ISTRI CADANGAN

ISTRI CADANGAN
Episode 3


__ADS_3

Namanya Rahma Raihana. Usianya sudah beranjak 24 tahun. Anak tunggal yang terbiasa mandiri. Ayahnya seorang sopir sebuah perusahaan dan ibunya tidak bekerja. Hanya ibu rumah tangga yang selalu mengurus anak dengan baik. Kedua orangtuanya meninggal karena kecelakaan lalu lintas saat keduanya hendak pergi menghadiri undangan pernikahan salah satu tetangga di pemukiman tempat mereka tinggal. Saat itu Rahma masih berada di bangku sekolah menengah atas.



Semenjak Rahma duduk di bangku sekolah menengah pertama mereka memang menetap di Bali. Pekerjaan sebagai sopir tamu hotel lebih disukai ayahnya. Bali kota yang ramah, mereka nyaman tinggal di sana. Sederhana, tetapi kaya akan kasih sayang. Melupakan ingar-bingar ibu kota dan anggapan keluarga karena menikah tanpa restu keluarga. Lebih tepatnya, penolakan dari keluarga Ibu Rahma.



Rahma memang sempat terpuruk saat kedua orang-tuanya dinyatakan sebagai korban kecelakaan beruntun tersebut. Dia benar-benar merasa sendirian kala itu, beruntung rumahnya memang berdekatan dengan sebuah panti asuhan sehingga membuatnya merasa tak lagi sendiri. Orang-orang di panti asuhan menerima Rahma dengan tangan terbuka.



Mengikuti jejak sang ayah, Rahma selalu aktif di setiap kesempatan untuk membantu panti asuhan. Ayahnya selalu bercerita kalau mereka yang tinggal di panti juga masih diberikan kesempatan oleh Tuhan untuk menikmati hidup. Keadaan mungkin tidak berpihak kepadanya, tetapi tidak ada salahnya kita ikut membantu.



Rahma masih ingat sang ayah sering membawakan beberapa barang, seperti selimut dan peralatan kebersihan yang masih layak namun tidak dipergunakan lagi di hotel untuk keperluan penghuni panti. Selain itu, masih banyak lagi bantuan-bantuan ringan yang selalu diberikan sang ayah ke panti.



Rahma sendiri sekarang hanya bekerja sebagai kasir di salah satu minimarket di dekat pantai Kuta, mengingat dia hanya tamatan sekolah menengah atas. Tidak ada biaya untuk melanjutkan pendidikan lebih tinggi. Tidak ada yang menarik di hidupnya. Rahma hanya belajar menikmati dan mensyukuri apa yang sudah didapat tanpa terlalu berambisi menggapai sesuatu yang sulit dia jangkau. Bukan seseorang yang tinggi optimis. Cukup bahagia di hari ini, menanti esok yang lebih baik.



Sebagai tetangga sebuah panti asuhan sosial, Rahma selalu berkunjung ke sana. Menjadi salah satu teman bermain anak-anak panti sungguh menyenangkan. Rahma merasa kembali memiliki sebuah keluarga yang pernah dia miliki. Selain merasa senasib karena ditinggalkan keluarga. Hanya saja Rahma lebih beruntung, dia tahu alasannya ditinggalkan orangtua untuk selamanya. Sementara banyak penghuni panti yang sejak awal ditinggalkan tanpa alasan yang jelas.



“Ibu, bagaimana kondisi ruang belajar anak-anak? Apa masih bisa dibetulkan?” Saat ini Rahma tengah berada di panti asuhan. Ibu Suci pemilik panti memang dekat dengannya.



“Belum, Nak Rahma, Ibu sudah meminta bantuan kepada donatur tapi belum ada yang cair.” Ibu Suci tampak sedih. Kebanyakan pengurus panti sudah berusia lebih dari setengah abad. Segelintir yang masih muda. Rahma termasuk pengurus muda yang terkadang tenaga nya dibutuhkan.



