Gadis Luar Biasa

Gadis Luar Biasa
Gadis Luar Biasa


__ADS_3

Pagi menjelang, di karna kan hari ini hari sabtu,  Kirana dan Geby memutuskan untuk berolah raga  ringan, di dalam ruangan, yang ada di lantai 2, sedangkan Moana sudah berangkat ke kantor, bersama 2 R (Rayhan dan Reyhan)


Sambil berolah raga, Kirana membuka pembicaraan.


"By kamu sudah menikah?" tanya Kirana.


"Belum" Jawab Geby singkat.


"Punya pacar?" Kirana kembali bertanya.


"Belum juga" jawab Geby lagi.


"Kenapa gak cari, maksud ku umurmu sudah pantas untuk menikah" kini Kirana duduk di sebuah sofa persegi panjang di salah satu sudut ruangan tersebut.


"Belum kepikiran sampai ke sana ,dan belum dapat yang cocok saja". Geby menyusul Kirana duduk di sofa samping Kirana, sambil meraih dua buah minuman botol dah membukanya botol pertama, di sodorkan ke Kirana terlebih dahulu, namun Kirana langsung meraih botol minuman yang lain.


"Jangan terlalu sopan kepada ku, aku jauh lebih muda dari mu, di sini kamu hanya menjagaku bukan melayaniku. sambil meminum air yang sudah di buka sendiri olehnya.


"heemmm baik lah." sambil meneguk botol yang sebelumnya di sodorkan ke Kirana.


Setelahnya mereka kembali melanjutkan kegiatannya.


*


*


Moana sedang sibuk di meja kerjanya, sama halnya dengan yang lain, dia sedang mendesain sebuah gelang yang sangat cantik, jika sudah selesai akan di berikan untuk Kirana, Gelang tersebut di buat khusus untuk Kirana dan tentu saja untuknya, dia ingin sekali membuat gelang couple sedari dulu.


Akan dia hadiahkan gelang tersebut, untuk Kirana saat ulang tahunya, yang akan di adakan beberapa bulan lagi.


"Waahhh cantik sekali Amoy". Kata salah satu teman yang ada di sebelah mejanya.


"Tentu saja, jika sudah jadi akan aku hadiahkan untuk orang yang sangat berharga di hidup ku"  Moana sambil tersenyum menatap desain gambarnya yang di pegang oleh Wahyu.


"Apa kau bilang". Hati Wahyu sedikit nyeri saat mendengar jawaban Moana.


Namun hanya di balas full senyum oleh Moana, menyisakan tanda tanya besar di wajah Wahyu, bukanya karna apa Wahyu sudah tertarik pada Moana sejak pertama kali Moana memperkenalkan dirinya, pertama kali di kantor.


"Amoy, apa kau tau di sini sangat sakit" Sambil memegangi dada kirinya.


"Apanya yang sakit?" Moana pura-pura bego dong, sambil memasang wajah agak sedikit kaget.


"Di sini sakit banget tau, sakit tapi tak berdarah" sambil memasang wajah memelas di kembali ke meja kerjanya di samping Moana.


"Gaje banget" kata Moana singkat, dan kembali serius dengan desainnya yang belum rampung.


*


*


Asel sedang bersiap-siap di kamarnya, dia ingin sekali mengunjungi makam istrinya, entah mengapa dia sangat rindu, karna jam sudah menunjukan pukul 3 sore,  dia meminta Gara kali ini untuk mengantarnya, karna Gara kebetulan sedang berada di rumah saat ini, sedangkan Gery masih di kantor menghandle pekerjaan sang bos yang entah mengapa seharian tak bergairah untuk bekerja, itulah enaknya menjadi bos, datang dan pergi sesuka hati.


Kini, Gara dan Kakeknya sedang berada di sebuah cafe, mereka menyempatkan untuk mampir sejenak menikmati secangkir coffe Latte favorit kedua Kakek cucu itu, sebelum melanjutkan ke makam Neneknya.


Di tenggah-tenggah mereka sedang menikmati coffenya, mereka di kejutkan adanya kejadian di depan meja salah satu pengunjung, bukan hanya mereka beberapa orang yang sedang asik pun menoleh ke sumber suara yang sedang terlihat saling berdebat.


