Hasrat Tuan Arogan

Hasrat Tuan Arogan
5


__ADS_3

Pagi harinya. Natusha yang sedang tertidur didalam kamarnya itu, merasa sangat terganggu dengan suara dering diponselnya.


Tanpa melihat nama kontak yang menelponnya Natusha langsung mengangkatnya begitu saja.


"Gadis Ingusan, dimana kau! Kenapa kau belum datang hah!" bentak Daniel dari sebrang sana.


Natusha yang mengantuk itu tidak peduli lagi pada Daniel yang sedang marah. Karena dirinya masih sangat mengantuk dan ingin sekali kembali tertidur.


"Kau dengar aku apa tidak!" bentak Daniel lagi namun lagi-lagi Natusha tak menjawabnya.


"Natusha Rafael!" teriak Daniel dengan keras, geram karena Natusha tidak menjawabnya sama sekali. Membuat Natusha yang mendengar suara teriakan Daniel langsung terbangun dari tidurnya.


"Tuan, kenapa teriak-teriak sih! Gendang telingaku hampir pecah mendengar suaramu tau!" gerutu Natusha langsung menjauhkan ponselnya dari telinganya.


"Habisnya aku panggil-panggil kau tidak menyahut! Dasar gadis Nanas, pagi-pagi sudah berani menyulut emosiku!" sungut Daniel.


"Hais, Tuan langsung katakan saja kenapa Tuan menelpon ku?" tanya Natusha memijit pelipisnya yang terasa ssngat pusing karena semalaman terus menangis.


"Kenapa kau belum datang?! Apa kau sudah lupa kau ini sudah menjadi pelayan di apartemen ku?!" tanya Daniel.


"Tentu saja aku tidak lupa! Tuan jangan meragukan ku, aku ini memiliki daya ingat yang kuat loh!" ujar Natusha dengan kepercayaan dirinya yang luar biasa.


"Yang sedang aku tanyakan itu tentang mengapa kau belum datang, bukan tentang masalah daya ingat mu yang bodoh itu!" sungut Daniel dengan kesal karena Natusha yang benar-benar membuatnya harus menyetok banyak kesabaran didalam dirinya.


"Ini kan hari Minggu, Tuan!" timpal Natusha.


"Terus kenapa kalau hari Minggu?!" tanya Daniel


"Kalau hari Minggu kan hari weekend... jadi hari ini aku libur bekerja," ujar Natusha membuat Daniel geram.


"Enak saja kau berani mengatur hari libur mu sendiri! Disini siapa yang jadi bos nya?!" tanya Daniel.


"Tuan," jawabnya dengan nada pelan.


"Dan disini siapa yang berhak mengatur hari libur mu?" tanya Daniel lagi.


"Tuan," jawab Natusha lagi dengan cemberut.

__ADS_1


"Cepat kau datang! Aku tunggu sampai 15 menit, kalau kau tidak datang juga, gaji mu akan aku potong!" ujar Daniel dengan tegas.


Natusha yang mendengar perkataan Daniel langsung melototkan matanya dengan sempurna. Mana mungkin dalam 15 menit Natusha sudah tiba disana? Terlebih lagi jarak antara rumah dan apartemen Daniel terbilang cukup jauh.


"Tapi Tuan, aku sedang dikurung Bibi ku didalam ruangan ini, aku tidak bisa kemana-mana lagi sekarang. Bagaimana caranya aku kesana?" tanya Natusha yang menggaruk tengkuk dengan bingung.


"Kenapa kau dikurung?" tanya Daniel dengan mengerutkan keningnya.


"A--aku...." Natusha tidak bisa menjawab pertanyaan Daniel membuat Daniel menjadi kesal.


"Kau tidak usah menjawabnya! Aku tidak punya waktu untuk bermain tebak-tebakan denganmu." sungut Daniel.


"Kalau kau sedang dikurung kau tinggal kabur lewat jendela saja!" ujar Daniel membuat Natusha langsung menatap kearah jendela yang ada dikamarnya.


"Ohh iya yah... kenapa dari semalam aku tidak berfikiran kabur lewat jendela saja," gumam Natusha dalam hatinya.


"Kau dengar aku apa tidak?!" bentak Daniel membuat Natusha terkejut.


"Iya, Tuan aku dengar!" ucap Natusha.


"Cepat kau kesini. Lima belas menit dari sekarang kau sudah harus berada di apartemen ku!" ujar Daniel yang langsung memutuskan panggilan secara sepihak.