Rahma selalu ingat pesan kedua orangtuanya untuk selalu memperhatikan panti asuhan itu. “Andai Ayah punya uang banyak, ingin sekali Ayah merapikan panti. Membuat bangunan di sana menjadi indah. Membuat mereka yang tidak memiliki siapa-siapa tersenyum bangga akan tempat tinggalnya. Kamu jangan pernah melupakan mereka, ya!”



Andai Rahma punya uang, dia pun ingin rasanya merenovasi semua bangunan di panti itu. Tapi apa daya uangnya hanya cukup menghidupi kebutuhan sehari-hari tanpa bisa menabung yang berarti. Itulah akibat mempunyai sifat pesimis. Terkadang ambisius akan masa depan memang diperlukan.



“Aku janji, Bu, aku pasti akan cari bantuan untuk merenovasi panti ini.” Rahma memeluk Ibu Suci dengan hangat, seperti memeluk orangtua yang dirindukannya.



“Ayah dan Ibu meninggalkan keluarga besar di Jakarta karena ingin mencari kebahagiaan kami sendiri, sementara penghuni panti ditinggalkan keluarga karena takut keberadaan mereka mengganggu kebahagiaan yang ada. Kami senasib hanya beda tempat.” Ucapan mendiang ayahnya selalu terngiang di kepala Rahma. Panti asuhan adalah keluarganya, sebisa mungkin Rahma akan mencari bantuan. Walaupun tetap saja sesuai kapasitas.



***



Rahma mendesah sambil menepuk kedua pipinya agar rasa bosan ini hilang. Siang ini sungguh terik dan dia masih enggan keluar dari minimarket. Melihat cerahnya pemandangan luar dari dalam saja sudah membuatnya menyipitkan mata. Mungkin nanti saat sore menjelang dia akan singgah ke pantai Kuta sejenak. Rasanya dia sudah lama tidak bermain pasir sambil menunggu matahari terbenam. Beberapa waktu ini dia sibuk membantu ibu panti mencari dana renovasi. Sudah ada yang membantu, tetapi tidak maksimal. Rahma kembali duduk di kursi depan kasir. Membosankan, andai dia menjadi orang kaya. Dipastikan mudah sekali dia memiliki uang.



Rahma kembali berdiri saat pintu minimarket terbuka. Sepertinya ada pelanggan memasuki minimarket.



“Selamat siang,” ucap Rahma seperti biasanya.



“Saya butuh vitamin bibir yang rasa strawberry, ada?” Seorang wanita cantik berperawakan tinggi menunjuk arah belakang Rahma.



“Ini?” tanya Rahma meyakinkan lagi. Wanita itu mengangguk dan mereka saling bertatapan. Sepertinya mereka saling kenal.



Rahma meneliti lebih jauh penampakan wanita cantik di depannya. Jelas dari cara berpakaiannya sangat berbeda. Rahma selalu sederhana mengenakan celana jeans dan pakaian santai. Sedangkan di depannya memakai mini dress cantik, dan jangan lupakan riasan wajah yang begitu memesona. Siapa pun akan terpesona melihatnya.



“Sepertinya kita saling kenal?” tegur wanita itu kepada Rahma. “Kamu Rahma?” yakin wanita itu. Rahma mengangguk kikuk, dia juga berusaha mengingat siapa nama wanita di depannya.



“Aku Rissa. Marrisa.” Rahma berjalan keluar area kasir. Mendekati wanita yang bernama Marrisa. Wanita itu tersenyum ramah menanti ingatan Rahma kembali.



“Rissa? Kamu anak Tante Lily?” Rahma sedikit berteriak. Terang saja dia tak percaya, wanita di depannya ini mempunyai hubungan darah dengannya. Lebih jelasnya, Marrisa adalah keponakan mendiang ibunya. Marissa Claudya, Rahma ingat. Saat kecil ketika menghadiri acara-acara keluarga, mereka cukup akrab.



