
"Eh gimana Design buat baju kita nanti yang udah Gue kirim lewat WA?. Bagus enggak?." Tanya Andini saat empat sekawan itu tengah mengobrol dikelas.
"Bagus banget!!. Tapi kita mau bikin kaos, hoodie, jaket atau apaan nih?." Puji Refina lalu melontarkan pertanyaan.
"Kita bikin sweater T shirt aja." Jelas Fajar.
"Ide bagus. Nanti kalian berdua aja yang nyari tempat bikinnya. Gue sama Rendy mah nungguin aja."
“Enggak mau kerja banget!." Tukas Fajar.
"Biarin. enggak apa-apa kan Andini?."
“Enggak. enggak apa-apa."
"Warnanya apa nih?." Tanya Fajar.
"Meningan yang cowok hitam yang cewek putih dah. Bagus!." Saran Refina.
"Iya sih keren. Tapi nanti Gue masa couple nya sama si Rendy."
“Enggak apa-apa jar. Ini kan berempat couple nya."
"Sewarnain aja kalau gitu mah." Sanggah Rendy.
"Ya udah putih aja." Jelas Refina "Hitam dong!." sanggah Fajar.
"Lah. Ya udah kalau gitu mah kayak tadi aja. Cowok hitam, cewek putih!." Tegas refina
"Oke." Fajar setuju.
"Kenapa enggak dari tadi jarjit." Tukas
Rendy
"Oke. Berarti cowok hitam cewek putih. Dan gambarnya kayak yang udah Gue Design.
Sip." Tutur Andini.
***
Pak jeni lalu datang ke kelas. Semua murid duduk diam dibangku mereka masing-masing. Pak jeni menyapa murid muridnya dan memberikan pengumuman.
"Murid-murid, bapak punya pengumuman. Minggu depan, sekolah kita akan melaksanakan PAS. Jadi semuanya bisa bersiap mulai dari sekarang. Belajar dulu yang rajin, jangan kebanyakan main. Ke sekolah itu
BELAJAR jangan bikin gaduh doang."
"Iya, kayak saya." Tukas Fajar yang mengundang tawa seisi kelas.
"Bagus lah ada yang ngaku!. Jadi gimana, semuanya paham?."
"Paham pak..." sahut semua murid.
***
Di jam istirahat, seperti biasa Rendy dan Refina pergi ke kantin sementara Fajar dan Andini tetap diam dikelas.
"Ref, si Fajar sama Andini tuh udah jadian belum sih?." Tanya Rendy sambil berjalan.
"Enggak tahu aku juga. Tapi mereka kayak deket banget gitu."
"Iya, Fajar juga kayak sayang banget sama Andini. Kayak aku ke kamu!."
"Yah gombal. Belajar dari si Fajar nih
pasti."
"He he. Sekali kali."
Dikelas, Fajar mengeluarkan earphone dan memainkan lagu. Ia memasangkan sebelah earphonenya pada Andini agar Andini bisa mendengarkan lagunya juga.
"An, kamu dengerin deh lagu ini. Enak."
"Oh banda neira, sampai jadi debu. Aku udah tahu dari lama. Sayangnya mereka bubar."
"Iya. Padahal aku suka lagu-lagu mereka. Sayang banget ya aku sama kamu"
"Dih apaan. Harusnya 'sayang banget ya mereka bubar'."
"Terserah aku lah. Eh iya, kamu mau enggak kayak dua orang dilagu ini?."
“Enggak tahu deh. Emang aku bakal
punya pasangan kayak gitu?."
"Iya. Ini udah ada di depan kamu."
"Aku udah kebal sama gombalan kamu."
"Kok gombal sih. Salahkah ku menuntut mesra? Tiap pagi menjelang, kau di sampingku, kau aman ada bersamaku." Fajar bernyanyi mengikuti lagu.
"Selamanya, sampai kita tua, sampai jadi debu. Kudiliang yang satu, kudisebelahmu." Lanjut Andini.
"Kayaknya, yang kayak gitu cuma ada satu dari seribu pasang orang didunia." Jelas Andini meragukan.
"Iya, dan kita akan jadi satu pasang itu." Ucap Fajar yakin.
"Hmmm." Andini memberikan senyumnya.
Jika itu enggak terjadi gimana jar?. Jika yang akan terjadi tidak sesuai dengan apa yang kamu bilang gimana jar?. Aku enggak mau bikin kamu kecewa.
Hati Andini bergumam.
***
Hari ini pulang sekolah lebih awal, karena guru-guru mempunyai kegiatan di luar sekolah. Fajar hari ini berniat mengajak Andini untuk pergi dengannya. Tapi saat Andini diajak, ia menolak. Katanya mereka bukannya akan pergi ke tempat mereka akan membuat baju?. Tapi Fajar menyarankan untuk pesan online saja agar mereka hanya tinggal menunggu karena katanya tempat pembuatan bajunya agak jauh, jadi nanti capek di perjalanan. Andini pun mengiyakan ajakan Fajar dengan syarat jangan ke tempat yang pernah mereka datangi.
