Gadis Virgilio

Gadis Virgilio
21


__ADS_3

“Kenan lihatlah di paling atas pohon kinoki di sana ada bunganya ambil yang berwarna biru gelap, Puja di depan ada Pohon hitam lihatlah akarnya di sana ada jamur” Aku duduk di atas batu yang cukup besar, aku menggunakan kekuatan Virgilio untuk mengetahui keberadaan jamur dan bunga di hutan karena akan sangat sulit kalau mencarinya dengan cara manual.


“Karin kamu sangat hebat, bagaimana kau bisa tahu”. Puja yang biasanya terlihat cuek dan dingin, kini memberikanku pujian. Ekspresinya yang kagum tidak pernah kulihat sebelumnya.


Akku dan puja duduk bersama dan berbincang-bincang biasanya. Puja yang tidak banyak bicara, disini dia yang jauh lebih banyak bicara dibandingkan aku. Aku melihat Kenan Sepertinya dia tidak bisa mengambil bunga itu karena sudah hampir 1 jam kami di hutan.


“Kenan kau membuang-buang waktuku” aku mengambil sebuah batu dan melemparnya ke atas pohon tepat mengenai bunganya, bunga itu terjatuh ke tanah aku dan puja memuputnya.


“Kenapa tidak dari tadi” Kenan yang berada di atas pohon, dia memanjat dengan susah payah di pohon itu.


Aku dari puja tertawa melihat tingkah Kenan, sebenarnya Kenan anak yang pintar hanya saja dia tidak bisa memakai otaknya dengan baik. Sebenarnya menggunakan sihir bisa jauh lebih cepat tapi tangga tongkat sihir kami ditahan sebelum kami mencari bahan-bahan otomatis kita mencarinya dengan manual.


Setelah memungut bunga pohon kinoki, kami langsung pergi ke kawasan Petrichor untuk mencari tumbuhan merah dan darah duyung di danau. Sekitar 30 menit kami berjalan menuju danau dan selama di perjalanan Kenan terus bergurau namun tidak lucu sama sekali.


“Kenan hentikan ocehanmu” aku malas dengan sikapnya yang tidak berhenti bicara dari tadi.


“Salah terus aku dimatamu, oke, mulai nanti aku akan pindah ke hidungmu” aku mengejar Kenan yang berlari setelah melontarkan gurauan, ya dia benar-benar seperti matahari di dalam malam hari, ya seperti itulah.


Sesampai di danau, terlihat 3 buah jubah di pinggir danau sepertinya 1 kelompok lain sedang menyelam mendapatkan dua bahan itu. Kenan melepaskan jubah dan bajunya yang dia kenakan, dia seperti sudah siap menyembur ke dalam danau sedangkan aku dan Puja duduk di bawah pohon di pinggir Danau.


“Kenan kau perlu ke tengah danau untuk mendapatkan tumbuhan di dasar danau, di antara karang” aku berdiri dari dudukku, aku ingin memanggil Leobird untuk membantuku.


“Kau tidak ikut, Kau sangat pemalas” Kenan menjadi sebel karena aku dan Puja tidak ikut menyelam.


“Aku bukan pemalas hanya saja sedang menggunakan mode hemat energi” Puja ikut berdiri dan membersihkan roknya dari sisa tanah.

__ADS_1


“Tenang saja aku akan mengantarmu” aku bersiul memanggil Leobird, Leobrid terbang dari bangunan Petrichor dan terbang ke arah kami. Seperti dia sedang bersama para murid Petrichor.


Kedua temanku bersembunyi di belakang pohon, sepertinya ini kali pertama mereka bertemu. Aku mengelus Leobird dengan lembut dan memanggil kedua temanku, mereka melangkah maju dengan ragu sesekali Leobrid mengaung pada mereka sehingga mereka mundur lagi.


“Ayo kita kan naik, kau tidak mungkin berenang ke tengah danau kan” aku meloncat menaiki panggung Leobird, aku mengulurkan tanganku. Puja yang lebih dulu menerimanya, dia melompat duduk di belakangku dan disusul oleh Kenan.


Leobird terbang dengan cepat, Puja dan Kenan pun cepat menyesuaikan diri. Kami terbang menuju tengah danau, aku menyuruh Kenan bersiap-siap untuk terjun.


“Kenan ingat kata-kataku tadi” ucapku pada Kenan sebelum terjun, dia menyuruhku untuk tidak khawatir dengannya.


Hampir 15 menit aku dan Puja menunggu Kenan dari atas. Aku khawatir terjadi apa-apa pada Kenan.


“Hai para gadis jemput aku” Kenan melambaikan tangannya dari bawah sana, aku lega dia baik-baik saja.


Leobird turun mengarah ke Kenan, aku dan Puja bersiap mengulurkan tangan untuk mengangkat Kenan naik, kita bersusah payah mengangkat Kenan karna badannya yang besar. Setelah Kenan naik selanjutnya kami mencari duyung, kami turun di pinggir danau dan mengucapkan terima kasih pada Leobird.


