
Beberapa hari usai Fajar menyatakan perasaannya, Fajar hanya diam di kafe dan melakukan pekerjaannya. Rendy dan Refina selalu datang untuk berkunjung dan mengajak Fajar pergi meski Fajar selalu menolak. Fajar juga tak pernah bertemu Andini lagi. Jangankan bertemu, mengirim pesan saja ia segan. Ia yang dari awal merasa menjadi seseorang yang tepat untuk Andini, kini merasa jadi seseorang yang tak pantas untuk dimiliki.
***
Fajar tengah membersihkan kafe sebelum kafe buka. Tapi kegiatannya terhenti saat ia mendapat sebuah pesan.
"Fajar, maafin aku buat yang waktu itu. Dan soal pertanyaan kamu tentang alesan kenapa aku nolak kamu. Aku udah tulis surat yang berisi semua jawaban dari pertanyaan kamu. Suratnya aku titip ke Refina. Jadi nanti kamu baca aja. Sekarang aku mau pergi ke Jakarta. Sampai jumpa!." Ucap Andin dalam pesan itu. Dengan sigap Fajar membalas pesan itu.
"An, kenapa kamu ke Jakarta?. Kamu mau pergi ninggalin aku?."
“Enggak jar, nanti juga aku kembali."
"Aku ikut ya?."
"Eh mau ngapain?."
"Mau jagain kamu. Takutnya nanti kamu dideketin sama cowok cowok Jakarta."
“Enggak. Aku di rumah kakek aku Fajar."
"Ya udah, Jaga diri kamu baik-baik ya..."
"Iya kamu juga..."
Pesan itu berakhir. Tak ada obrolan yang dilanjutkan. Fajar melamun, menatap ke arah luar kafe. Memikirkan bagaimana jika Andini pergi meninggalkannya dan tak kembali karena Andini pernah berkata begitu padanya.
"Fajar!!!." Teriak seseorang memecah lamunan Fajar. Orang itu mengetuk-ngetuk pintu kafe yang belum Fajar buka. Fajar menghampirinya dan membukakan pintu.
"Iya ada apa ref?." Tanya Fajar pada Refina yang sedang bersama Rendy.
"Duduk. Duduk!!." Refina menarik Fajar dan mendudukkannya di kursi.
"Baca ini. Dari Andini!." Ucap Refina dengan wajah yang agak panik.
"Ini surat yang Andini bilang ke Gue!."
"Udah baca dulu, Gue penasaran isinya apaan." Tukas Rendy.
"Kata Andini ini isinya jawaban dari pertanyaan Gue kenapa Gue ditolak."
"Mmmm. Ya udah baca!!."
Hai jar, maaf ya tentang sikap aku yang mungkin bikin kamu bertanya tanya. Bikin kamu marah atau kecewa sama aku. Krena waktu itu aku kaget. Aku enggak ngira kalau kamu bakalan nyatain perasaan kamu dan minta aku buat jadi seseorang yang berharga buat kamu, buat jadi pasangan kamu. Tapi aku itu enggak pantes jar. Aku enggak pantes jadi seseorang itu. Dan jika kamu tanya alesannya kenapa, aku akan jawab di sini. Sebenernya, aku enggak pengen ada orang yang tahu tentang hal ini. Tapi aku harus bilang sama kamu. Aku itu sebenernya punya penyakit.
Penyakit ginjal lebih tepatnya. Itulah kenapa aku sering izin sekolah untuk cuci darah. Itu juga alesan kenapa aku enggak pernah makan makanan lain yang kamu kasih kecuali apel. Waktu itu aku pernah bilang sama kamu lagi sakit, ke cape-an, padahal sebenernya aku baru selesai cuci darah. Ini juga yang jadi alesan kenapa waktu itu aku bilang aku akan pergi ninggalin kamu, karena akan ada saatnya di mana aku lelah banget, cape terus terusan cuci darah. Dan kata dokter kalau aku enggak cuci darah, hal fatalnya aku bisa mati mendadak. Hmm. Aku lebih baik mati daripada terus kayak gini. Ibu udah nyari donor ginjal buat aku biar aku enggak perlu cuci darah lagi untuk beberapa tahun. Tapi enggak pernah ada orang yang mau mendonorkan ginjalnya. Jadi entah sampai kapan aku akan bertahan menjalani semua ini. Dan kenapa aku menolak kamu, karena aku enggak mau kamu sakit hati, sedih karena suatu saat aku bakalan ninggalin kamu. Aku pernah bilang sama kamu kalau aku enggak suka liat orang lain sedih apalagi kamu matahariku. Jadi lebih baik kita jadi temen aja. Walaupun suatu saat aku bakalan tetep ninggalin kamu entah kapan, kuharap kamu masih bisa bahagia dengan pasangan yang kamu cintai meskipun itu bukan aku. - Andini.