“Iya, aku Marrisa,” jawab Marrisa lalu menarik tubuh Rahma. Saling berpelukan melepas rindu. Marrisa ingat, Rahma adalah saudaranya yang sangat baik. Dia selalu bersikap manis dengan siapa pun.



“Kamu masih tinggal di Bali?” tanya Marrisa. Sejenak dia terdiam, semenjak sibuk mencoba peruntungan di dunia model, Marrisa memang jarang berinteraksi dengan keluarga besar. Dia jarang hadir dan ikut campur.



“Maaf saat kamu berduka aku tidak datang. Tapi Mama sempat datang, kan?” tanya Marrisa. Rahma hanya mengangguk tak mempermasalahkan. Dia sudah mulai menerima jika keluarga besar dari sang ibu tak terlalu memperhatikannya. Begitu pun dari keluarga sang ayah.



Semenjak menetap di Bali, bisa dibilang orangtua Rahma seperti menjauh dari keluarga masing-masing. Setahu Rahma, sang ayah memang tidak mempunyai banyak sanak keluarga. Ayahnya anak tunggal dan kedua orangtuanya sudah lama berpulang, sedangkan keluarga besar lainnya Rahma memang tidak kenal.



Sementara dari pihak sang ibu, Rahma hanya mengenal Tante Lily sebagai adik ibunya, Laila.



“Aku tidak apa-apa. Sudah bisa menerima, tapi aku senang akhirnya kita bisa bertemu lagi,” jawab Rahma tegar. Bertemu dengan Marrisa saja sudah membuatnya bahagia. Artinya dia masih bisa mengenal seseorang yang mempunyai hubungan darah dengannya.



“Kamu kerja di sini?” Marrisa memindai seluruh ruangan. Rahma mengangguk tanpa malu. Dia memang bekerja di sini dan tak perlu kecil hati. Sedikit mengingat, keluarga Marrisa memang berkecukupan. Rahma tahu karena sang ayah pernah beberapa tahun bekerja menjadi sopir di kantor keluarga ayah Marrisa, Ramana.



“Masih lama?” Rahma diam mencerna kalimat Marrisa.



“Maksud aku, kamu masih lama pulang kerjanya?”



“Oh, aku sampai sore.” Marrisa mengangguk senang.



Dia melihat kursi di depan minimarket.



“Ya sudah, aku tunggu di depan saja setelah kamu selesai tugas kita jalan-jalan. Aku masih rindu.” Rahma mengangguk. Dia kembali ke tempat kasir.



Marrisa siap membayar vitamin bibir yang sebelumnya dia pesan, juga mengambil minuman segar yang tersedia di minimarket.



***



“Jadi kamu sekarang model terkenal?” tanya Rahma antusias. Mereka sedang duduk santai di sebuah kafe di pinggir pantai. Menanti matahari terbenam yang sayang untuk ditinggalkan.



“Nggak terlalu terkenal, buktinya kamu nggak tahu,” ledek Marrisa mencoba akrab dengan Rahma. Tidak bertemu cukup lama memang sedikit membuat mereka canggung.



“Aku jarang lihat berita dunia hiburan,” jujur Rahma. “Tapi, Riss, sayang dong, kuliah kamu yang masih terbengkalai?”



Marrisa mengangguk sambil menatap langit yang kian memerah. “Risiko, aku yang memilih mau fokus di dunia model. Papa dan Mama tetap mau aku kuliah. Karena itu aku selalu pasrah kalau ditanya kapan lulus, sampai akhirnya mereka yang pasrah karena aku sudah lupa sama tanggung jawab kuliah.” Marrisa terkikik saat bercerita.



“Mereka sudah rela aku nggak jadi sarjana.” Rahma ikut tertawa ringan. Beruntung sekali Marrisa yang bisa mendapatkan apa yang dia mau. Bahkan ditelantarkan dengan mudah kesempatan itu, sementara Rahma harus pasrah tak kuliah karena tidak memiliki biaya.



