Heart And Love

Heart And Love
Cinta yang Bikin Baper


__ADS_3

Perkenalkan namaku Nara, dan teman-temanku biasa memanggil nana. Aku masuk dalam salah satu universitas islam di Jogja. Sejak hari pertama kuliah, aku melihat sesosok pria yang begitu memukau, misterius, dan tentunya sangat tampan. Semakin hari rasa penasaranku tentangnya semakin kuat hingga akhirnya aku tahu siapa sosok pria yang ku idolakan selama ini.Dia bernama Rizal, selain pintar dia juga aktivis dan mengikuti beberapa organisasi. Selain itu Rizal sangat pandai bermain gitar. kebetulan aku dan Rizal satu kelas, setelah berkenalan lama kelamaan kita semakin akrab bahkan menjadi lebih dari sahabat. Bagiku Rizal adalah sosok pria yang sangat baik, kapanpun aku membutuhkan bantuannya, dia selalu siap dan ada. Jadi tak heran jika banyak yang mengira kalau kita pacaran.


Tentu itu hal yang tak mungkin, karena kita sama-sama mengikuti dan aktif dalam Rohis, yang di dalamnya sangat ditekankan ajaran untuk menjaga pergaulan antara pria dan wanita


Hingga suatu hari aku melihatnya sedang bermain gitar di sudut taman, ada yang beda dengan rasaku, hatiku berdetak kencang dan lidahku kelu bahkan aku sangat sulit memalingkan pandanganku dari sosoknya. Hingga kuputuskan untuk segera menutup mata saja, berharap mendapatkan ketenangan. Tapi ketika kuterpejam.

__ADS_1


“Na, sedang apa, dari pada panas berdiri di situ mending kesini temenin aku latihan gitar” seketika aku kaget bukan main mendengar suaranya.


“Eh, Rizal hehe, gak lagi ngapa-ngapain, cuma lagi nunggu tukang somay nih.” Alasanku sekenanya aja.


Sebisa mungkin aku mencoba bersikap untuk biasa. Walaupun aku masuk ke organisasi Rohis, sifat tomboy ku masih sedikit terlihat, rasa cuek ku pada lingkungan sekitar terkadang dapat membuat ku malu sendiri. Tetapi keadaan terasa begitu berbeda saat berada di dekat Rizal. Seketika aku berubah menjadi sosok yang pendiam bahkan kerap kali salah tingkah.

__ADS_1


Nah pada saat aku menemaninya bermain gitar, ada salah satu temanku yang mendekati Rizal, dia juga menanyakan banyak hal, sampai aku merasa bosan melihatnya bolak balik di hadapan Rizal.


Dan di suatu malam aku menuliskan sebuah puisi romansa yang menceritakan seluruh perasaanku yang tak dapat ku ungkapkan, hanya mampu ku tuangkan dalam goresan tinta. Perasaan ku untuknya seakan sudah membuatku seperti orang bisu.


Selalu kucoba untuk tak terlalu ingin memilikinya, sebab aku sadar hal itu justru bisa membuatnya pergi dari ke hidupku. Biarlah aku memendam perasaan ini sendirian. Bahkan aku tak masalah jika pun hanya dianggap sebagai seorang sahabat, karena ada di sampingnya saja sudah lebih dari cukup bagiku. Mungkin sekarang aku bisa mencintainya dalam diam, tapi entah sampai kapan aku bisa bertahan seperti ini.

__ADS_1


__ADS_2