Dua orang b

__ADS_1


sedang berdebat, Seorang wanita berpakaian kemeja putih, dan celana jeans, dan seorang pelayan kaffe itu sedang berdebat, entah apa yang mereka debat kan.


Para pengunjung hanya memperhatikan kedua orang yang sedang berdebat dengan sengit, tanpa ada yang berniat untuk melerai.


Wanita yang hanya menatap datar dan sudah meminta maaf berkali-kali, namun si wanita yang satunya yang tidak lain pegawai di kaffe tersebut memaki-maki dengan suara kasar, dan terlihat sangat tidak sopan terdengar di telinga yang ada di ruangan tersebut.


Wanita tersebut ialah Geby, dia sedang memesan koffe untuk Kirana, dan dirinya.


Saat melintas di jalan raya, Kirana tiba-tiba meminta Geby untuk berhenti dan memesan koffe untuknya dan Geby.


" Sudah lah nona saya sudah meminta maaf dan saya akan mengganti kerugian minuman yang sudah tumpah" kata Geby dengan suara santai, dan wajah tanpa ekspresi.


"Tidak bisa kamu juga harus bertanggung jawab dong, jangan cuma ganti kerugiannya, kalau cuma sekedar mengganti saya juga bisa mbak" kata sang pelayan dengan angkuh.


Kirana yang sejak tadi menunggu di dalam mobil, sudah agak jenuh pasalnya sudah hampir 20 menit Geby pergi, namun tak ada tanda-tanda dia akan kembali.


"Apa dia tersesat"? Gumam Kirana, sambil memandang pintu kaffe yang masih tertutup rapat.


Dia pun meraih ponselnya, berniat melakukan panggilan, namun saat sudah menekan nomor Geby, suara deringan dari ponsel Geby terdengar di atas jok pengemudi.


"Dia meninggalkan ponselnya" Gumam Kirana kembali.


Dia segera membuka pintu mobil, dan berjalan masuk ke kaffe untuk mencari Geby.


Saat dia membuka pintu kaffe, hal pertama yang dia lihat ialah Geby sedang berdiri mematung di depan seorang pelayan, dan pakaiannya yang ia pakai sudah basah karna tersiram oleh pelayan di depannya.


Kirana langsung menghampiri Geby, dan pelayan yang sedang memaki dengan kasarnya.


Saat Tangan sang pelayan terangkat di udara, dia berniat menampar pipi Geby, Namun, tiba-tiba tangan si pelayan di tahan oleh seseorang dari arah samping.


Gara paling tidak bisa melihat kekerasan apa lagi berlaku kasar pada wanita, biar pun yang di hadapannya ini adalah dua wanita, yang sedang berdebat, dia tak bisa membiarkannya.


"Nona ini sudah berkali-kali minta maaf pada mu". Sambil melepas tangannya dari pergelangan tangan si pelayan.


Saat itu juga si pelayan sangat kaget dan langsung menunduk. Tidak berani menatap ke arah Gara mau pun Geby.


Gara beralih menatap Geby dengan tatapan yang sulit di artikan, dan bertanya.


"Apa anda tidak apa-apa nona?"  tentu saja itu hanya basa-basi, siapa pun yang melihat penampilan Geby saat ini, akan sudah tau bahwa dia tidak sedang baik-baik saja.


Gara melepas kemejanya, dan memasang kemeja tersebut ke badan Geby, bagian depan, karna tumpahan yang di sengaja oleh si pelayan membuat bagian dadanya terekspos, dan warna Bra nya sangat nampak berwarna hitam, memperlihatkan gundukan yang cukup besar, dengan jelas di sana.


Gara tentu tak akan membiarkan Wanita ini pergi dengan ke adaan seperti itu.


Geby akan menjadi tontonan empuk para lelaki yang berada di dalam sana tentunya.


Baju yang semula berwarna putih kini berubah menjadi warna kuning dan merah, akibat siraman dari si pelayan.


Si pelayan beberapa kali menyiramkan jus ke arah Geby, secara bergantian.


tepat pada saat Gara bertanya, Kirana segera menghampiri mereka, dari arah belakang Gara, dan langsung meraih tangan Geby dan menariknya hingga mereka saling berhadapan.


Posisi Geby tepat di depan Gara memunggungi Gara, karna tinggi Kirana dan Geby hampir sama, Gara tak dapat melihat dengan jelas wajah Kirana.