“Kalau dipikir-pikir, jadi kamu enak, Rahma. Hidup sendiri tanpa ada yang mengatur.” Rahma langsung menggeleng cepat. Hidup tanpa orangtua itu tidak enak. Fondasi di hati itu seperti tak aman. Mudah runtuh. “Kamu beruntung, Rissa, masih punya keluarga utuh. Bahkan diperhatikan.”


__ADS_1


Marrisa tersenyum manis menatap Rahma. Cantik dan alami.



Rahma pun menatap Marrisa sambil memberikan pujian dalam hari. Cantik sekali Marrisa. Ibarat wanita, Marrisa ini paket komplet idaman para pria. Terlebih dari pakaian dan make up yang pasti berlogo mahal. Bahagia sekali hidupnya, sedangkan aku?



Mereka kembali menatap langit dengan pikiran masing-masing. Marrisa kembali melirik Rahma untuk meneliti.



“Kamu sudah menikah?” tanya Marrisa tiba-tiba. Rahma menggeleng tanpa malu. “Pacar saja nggak punya.” Mereka tertawa.



“Kamu sendiri?” tanya Rahma balik. Marrisa diam mengingat status hubungannya dengan teman prianya. Bayangan Ibra muncul di kepalanya. Status hubungannya dengan pria itu seperti apa dia tidak tahu. Marrisa sadar, Ibra mencintainya dan sudah melamarnya berkali-kali.



Jangan lupakan tawaran menggiurkan demi mendapatkan kebebasan untuk lebih fokus di dunia model. Tawaran dengan syarat menikah dan memiliki keturunan, dengan Ibra tentunya.



“Rahma, kalau kamu ikut aku ke Jakarta mau nggak? Kerja bareng aku terus dapet duit banyak...?” tawar Marrisa tiba-tiba. Sepertinya Marrisa serius, raut wajahnya tidak main-main. Benarkah? Tapi mereka baru saja bertemu setelah cukup lama tak jumpa. Tidak masalah, kan? Mereka punya ikatan keluarga.



Hmm … tawaran yang menarik. Aku mungkin bisa mengirimkan uang ke panti kalau pemasukanku banyak. Ibu Suci pasti tidak akan kesulitan membenahi panti yang sudah semakin reyot.



“Hmm.” Rahma bergumam tanpa sadar. Seolah sadar diri karena jenis pekerjaan Marrisa yang bertolak belakang dengannya. Sungguh berbeda.



“Aku nggak berbakat jadi model, Riss. Badan bantet gini.” Marrisa menatap wajahnya dengan teliti. Kemudian Marrisa bertanya dengan seorang pengunjung di sebelah mereka.



“Maaf mengganggu, Ibu. Saya mau tanya, adik saya ini mirip nggak wajahnya sama saya?” Pertanyaan apa? Memalukan. Rahma tak percaya pertanyaan aneh itu terlontar dari mulut Marrisa. Batin Rahma menjawab, jelas beda. Rahma merasa tak pantas disandingkan dengan Marrisa.



“Mirip Mbak, adiknya cantik alami, mirip banget sama Mbak. Nanti kalau sudah pintar dandan, kakaknya pasti kalah.” Ibu itu menjawab jujur. Sontak baik Marrisa maupun Rahma tertawa ringan. Lalu Marrisa kembali meneliti penampilan Rahma secara keseluruhan. Wajah mereka memang mirip. Hanya saja Rahma lebih sedikit pendek dan berisi. Tidak gemuk, hanya tidak sekurus Marrisa.



Merasa diperhatikan terang-terangan membuat Rahma sedikit kikuk. Apa yang sedang dia pikirkan, ya? Ah, jadi gugup sendiri.



“Oke, malam ini aku mau fashion show, kamu datang, ya! Setelah itu aku mau bicara bisnis sama kamu. Serius, untungnya bakal banyak banget. Mau nggak?” ajak Marrisa antusias.



