
Alam Lingyang.
Tanah Selatan, Gunung Xuanyi.
''Satu angsa terbang, untuk bertemu pasangannya.''
''Ketika mabuknya hilang, dia pergi, ternyata semua itu adalah mimpi.''
''Permusuhan sudah berakhir, dan pedang telah di sarungkan.''
''Menghormati hujan di sungai, di kapal yang dingin, aku minum sendirian ….''
Ditemani oleh suara nyanyian, seorang pemuda berbaju putih muncul di cakrawala. Dia memegang kendi anggur ditangannya, dan dia juga memancarkan aura menawan seperti naga atau phoenix.
Tampak seperti sosok peri yang berjalan keluar dari sebuah lukisan!
''Salam, Paman-Grandmaster.''
''Salam, Paman-Grandmaster.''
Setelah melihat pemuda itu, semua orang yang ada di sekitarnya segera membungkuk untuk memberi hormat kepadanya.
''Um.''
Pemuda itu mengangguk, dengan santai melewati kerumunan, dan berjalan menuju ke aula utama.
Hanya setelah pemuda itu pergi, semua orang berani untuk berbicara.
''Paman-Grandmaster telah kembali!''
''Temperamennya seperti yang abadi, sangat tampan!''
''Seperti yang diharapkan dari Paman-Grandmaster, kita jauh lebih rendah!''
''…''
Qin Jue tidak peduli dengan apa yang mereka katakan di belakang, karena dia hanya ingin bergegas untuk menjelaskan tentang partisipasinya dalam acara perburuan monster kepada kakak seniornya yang murahan.
Setelah itu, dia ingin kembali tidur dengan nyaman!
Pada saat ini, seorang pria tampan tiba-tiba berjalan keluar dari aula utama, dan dia sedikit terkejut ketika melihat Qin Jue.
''Eh? Paman-Grandmaster, kamu kembali?''
''Ternyata itu Ji Chen, kamu sepertinya menjadi jauh lebih kuat lagi.'' Qin Jue berkata dengan penuh arti setelah dia menilai pria tampan itu.
''Paman-Grandmaster bercanda, kekuatanku jauh lebih lemah dibandingkan denganmu.'' Pria tampan bernama Ji Chen itu menghela napas.
''Memang, itu benar-benar sangat jauh dibandingkan denganku.'' Qin Jue mengangguk tanpa kerendahan hati.
Ji Chen : ''…''
''Aku masih memiliki beberapa urusan dengan tuanmu. Pergi, lakukan apa yang perlu kamu lakukan!'' Qin Jue melambaikan tangannya dengan tidak sabar.
''Ya.''
Ji Chen buru-buru pergi, dia mungkin akan mati karena marah jika dia mengobrol lebih lama dengan Paman-Grandmaster ini.
Memikirkan hal itu, Ji Chen tidak bisa untuk tidak kasihan pada tuannya.
…
Aula utama ini sangat luas, dan ketika anda masuk, anda dapat melihat dua pilar batu giok putih yang diukir dengan pola naga.
Lantainya terbuat dari kaca yang berlapis, itu sangat mengesankan, dan tampak seperti istana abadi.
“Kakak Senior, aku kembali!'' Qin Jue menyesap anggur dan berkata dengan keras.
__ADS_1
Diujung aula utama, seorang pria tua yang terlihat seperti orang bijak sedang duduk bersila. Dia adalah kakak seniornya Qin Jue, dan juga master sekte dari Sekte Gunung Xuanyi.
Namanya adalah Bai Ye, ahli terkuat dalam jarak seribu mil.
Setelah mendengar suara Qin Jue, Bai Ye membuka matanya dan berkata sambil tersenyum, ''Bagus, bagus, bagus. Cepat datang dan beritahu kakak seniormu, hal menarik apa yang terjadi dalam acara perburuan monster kali ini!''
Mendengar ini, Qin Jue agak terdiam. Meskipun kakak seniornya sudah berusia lebih dari delapan puluh tahun, tapi dia masih penuh dengan rasa ingin tahu terhadap hal-hal baru yang menarik.