“Ouh aku ingat, dulu waktu masa pengenalan duyung itu disimpan di gedung bangunan Petrichor” kami berjalan dengan cepat ke bangunan Petrichor, waktu kami hanya 8 menit sampai misi ini selesai.


“Aku sudah dapat” Kenan yang baru saja keluar dari bangunan Petrichor membawa darah duyung di tangannya. Kami berlari sekencang mungkin ke kelas kami sedikit lagi waktu kami habis dan kalau kami sampai terlambat pasti akan dimarahi oleh senior yang akan menggantikan Master Wafi.


Kami memasuki kawasan Halcyon dan kami langsung pergi ke kelas kami. Ketika kami masuk terlihat wajah yang familier, wajah itu dari Evans dan Gun sepertinya mereka yang akan menggantikan Master Wafi. Aku, puja dan Keenan masuk kelas dengan hati-hati, wajah dua senior itu sangat seram.


Aku dan Evans sudah tidak lama bertemu karena Karan selalu menungguku sampai kelas selesai, makan bersama dan pergi akhir pekan bersama hingga tidak punya waktu untuk bermain dengan teman-temanku.


kelas masih kosong hanya dua senior ini, itu berarti kelompok kamilah yang pertama menyelesaikan tugas pertama. Kami memperkenalkan nama kami satu persatu dan langsung duduk. Kami bertiga duduk di kursi kami sambil menunggu kelompok lain datang.

__ADS_1


Lagi-lagi Kenan memainkan rambutku, dia mengepang rambut di bagian kiriku, kami sangat bosan menunggu 30 menit yang lain belum datang, kelas sangat hening, Puja tertidur di antara kedua tangannya yang berada di atas meja.


“Karin bukankah kau dengar dengan Evans” Kenan bisik di telingaku, aku langsung menatap Evans entah sejak kapan Evans menatapku. Aku langsung memalingkan wajahku dan menyuruh Kenan untuk diam.


Tak lama dua kelompok lain datang secara bersamaan, pakaian mereka kotor dan basah, wajah mereka dibasahi oleh keringat yang mengalir. Evans dan Gus memarahi mereka habis-habisan ada yang menangis, ada pula yang hanya diam. Setelah 10 menit teman-temanku dimarahi oleh dua senior itu mereka disuruh duduk ditempat-Nya masing-masing.


Evan dan Gun menyuruh kami ke kelas praktik Ramuan, kelas itu berada di ujung lorong kelas kelasnya terdapat 5 meja aku memilih paling depan, di meja terdapat tungku kecil, mangkuk-mangkuk beserta sendoknya, tumbukan dan sebuah buku pemandu. Melihat semua sudah duduk rapi di meja, Evans membuka kelas ini. Dia sangat tegas dalam berbicara, Evans perlihatkan cara membuat ramuan-ramuan ini, yang nanti akan aku buat dengan teman-temanku.


“Kalian juga bisa melihat ibuku halaman 104 di atas meja kalian” Evans mempraktikkannya dengan sangat cepat, aku bahkan lupa Dia memasukkan apa saja dalam tungku itu.


Ramuan yang akan kami buat bernama Felisiti, sebuah ramuan yang bisa mengubah perasaan seseorang dengan cepat dari perasaan bahagia, sedih, takut dan cemas.


Kami bertiga saling menatap, aku mengangkat dua bahu. Aku tidak pernah membuat ramuan-ramuan seperti ini sebelumnya. Aku, Puja dan Keenan membaca buku di hadapan kami, kami benar-benar tidak mengerti tulisan-tulisannya seperti huruf-huruf aksara zaman dahulu.


“Aku tidak mengerti tulisan ini” ujarku yang pusing melihat buku di depanku. Aku lebih sering menggunakan sihir dibandingkan belajar membaca buku.


Aku menatap Evans yang sedang duduk di kursi yang menatap kami, aku menaikkan satu alisku padanya dia tidak menjawab apa-apa. Kenan mencari informasi di kelompok sebelah namun hasilnya sama saja mereka pun tidak mengerti.


“Sudahlah kita campur semua bahan saja” pasrah Puja tidak menemukan titik terang.


Aku menumbuk bunga pohon Kinoki, Puja menumbuk tumbuhan merah sampai jadi lembut sedangkan Kenan sedang memanaskan darah duyung di mangkuk di atas tungku yang menyala. Yang pertama dimasukkan tungku itu adalah jamur hitam, tungku itu mengeluarkan asap berwarna biru gelap, sepertinya yang dicontohkan Evans tadi tidak seperti ini, asapnya pun berbau busuk.


Yang kedua tumbuhan merah yang baru saja Puja tumbuk, Kenan memasukkan hasil tumbukan Puja ditungku dengan ragu, Kenan mencampuri dan mengaduknya, tidak ada asap hanya warna dari air mangkuk itu berubah menjadi hitam pekat.


“Aku tidak yakin” Kenan menatap air di atas tungku itu dengan jijik. Entah benar atau salah yang penting membuatnya.

__ADS_1


Bruk


__ADS_2