Fajar menitikkan air matanya untuk yang ke sekian kalinya. Ia tak pernah tahu apa pun tentang penyakit Andini. Yang ia lihat setiap hari hanyalah kebahagiaannya saja.
"Kenapa Gue enggak pernah tahu ini?. Gue bilang Gue sayang Andini tapi Gue enggak pernah tahu apa pun tentang dia, Gue bego!! Bego banget ref, ren!!." Fajar marah terhadap dirinya sendiri. Refina dan Rendy mencoba menenangkannya.
__ADS_1
Bruk.... Fajar memukul meja yang ada di hadapannya. Kesal, marah, sedih, menyesal, semua perasaan itu ia rasakan saat ini. Kenapa ia tidak pernah tahu semua ini dari awal?. Andai ia tahu dari saat pertama bertemu, mungkin ia akan terus menemani Andini. Bukannya membuat Andini menemaninya karena hal-hal yang ia alami.
Siangnya Fajar lekas pergi mencari tempat Andini sering cuci darah. Ia berangkat dengan Rendy dan Refina. Di perjalanan Refina terus bertanya kenapa mereka harus mencari rumah sakit itu, Jawaban Fajar hanya "gimana nanti aja." Akhirnya ia menemukan satu rumah sakit spesialis ginjal yaitu rumah sakit khusus ginjal Ny. RA Habibie. Ia menanyakan pada resepsionis apakah pernah ada pasien bernama Andini yang rutin cuci darah di sini. Resepsionis menjawab bahwa memang ada pasien bernama Andini yang rutin kesini. Ia lalu memberitahukan dokter yang sering menangani Andini. Dokter itu ialah dokter silvi. Fajar masuk ke ruangannya dan berbicara dengannya.
"Dok, saya mau tanya apa benar Andini Larasati sering cuci darah di sini karena penyakit ginjalnya?."
"Iya benar. Kenapa?."
"Katanya belum ada seorang pendonor pun yang mau mendonorkan ginjalnya untuk Andini?."
"Iya belum. Karena mencari pendonor
yang cocok itu sangat sulit mas."
"Mmmm. Dok, saya boleh minta nomor
HP-nya?."
"Untuk apa?."
"Saya mau mencarikan donor untuk Andini. Nah jika ada pendonornya, nanti saya hubungi dokter. Boleh enggak?."
"Baik saya berikan!. Jika mas memang mau mencari donornya, mas harus cari seseorang bergolongan darah O. Karena itu golongan darah Andini." Dokter silvi kemudian menuliskan nomor HP-nya dan memberikannya pada Fajar. Fajar mengajak Rendy dan Refina pergi lagi ke kafe. Dan merencanakan sesuatu. Rencananya ini agak ekstrim, Rendy dan Refina melarangnya karena takut terjadi apa-apa. Meski Rendy dan Refina melarang Fajar melakukan rencananya, tapi Fajar tetap bersikeras. Ia tetap ingin membantu Andini.
***
"Saya butuh donor ginjal untuk seseorang yang terbaik di hidup saya. Andini Larasati."
Ia berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia akan berdiri seharian di sana sampai ada pendonor untuk Andini.
"Fajar. Udah dong. Ini udah mau sore, Lo enggak cape?." Tanya Refina yang mengajak Fajar pulang.
"Iya jar, besok lanjut ya?. Lo udah hampir seharian penuh, belum makan juga. Ayo pulang lah!." Rendy mencoba membujuknya tapi Fajar tetap berdiri di sana, tak memedulikan ucapan siapa pun. Rendy dan Refina menatap khawatir, takut Fajar kenapa-napa karena ia berdiri seharian dipinggir jalan itu. Dan hal itu pun benar terjadi. Fajar tergeletak pingsan di tempat ia berdiri.
"Fajar!!." Teriak Andini khawatir. Rendy dan Refina langsung berlari dan mengangkat Fajar ke dalam mobil dan mengantarkannya ke dokter.