Jika Bai Ye tidak disibukan dengan urusan lain, dia pasti akan pergi secara pribadi ke acara perburuan iblis ini.
Sambil mengehela napas, Qin Jue maju selangkah dan langsung duduk di hadapan Bai Ye. Kemudian Qin Jue berkata dengan nada bosan, ''Apa yang mungkin terjadi? Bukankah itu hanya berburu dan membunuh beberapa monster? Itu sudah diadakan lebih dari sepuluh kali, apakah kamu belum cukup puas melihatnya?''
''Eh … kau benar.'' Orang tua bernama Bai Ye itu tertegun sejenak, dan dia tidak tahu harus berkata apa.
Jadi, Bai Ye buru-buru mengubah topik, ''Bagaimana dengan peringkat empat sekte besar?''
''Sama seperti tahun lalu, tempat pertama adalah Sekte Misteri Kuno. Tempat kedua adalah Sekte Kuning yang Mendalam. Tempat ketiga adalah Sekte Pedang. Tempat keempat adalah Sekte Angin Petir.'' Jawab Qin Jue dengan santai.
''Lalu, bukanlah Sekte Misteri Kuno menjadi nomor satu selama lima tahun berturut-turut? Ini bukan hal yang baik.'' Ucap Bai Ye.
''Siapa yang peduli apakah itu hal baik atau buruk? Itu tidak ada hubungannya dengan kita.'' Kata Qin Jue acuh tak acuh.
Dibandingkan dengan empat sekte besar, Gunung Xuanyi hanyalah sekte kecil yang biasa-biasa saja di Tanah Selatan.
Selain mengingat untuk mengirim surat undangan setiap tahun di acara perburuan monster, tidak akan ada orang yang memikirkan tempat ini.
''Haish, aku harap begitu.'' Bai Ye menghela napas.
''Benar!'' Qin Jue sepertinya mengingat sesuatu saat matanya tiba-tiba sedikit melebar.
Melihat hal ini, Bai Ye bertanya dengan rasa ingin tahu, ''Ada apa? Cepat beri tahu aku!''
''Ada seorang gadis yang sangat cantik! Aku ingat bahwa dia adalah Gadis Suci dari Sekte Angin Petir. Ck ck, sosoknya itu ….'' Setelah mengatakan ini, Qin Jue tidak bisa menahan diri untuk tidak menyesap anggur lagi.
Bai Ye : ''….''
''Ya, silahkan pergi!''
''Baiklah.''
''Tunggu sebentar!''
''Ada yang lain?''
''Jangan terlalu banyak minum.''
''Ck.''
''….''
…
Sambil berjalan keluar dari aula utama, Qin Jue meregangkan punggungnya dan berkata dengan emosi, ''Akhirnya, aku tidak harus menghadapi orang-orang yang menyebalkan itu lagi.''
''Pedangku, kemana harus pergi? Cinta dan benci, sulit untuk dipilih.''
''Pedangku menembus langit. Aku tidak tahu, apa yang benar atau apa yang salah.''
''Aku mabuk, dan semuanya menjadi kabur. Syukur dan dendam hanyalah ilusi kosong.''
''….''
Qin Jue bernyanyi sambil terhuyung-huyung keluar dari aula utama, dan dia segera pergi ke halamannya.
Sebagai Paman-Grandmanster termuda dalam sejarah Gunung Xuanyi atau bahkan Alam Lingyang, hal yang paling Qin Jue sukai adalah minum, bernyanyi, dan menikmati pemandangan.
Oleh karena itu, halaman tempat tinggalnya di bangun di tepi tebing, dan karena medannya agak terpencil, dia tidak perlu khawatir akan diganggu oleh orang lain.
__ADS_1
''Hahaha, Xiaoqing, lama tidak bertemu.''
Qin Jue tertawa.
Xiaoqing bukanlah manusia atau hewan peliharaan, tapi batu biru di tepi tebing. Di masa lalu, ketika Qin Jue mabuk, dia akan berbaring dan tidur di atas batu biru. Seiring berjalannya waktu, Qin Jue menganggapnya sebagai teman.
Batu biru itu tidak bisa berbicara, jadi tempat itu secara alami tetap sunyi.