"Iya, Tuan aku dengar!" ucap Natusha.


"Cepat kau kesini. Lima belas menit dari sekarang kau sudah harus berada di apartemen ku!" ujar Daniel yang langsung memutuskan panggilan secara sepihak.


"Ini," Daniel memberikan kain lap pada Natusha yang baru saja tiba di apartemennya.


"Padahal hari ini rencananya aku ingin libur," lirih Natusha dengan cemberut. Mengambil kain lap yang Daniel berikan kepadanya.


"Kau bersihkan dulu semua ruangan ini. Baru kau boleh pulang!" ujar Daniel dengan tegas yang kini berjalan kearah kursi kebesaran nya lalu duduk dengan gaya yang sangat angkuh.


"Pulang? Em ... Tuan aku ingin mengatakan sesuatu," ujar Natusha.


"Mengatakan apa?" tanya Daniel menatap intens kearah Natusha.


"Apa boleh aku...." Natusha benar-benar ragu untuk mengatakan kalau dirinya ingin tinggal di apartemen Daniel.

__ADS_1


"Cepat katakan!" bentak Daniel karena tidak suka melihat tingkah Natusha yang begitu bertele-tele dalam berbicara yang membuatnya penasaran.


"Tuan apa boleh aku tinggal disini?" tanya Natusha dengan pelan sembari menundukkan kepalanya.


"Apa? Bicara yang benar!" ujar Daniel karena kurang jelas mendengar suara Natusha.


"Apa boleh aku tinggal disini, Tuan? Aku jan—"


"Tidak boleh!" seru Daniel menolak keras permintaan Natusha yang ingin tinggal di apartemennya. "Kau pikir apartemen ku ini adalah sebuah penginapan!"


"Tapi, Tuan..." lirih Natusha.


"Aku bilang tidak boleh yah tidak boleh!" sentak Daniel dengan tegas.


"Tuan boleh memotong gajiku sebanyak-banyaknya, asalkan aku dibiarkan tinggal disini. Aku janji tidak akan berbuat masalah disini!" Natusha dengan wajah memelasnya itu berusaha membujuk Daniel. Namun Daniel yang memiliki sifat Arogan itu tentu saja tidak akan menyetujui permintaan Nastusha.


"Kau itu perempuan yang masih muda! Seharusnya kau luangkan waktu muda mu itu untuk belajar, bukan malah menggoda pria dengan mengambil jalan pintas untuk tinggal dirumah nya!" ujar Daniel menatap sinis kearah Natusha.


"Tuan, aku ini masih punya harga diri. Aku tidak seperti yang kau pikirkan!" sungut Natusha.


"Aku meminta untuk tinggal disini karena aku kabur dari rumah, hiks..." Natusha mulai menangis dengan keras karena ucapan Daniel tadi seperti sedang merendahkan dirinya.


Melihat Natusha yang menangis membuat Daniel merasa sedikit kasihan. Daniel dari semalam sudah menebak kalau sekarang Nastusha punya masalah sehingga dirinya kabur dari rumah.


"Duduklah!" perintah Daniel yang menyuruh Natusha untuk duduk disofa. Jujur saja ini pertama kalinya Daniel membiarkan seorang wanita untuk duduk di sofa kesayangannya.


Natusha duduk dengan masih menangis dengan keras. "Berhenti menangis!" perintah Daniel namun Natusha semakin menangis membuat Daniel hanya bisa menghela nafasnya dengan pasrah.


"Kenapa kau kabur dari rumahmu?" tanya Daniel menatap Natusha dengan intens.


"Aku kabur karena Bibiku ingin menjodohkan ku," jawab Natusha dengan sesenggukan.


"Bukankah itu bagus? Bibi mu itu ingin menjodohkan mu karena dia sadar tidak akan ada yang ingin menikah dengan gadis tengil seperti mu!" ujar Daniel yang membuat Natusha kesal dan langsung berhenti menangis.


"Tuan ini jahat sekali!" sungut Natusha dengan mengelap ingusnya menggunakan bajunya.


"Kau itu jorok sekali! Kau bisa menggunakan tisu, Bocah Ingusan!" seru Daniel dengan menatap jijik kearah Natusha.

__ADS_1


"Pakai tisu kurang afdol!" jawab Natusha yang masih mengelap ingusnya menggunakan bajunya.


Bersambung.


__ADS_2