__ADS_1
"Kamu ngajak main mulu, kayak
tourguide!!."
"He he. Ya gimana dong, aku mau deket kamu terus. Apalagi sekarang, pulang sekolahnya cepet. Jadi rindunya akan makin lama!."
"Hmmmmm. Ya udah ke mana?."
"Ke forest walk deket sini."
"Oke deh."
"Kamu pasti suka, soalnya di sana suasananya tenang banget. Apalagi kalau weekdays dan masih jam jam orang sekolah sama kerja."
"Ya udah cepet!."
"Bentar dong, enggak sabar banget!."
Mereka segera berangkat ke forest walk di babakan siliwangi, karena tempatnya dekat, sepeda mereka berlalu dengan cepat. Tanpa basa basi lagi, sesampainya di sana mereka langsung masuk. Di sana sangat sepi, hanya ada beberapa orang. Andini dan Fajar berjalan-jalan sambil mengobrol. Dengan pepohonan di kiri dan kanan, udara di sana sangat sejuk.
"An, tempatnya sejuk ya?."
"Iya."
"Tapi kalau deket kamu rasanya hangat."
"Mulai deh. Eh jar, kamu kenapa ngajak aku kesini?."
"Emangnya harus ada alesannya?."
"Ya enggak juga. Nanya aja."
"Aku pengen.... mmmmm." Fajar berpikir sejenak dengan hati yang berbicara.
Bilang perasaan Lo. Bilang sekarang. Kok Gue jadi gugup gini sih?. Bilang Fajaaaaar. Kok susah banget sih ngungkapin perasaan dengan serius. Padahal waktu itu Gue juga suka bilang sayang sama dia. "Penge.....n?." Tanya Andini sambil menekan ucapannya.
"Pengen jalan-jalan aja bareng kamu he he."
"Eh. enggak jelas." Andini lalu memalingkan wajahnya dan hanya terfokus pada pemandangan di samping jembatan. Dengan tangan yang berpegangan pada pinggiran jembatan, mereka berdua tak mengucapkan sepatah kata pun setelah obrolan itu. Hingga Andini memulai obrolan kembali.
"Jar, kamu sering kesini ya?."
"Iya buat nenangin diri."
"Iya. Aku juga ngerasa tenang di sini."
"Sekarang cuacanya mendung. Kalau cerah pemandangannya lebih indah."
"Kamu percaya enggak, mendung itu
tandanya hujan."
"Mmm enggak. enggak semua mendung
Dan enggak semua teman dekat berakhir jadian, An. Tapi aku harap kita tak begitu. Gumam Fajar dalam hati.
Tiba-tiba hujan turun. Perlahan lahan hujan semakin deras.
"Aduh jar, hujan!."
“Enggak apa-apa. Seru!."
"Cari dulu tempat teduh ih!." Seru Andini lalu berlari. Dengan gegas mereka mencari tempat berteduh. Lalu mereka menemukan sebuah warung dan duduk di sana.
"Yah, kamu jadi basah gini an."
"Kamu sih, malah bilang seru lah, apa lah. Bukannya cepet-cepet nyari tempat teduh."
"Maaf ya, aku enggak bisa ngelakuin hal kayak di adegan film. Di mana si cowoknya ngasih jaket ke ceweknya meski jaketnya dia basah juga."
"Ha ha. Iya enggak apa-apa. Lagian kamu juga kan enggak pake jaket."
"He he."
"Mas, mbaknya ini pacaran ya?." Tanya pedagang di warung itu.
"Eh.." ucap Andini sebelum Fajar memotongnya.
"Iya. He he."
"Aduuh. Kalian itu cocok banget. Mas nya ganteng, mbaknya cantik."
"Ibu juga cantik Bu. Gimana kalau jadi pacar saya?." Tanya Fajar sekenanya. Ibu warung itu hanya tersenyum sambil menggelengkan kepala. Sementara Andini menahan tawanya.
"An kamu kedinginan?."
"Iya."
"Mau dipeluk?."
"Issssh." Andini mendorong tubuh Fajar.
"Bercanda. Mau apa, kopi?. Susu?."
"Air putih yang hangat aja."
"Susu?."
"Bukan. Air putih."
"Iya kan susu juga warnanya putih."
"Ah kamu..... jangan ngeselin."
"Ha ha. Maaf. Bu, pengen air putih yang hangat Bu satu gelas!."
__ADS_1
"Oh iya mas. Tunggu... ini mas!."
"Makasih Bu."
Glek.... glek... Andini meminum minuman itu dengan cepat.
"An..."