Bagaimana, ya? Untung banyak? Bisa buat renovasi panti pastinya.



“Kerja apa?” Rahma mulai penasaran. Terang saja, belakangan ini dia seperti lelah mencari donatur. Lingkungan yang sebatas teman satu profesi tidak memungkinkan mendapat donatur kaya.



“Nanti saja aku ceritakan di hotel tempatku menginap, di sini nggak nyaman dan tidak ada privacy.” Rahma hanya mengangguk, mungkin Marrisa hanya berbasa-basi. Sudah lama tak bertemu lalu menawarkan pekerjaan dengan untung banyak? Rahma tidak mau terlalu berharap.



Marrisa pamit setelah keduanya bertukar nomor ponsel. Marrisa juga mengatakan berharap Rahma nanti akan datang menemuinya. Rahma sekali lagi mengangguk, walaupun isi hatinya dibuat penasaran. Apa yang akan dibicarakan nanti.



Dan di sinilah Rahma, menunggu Marrisa yang sedang membersihkan diri setelah acara fashion show. Batin Rahma sempat iri melihat gaya hidup Marrisa.



“Kamu sudah makan, Rahma?” tanya Marrisa sambil mengeringkan rambutnya, sangat cantik tanpa make up, walaupun tubuhnya kurus tapi dia mempunyai tubuh yang seksi, tidak heran karena profesi Marrisa adalah model. Lagi-lagi Rahma meneliti dan rasa iri mulai merayap.



Rahma terus berbicara dalam hati. Teringat ucapan pengunjung kafe tadi siang. Perihal kemiripan dirinya dan Marrisa. Mustahil. Marrisa itu seorang model, sedangkan dirimu biasa saja. Pakaiannya saja terlihat anggun padahal Marrisa hanya mengenakan baju tidur berbahan satin. Khas sekali mewahnya. Uang memang bisa mengubah segalanya.



Andai Rahma punya banyak uang. Rahma menggeleng sambil terkikik sendiri. Melamun hanya karena melihat Marrisa dan pakaian tidurnya.



“Kenapa senyum sendiri?” tanya Marrisa bingung. “Rahma! Kamu ditanya sudah makan malah melamun?” selidik Marrisa.




“Oke, langsung to the point saja, yah.” Marrisa sudah duduk manis di sampingnya sambil tersenyum menatap Rahma yang sudah siap mendengarkan.



Mengalirlah cerita Marrisa dan impiannya di dunia modelling. Marrisa dan kebebasan yang belum sepenuhnya dia dapat. Marrisa yang bingung akan niat orangtuanya untuk mengenalkan dirinya dengan pria mapan. Tidak menutup kemungkinan akan berlanjut ke hubungan yang lebih serius. Jika itu terjadi, sudah dapat dipastikan impian utama Marrisa akan berhenti di tengah jalan. Marrisa belum mau melangkah lebih jauh. Tetapi keadaan sepertinya tak berpihak kepadanya. Belum lagi niatnya untuk menyetujui kontrak kerja sebagai model di luar negeri. Marrisa harus bisa mengambil keputusan.



Dan, pada akhirnya penawaran Ibra dia ceritakan kepada Rahma. Nekat memang tak mengenal tempat. Marrisa berbicara jujur tentang seorang pria bernama Ibra yang sangat terobsesi dengannya. Bahkan dengan konyolnya menawarkan ide menikah dan mempunyai anak dengannya. Dengan jaminan kebebasan dirinya berkarier.



Mustahil bagi Marrisa karena dalam perjanjian kerja, Marrisa dilarang hamil. Tetapi dia tertarik dengan tawaran Ibra.



Rahma masih setia mendengarkan serentetan alasan Marrisa. Hingga satu kalimat yang diucapkan Marrisa membuat Rahma diam tak bisa menjawab.