Qin Jue terbang, mendarat di batu biru, dan berkata dengan santai, ''Masih terasa lebih baik disini. Tidak peduli apa, dimasa depan, aku tidak akan menyetujui permintaan kakak senior untuk menghadiri acara yang membosankan seperti itu.''
Mungkin karena sudah terbiasa dengan kehidupan disini, Qin Jue tidak lagi menyukai tempat-tempat yang ramai. Bahkan jika itu adalah pertemuan internal di sekte, Qin Jue sering tidak hadir.
Berpikir seperti ini, Qin Jue meminum semua anggur di dalam panci, lalu berbaring telentang dan perlahan tertidur.
Sebenarnya, ada rahasia di hati Qin Jue yang tidak pernah dia sebutkan kepada orang lain, yaitu dia bukan milik dunia ini.
Seperti kebanyakan transmigran, Qin Jue berasal dari bumi. Untungnya, pada hari kedua transmigrasinya, Qin Jue dipilih oleh mantan master sekte Gunung Xuanyi, dan diterima sebagai murid terakhirnya.
Dalam sekejap mata, sepuluh tahun telah berlalu, dan tuan Qin Jue telah lama meninggal. Setelah pemilihan, kakak seniornya Qin Jue, yaitu Bai Ye, mengambil alih sebagai master sekte.
Qin Jue juga menjadi Paman-Grandmaster yang di segani.
Selama periode ini, selain Bai Ye dan gurunya yang telah meninggal, pada dasarnya tidak ada yang tahu kekuatan Qin Jue yang sebenarnya.
Lebih tepatnya, Qin Jue sendiri tidak tahu!
Karena dia terlalu kuat!
Bahkan jika Qin Jue tidak melakukan apa-apa, kekuatannya akan terus tumbuh seiring bertambahnya usia.
Beberapa tahun yang lalu, Qin Jue mungkin tahu di ranah apa dia berada, tapi sekarang, itu benar-benar telah melampaui pemahamannya.
Bahkan jika itu adalah kultivator paling kuat di Alam Lingyang, Qin Jue masih bisa membunuhnya dengan satu pukulan!
Akan tetapi, Meskipun Qin Jue memiliki kekuatan yang tak terkalahkan, namun dia tidak ingin menjadi “Pahlawan Super” yang menjaga perdamaian dunia.
Setiap hari, Qin Jue hanya minum anggur, bernyanyi, dan menikmati pemandangan. Tidak peduli apapun peristiwa yang menghancurkan bumi, yang terjadi di dunia luar, itu tidak akan mempengaruhinya.
Jika bukan karena Bai Ye yang masih sibuk dan tidak bisa pergi kali ini, Qin Jue tidak akan datang ke acara perburuan monster.
Siapa bilang semakin besar kekuatan, semakin besar juga tanggung jawab?
Setidaknya Qin Jue sama sekali tidak tertarik, dan tidak ada yang bisa memaksanya melakukan itu!
…
Entah sudah berapa lama waktu berlalu, ketika Qin Jue bangun, hari sudah larut malam. Bulan perak seperti piring, dan langit dipenuhi dengan bintang-bintang yang berkilauan.
Pemandangan itu sangat indah!
Pada saat ini, Qin Jue berada di bawah langit malam yang indah, tubuh dan pikirannya terasa sangat santai.
''Hm? Apa itu?''
Qin Jue mendongak, dan melihat sebuah kilatan cahaya sedang menuju ke arahnya.
''Meteorit?''
Qin Jue sedikit mengernyit, kemudian dia melambaikan tangannya secara acak. Berikutnya, kilatan cahaya itu segera berbelok di udara, dan terbang menuju ke tempat lain.
Setelah melakukan ini, Qin Jue menepuk-nepuk debu yang ada ditangannya, dan pergi ke dalam rumahnya untuk melanjutkan tidur.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
[Ini adalah novel terjemahan, jadi wajar jika ada bahasa yang sulit dimengerti.]
[Kalo mau cari novel aslinya, judulnya tetep sama, “Invincible Uncle-Grandmaster”]
__ADS_1
[Nickname Authornya ''Nine Times”]