"Hmmmm."
"Kalau minum tapi enggak cantik bisa enggak?."
"...." Andini tak menjawabnya. Ia hanya mengepalkan tangannya pada Fajar.
"Gitu doang." Keluh Fajar.
Sang pemilik warung lalu menyalakan radionya. Lalu sebuah saluran memutarkan lagu you are the reason dari calum scott. Fajar memintanya untuk tidak dipindahkan.
*I'd climb every mountain
And swim every ocean
Just to be with you*
Fajar mengucapkan lirik dilagu itu sambil tersenyum pada Andini. Andini membalasnya dengan senyuman juga.
Jika Andini mengerti, ucapan Fajar melalui lirik lagu ini benar-benar ditujukan untuknya. Ia ingin bersama Andini meski ia harus melewati rintangan apa pun. Tapi Andini tak juga mengerti perasaannya.
"Yah aku salah."
"Salah kenapa?."
"Salah karena udah bikin kamu senyum."
"Emang kenapa?."
"Udah bikin kamu makin cantik."
"Terus kenapa?."
"Ya nanti makin banyak yang suka sama kamu." Bisik Fajar.
"Biarin. Nanti aku suka deh sama salah satu orang yang suka sama aku. Dan pergi sama dia."
"Tapi aku pegang kamu erat-erat biar kamu enggak pergi."
"Aku gigit tangan kamu biar lepas. Terus lari deh."
"Aku bakalan kejar kamu sekencang kencangnya."
"Tapi aku keburu pergi naik mobil sama orang yang suka sama aku."
"Tapi lama kelamaan kamu bosen sama dia. Terus kamu kangen deh sama aku. Dan nyari-nyari aku."
"Terus aku.... Eh. Apaan?."
"Ha ha. Iya kan?."
“Enggak." Jawab Andini dengan wajah kesalnya.
"Hmmm." Fajar memunculkan lagi senyum di bibirnya. Melihat Andini marah lebih membuatnya bahagia daripada melihatnya senyum. Karena jika Andini senyum, nanti Andini jadi lebih cantik, lalu dia disukai oleh banyak orang. Hujan pun reda, awan menahannya agar tak turun lagi. Tak seperti hujan, perasaan Fajar tak juga mereda.
Perasaannya terus menggebu. Tapi ia tak berani mengungkapkannya secara serius. Meski ia sudah sering mengatakan bahwa ia sayang pada Andini, tapi pasti Andini hanya menganggapnya sebagai gombalan, karena ia tidak terlihat serius saat mengatakannya.
***
Mereka pun pulang, hujan masih gerimis, tapi ini sudah sore. Mereka segera bergegas menaiki sepeda. Di tengah hujan yang gerimis, ada perasaan yang tak bisa ditepis. Fajar masih memikirkan bagaimana cara mengatakan perasaannya pada Andini.
Apakah berbicara aku mencintaimu harus sesulit ini?. Tanya Fajar dalam hati. Fajar lalu menghentikan sepedanya. Andini yang melihat hal itu juga ikut menghentikan sepedanya.
"Kenapa berhenti?."
"Pengen hujan-hujanan."
"Ih kayak anak kecil. Ayo pulang!!." Fajar lalu menarik tangan Andini dan mengajaknya bermain hujan. Di jalanan sepi itu mereka berlari lari dan bersenang senang di bawah rintik air hujan yang kian deras. Lalu mereka berhenti dan saling berhadapan. Saling menatap dengan senyuman.
"An, kamu enggak akan pernah tinggalin aku kan?." Andini diam sejenak sebelum mengucapkan kalimatnya.
"Mungkin."
"Memangnya kamu mau pergi ke mana?."
"Ke tempat di mana aku ditakdirkan untuk pergi ke sana."
"Kapan?."
"Jika aku udah cape di sini."
"Aku ikut ya?."
“Enggak usah."
"Kenapa?."
Andini tidak menjawab pertanyaan Fajar. Ia langsung berjalan menuju sepedanya.
"Ayo pulang."
"An, kamu belum jawab pertanyaan aku!!." Teriak Fajar. Tapi Andini tetap tak menggubrisnya. Ia segera mengayuh sepedanya. Fajar memikirkan ucapan Andini tadi. Apakah suatu saat Andini akan pergi dari kota Bandung?. Untuk apa?. Untuk meraih mimpinya atau untuk apa?. Fajar terus bertanya tanya.
***
Fajar, aku tidak akan memberitahu pergiku ke mana. Apalagi saat kamu bilang kamu akan ikut. Jika kamu ikut, Ibu nanti akan sangat sedih karena ia semakin jauh dari kamu. Teman-temanmu juga begitu. Kuharap kamu mengerti.
Mendungnya awan belum tentu hujan, dekatnya teman belum tentu jadian. – Fajar.
__ADS_1