“Bagaimana kalau kamu yang mengandung anak Ibra? Mengingat wajah kita cukup mirip?” ucapan konyol Marrisa masih sulit dicerna Rahma. Dan Marrisa tanpa basa-basi kembali menjelaskan.



Pria bernama Ibra itu mau menikah dan menjalani rumah tangga normal. Termasuk proses mendapatkan anak, dia mau mempunyai keturunan. Bukan hasil adopsi yang sempat ditawarkan Marrisa.



Semula Rahma menduga Marrisa mau meminjam rahimnya untuk mengandung anak mereka, tapi ternyata ide Marrisa lebih konyol lagi. Gila, lebih tepatnya. “Aku mau itu anak kamu saja dengan dia. Untuk sekarang aku belum berpikir menjadi seorang ibu.”



Rahma menggeleng dan berkali-kali menahan napas. Mimpi apa dia semalam sampai masuk dalam perbincangan aneh seperti ini. Sadarkah Marrisa jika dia seperti mempermainkan pernikahan? Perasaan suaminya, dan yang lebih parah nasib anak itu kelak.



“Setelah kamu melahirkan aku akan katakan kalau anak itu anak aku dan Ibra.” Rahma tetap menggeleng. Dia cukup normal untuk menolak. Ini gila.



“Tolong, Rahma! Aku tahu ini gila, kenapa tidak sekalian saja kita nekat? Aku benar-benar butuh tawaran Ibra.”



“Dan kamu pikir aku juga butuh tawaran kamu?” Rahma menggeleng. Ini aneh.



Marrisa sekuat tenaga menahan amarah. Wajar jika Rahma menolak. “Dengar, seperti yang aku bilang ini jenis pekerjaan. Aku akan memberikan kamu uang. Balas jasa.” Rahma masih mencerna kalimat demi kalimat yang dilontarkan Marrisa. Semudah itukah dia mempermainkan pernikahan? Menikah sewajarnya dilakukan oleh mereka yang saling mencintai. Lalu ke mana makna cinta itu?



“Kamu tidak mencintai dia?” tanya Rahma penasaran. Marrisa tersenyum tenang.



“Aku tidak butuh cinta untuk menerima pinangan seseorang. Saling mendukung dan juga pengertian itu sudah cukup. Dan Ibra mau memahami impianku.”Rahma memijat kepalanya. Dasar manusia aneh kalian.



“Baiklah. Kurasa kamu perlu berpikir. Aku tidak akan mengganggu.” Marissa berjalan mengambil sebuah amplop di tasnya. Dia memberikan amplop itu kepada Rahma.



“Tidak.” Rahma tahu itu adalah sejumlah uang.



“Jangan tersinggung, aku hanya ingin memberikan kepada kamu. Traktir yang tertunda. Ayolah … jika kamu menolak berikan kepada yang membutuhkan,” rayu Marrisa. “Bukankah kamu bertetangga dengan panti asuhan. Berikan untuk mereka kalau kamu menolak.” Marrisa tahu pemikiran sederhana Rahma.



“Baiklah, aku terima ini untuk panti. Karena memang panti membutuhkannya saat ini,” jujur Rahma. Marrisa mengangguk sambil tersenyum. Berharap dia bisa merayu Rahma untuk menerima usulnya.



“Kamu bisa mendapatkan uang lebih banyak untuk panti dari aku Rahma.” Marrisa tidak akan menyerah. “Hubungi aku jika kamu berubah pikiran! Ponselku selalu aktif dan secepatnya aku butuh jawaban. Aku masih satu minggu menetap di sini. Kamu tahu menemuiku ke mana.”

__ADS_1



“Aku pergi dulu, terima kasih.” Rahma berjalan pelan, di satu sisi, pikirannya bertambah penat karena permintaan aneh Marrisa, tetapi di sisi lain harapan membantu panti semakin ada. Jika Marrisa bisa memenuhi permintaannya untuk membantu panti, bolehkah dia menerima pekerjaan itu?



