
Bruk
Suara ledakan berasal dari kelompok sebelah, ledakan itu mengeluarkan sebuah lendir berwarna hitam. Wajah dan tanganku yang terkena lendir itu, aku membersihkannya dengan jubah dalam Kenan. Kami melihat kelompok itu, mereka sangat lucu wajah dan lengan mereka berwarna hitam menyisakan mata dan gigi mereka. Satu kelas tertawa dengan melihat mereka namun berhenti karena tiba-tiba Evans membentak dan menyuruh untuk cepat menyelesaikannya.
“Karin kalau saja, aku tidak mau seperti kelompok sebelah” Kenan menyerahkan mangkuk hasil tumbukanku tadi.
“Aku juga tidak mau” aku memberikan mangku itu ke puja. Dengan pasrah Puja tersenyum dan mendekati .
Aku berlindung dibalik punggung Kenan agar tidak kena cairan hitam. Kenan yang tidak terima berbalik dan berlindung di belakangku. “Kenan kau sangat menyebalkan”
“Kalian bisa diam tidak” bentak Puja yang sedang berkonsentrasi untuk memasukkan hasil tumbukanku.
Aku menatap waspada pada cairan di atas tungku itu, aku sangat siap akan ledakan dari tungku itu. Mungkin aku bisa menakut-nakuti Karan dengan wajah yang hitam, sepertinya lucu melihat wajahnya yang terkejut.
Puja memegang sendok dengan gemetar, sedikit lagi dia hampir memasukkannya. Aku mengepalkan tanganku dengan khawatir jantungku berdegup dengan kencang, keringat mengalir di wajahku. “Aku tidak bisa”
Aku menghela nafas gusar, Puja menyerah. Akhirnya aku dengan cepat memegang tangannya dan menuangkan isi sendok itu ke atas tungku. Tidak terjadi apa-apa hanya asapnya berwarna abu-abu.
“Berhasil” Aku, Puja dan Keenan bertepuk tangan. Evans yang duduk di kursi berdiri dan berjalan ke arah.
Evans menyungging senyumannya di sudut bibirnya. “Kalian cobalah” Aku, Puja dan Keenan saling menatap, tidak ada yang mau meminum ramuan itu. “Bagaimana kalian tahu itu berhasil atau tidak kalau tidak di coba”
__ADS_1
Puja dan Kenan menyikut lenganku, mereka isyaratkan aku untuk meminum ramuan itu. “Aku?” aku menggeleng-geleng dan memundurkan langkahku.
“Tapi kau yang paling tidak banyak bekerja” Kenan sungguh menyebalkan, bagaimana bisa dia bilang seperti itu. Aku yang menunjukkan tempat-tempat bahan-bahan ini, tapi dia ada benarnya juga, pekerjaankulah yang paling mudah “Baiklah”.
°°°
Waktu menunjukkan pukul 12 siang, saat ini matahari sedang berada tepat di atas, udara yang membawa panas dari arah atas langit, dan tidak ada awan yang menutupi sinar matahari.
Aku dan teman-teman seangkatanku sedang berkumpul di tengah lapangan, aku dan teman-teman sekelasku akan berburu, kelas Petrichor akan bercocok tanam sedangkan kelas Aurora akan memasak dan mencuci pakaian seluruh angkatan.
Master Wafi sebagai wali kelasku, dia membagi tiga kelompok untuk berburu. Seperti biasa aku bersama Kenan dan Puja menjadi satu kelompok, kelompokku mendapatkan bagian rusa sebagai hewan buruan. Berburu rusa sangat mudah hanya dengan menggunakan sedikit sihir untuk mendapatkannya namun Master Wafi menyita tongkat kami. Dia mengatakan untuk mencari hewan buruan dengan manual, mungkin alasannya agar kami sedikit berolahraga dan tidak menjadi pemalas.
Master Wafi sudah siapkan alat untuk berburu di depan kami. Aku mengambil busur panah, Kenan mengambil sebuah pedang dan Puja mengambil sebuah senapan. Kami diberi waktu sampai jam 3 sore karena malam nanti kita semua akan pergi ke hutan apung untuk menangkap seekor naga.
“Kalian urus rusa kalian sendiri, aku tidak akan membantu kalian” Kenan berjalan lebih cepat ke hutan. Kenan meremehkan aku dan Puja mungkin karena dia tidak tahu kalau aku memiliki kekuatan Virgilio.
