepuk mulutnya sendiri dengan tangan kirinya, dia mengutuk dirinya sendiri mengapa dia sampai segugup ini, bahkan sampai salah menyebut nama.


"Siapa lagi itu Kirani..?" sedangkan Kirana hanya tersenyum mendengar suara Geby yang terdengar begitu gugup di sebrang sana.


"Eeh..maksud saya Kirana, ya kirana."


"kamu lagi di mana saat ini....?" tanya Kirana sambil melepas kacamata anti radiasi, yang sedari tadi bertengger di atas hidung mancungnya.


"Saya sedang menunggu Moana, dia meminta saya menemaninya berbelanja, sebelum pulang ke rumah".


"Yaa sudah hati-hati saja bawa mobilnya."


"Apakah kamu sungguh tidak membutuhkan ku..?" Geby kembali bertanya karna pertanyaannya belum di jawab oleh kirana sedari tadi.


"Untuk saat ini tidak, dan jangan pakai kata saya lagi paham.... okeeee".


"Kalo begitu aku akan segera kembali, setelah menemani Moana berbelanja.


"Yaa baiklah..." jawab Kirana singkat...


Telfon mu terputus....


Setelah telfonnya terputus, Kirana kembali berkutat dengan beberapa dokumen dan laptopnya .


Begitupun dengan Geby dan Moana, mereka sedang menuju ke salah satu pusat perbelanjaan, sebelum pulang ke rumah.






__ADS_1



Sedangkan, di salah satu gedung pencakar langit Gara pun sama sibuknya dengan Kirana, berkutat seharian dengan dokumen di kursi kebesarannya.


PT.Toyota Motor Corporation.


Itu salah satu  perusahaan terbesar di kotanya, perusahaan yang bergerak di bidang otomotif dan menjual berbagai jenis mobil dan motor bermerek.


Dan masih ada beberapa cabang lagi yang bergerak di bidang bahan-bahan bangunan.


Siapa yang tak mengenal Garaya Asel Geralya, lelaki tampan, yang terbilang masih sangat muda, kaya raya, mempunyai bisnis di beberapa kota, jika sudah di bawah kendali tangannya,  bisnis apa saja, akan sukses dan itu membuat siapa saja yang bergabung dengan perusahaannya, akan memanen hasil yang sangat memuaskan, banyak perusahaan yang ingin bekerja sama dengannya.


Dan tentu saja, Gara tidak luput dari para wanita-wanita yang ingin menjadi kekasihnya.


Bahkan sering kali dia mendapat undangan makan malam, yang berujung ke pembicaraan ingin menjodohkan putri mereka dengannya.


Namun Gara selalu  menolak, dengan cara halus dan berwibawa, karna dia memang di kenal sangat menghormati Perempuan.


Sebisa mungkin dia menolak, dengan cara halus dan dengan kata-kata yang sopan agar tak menyakiti hati Wanita, yang menginginkan dirinya.


Gara tipe Lelaki setia, selama hidupnya dia hanya mengenal dan dekat dengan Rere, mereka sudah menjalin hubungan sejak duduk di bangku kuliah.


Sejak saat itu, dia hanya memandang Rere satu - satunya, wanita dalam hidupnya, selain Neneknya dan juga Ibunya.


Sedangkan kedua orangtuanya,kata sang Kakek, ayahnya meninggal sejak dia masih di dalam perut ibunya, ayahnya meninggal karna mengidap penyakit kanker, sedangkan ibunya meninggal saat berjuang melahirkannya.


Hidupnya tak seberuntung orang-orang di luar sana, dia tak pernah merasakan kasih sayang dari kedua orangtuanya.


Dia di besarkan oleh Kakek dan Neneknya, itu lah mengapa dia sangat menyayangi Kakek Neneknya.


Beruntung dia mempunyai sahabat yang selalu ada bersamanya, dalam suka maupun duka, yang kini menjadi asisten pribadinya, bahkan dia meminta Gery untuk tinggal bersamanya dan Kakeknya.


Sejak kepergian Rere, Gara banyak menghabiskan waktunya di kantor, bahkan sering kali dia menginap di kantornya, yang tentu saja selalu di temani oleh Gery sang asisten yang selalu menempel padanya, seperti lintah darat.