Dia hanya mendengar suara Kirana di balik punggung Geby, yang sedang memunggunginya.


Suara Kirana sangat merdu, hingga siapapun yang mendengar langsung terpanah, tanpa melihat wajah sang pemilik suara.

__ADS_1


"Ya ampun, apa yang terjadi padamu by?" sambil mengeluarkan sapu tangan dari tas selempangnya, Kirana mengusap wajah Geby yang terkena cipratan jus.


"Hanya salah paham saja" jawab Geby singkat,dengan wajah datar.


Bukannya Geby tidak bisa membalas perbuatan si pelayan, namun mengingat dia hidup di mana sekarang ini, dia berusaha mengontrol emosinya.


Karna baginya ini bukan masalah besar, padahal bisa saja dia mematahkan salah satu tangan si pelayan jika dia mau.


sedangkan si pelayan hanya diam membatu di tempat, dan menunduk tak berani mengangkat wajahnya sedikitpun.


Dia merutuki kebodohannya, yang sudah terbawa emosi, tidak bisa mengontrolnya. Jika bosnya sampai tahu pasti dia akan langsung di pecat itu juga, Untungnya sang bos sedang tidak ada di tempat, dan CCTV pun sedang tidak menyala.


"Salah paham apa? kenapa penampilanmu sampai begini? berantakankan sekali".  Masih memasang mode khawatir dia berjalan melewati Geby, dia menatap Gara dan pelayan secara bergantian, meminta penjelasan.


Pada saat Gara menatap Kirana, dia sempat terbius beberapa saat. Dan Kirana pun sama halnya dengan Gara, dia terpesona akan ketampanan Gara.


Karna wajah cantik Kirana, bibir merah ranum yang seksi, dan sedikit terbelah di bagian tengah-tengah bibir bawahnya, tidak ada tempelan lipstik sama sekali di sana.


Hidung mancung, mata berwarna biru, entah itu mata asli atau kontak lensa Gara tak tau,alis tebal tersusun rapi, bulu mata lentik panjang.


Seperti dia sedang memakai bulu mata palsu, yang ukuran sedang, pipi agak sedikit berisi, dagu terbelah, dan kulit bening, dengan rambut panjang yang tergulung rapi di tempatnya, hingga memperlihatkan leher jenjangnya.


Dengan memakai celana jeans di padukan kemeja putih yang pas di badan Kirana, sepatu berwarna putih meninggalkan kesan elegan di sana, sederhana namun elegan di mata Gara.


"Cantik". Ucap Gara dalam hati.


"Eheemmm, Kirana mencoba bersikap biasa saja, padahal dia sangat gugup sebenarnya,bertemu lelaki tampan tidak masuk dalam listnya hari ini.


"Tuan, tuan"  Kirana melambai-lambaikan tangannya tepat di depan wajah Gara.


"Ya" jawab Gara singkat.


"Apa anda ada malasah dengan kakak saya?"


Geby mau pun Gara segera menggeleng dengan cepat.


"Bukan dia tapi pelayan itu". kata Geby sambil menunjuk dengan dagunya,  pelayan yang masih dengan mode batunya di samping Gara, sama sekali tak berani membuka suara.


Tangan dan kakinya sudah gemetar, sedari tadi saat Gara mencekal tangannya untuk menampar Geby.


"Tuan, ini membantu saya." jawab Geby singkat.


"Oh terima kasih tuan." sambil tersenyum menampakan gigi putih kelinci di bagian depannya. Dan lesung pipi yang sangat dalam di kedua pipinya.


"oh tuhan manisnya." Ucap Gara dalam hati lagi, rasanya dia ingin melahap gadis yang berada di depannya saat ini.


"Yaa sama-sama". Gara pun membalas senyuman Kirana dengan Senyumannya pula.


Tak lama setelah itu, Gara berlalu pergi meninggalkan dua gadis dan pelayan.


Setelah lebih dulu berpamitan, ada rasa tak enggan pergi dari sana, namun Gara mau tidak mau meninggalkan tempat itu, karna tujuannya bukan di sini tapi mengantar Kakeknya.


Karna si pelayan sudah meminta maaf dan Kirana siap mengganti minuman yang tidak sengaja di tumpahkan Geby.


Masalah pun selesai dengan cepat.


*****

__ADS_1


__ADS_2