
Setelah menerangkan semuanya kepada Natusha. Tentang hal yang harus dilakukannya dan yang tak boleh di lakukannya saat bekerja. Daniel pun pergi meninggalkan Natusha didalam apartemen itu sendirian.
Sementara Daniel akan pergi bekerja di perusahaan Arbeto.Ysb yang kini sudah menjadi miliknya sepenuhnya.
"Huh sadar, Mr. Arogan! Aku sudah jauh-jauh datang kesini malah dilarang untuk duduk! Jahat banget sih pria itu!" gerutu Natusha dengan kesal.
Natusha pun langsung masuk kedalam kamar mandi. Didalam sana Natusha mengganti pakaiannya dengan pakaian santai. Karena menurutnya bekerja memakai pakaian sekolah itu rasanya kurang afdol! Lebih baik diganti dengan pakaian santai agar lebih bebas bergerak sana-sini.
Setelah berganti pakaian, Nastusha pun memulai pekerjaannya dengan menyapu dan mengepel lantai dengan bersih.
Malam hari.
"Huff akhirnya selesai juga pekerjaan ku!" seru Natusha dengan menatap sekeliling ruangan yang sudah bersih dan rapi.
Disaat Natusha ingin mengambil tas nya untuk pulang. Tiba-tiba pintu apartemen terbuka dan menampakkan Daniel yang langsung masuk dengan keadaan lantai yang masih belum kering.
"Tuan!" pekik Natusha berusaha menghentikan Daniel untuk berjalan. Namun Daniel tidak peduli dan melangkah begitu saja melewati lantai basah itu.
Bruk!
"****....!" pekik Daniel saat dirinya terpeleset dan jatuh keras kebawa lantai.
"Tuan!" pekik Natusha lagi yang langsung berlari menghampiri Daniel. Daniel yang melihat Natusha yang berlari kearahnya langsung melototkan matanya dengan sempurna.
"Sasa, No! Stop disana, Sasa!" teriak Daniel namun sudah terlambat. Natusha juga ikut jatuh karena lantai yang sangat basah. Dan lebih parahnya lagi Natusha jatuh tepat diatas tubuhnya.
"Sasa!" teriak Daniel dengan marah karena Natusha men**cium pipinya. Natusha yang tahu kalau Daniel sedang marah langsung bangun dari atas tubuh Daniel.
"Tuan, Maaf, aku tidak sengaja...." lirih Natusha mengelus bibirnya yang habis men**cium pipi Daniel.
"Beraninya kau mengambil kesempatan disaat aku terjatuh, Bocah Ingusan!" teriak Daniel dengan emosi yang membarah. Membuat Natusha hanya bisa menundukkan kepalanya karena rasa bersalahnya.
"Aku tidak mengambil kesempatan disaat kau terjatuh. Kau sendiri yang salah karena terlalu ceroboh," ujar Natusha berusaha membela dirinya.
"Kau bilang aku ceroboh!" teriak Daniel semakin marah yang kini sudah berdiri dihadapan Natusha. "Terus kau sebut apa dirimu dengan berlari ke arahku lalu ikut terjatuh juga, hah!"
"Itu namanya ketidak sengajaan," dengan polos Natusha menjawab membuat Daniel semakin geram.
"Gajimu aku potong 5 persen!" tegas Daniel membuat Natusha melototkan matanya dengan sempurna.
"Tuan, aku ini baru bekerja hari ini kenapa gajiku justru dipotongn!" protes Natusha dengan cemberut.
"Apa kau sudah lupa dengan peraturan pertama. Setiap ucapanku adalah benar dan kau tidak boleh membantahnya sedikitpun!" ujar Daniel dengan meninggikan suaranya.
"Kau itu memang suka seenaknya! Dasar Mr. Arogan!" sungut Natusha dengan kesal.
"Kau bilang apa?!" tanya Daniel yang kurang jelas mendengar ucapan Natusha.
"Tidak ada! Aku mau pulang saja!" sungut Natusha yang kini mengambil tas nya dan hendak pergi dari apartemen itu.
"Sudah malam, kau pulang naik apa?!" tanya Daniel melihat Natusha sudah berada diujung pintu.
"Aku pulang jalan kaki!" jawab nya.
__ADS_1
"Kenapa tidak naik taxi saja! Itu jauh lebih aman daripada jalan kaki!" sungut Daniel. Entah mengapa terselip dihatinya mengkawatirkan Natusha yang ingin pulang semalam ini.
"Aku tidak punya uang lagi, Tuan! Sisa uang 50 puluh ribu ku kemarin kan kau sendiri yang sudah mengambilnya," ujar Natusha dengan cemberut.
"Kenapa kau tidak bilang! Kau bisa meminta uang padaku!" seru Daniel yang kini membuka dompetnya dan mengambil uang merah sebanyak dua lembar.
"Ini ambilah!" seru Daniel menyerahkan uang kertas berwarna merah itu pada Natusha.
"Tidak mau! Kalau aku menerimanya pasti gajiku di potong lagi kan, Tuan? Lebih baik uang itu disimpan saja dan berikan saat nanti aku sudah gajian," ujar Natusha menolak.
"Aku tidak akan memotong gajimu dengan uang ini!" ujar Daniel dengan tegas membuat Natusha langsung tersenyum bahagia.
"Tuan tidak bohongkan?" tanya Natusha menatap Daniel dengan tatapan curiga.
"Kau mau apa tidak?! Cepat ambil sebelum aku berubah pikiran!" ujar Daniel membuat Natusha langsung mengambil uang merah ditangan Daniel.
"Aku pulang dulu, Tuan! Makasih yah uang merahnya!" seru Natusha langsung berlari keluar dari apartemen.