Aku dan Puja sudah cukup jauh berjalan di hutan, tidak ada satu pun rusa yang aku temui. Aku memutuskan menggunakan kekuatan Virgilio untuk mendeteksi rusa. Aku dan Puja sudah cukup lelah berjalan di hutan, aku mendeteksi rusa berada di ujung selatan hutan ini dan itu cukup jauh dari tempatku berada sekarang.
“Puja aku pernah melihat rusa berada di selatan hutan ini” Puja mengangguk dan mengikuti arahanku.
Kami berjalan melewati akar-akar pohon, memutar berbatuan dan pohon besar, dan menyeberangi sungai yang cukup lebar dan deras. Aku dan Puja saling bahu membahu melewati semua itu, kami pun melihat Kenan yang sedang duduk di pinggir sungai.
__ADS_1
“Di mana Rusamu Kenan?” godaku pada Kenan, Kenan melempar batu kecil ke arahku. Sebelumnya Kenan sangat percaya diri, dia kan mendapatkan Rusa lebih dulu dibandingkan aku dan Puja.
Kami pun melanjutkan perjalanan aku, Puja dan Kenan sangat lelah, kami memutuskan untuk beristirahat. Siang terik ini ditutupi oleh lebat pepohonan hutan, udaranya pun sangat sejuk karena lembabnya hutan. Aku mau memutuskan untuk mengambil buah di salah satu pohon, buah itu berbentuk bulat besar dan berwarna hijau.
Menarik anak panah dengan busurku yang mengarah ke salah satu buah di sana, aku tidak pandai menggunakan panahan tapi aku bisa menggunakan dengan kekuatan Virgilio. Aku melepaskan anak panah dari busur, memfokuskan udara di sekitarnya untuk membantu panahku mengenai batang pohon buah itu.
Bruk
Buah itu jatuh, panahanku dengan sempurna mengenai batang buah itu. Kenan mengambilnya dan dia potong dengan pedang di tangannya. Buah ini terasa sedikit asam namun tetap manis, sedikit berair sangat bagus untuk menahan haus.
Setelah beberapa menit kami melanjutkan perjalanan, sedikit lagi tujuan yang kami tuju sampai. Beberapa rusak pun sudah mulai terlihat, kami bertiga berpencar mencari rusa itu masing-masing.
Aku mengendap endap dan melihat satu rusa jantan yang sedang memakan dedaunan. Aku siap dengan busur dan panahnya, sedikit lagi aku bisa menyesuaikan misi ini. Aku kencangkan panah dengan senar busur, menarik nafas dalam-dalam dan menitik sasaran tepat di jantungnya, agar rusa itu tidak kesakitan terlalu lama. Namun satu Peri kecil berukuran 1 jengkal terbang dan mendarat tepat di busurku. Alhasil aku mengendurkan lagi panahku.
Peri cantik itu berbicara padaku walaupun suaranya sangat kecil namun aku masih bisa mendengarnya. Peri itu memiliki sayap seperti ekor kupu-kupu, setiap hari memiliki memori yang menyatu walaupun aku bertemu dengan peri yang berbeda. Seperti peri ini aku tidak pernah bertemu dengan peri ini tapi dia mengetahui segala hal tentang ku dari peri lainnya.
“Karin apa kau lupa pantangan seorang Virgilio?” suara peri itu menyadarkanku ke beberapa tahun sebelumnya.
Saat itu sebelum aku mempelajari kekuatan Virgilio, aku diberi tahu oleh pemimpin peri tentang hal apa saja yang tidak diperbolehkan untuk seorang Virgilio. Pemimpin peri itu memberitahuku tidak boleh membunuh seekor hewan karena itu dapat menyebabkan kekuatan Virgilio berkurang bahkan hilang. Aku menaruh busur dan panahnya itu kembali ke punggungku. Au tidak mau usahaku mempelajari Virgilio begitu saja hilang.
“Terima kasih sudah mengingatkanku” Peri itu terbang ke dedaunan di sebelahku, aku memikirkan bagaimana caranya membawa rusa itu tanpa membunuhnya. “Lalu bagaimana aku membawa Rusa itu?”.
__ADS_1
“Pengaruhi pikirannya, kau sudah mempelajari itu kan”
Aku mengangguk, peri kecil itu benar aku bisa mempengaruhi pikirannya agar ikut denganku hidup-hidup jadi aku tidak perlu membunuhnya. “Terima kasih peri kecil”.