Rahma pergi dengan perasaan bimbang. Seluruh ingatan bercampur menjadi satu. Bagai siaran berita ulang yang tak kunjung selesai.



“Papa sangat ingin membantu panti ini. Andai Papa punya uang. Papa mau menjadi berguna buat mereka yang ditinggalkan tanpa perasaan. Mereka seolah ditakdirkan tak berguna. Kasihan.”



“Rahma, Ibu khawatir dengan keselamatan anak-anak panti. Bangunan rumah ini harus diperbaiki. Andai bantuan banyak yang datang….”



“Aku akan memberikan kamu uang. Balas jasa.”



***



Setibanya di rumah, Rahma masih termenung memikirkan permintaan Marissa yang luar biasa nekat. Tapi dia butuh uang. Kapan lagi dia bisa mewujudkan impian mendiang ayahnya. Selagi ada kesempatan kenapa ditolak. Selain itu, mempunyai anak juga bukan masalah yang terlalu berat asalkan dalam status yang benar. Tapi anak yang akan lahir itu adalah anaknya dan suami Marrisa kelak?



Rahma semakin menggelengkan kepala. Benar-benar penat rasanya memikirkan berbagai tapi dan tapi.



Rahma akhirnya berjalan ke luar rumah. Seperti biasa dia menghabiskan waktu setiap hari bersama penghuni panti.



“Ibu Suci, kenapa? Ada masalah?” Rahma yang baru sampai sedikit bingung melihat wajah Ibu Suci, pengurus panti, yang terlihat lesu.



“Tadi atap ruang belajar hancur. Sudah waktunya mungkin yah, Rahma?” Ibu Suci tersenyum lemah menatap Rahma.



“Ibu tadi sudah mencoba menghubungi donatur setiap bulan. Sayang, asistennya yang menerima. Mungkin bulan depan akan dilihat.” Rahma kembali merasa bimbang. Andai dia punya uang untuk membantu renovasi. Panti asuhan ini tidak terlalu besar, merenovasi bukan berarti merombak ulang. Rahma rasa bisa dicicil.



“Rahma janji akan mencari bantuan.” Rahma memberikan amplop yang diberikan Marrisa untuknya. Sebelumnya dia memang menghitung di rumah terlebih dahulu. Marrisa memberikan tiga juta rupiah. Bisa untuk dialokasikan merapikan atap ini sementara.



“Ini uang kamu?” tanya Ibu Suci. Rahma menggeleng. “Tadi ada yang titip buat panti, Bu.” Seulas senyum terbit di wajah Ibu Suci. Seseorang yang sudah dia anggap sebagai orangtua kandungnya sendiri. Rahma tahu dia harus segera mendapatkan bantuan. Terlebih sebentar lagi memasuki musim hujan.



“Ibu doakan Rahma, ya!” pinta Rahma tulus.



Dan setelah tiga hari berpikir, Rahma akhirnya sudah mendapatkan jawaban. Dia kesampingkan segala ego yang bersemayam di kepala. Rahma memang belum pernah menjalin asmara dengan lain jenis, terlalu malas dan membuang waktu, menurut Rahma. Dia juga belum mengenal sosok yang mencintai Marrisa hingga rela menunggu saudaranya itu bertahun-tahun lamanya. Pria gila, batin Rahma jujur.



Sambil berjalan menuju hotel tempat Marrisa menginap, Rahma memang sudah mempersiapkan jawaban.



Permintaan Marrisa akan dia terima, dengan persyaratan yang akan dia ajukan kepada Marrisa.



Rahma sudah menghubungi Marrisa, sesuai dengan waktu yang ditentukan. Pintu kamar terbuka, Marrisa menyambut dengan senyum indah. Rahma mengakui kalau Marrisa pandai memoles wajah dengan penampilan yang pantas.



“Masuk, Rahma! Aku baru selesai acara pemotretan.” Marrisa sangat ramah menyambut Rahma yang berjalan gelisah.