Sementara Daniel hanya bisa diam menatap kepergian Natusha dari apartemen nya.
Natusha pulang dengan naik taksi. Setelah sampai dan membayar pak supir, dia pun langsung masuk kedalam rumahnya.
"Nah, itu dia sudah pulang!" seru Paman Sam langsung mendekati Natusha.
Natusha terdiam sesaat karena bingung dengan sikap pamannya itu yang sedikit aneh menurutnya. Terutama lagi Bibi nya yang sedang duduk disofa ruang tamu sembari mengobrol asik dengan seorang bapak-bapak tua.
"Kau kemana saja? Malam baru kau ingat pulang!" omel Paman Sam membuat Natusha menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Aku habis bekerja, Paman," jawab Natusha dengan tersenyum canggung.
Bapak-bapak tua itu menatap Natusha dengan tatapan aneh membuat Natusha sedikit canggung melihatnya.
"Paman, ini ada apa yah?" tanya Natusha merasa sedikit tidak beres dengan kehadiran bapak-bapak tua tersebut.
"Kenalkan, ini keponakan saya, namanya Natusha," ujar Bibi Santi.
"Lumayan cantik juga keponakan mu ini," ujar Bapak-bapak tua tersebut yang tak ada hentinya memandang Natusha.
"Jadi bagaimana? Apa kau setuju?" tanya Paman Sam pada Bapak-bapak tua itu.
"Aku setuju. Kalau bisa secepatnya karena aku sudah tidak sabar," timpal Bapak-bapak tua itu dengan senyum menyeringai diwajahnya.
"Baguslah, aku akan mengurus pernikahannya, asal janji yang kau berikan harus kau tepati!" tegas Paman Sam membuat Natusha yang mendengarnya mulai sedikit takut.
"Iya, aku akan mengirimnya ke rekening mu setelah acara pernikahannya selesai," ujar Bapak-bapak tua itu.
"Pernikahan..." gumam Natusha.
"Bibi, pernikahan siapa?" tanya Natusha dengan wajah yang terlihat sangat takut. Bibi Santi yang tahu kalau keponakan nya itu sedang takut langsung menariknya masuk kedalam kamar.
Didalam kamar.
"Ada apa ini, Bi?" tanya Natusha.
__ADS_1
"Pria itu tadi ingin melamarmu, dan dia setuju untuk menikah denganmu," ujar Bibi Santi dengan entengnya.
"Apa?! Menikah denganku? Bibi aku ini masih sekolah!" sungut Natusha yang langsung menangis ketika mendengar dirinya akan dinikahkan diumurnya yang masih sangat muda.
"Usstt diamlah! Seharusnya kau itu bersyukur karena dia itu sangat kaya. Kau tidak akan hidup susah lagi," ujar Bibi Santi membuat Natusha semakin menangis.
"Kalau dia sangat kaya kenapa tidak Bibi saja yang menikah dengannya!" seru Natusha dengan sesenggukan.
Plak!!
"Jaga mulutmu! Bagaimana pun caranya kau harus menikah dengannya, kalau kau tidak mau menikah dengannya angkat kaki lah dari rumah ini!" pungkas Bibi Santi sehabis menampar keras pipi Natusha.
"Bibi kejam sekali!" teriak Natusha dengan keras. Namun Bibi Santi tidak peduli.
"Aku memang kejam, dan kau harus menikah dengan pak tua itu!" ujar Bibi Santi dengan terkekeh sinis.
Setelah mengatakan itu, Bibi Santi keluar dari kamar Natusha tak lupa mengunci pintu dari luar agar Natusha tidak bisa lari dari rumah.
Natusha menangis didalam kamarnya. Semenjak kepergian kedua orang tuanya, Paman dan Bibinya selalu saja bersikap seenaknya padanya.
Ditengah-tengah Natusha menangis. Tiba-tiba ponselnya berdering. Natusha mengangkat telpon itu tanpa melihat siapa yang menelponnya.
"Halo?" jawab Natusha tapi seseorang yang menelponnya itu tidak mengatakan apa-apa.
"Halo, ada orang tidak?" tanya Natusha dengan kesal karena lagi-lagi tak ada respon dari si penelpon.
"Kalau kau tidak ingin bicara kenapa menelpon ku! Dasar aneh!" bentak Nastusha dengan kesal.
"Bocah ingusan! Beraninya kau membentak Tuan mu sendiri!" sungut Daniel dengan nada tingginya.
"Tuan Daniel?!" pekik Natusha saat tahu yang menelponnya ternyata adalah Daniel.
"Kau dimana?!" tanya Daniel dengan nada dinginnya.
"Aku dirumah," jawab Natusha dengan suara seraknya.
"Kau menangis?" tanya Daniel mengerutkan keningnya. Entah mengapa Daniel merasa Natusha habis menangis karena mendengar suara Natusha yang serak.
"Tidak!" jawab Natusha dengan singkat.
Sruppp!
"Suara apa itu?!" tanya Daniel lagi.
"Aku sedang mengelap ingusku, Tuan," jawab Natusha membuat Daniel bergidik ngeri.
"Dasar jorok!" sungut Daniel.
"Kalau aku jorok kenapa Tuan menelpon ku! Bikin tambah pusing aja!" gerutu Natusha yang langsung memutuskan panggilan secara sepihak.
"Anak ini.... berani sekali dia mematikan telpon ku!" gumam Daniel dengan geram sembari mengepal ponselnya dengan kuat.
Daniel menelpon Natusha karena dirinya merasa sedikit khawatir membiarkan Natusha pulang sendirian ditengah malam. Tapi ternyata yang ia dapatkan hanya sebuah suara ingus yang dilap dengan jorok.
__ADS_1
Bersambung