Asel kembali terbangun di sela-sela tidur nyenyak nya, dia bermimpi seperti yang sudah-sudah, namun ada yang berbeda dalam mimpinya, seperti yang sudah-sudah, jika ia bermimpi yang muncul tidak lain adalah istrinya.


Namun kali ini tanpa gadis itu, gadis yang sering muncul bersama istrinya, kali ini istrinya berbicara.


Dalam mimpinya dia sedang duduk di balkon kamar, sambil memegang album foto, yang sering dia lihat.


Tiba-tiba, muncul Sera sang istri dari arah belakang punggungnya menepuk pundaknya, setelah itu duduk di kursi yang sama persis tepat di sampingnya.


Dalam mimpinya, Sera berkata dengan lembut, di iringi senyum cerah di wajahnya, yang sudah banyak di penuhi keriput-keriput kecil, namun masih terlihat cantik di mata suaminya.


"Kau akan segera menemukannya, sabar lah, dan tunggu beberapa waktu lagi." sang  istri sambil menggenggam tangannya, dan tersenyum dengan sangat hangat kepadanya.

__ADS_1


Senyum yang beberapa tahun terakhir sangat dia rindukan, dan menemaninya dalam mimpi.


Setelahnya dia terbangun, tepat di jam 3 dini hari.


Dia mendengar suara mobil memasuki gerbang utama, dia sudah hapal bahwa itu pasti adalah Gara cucunya.


Dia langsung keluar kamar dan menuju lantai bawah, lampu sengaja dia nyalakan tak pernah di matikan agar tak meninggalkan kesan menyeramkan pikirnya.


Walaupun beberapa penjaga terlihat masih berjaga di beberapa ruangan itu.


Mereka tentu sudah hapal pada Tuannya, pasti habis bermimpi seperti yang sudah-sudah. Namun mereka tidak pernah tahu sang Tuan bermimpi tentang hal apa.


Saat Asel berjalan di depan mereka, mereka hanya membungkuk tanda hormat pada sang tuan yang hanya di balas anggukan oleh Asel.


Gara segera masuk setelah pintu terbuka, dan dia jelas saja terkejut dengan munculnya Asel di jam 3 dini hari, dia mengerutkan keningnya sejenak tanda dia sedang memikirkan sesuatu.


"Kalian baru pulang..?"  kata Asel saat melihat Gara dan Gery bejalan memasuki rumah.


Gery langsung berpamitan ke pada Asel karna dia sudah sangat mengantuk dan lelah.


"Banyak pekerjaan yang harus di selesaikan kek" sambil melepas jasnya dan melonggarkan sedikit dasinya, berjalan menghampiri Asel yang sudah duduk di salah satu sofa yang ada di ruangan tersebut, sambil mencium punggung tangan kakeknya dengan khidmat.


"Kakek kenapa belum tidur jam segini, ini sudah hampir subuh, apa Kakek tak mengantuk.?"


"Aku baru saja terbangun" Sambil tersenyum menatap Gara.


"Apa Kakek bermimpi lagi...?" katanya kembali bertanya.


"Iya" jawab Asel singkat.


"Mimpi yang sama lagi..?" kembali Gara melayangkan pertanyaan.


"Hemm". Yang hanya di balas anggukan oleh Asel.


Gara tentu tau mimpi kakeknya, kakeknya sering kali bercerita padanya tentang mimpinya yang kerap kali muncul.








Di kota New York, di dalam salah satu club malam, Rere sedang berpesta ria dengan sesama rekan kerjanya.


Setelah pulang dari pemotretan, dia menggotong beberapa rekan kerjanya, untuk menghabiskan malam di club, sudah sangat lama dia tak meminum - minuman ber'alkohol, karna Gara tak pernah mengizinkannya menyentuh minuman haram tersebut.


Dia sangat menikmati hidupnya, hampir 2  bulan dia di sini, sama sekali tak pernah memikirkan Gara lagi, walaupun setiap hari ponselnya akan berdering Gara selalu memantau pergerakannya.


Dan khusus malam ini dia berbohong pada lelaki itu bahwa dia sedang tak enak badan, jadi memutuskan untuk segera beristirahat, biasanya Gara akan menemaninya sampai jam 4 atau 5 subuh dini hari, hanya sekedar berbincang tentang kesibukannya selama dia berada di luar negeri.


*****

__ADS_1


__ADS_2