***
Tiba-tiba, sebuah berita viral muncul di sosial media, berita itu berisi tentang Fajar yang sedang mencari donor untuk Andini. Orangorang ramai-ramai mengomentari postingan tersebut. Banyak yang memuji dan membagikan berita itu hingga berita itu sampai pada Andini. Saat melihatnya, Andini menitikkan air mata, ia merasa menyesal karena telah memberitahu Fajar hingga membuat Fajar melakukan hal nekat nya.
"Fajar kamu ngapain?. Udah enggak usah gitu. Aku enggak apa-apa." Andini mengirim pesan pesan pada Fajar. Tapi Fajar tak membalasnya. Andini juga mencoba menelepon Fajar tapi tak diangkat. Ia pun menelepon Rendy.
"Halo ren, Gue tadi liat berita tentang Fajar di instagram. Dia ngapain kok kayak gitu. Tolong buat dia berhenti, Gue kasihan sama dia!."
“Enggak bisa, Gue sama Refina udah
nyoba nahan dia. Tapi dia tetep bersikeras sampe dia sakit."
"Ha?. Dia sakit?. Ya ampun. Lo bilangin sama dia, kalau dia tetep ngelakuin hal itu, Gue bakalan marah sama dia dan enggak akan hubungin dia lagi sampe Gue balik ke Bandung!."
__ADS_1
Saat Fajar diberitahu oleh Rendy tentang ucapan Andini barusan, ia tetap tidak peduli. Usai sembuh ia tetap melakukan itu lagi dan lagi. Hingga pingsan saat tengah melakukan hal itu menjadi hal yang biasa baginya. Ia hanya ingin berkorban untuk Andini, mengembalikan waktu yang telah Andini berikan untuk Fajar saat Fajar sedang terpuruk. Ia juga berharap bahwa Andini akan sembuh, jadi Andini tidak akan berkata bahwa ia akan pergi meninggalkan Fajar lagi.
***
Fajar pun sampai dititik di mana ia
berhenti. Ia mulai lelah melakukan hal itu. Ia pun berhenti dan memikirkan cara lain. Tapi ia tak juga menemukan ide. Saat ini ia hanya diam dan tidak melakukan hal apa pun agar ada yang mau mendonorkan ginjalnya pada Andini. Semuanya sia sia. Ia memberitahu Andini bahwa ia tidak dapat membantunya.
"Hai Andini, maaf ya. Aku enggak bisa nyari pendonor buat kamu." Ucap Fajar di kolom chat.
“Enggak apa-apa. Yang penting sekarang kamu baik-baik aja." Balas Andini.
"Eh dibales. Katanya enggak akan
hubungin aku lagi sampe pulang ke Bandung."
"Ya udah. enggak akan bales lagi!."
"Eh jangan dong he he."
"Iya. Kamu jaga diri baik-baik. Jaga kesehatan. Nanti kalau aku ke Bandung ajak aku jalan-jalan ya?. Matahari terbit. He he."
"Iya. Nanti sepedaan terus main catur ya?.
"Iya, iya. Eh yakin kamu mau main catur sama aku?. Nanti kalah Loh."
"Sombong. Nanti aku kalahin!!."
“Enggak akan."
"Kalau aku ngalahin kamu gimana?."
"Mmmm. Kamu aku..."
"Sayang?. Peluk?."
"Traktir makan ih!!."
"Oh oke. Tapi suapin."
"Iya aja ah!!. Udah ih istirahat. Udah malem. Malem malem gini bukan waktunya matahari muncul. Selamat malam."
"Iya. Selamat malam juga..."
Kita kayak gini aja aku seneng An... enggak apa-apa jika saat ini kamu enggak menerima aku. Tapi aku akan terus berusaha untuk jadi seseorang yang membuat kamu bahagia. Tak peduli ikatan kita apa.
Jar, aku harap saat ini kamu mengerti. Aku bukan enggak punya perasaan sama kamu, tapi aku takut. Takut jika kamu tiba-tiba merasa sedih karena kehilangan.
Aku merasa jadi manusia paling bodoh. Selama ini aku tidak tahu siapa dirimu, bagaimana keadaanmu atau apa pun tentang kehidupanmu. Aku bilang aku cinta, tapi yang kutahu hanya rasa bahagiamu, bukan rasa sakitmu. – Fajar.
__ADS_1