Godaan Memikat Lelaki Penguasa

Godaan Memikat Lelaki Penguasa
Awal Mula


__ADS_3

Malam terasa sunyi, suasana syahdu dibalik cahaya rembulan. Kami baru usai jalan-jalan, dan kini aku mengantarkan sang kekasih pulang ketempat kos. Saat aku hendak berpamitan, gadis itu menahanku dengan pelukan hangat. Dia menarikku perlahan membawanya masuk kedalam ruangan. Tak ada ruang tamu, yang nampak hanya ada kasur lantai kecil yang cukup ditiduri satu orang. Dengan almari plastik berukuran sedang berdiri didekat jendela. Masuk sedikit lagi ada kamar mandi kecil ,sedang disampingnya ada tempat memasak dan wastafel.Walau sempit tapi nampak rapi dan bersih.


Aku bukanlah orang suci, aku adalah lelaki normal yang jika diperlakukan dengan hangat, akan menerima dengan senang hati, Bahkan menginginkan hal yang lebih lagi. Dia tersenyum membimbingku duduk di atas kasur lantainya.


Tanpa basa basi aku lahap bibir ranumnya, ******* penuh gairah. Lidah kami menari menelusuri setiap rongga, mencari dan menerima. Tanpa sadar tangan kananku mendarat di atas payudara yang masih dibalut kaus lengan panjang. Aku meraba bergantian gunung kembarnya itu, dengan perlahan dan terkadang sedikit mencengkeram membuatnya melengkungkan tubuh. Erangannya tertahan karena mulutku masih membekapnya.


Tak mau kalah, gadis cantik itu malah berani meraba kejantananku dibalik celana jeans yang sedang kukenakan. Menambah hasrat yang membelenggu ingin segera dituntaskan. Kami berhenti berciuman, dengan aktif gadis itu mendorongku ketempat tidur. Aku melenguh ketika dia merayapkan mulutnya dileher, sedangkan tangannya masih aktif dibawah sana berusaha membuka sabuk. Dia bangkit duduk didekat pahaku. Berkutat dengan resleting celana, matanya terbelalak ketika burung dalam sangkar itu menyembul keluar.


"Aku gak nyangka jika punya kamu akan besar dan sepanjang ini. Aku sudah menduga-duga saat mengamatinya dibalik celana jeans yang kamu kenakan. Tapi tidak menyangka akan sangat menakjubkan seperti ini," ucap gadis itu tersenyum girang.


Kedua tangan dan lidahnya bergantian memainkan membelai dan menjilat setiap inci sisi sensitifku, aku memejamkan mata berulang kali menggeram, melenguh menikmati sensi dari perbuatannya. Membuat melayang, rasa yang benar-benar memperdaya.


Namun, itu tak bertahan lama, dalam kegelapan malah samar-samar muncul wajah ibu dan adik perempuanku yang masih SMA. Mereka berdua seolah menatapku tanpa ekspresi.


Aku terpekik sadar, kubuka mata, kupandangi gadis yang masih berkutat di antara kedua paha.


"Helene cukup." Aku berucap dengan sedikit terenggah. Meski sebenarnya tak ingin mengakhiri rasa ini. Tapi hati kecilku terus memberontak. Tak sabar, aku segera bangkit kubenarkan letak celanaku. Kubimbing dia berdiri. Kupeluk gadis yang amat sangat aku cintai tersebut. Nafsu yang tadi sempat membuncah perlahan menghilang dengan bayangan ibu dan adik perempuanku yang semakin berseliweran dalam ingatan.

__ADS_1


"Sayang," ujar gadis itu lirih.


"Bukan, bukan seperti ini sayang, aku sungguh menginginkan kamu tapi bukan dengan cara seperti ini." Aku mempererat pelukanku. Aku melepas pelukan ketika kudengar isakan tangis yang tertahan.


"Sayang kenapa kamu menangis?" ucapku merangkum wajahnya.


"Edzard, aku pikir kamu sama seperti Kenzo karena kalian berdua berteman baik. Aku pikir kamu bukan orang sebaik ini. Hadir dalam hidupku, membuat aku bergantung denganmu. Sekarang aku malah merasa semakin bersalah, aku merasa aku orang yang sangat, sangat buruk di hadapanmu," kata Helene tertunduk menangis membuatku bingung.


"Hey, kamu kenapa?" Aku memegang pundaknya berusaha mencerna setiap ucapan.