“Duduk...!” Marrisa duduk di samping Rahma. Menunggu ucapan apa yang akan dikeluarkan Rahma.



“Kalau aku terima tawaran kamu, apa kamu bisa memberikan aku uang dengan jumlah banyak?”



Marrisa mengejek mendengarnya.



“Kamu butuh berapa?” tanya Marrisa.



“Sekitar dua ratus lima puluh juta,” tantang Rahma. Antara yakin dan tidak, dia berani meminta uang dengan jumlah sebanyak itu.



“Setuju. Aku akan berikan uang senilai itu asal kamu mau hamil.” Marrisa mengatakan tanpa berpikir panjang. Uang tidak masalah baginya. Terlebih Ibra.



“Bagaimana?” Marrisa menunggu jawaban Rahma.



“Aku terima tawaran kamu, Rissa,” kata Rahma dalam sekali ucap. Marrisa menyunggingkan senyum. Sepertinya Rahma memang mudah dimintai tolong.



“Tapi…,” ucap Rahma lagi. Jika sebelumnya dia menunduk, kali ini Rahma menatap wajah Marrisa. “Aku mau dia juga menikahiku sebagai istri keduanya.” Akhirnya Rahma bisa menyuarakan isi hatinya. Marrisa melebarkan matanya. Terkejut? Sudah pasti.



Rahma sendiri juga terkejut, akhirnya pemikirannya sejak semalam diutarakan dan bisa jadi akan disetujui, mengingat cara Marrisa bercerita jika dia tidak merasakan cinta pada Ibra.



Dekat dengan lingkungan panti asuhan membuat Rahma tahu akan satu hal, yaitu status sosial anak itu kelak. Anak itu tidak bisa memakai nama belakang keluarganya jika lahir tanpa status yang jelas.



Satu hal yang membuat Rahma risi, yaitu program kehamilan yang akan dilakukan secara alami. Dalam arti, tidak mau cara bayi tabung atau medis lainnya. Marrisa bilang persyaratan itu demi menghindari masalah jika tercium oleh pihak lain. Dan itu artinya sama saja dia berbuat zina. Rahma masih tahu batasan untuk urusan yang satu ini.



Menikah dengan siapa, tetapi program kehamilan dengan wanita lain. Rahma mengejek dalam hati. Merutuki kegilaan Marrisa dan yang pasti kebodohan dirinya sekarang.



Sadar Marrisa memilih diam sejak dia menyuarakan persyaratan. “Kamu tenang saja, aku hanya tidak mau status anak ini tidak jelas. Lagi pula jika tidak menikah, bukankah itu termasuk zina? Kita akan buat kontrak sampai waktu aku diharuskan pergi, jika kamu tidak percaya denganku...,” ucap Rahma berusaha tenang.



“Baiklah kalau itu syarat memberikan kehamilanmu untukku dan suamiku, aku terima kamu jadi istri kedua suamiku. Ingat! Ini hanyalah hubungan kontrak, sepupuku sayang!” Rahma tak menyangka Marrisa dengan mudahnya setuju.



Semudah itu Marrisa mau berbagi suami? Rahma tertawa miris dalam hati.



“Segera kamu siapkan keperluan kamu! Kita akan berangkat ke Jakarta. Kamu tenang saja, selama di Jakarta kamu akan tinggal di apartemenku.”



Rahma mengangguk lalu menatap kembali Marrisa dengan serius. Sudah telanjur nekat, jadi dia tidak peduli. “Kamu bilang ini dibayar? Aku bisa minta uang mukanya.”



Lagi-lagi Marrisa memberikan tatapan mencemooh. Dan Rahma sudah tidak memusingkan lagi. Ide gila ini sudah membuatnya menurunkan harga diri.



“Oke, aku akan kasih uang mukanya. Ingat ini rahasia kita,” balas Marrisa angkuh.



“Deal!” Rahma tertawa dalam hati, harga dirinya baru saja dijual.



***



__ADS_1




__ADS_2