"Sayang kamu itu ngomong apa sih? Kalau karena hal tadi. Menurut aku itu wajar, kan kalau kita nafsu dengan pasangan kita. Karena kita saling mencintai, aku juga pasti nafsu lihat kamu Helene. Body kamu yang menggiurkan, payudara kamu yang di atas normal maksud aku yang lebih besar dari yang lain. Dan ... dan ...." Aku bingung untuk melanjutkan ucapan tak masuk akal yang baru aku lontarkan .


"Aku bukan perawan lagi Edzard, aku sudah berulang kali tidur dengan lelaki lain sebelum kamu. Bahkan aku ... aku sempat tidur dengan Kenzo sebelum bersamamu," terang Helene, memberi pukulan telak di hatiku.


Aku mungkin bisa terima jika lelaki lain, tapi Kenzo. Aku menghembuskan nafas berat berulang kali, menertawakan kebodohan diriku. Rasa frustasi menyergap isi kepalaku. Kucengkeram rambut di kepala. Ingin aku marah dan melontarkan kata-kata kotor.


"Sebaiknya kita putus Edzard, aku akan merasa bersalah jika tetap bersama kamu. Aku tidak akan tenang melihat kamu membenciku. Kamu lelaki pertama yang aku cintai dengan tulus hati," ucap Helene semakin menangis meraung-raung. Amarahku mulai mereda ketika tatapan kami bertemu.

__ADS_1


Rasanya aku ingin kabur sejauh mungkin, tapi hati nuraniku menolak. Rasa benci memang ada, tapi dia tetaplah seorang wanita yang rapuh. Aku berusaha tegar dan menenangkan diri. Aku tidak ingin kabur, aku berharap masalah hubungan kami terselesaikan tanpa menyakiti satu sama lain.


"Terimakasih sudah jujur Helene, mungkin aku membutuhkan waktu untuk menenangkan hati dan perasaanku. Aku akan berusaha untuk tidak membencimu. Mari kita berdamai entah sebagai seorang teman atau pacar. Namun aku tetap berharap kamu berusaha menjadi wanita yang lebih baik, jangan lagi lakukan hal yang akan merugikan dirimu pada akhirnya." Kalimat itu terlontar begitu saja.


Kami berpelukan untuk terakhir kali, aku pulang kembali ke rumah setelah Helene tenang. Ada rasa kecewa ada rasa benci bercampur menjadi satu. Menggelayut sukma. Aku sempat bersitegang bercampur canggung dengan Kenzo Julian. Tapi kemudian aku tersadar kembali. Mungkin memang semua karena kebodohanku. Kenzo sudah memperingatkan diriku agar aku tidak dekat dengan Helene, tapi perasaanku malah berkata lain. Tak kuduga tak kukira. Jika yang sebenarnya Kenzo maksud adalah hal tersebut. Semakin waktu bergulir, rasa sakit hati perlahan mulai menghilang, bersama rasa cinta yang terkubur bersama luka. Bukan trauma, hanya saja aku menjadi seorang yang pemilih. Tak ingin tersakiti apalagi dikhianati. Cukup sekali saja, ya cukup sekali saja. Waktu pun tetap bergulir, sampai akhir kuliah kami masih sering bertukar kabar, walau hubungan kami pada akhirnya berakhir, tak bisa bersama seperti dulu. Terkadang aku merasa iri, iri pada kebebasannya yang seperti tanpa beban. Bagaimana tidak, dia terlihat sempurna, dengan latar belakang keluarga kaya raya. Tapi nyatanya itu tak menjamin suatu kebahagiaan.


Berawal dari kedatangannya ke rumah untuk meminta maaf. Aku melihat sorot matanya, meski tatapan sayu , namun terlihat memancarkan suatu kegetiran didalamnya. Entah apa yang ia pikirkan atau rasakan. Yang pasti,ketika menyangkut orang tua tatapan matanya berubah sedih. Kami berbaring di atas tempat tidur, malam ini Kenzo untuk pertama kali menginap di rumahku.


"Andai saja orang tuaku memiliki waktu untukku seperti orang tua kamu Edzard."


"Jangan seperti itu, orang tua kamu pasti sibuk sekali mengurus semua usaha dan bisnisnya. Semua orang tua menyayangi anaknya Kenzo, begitupula dengan orang tua kamu." Aku berusaha menghibur.


Rasa sepi, ternyata kesedihan itu hanya rasa sepi. Malang, hanya kata itu yang dapat melukiskannya. Aku pun berpikir, mungkin saja lebih beruntung dari dia yang kesepian.


Bersambung....


@karra_lovely

__ADS_1


__ADS_2